Harta, Tahta, Renata

Harta, Tahta, Renata
Bersekutu Cerita Ivan


__ADS_3

11.30 WIB


Kuinjak pedal gas mobilku di jalan tol JORR menuju arah Bintaro setelah semalam sepakat untuk bertemu dengan Dion di area tersebut. Semangatku semakin menggebu-gebu setelah mendapatkan informasi yang aku terima mengenai Ray dan Renata. Profil tentang perempuan itu sudah aku kantongi, tinggal menunggu keputusan Dion untuk mengeluarkan Renata dari proyek Om Yan.


Ibuku adalah teman SMA dari Hardian, aku teringat saat pertemuan pertama antara Renata dan ibuku di PVJ tempo hari. Aku baru tersadar bahwa mereka saling mengenal, itulah sebabnya aku meminta tolong ibuku untuk mencari tahu profil Renata melalui bos nya. Ternyata jawaban Hardian sama persis dengan jawaban Benny, Renata adalah wanita simpanan yang sudah bertahun-tahun menjajakan diri. Namun beberapa tahun kebelakang ia sudah mencoba melepaskan diri dari cengkraman Benny, analisaku dia sudah lelah dengan dunia kelam yang ia jalani. Ia ingin mencoba hidup normal seperti wanita pada umumnya. Kegagalan dalam berumah tangga dan rasa tanggung jawab pada anaknya membuat dia ingin berubah.


Jalanan tol Bintaro masih lenggang, belum begitu banyak kendaraan yang memadati ruas jalan tol. Kulihat layar GPS yang menunjukkan kira-kira setengah jam lagi aku sampai di meeting point bersama Dion dan Nadine.


PING


Dion


“ Nanti ketemu di area ice skating ya, gue lagi nemenin Sean les dulu “


Sebuah pesan singkat dari Dion muncul di notifikasi ponselku. Tak perlu kubalas pesannya, kutancap gas lebih dalam agar bisa lebih cepat sampai di sana.


12.15 WIB – Bintaro Xchange


“ Bro, gue udah di depan arena ice skating. Lo dimana ?”, tanyaku pada sambungan telepon dengan Dion.


“ Gue ada di samping ATM centre, lo kesini aja “, jawabnya.


Tak sulit untuk menemukan ATM centre yag dimaksud Dion, kulangkahkan kakiku sambil menyapu pandangan mencari Dion. Lalu tampak sesosok pria pelontos sambil berdiri memandangi Sean yang berada di dalam rink, sementara di sebelahnya ada Nadine yang sedang menggendong bayi perempuan.


“ Bro, udah lama di sini?”, sapaku.


“ Dari jam 10.00 lah kurang lebih. Sean mau ikut kompetisi hockey, dia lagi latihan intensif akhir-akhir ini”.


“ Apa kabar Nad, ini anak lo? Kok gue gak tau ya lo punya anak lagi?”, tanyaku keheranan melihat Nadine menggendong bayi perempuan.


“ Baik Van. Bukan anak gue, ini anaknya….”,


Dion terlihat menyikut Nadine dengan pelan, sehingga Nadine tak melanjutkan ucapannya.


“ Ini anaknya Rania “, jawab Dion.


“ Rania? Gue kaya pernah denger namanya?”.


“ Udah yok cari meja di food court. Jangan jauh-jauh tar anak gue nyariin “, jawab Dion sambil berlalu mengindahkan pertanyaanku.


“ Duduk di lantai atas aja, gue mau kabarin Rania dulu“ sahut Nadine sambil berjalan mendahului kami sambil mengetik di layar ponselnya.

__ADS_1


Lalu kami bertiga duduk di lantai atas dimana kami bisa langsung melongok memperhatikan Sean yang sedang meluncur di dalam rink. Baru kali ini aku melihat Dion sangat antusias menemani Sean, biasanya dia sibuk meeting atau berkutat dengan pekerjaannya.


“ Nadine, sorry lama. Tadi mushola nya penuh banget “, sahut sesosok wanita bertubuh mungil dengan jilbab abu menjulur hingga ke dada. Ia mendekati Nadine dan menggendong anak bayi perempuan yang sedari tadi berada di pangkuan istrinya Dion.


“ Gak apa-apa kok. Kian anteng banget ya, dari tadi seneng banget liat orang “,jawab Nadine sambil melepaskan gendongannya.


