Harta, Tahta, Renata

Harta, Tahta, Renata
Kecurigaan Cerita Dion


__ADS_3

12.30 WIB – Starbucks Citos


Kuhirup kopi espresso yang baru saja kupesan dengan perlahan, sambil menatap sesosok wanita berkacamata yang duduk sendirian di depan mejaku. Rambutnya yang coklat terikat ekor kuda, tanpa make up tapi manis cukup menggoda. Dahulu, wanita seperti itulah yang sering aku kencani, entah sudah berapa kali aku meniduri wanita seperti dia.


Namun kini semua telah berubah. Terkadang hasrat libidoku menyeruak tatkala sang wanita menggoda, tapi sudah kubulatkan tekad untuk menyudahi semua perbuatan bejatku. Aku tersadar saat Sean berulang tahun yang ke-8, dia sangat merindukanku di sampingnya.


“ Daddy, please jangan sakitin Mommy terus. Aku pernah janji sama Mommy, kalau ada yang sakitin Mommy, aku pasti akan balas sakitin dia “.


Ucapan anak lelaki satu-satunya itu mengiris hatiku. Apa jadinya jika ayahnya lah yang menyakiti ibunya, akankah dia balas menyakitiku suatu saat nanti? Aku berandai-andai Sean telah dewasa dan melakukan hal yang sama seperti yang kubuat, hatiku pasti hancur saat ia mengatakan telah meniduri banyak perempuan.


Nadine, istriku yang dulunya cantik bukan main, kini kecantikannya seakan memudar. Gurat lelah selalu terpancar dari wajahnya. Aku sudah berpacaran dengannya sejak bangku kuliah. Drama putus-nyambung sudah biasa dalam hubungan kami. Tapi ia sangat sabar mengahadapi kelakuanku yang brengsek ini. Selama menikah ia memutuskan resign dari kantornya, dan memilih menjadi ibu rumah tangga. Namun karena bisnisku sering naik turun, Nadine akhirnya membantu perekonomianku dengan mendirikan usaha kuliner. Wajah cantik yang dahulu sering tampil full make up, kini selalu tampil polos sambil berkutat di dapur sambil membuat aneka kue untuk dijual.


“ Woy, liatin cewe segitunya. Masih ga kapok juga lo?”.


“ Kampret lo, jangan mikirin yang aneh-aneh lah Van “, jawabku sambil memelankan suara. Wanita berkacamata itu langsung melirik ke arah kami.


“ Tobat bro tobat, Nadine jauh lebih cantik. Lagian bini kaya Nadine masih lo selingkuhin juga, mau nyari apalagi dari wanita di luar sana? “ ujar Ivan menggodaku.


“ Gue udah tobat, ngapain sih dibahas lagi. Ga sanggup lagi gue maen cewe Van”. Ujarku sambil menghirup air kopiku yang terakhir.


“ Kalo cewe nya ganas gimana? Mau lo kerjain juga “, godanya.


“ Udah cukup sekali gue kehilangan Nadine. Kalo ibarat persentase, 80% kebahagiaan gue berasal dari Nadine, 20% ada di perempuan lain. Ketika gue memilih yang 20%, gue harus kehilangan 80% dari hidup gue “.


“ Gue kehilangan anak, rejeki, karir, semuanya berantakan. Orang-orang stalking kehidupan gue, hujat gue di sosial media. Sanksi sosial itu kejam bro. Di dunia aja udah berat banget rasanya, apalagi di akhirat nanti”.

__ADS_1


“ Tumben inget mati lo, kemaren kemana aja “, seloroh Ivan


“ Gue takut sekarang, semenjak diseret sama nyokap ke gereja. Nyokap gue bilang gak sanggup buat mikul dosa yang udah gue perbuat “.


Ivan terdiam mendengar semua perkataan mantan pria brengsek yang kini sedang berkhotbah. Akupun tak percaya dengan transformasiku saat ini, tapi aku bersungguh-sungguh ingin menjalani hidup lebih baik.


“ Eh gue tobat, malah si Ray yang makin brengsek “, lanjutku.


