Harta, Tahta, Renata

Harta, Tahta, Renata
Enigma Cerita Rayendra


__ADS_3

07.30 WIB – Rumah Rania


Bip Bip Bip Bip Bip Bip Bip


Astagfirullah……


Aku terbangun dengan nafas terengah-engah, tubuhku basah karena keringat. Dadaku berdegup sangat kencang hingga tangan ini gemetaran. Kutepuk-tepuk wajahku, sakit terasa. Ya Allah apa benar aku bermimpi?. Kusapu pandangan ke sekeliling, tidak ada siapa-siapa di kamar ini. Aku bergegas turun dari kasur, lututku masih lemas dan dadaku berdebar keras.


“ Rania….Raniaaaaa”.


“ Kila….Kicaaaaaaaa”.


Aku berlari menuruni tangga dan mencari-cari sosok yang kukenal di rumah ini. Suaraku sampai tercekat memanggil mereka namun tidak ada jawaban sama sekali. Kutengok dapur tempat dimana Rania memasak, tidak ada siapa-siapa. Dapur itu masih bersih dan rapi.


“ Raniaaa….”


Apa benar Rania, Kila dan Kica ada di rumah ini? Di mana mereka?.


“ Pap, ngapain sih celingak-celinguk kaya anak ilang”.


Sesosok wanita berhijab memanggilku sambil menenteng tas plastik di tangannya. Wajah manisnya menatapku sambil keheranan.


“ Raniaaaaaaa!!!”.


Kupeluk wanita itu seerat mungkin, kuciumi kepalanya tanpa henti sampai ia berteriak karena geli.


“ Apaan sih Pap. Kamu nih malah bangun siang. Orang udah lari pagi tuh”, ujarnya sambil berlalu ke dapurnya.


“ Rania, ini bener kamu kan? “, tanyaku tak percaya sambil meraba badannya. Perutnya terlihat masih buncit. Rania masih hamil.


“ Aduuuh, hati-hati dong Pap, kasian dede di perut. Istri hamil malah diguncang-guncang dari tadi”.


“ Astagfirullah Ran, aku mimpi buruk Ran. Semuanya kaya nyata banget. Aku sampe gemetar ini”, ujarku sambil memperlihatkan tanganku yang masih basah dan bergetar.


“ Makanya, sebelum tidur tuh baca doa dulu. Begadang mulu sih”, jawabnya sambil membuka kulkas.


“ Rania, kamu masih hamil? Anak kita belum lahir?”.


“ Menurut kamu gimana? Anaknya masih 5 bulan di perut mau lahir gimana”, senyumnya meledekku.


“ Aku kerja dimana Ran? Aku kerja di Bandung gak sih?”.


“ Kamu nih tidur semalem aja kaya amnesia setahun. Kamu masih kerja sama Dion lah”, jawabnya.


“ Aku ga kerja di Bandung Ran? Beneran?”.


“ Mana aku tahu, kamu ngerasa kerja di Bandung gak? Udah ah aku mau lanjut belanja ke Pasar Modern, tadi di tukang sayur gak lengkap”, ujarnya.


“ Kila sama Kica mana Ran? Aku kangen banget sama mereka”.


“ Lagi sama Mama ke warung. Kamu nih kenapa sih aneh banget Pap”, tanyanya keheranan.


Tiba-tiba terdengar suara tawa renyah Kica dari teras depan, mereka masuk meloncat-loncat kegirangan.


“ Kicaaaaaaa…….Kilaaaaaa….Papa kangen sama kalian Naaaak”.


Kugabruk tubuh mereka dengan kencang. Kuciumi mereka berdua hingga mereka tertawa terbahak-bahak.


“ Hahahahahaha….Papa geliiiiii, kamu kok bangun siang sih Pap. Gak solat subuh yaaaa”, ledek Kila padaku.


“ Maafin Papa ya, Papa janji gak tinggalin kalian. Kalian sayang Papa kan Nak”, ujarku sambil memeluk tubuh mereka erat-erat.


“ Kenapa kamu Ray, kaya orang abis darimana aja “, sahut ibu mertuaku.


“ Ma. Maafin Ray ya. Kalian darimana ?”, ujarku sambil meraih tangannya.


“ Abis dari warung, Rania nih lupa belanja bulanan sampe gula aja abis”, sahutnya.


“ Iya, Rania mau ke pasar sekarang. Kila sama kica di rumah sama Nenek ya, Mama cuma sebentar kok”, ujarnya sambil merogoh tas.


“ Mau kemana? Aku ikut ya, kamu gak boleh pergi sendirian”.


“ Ya udah deh cepetan cuci muka dulu. Aku harus masak buat makan siang”, sahutnya.


Dengan segera aku berlari ke kamar untuk mencuci muka dan ganti baju. Badanku masih lemas dan bayangan orang-orang di mimpiku serasa nyata. Renata, apakah ia nyata?.


08.00 WIB – Pasar Modern BSD


“ Oh, jadi kamu ceritanya mimpi kerja di Bandung terus kenal sama perempuan namanya Renata gitu?”.


“ Iya Ran. Jangan marah ya, namanya juga mimpi. Aku aja bingung kok mimpinya bisa sampai parah banget. Masa aku ninggalin kalian”, jawabku sambil mengunyah lontong medan kesukaan kami.


“ Aslinya ada gak nih yang namanya Renata? Jangan-jangan kamu memang punya selingkuhan”, selidiknya.


“ Gak ada Ran, beneran. Nih cek ponselku aja, baca semua chat WA sampai emailku”, ujarku sambil menyodorkan ponselku.


“ Iyaaa, percaya kok. Aku kan gak suka buka-buka ponsel kamu Pap. Kamu tuh family man di mataku. Sayang sama Ibu kamu, sama Mama, sama anak-anak, rasanya gak percaya kalau bisa nyakitin perempuan”, ujarnya.