“ Ran kenalin ini Ivan, temen gue. Ivan kenalin ini Rania”, ujar Dion memperkenalkan kami. Rania duduk di hadapanku sambil menjabat tanganku. Aku menatap Rania, entah kenapa namanya begitu familiar. Anak yang digendong Rania juga mengingatkanku dengan seseorang, hingga aku teringat akan ucapan Dion.


“ Rania, lo mantan istri Rayendra?”.


“ Iya, kok lo tau?”, tanyanya sambil terkejut.


“ Ivan itu mantan Renata, dia kemari buat bantu gue selidiki aliran dana si Ray yang ga jelas kemana rimbanya “, tutur Dion.


“ Mantan Renata? Sebelum dia main gila sama laki gue?”, tanyanya sinis, ekspresinya mulai memancarkan emosi.


“ Ran, Ivan ini kejebak pacaran sama Renata. Dia gak tau kalo sebenernya Renata selingkuh sama Ray. Hari ini Ivan kesini karena dia bawa informasi tentang Renata, mungkin bisa berguna buat lo juga “, tutur Dion menengahi.


“ Gak apa-apa sih, gue paham kalo Rania kesel denger nama Renata. Begitu juga gue kalo denger nama Rayendra. Udah sama-sama kesel hajar aja lah mereka berdua “.


“ Nah loh…barisan para mantan mau balas dendam nih kayanya “, ledek Nadine.


“ Gue juga mantan loh. Mantan partner kerja kan “, ujar Dion


“ Bawa informasi apa Van, gue perlu bukti-bukti buat sidang hari Rabu “, selidik Rania penasaran.


“ Gue punya profil siapa Renata dan apa saja pekerjaannya. Lo perlu apa buat bukti di persidangan Ran?”, tanyaku.


“ Profil Renata kita keep dulu ya. Kita fokus dulu ke kasus Rania yang digugat cerai dengan alasan konyol dari Ray. Rania harus buktikan kalau semua tuduhan itu tidak benar dan ajukan gugatan balik bahwa sebenarnya yang salah adalah Ray karena telah berselingkuh dengan Renata “, timpal Nadine.


“ Gue udah kirim via email sama lo untuk agenda berikutnya. Setelah lo mediasi hari Rabu, kasus lo akan naik ke agenda berikutnya, yaitu agenda jawaban. Lo harus membuat jawaban atas gugatan yang ditulis oleh Ray. Disitulah manuver lo dimulai, tuntut balik Rayendra dengan menyangkal apa yang ia tuduhkan, dan keluarkan fakta bahwa rumah tangga lo ternoda karena ada pihak ketiga”, lanjut Nadine.


“ Oke, profil tentang Renata bisa gue angkat pas agenda jawaban ini?”, tanya Rania.


“ Bisa banget, tapi gak usah detail. Karena fokus lo adalah membuat gugatan rekonvensi (gugatan balik) sama Ray “, jelas Nadine.


“ I see. Lalu soal penggelapan uang Ray gimana?, apa bisa gue masukin juga?”, tanyanya.


“ Kalo penggelapan kasus yang berbeda Ran. Ini semua dikembalikan sama Dion, apa lo mau laporin ini ke polisi?”, tanyaku sambil melirik Dion yang duduk di sampingku.


Dion hanya termenung sambil melipat tangannya di dada. Dia tak menjawab pertanyaanku, pasti dia tengah memikirkan sesuatu.

__ADS_1


“ Lo tau kemana aliran dananya? Gue gak tahu menahu soal uang ratusan juta yang Ray pegang, karena selama ini malah gue yang berhadapan sama debt collector gara-gara utang Ray “, tanyanya.


“ Kalo lacak rekening si Ray sih agak susah, gue baru lacak rekening perusahaan Dion aja sih “, jawabku.


“ Renata tau gak ya kalo perekonomian Ray carut marut begini? Apa dia gak mikir kalo sebenernya dia dapet zonk. Udah bener-bener padahal dapetin cowo ganteng, tajir, mau ngajak kawin lagi hahaha “, sindir Nadine sambil menatap kearahku.


“ Sial lo Nad, kalo gue tau dari awal gak sudi deh “, jawabku sambil memalingkan muka.


“ Dion, gimana nih manuver lo? Lo punya rencana apa?”, tanyaku pada Dion yang masih termenung.