“ Ray yang kemaren? gue ko kaya familiar ya. Dia kerja di grup Hardian bro ?”, selidik Ivan.


“ Lah dia kan CEO nya RENTZ “, sahutku.


Wajah Ivan langsung memerah seketika, matanya terbelalak dan mulutnya terbuka.


“ Dia bos nya Renata???”, sahutnya sambil setengah berteriak.


“ Jawab dulu pertanyaan gue? Dia bos Renata? “, desak Ivan galak.


“ Iya. Dulu partner di kantor, sekarang partner di ranjang “, ujarku sinis.


Tak kusangka Ivan langsung memaki-maki di hadapanku. Sudah lama aku tak melihatnya semarah ini.


“ Brengsek Si Rena, jadi dia selingkuh sama si Ray “, ujarnya menggebrak meja.


“ Bro kalem bro. Kita diliatin orang ini. Lo kok kenal sama Renata? “, ujarku sambil menenangkan Ivan yang berbicara penuh emosi.

__ADS_1


“ Renata cewe gue bro, gue diputusin seminggu yang lalu. Gue udah curiga sama dia, soalnya kok makin sini makin cuek, padahal gue udah kenalin dia sama bokap-nyokap gue “, ujarnya menggebu-gebu.


“ Gue udah sering kasih apa yang dia minta. Transfer buat biaya anaknya lah, buat liburan lah, buat beli make up lah. Sial gue baru sadar kalo cuma diporotin doang “, sesalnya sambil mengacak-acak rambutnya.


“ Kenal di mana sih sama dia? apes banget lo diporotin si Renata ?“, tanyaku.


“ Di Tinder, awalnya iseng-iseng aja. Ko kayaknya enak buat diajak ngobrol, trus dia dewasa gitu. Gue udah males sama ABG gara-gara takut diporotin, taunya dia sama aja “, ungkap Ivan dengan kesal.


“ Gue gak peduli lah masalah Ray sama Renata, yang gue peduliin nasib project yang gak kelar-kelar. Gue tuh minggu lalu ketemu lo mau minta tolong audit keuangan yang dipegang si Ray “, ujarku.


“ Keuangan perusahaan lo sama dia? beres ga laporannya ?”, tanya Ivan.


“ Justru itu, gue ngerasa ada yang janggal. Setiap gue tagih ngeles mulu, alesannya mau gaji programmer lah, beli apa lah “. Tuturku pada Ivan yang serius menyimak perkataanku.


“ Oke gue lacak malam ini. Tolong kirim email laporan keuangan lo selama setahun dan minta no rekening lo. Gue mesti buru-buru cabut ke Bandung sekarang “, sahut Ivan tak sabar.


“ Trus yang chip in ke proyek Om Yan siapa?”, lanjut Ivan menginvestigasi.


“ Katanya anaknya Hardian, gue sempet sangsi kalo Hardian yang chip in. Dia punya properti dimana-mana, masa nebeng sama orang lain. Lalu yang lebih bingungin lagi yang maju si Renata “, jawabku.


“ Apa??? jadi yang kemaren tanda-tangan sama Om Yan itu Renata???”, jerit Ivan.


“ Kayanya sih gitu, tapi kita kan dateng telat kemaren. Gue juga lupa belom nanya si Ray lagi”, jawabku sambil mulai cemas.


“ Gila, kenapa lo ga cerita dari kemaren? harusnya gue hajar tuh si Ray di Bogor “, ujar Ivan dengan kesal.

__ADS_1


“ Kalem dong bro, hajarnya nanti aja kalo urusan keuangan gue udah kelar ya. Si Ray harus kooperatif nih ngerjain project yang belum selesai “, pintaku pada Ivan yang mukanya sudah memerah.


Ivan tak menjawab pertanyaanku. Kulit putihnya nampak memerah, raut mukanya memancarkan amarah. Aku tak tahu kalo ia pernah berhubungan dengan Renata, pastinya yang ia pikirkan saat ini adalah balas dendam pada Renata dan Rayendra. Biar tau rasa kau Ray, belum tau dia kalau Ivan sudah bertindak, batinku.


__ADS_2