
12.15 WIB - Rumah Ibu Renata
“ Bu mana Daffa “, tanyaku sambil terengah-engah begitu masuk ke rumah ibuku.
“ Aduh Rena, Daffa udah pergi dijemput cowonya. Dia marah-marah trus tiba-tiba cowonya dateng, lalu mereka pergi. Kamu cepetan tanya kawannya mereka pergi kemana”, sahut ibuku dengan panik.
“ Bentar Bu, masalahnya apa kok beasiswanya bisa dicabut?”.
“ Tadi siang gurunya telepon, katanya ada orang yang dateng ke sekolah bikin isu soal kamu Rena. Ini yang mau Mama tanya sama kamu”, ujar ibuku sambil menarik tanganku untuk masuk ke dalam rumah dan menutup pintu.
“ Rena jawab jujur, sebenernya Ray itu udah selesai belum sih urusan sama mantan istrinya?”.
“ Udah Ma, cuma memang ada kendala di pengadilan aja. Surat cerainya belum keluar”, ujarku berbohong.
“ Masa lama banget, mereka udah resmi cerai belum sih? Ray ngaku bilangnya udah selesai, kalau gitu kalian harus cepat-cepat daftarin ke KUA”, desak ibuku.
“ Ya katanya sih udah Ma, tapi memang ga bisa ke KUA dalam waktu dekat”.
“ Jangan bohong kamu Renata!. Ada orang yang datang ke sekolah Daffa, dia bilang bahwa Ray masih punya istri sah dan punya masalah dengan hukum. Kamu tau betapa terpuruknya hati anak kamu? Kamu tau ga sih lelaki yang kamu nikahi itu siapa? Baru nikah bukannya bawa rejeki malah nebar masalah”.
“ Bukan salah Ray, Ma. Itu pasti mantan istrinya yang bikin ulah nebar isu murahan ke sekolah Daffa. Aku bakal laporin perempuan itu ke Polisi, biar tau gimana rasanya ada di bui”.
“ Terserah lah kamu mau laporin mantannya atau enggak, tapi kamu harus jujur sama Mama, apa betul si Ray berurusan dengan hukum?”, desak ibuku.
“ Demi Tuhan enggak Ma, dia ga ada urusan sama hukum, kalau lagi sidang di pengadilan iya”.
__ADS_1
“ Lagi sidang? Jadi Ray masih sidang cerai sama mantan istrinya????”.
“ Maksud Rena masih ngurus akte cerai Ma”, jawabku sambil meralat ucapanku.
“ Jadi bener dugaan Mama, Ray masih belum resmi bercerai dan udah kawin lagi sama kamu? Renataaaa, apa sih yang ada di pikiran kamu? Bisa-bisanya mau nikah sama lelaki yang masih beristri sih?”, jerit ibuku sambil mengacak-acak rambutnya.
“ Ray lelaki baik Ma, dia udah talak istrinya sejak lama. Cuma terkendala di pengadilan aja Ma “, rengekku.
“ Lelaki baik mana yang belum menyelesaikan masa lalunya, pria baik-baik ga akan pernah berbohong Renata. Ini pernikahan kamu yang kesekian kali, kamu harusnya sudah paham betul lelaki yang tepat untuk kamu nikahi”.
“ Ma aku minta maaf, kami bukannya mau bohong, cuma saatnya aja yang belum tepat untuk cerita”, rengekku sambil menarik tangan ibuku.
“ Renata, Mama ga bisa komentar apa-apa lagi. kamu selesaikan urusan anakmu, jemput dia segera. Mama gak mau tau, kalau Ray memang serius dengan kamu, dia harus nikahi kamu di KUA sesegera mungkin. Mama gak mau menanggung malu gara-gara kamu menikahi pria beristri”, ancam ibuku dengan mimik serius.
Kepalaku langsung berdenyut gara-gara ancaman ibuku, segera saja kulangkahkan kaki menuju mobil untuk mencari keberadaan Daffa. Kucari kontak teman-temannya di ponselku sambil mengetik pesan pada mereka satu-persatu. Tidak ada jawaban pasti yang kudapat, dari kesekian kawannya hanya satu yang memberikan informasi tentang tempat kost pacarnya. Segera saja kutancapkan gas mobil Rayendra menuju alamat yang akan kutuju.
“ Sial, macet dimana-mana”, gerutuku sambil memencet tombol klakson berkali-kali. Beberapa motor di samping menyalip tiada henti, mobiku terhalang hingga 5 menit tak kunjung melaju.