“ I’m still thinking. I’ve got nothing to say “, jawabnya pendek.


“ Van, lo punya bukti kapan dan dimana Ray sama Renata selingkuh “, tanya Rania kembali.


“ Ada sih, tapi kita obrolin nanti aja. Lo pasti kewalahan kalo gue ungkap sekarang. fokus aja sama tuntutan lo Ran “, jawabku menenangkan Rania yang semakin menggebu-gebu.


Rania hanya mengangguk sambil menenangkan bayi yang menggeliat di pangkuannya. Tingkah bayi itu menyita perhatianku, matanya yang sipit terlihat membulat setiap aku berbicara. Hatiku berdesir setiap kali bayi itu menatapku dengan sorot mata yang lugu.


“ Ih Kian ngeliatin lo terus Van dari tadi, kayanya mau digendong sama lo deh “, ucap Nadine yang tengah memperhatikan bayi yang dipanggil Kian itu.


“ Sini sama Om Dion aja, Om Ivan mah gak bisa gendong bayi “, jawab Dion sambil mengulurkan tangannya. Seketika saja Kian menjerit saat Dion mengulurkan tangannya, dia langsung membenamkan kepala pada tubuh Rania.


Nadine tertawa sambil mengambil Kian yang masih menangis dengan histeris. Dengan mudahnya ia menenangkan bayi itu, matanya yang sembab membuatku iba ingin ikut menggendongnya. Ada apa denganku, tiba-tiba saja hatiku terusik karena tatapan Kian yang menggetarkan nuraniku.


“ Tuh kan Van, Kian ngeliatin lo terus. Gendong bentar sih kasian anaknya “, ujar Nadine saat Kian menjulurkan tangannya ingin meraih diriku.


Aku memberanikan diri untuk menggendong Kian, kuangkat tubuhnya perlahan dan kuletakkan di pangkuanku. Kian masih menatapku, tiba-tiba saja tersungging tawa kecil dari mulutnya yang mungil. Tangannya menepuk-nepuk dadaku, entah apa maksudnya.


“ Ini gendongnya gimana Ran, ngadep depan apa belakang?”, tanyaku sambil memegang tubuh bayi ini agar tak jatuh dari pangkuanku.


“ Senyamannya Kian aja, nanti dia minta sendiri mau ngadep mana. Sini deh kasian lo harus gendong Kian “, ujarnya tak tega melihatku kewalahan.


“ Gak apa-apa kok, anaknya seneng nih kayanya “, ujarku sambil menggelitik tubuhnya. Sesekali ia tertawa geli.


“ Nah kan Ivan udah cocok jadi ayah, buruan lah bro nyari apa lagi sih “, celetuk Dion.


Aku tak menghiraukan ucapan Dion, kelucuan Kian sudah menyita perhatianku. Setiap gerak geriknya sangat menggemaskan, terlebih lagi saat ia mengucek matanya sambil merengek manja. Dengan refleks kuangkat tubuhnya dan kubiarkan ia memeluk diriku. Seketika Kian menjatuhkan kepalanya di dadaku sambil menghisap jempolnya. Tercium wangi sampo bayi dari rambutnya yang halus, perasaan damai mulai menyelimuti hatiku.


“ Eh Kian udah ngantuk itu, sini Van kasih gue aja “, ujar Rania begitu menyadari anaknya yang nyaris terlelap.


“ Jangan, kasian dia ngantuk. Gak apa-apa gue gendong aja. Lo sama Nadine lanjut ngobrolnya “, bisikku pada Rania.

__ADS_1


Rania, Nadine dan Dion melanjutkan obrolan mereka tentang persidangan, sementara aku menyibukan diri dengan menatap Kian yang sudah terlelap. Wajahnya membuatku iba, bayi selucu ini ditinggalkan oleh ayahnya demi perempuan lain. Dimana hati nuraninya? Apa ia tidak ingin menggendong darah dagingnya sendiri?. Aku saja yang baru pertama kali bertemu sudah mulai jatuh cinta pada tatapannya, keluguan bayi tanpa dosa ini seakan memiliki magis tersendiri untuk membuat orang jatuh hati. Semoga kamu sehat dan banyak rejeki ya dek, Allah tidak pernah tidur. Akan ada banyak orang-orang yang mencintaimu, meskipun ayahmu tidak lagi peduli denganmu.


__ADS_2