“ Sabar dong Non, makanya kalau nyetir tuh gak usah pake emosi”, sahut suara wanita yang sedang merokok disampingku. Wajahnya tersenyum sambil mendelik kearahku.
“ Diam lo, gak usah ikut campur lah”, jawabku pada wanita yang wajahnya mirip denganku. Ya wanita itu adalah diriku sendiri.
“ Lagi kalut ya Non, gue udah bilang dari dulu. Jangan coba-coba bermain api, jadinya kan kebakar sendiri”, sahutnya sambil menghirup rokok filternya hingga asapnya mengepul di seluruh penjuru mobil.
“ Ini semua salah tuh perempuan gila, dia nebar isu kalau gue perebut laki orang!”.
__ADS_1
“ Hahahahaha lah emang iya kan Non, lo juga sih ngeladenin cowo beristri”, sindirnya sambil mengejek diriku.
“ Ray yang mulai kok. Bukan salah gue kalo dia suka dengan pesona gue. Asal lo tau aja istrinya ga becus melayani suami, gak pinter ngatur duit, dan tentunya gak semenarik gue”.
“ Hahahaha, kalo memang pesona lo memikat,kenapa milih cowo kaya Ray sih Non?. Kenapa ga milih cowo ganteng tajir kaya Ivan, terima tawaran jadi selir Hardian, atau terusin hubungan lo sama David. Idup lo ga bakal susah kaya sekarang”.
“ Jaga mulut lo ya. Gue bukan wanita murahan !!!”.
“ Lantas apa dong? Perebut laki orang?”, ujarnya sambil terus mengejekku.
“ GUE BUKAN PELAKOR! CAMKAN ITU !!! “, bentakku sambil berteriak membanting tanganku di kemudi mobil.
“ Ya terserah lo deh, kalau lo memang cinta sama si Ray, lo harus siapin mental dengan sanksi sosial. Segala gunjingan, cemoohan, dan hinaan pasti akan jadi makanan lo seumur hidup. Kalau mau hidup tenang, ya tinggalin . Kalau masih kuat, ya terusin. Pilihan ada di tangan lo “.
“ Berisik lo !!!, gak usah ikut campur. Pergi sana, tinggalin gue sendiri”, usirku dengan penuh emosi. Ingin rasanya aku menghantam semua kendaraan yang sedari tadi menyalipku dari tadi, sementara suara di sebelahku terus mengoceh tanpa henti.
“ Hahahahaha, santai dong Non. Gak usah marah-marah gitu dong, liat tuh motor di samping kanan lagi bengong ngeliatin lo ngomong sendiri hahahahaha”.
Aku menoleh saat mobilku masih berhenti di lampu merah, tampak seorang pengemudi ojek online menatapku keheranan karena berbicara sendirian. Wajahku langsung merah padam, emosiku seakan bergejolak karena suara-suara aneh sedari tadi kerap menggangguku.
Tin Tiiiiin Tin Tiiiiin
Bunyi klakson mobil menjerit membuyarkan lamunanku, ternyata lampu sudah berubah hijau. Kutancap gas sedalam mungkin menyusuri jalanan Kota Bandung yang kian padat dan gersang. Kulirik alamat kost yang tertera di layar ponselku, seharusnya sih jaraknya sudah tak begitu jauh. Sial, batre ponselku tinggal 2% lagi, segera kucari charger portable di laci dashboard namun semua nihil. Ku bergegas memacu mobilku agar segera sampai tujuan, namun tiba-tiba kecepatan mobil berkurang. Asap mengepul dari kap mobil dan indikator engine check menyala di panel kontrol. Kuinjak pedal gas sambil memasang sen kiri untuk merapat, hingga akhirnya mesin mobilku mati di tengah jalan.
AAAAARRRRRGGGGGHHHH
__ADS_1
Tin Tiiiiin Tin Tiiiiiin Tin Tiiiiiiiin
Suara klakson berbunyi silih berganti. Kepanikan langsung melanda saat aku terjebak di dalam mobil yang mogok, kulirik ke sekeliling tak ada satupun yang menolongku. Entah ada di mana aku sekarang, tidak ada petunjuk jalan yang bisa kubaca. Kuambil ponselku untuk menghubungi Ray, namun sial ponselku kini mati total. Kucoba membuka jendela untuk meminta bantuan, namun yang kudapat hanya sejumlah kendaraan yang berusaha menyalip tanpa memberikan pertolongan.