“ Ran, aku mau jujur sama kamu boleh enggak?. Aku mau kita evaluasi lagi tentang hubungan kita, apa saja yang kurang dari aku sebagai suami kamu?”.


“ Harus jujur banget nih? Di sini banget ngobrolnya?”, tanyanya.


“ Iya aku pengen punya quality time sama kamu”, jawabku sambil menggenggam jemarinya.


“ Hmmm, aku pengen kamu gak terlalu sibuk sama kerjaan. Aku tahu kalau kamu cari project agar kita bisa makan, tapi aku butuh sosok kamu untuk jadi temen ngobrol”.


“ Aku pengen kamu bisa sholat tepat waktu, kalau kamu sibuk kerja kadang suka lupa. Aku juga jadi ikut-ikutan bolong-bolong deh”, jawabnya.

__ADS_1


“ Iya, aku sadar itu Ran. Maaf ya gak bisa jadi imam yang baik buat kalian”, sesalku.


“ Kalau aku gimana? Apa yang kurang dari aku?”, tanyanya balik.


“ Aku pengen kamu lebih sensitif Ran. Aku gak keberatan ponselku kamu buka, tanya kemana aja aku pergi, dan jangan terlalu sibuk ngurusin anak-anak. Aku butuh kehadiran kamu sebagai kekasih, biar kita bisa mesra terus sampai tua nanti”.


Rania terdiam mendengar jawabanku, matanya berkaca-kaca sambil meremas jemariku.


“ Maafin aku ya Pap, aku juga banyak kurangnya selama ini. Harusnya sebagai istri aku bisa memberikan perhatian penuh sama kamu, biar kamu ga nyari perhatian di luar sana kaya di mimpi kamu itu”, ujarnya sambil menahan tangis.


“ Sama-sama Sayang. Mungkin mimpi ini teguran buat kita, biar kita belajar untuk saling mengoreksi satu sama lain”, jawabku sambil mengelus kepalanya.


“ Jangan tinggalin aku ya Pap, aku butuh kamu “, ujarnya.


“ Tidak akan Rania, aku janji sama kalian. Ditambah lagi ada anak yang akan lahir sebentar lagi. Oya boleh gak aku kasih dia nama?”, sahutku.


“ Boleh, kamu mau nama apa buat anak perempuan kita?”.


“ Kianna Malaika Azziati, aku suka banget nama itu”, jawabku sambil mengelus perutnya.


“ Wah, tumbenan kamu bisa pilih nama bagus, kenapa jadi keren gini suami aku”, godanya sambil mencubit pipiku.


“ Kita butuh honeymoon kayaknya Ran, kita pergi berdua yuk sebelum Kian lahir”, ajakku sambil menerawang.


“ Ajak anak-anak dong Pap, kasian mereka gak pernah jalan-jalan selama aku hamil”.


“ Oke deh, kita babymoon ya. Mumpung kamu masih hamil trimester 2, masih boleh terbang kan?”.


“ Kamu beneran mau babymoon? Ada duitnya emang?”, tanyanya dengan mata berbinar-binar.


“ Apa yang enggak buat kalian. Aku pengen nebus kebersamaan yang hilang Ran”.


“ Hmmm…kemana ya enaknya. Aku sih sebenernya pengen banget ke Sumba dari dulu”, jawabnya.


“ Wah ide bagus tuh, aku cek tiket ke Sumba ya”, sahutku sambil mengecek aplikasi pemesanan tiket di ponselku.


“ Oke nih harganya. Kita berangkat besok malam ya Ran, aku pesen tiket sekarang ”, ujarku sambil buru-buru memesan kursi pesawat.


“ Kamu serius? Kok buru-buru amat sih Pap?”, tanyanya seakan tak percaya.


“ Udah aku bilang kan, aku mau nebus kesalahan sama kalian”.


Rania terlihat kegirangan sambil menepuk-nepuk tangannya. Tak lama ia teringat harus berbelanja sayur, dengan terburu-buru ia menghabiskan lontongnya dan pamit membeli sayuran di lapak yang tak jauh dari kedai ini.


Bip Bip Bip Bip Bip Bip


Dion Calling


“ Halo Bro, apa kabar lo”, sapaku saat sambunganku terhubung.


“ Duh Yon lo pasti gak percaya sama cerita gue deh. Gue mimpi buruk bro, parah banget ceritanya”.


“ Ah elah kirain apaan, mimpi doang heboh banget Ray”, jawabnya.


“ Serius, lo ada di mimpi gue juga. Kita sampe berantem Yon”.


“ Hahahahahaha, berantem kenapa tuh, rebutin cewe apa gimana?”, ledeknya.


“ Panjang lah, males gue ceritanya. Gue masih merinding ini”.


“ Eh Bro, gue mau cerita nih. Si Naya ngajak ketemuan lagi nih, gimana ya?”, tanyanya.


“ Naya selingkuhan lo itu? Lo masih pacaran?”.


“ Dia suka ngajak ketemu Ray, padahal gue uda males sih”, jawabnya,


“ Yon tinggalin semua selingkuhan lo. Suatu saat lo akan nyesel abis. Cinta sejati lo cuma Nadine”.


“ Halah, lo sendiri kemaren iseng-iseng sama SPG mobil”.


“ Sumpah gue tobat. Gue gak mau kaya gitu. Suatu saat lo akan bertobat juga Yon. Inget Sean anak lelaki lo satu-satunya. Apa jadinya kalau pas gede dia mempermainkan wanita”.


Dion terdiam mendengar ucapanku, entah dia sedang mencerna atau hendak meledek apa yang akan kukatakan. Tapi semua itu keluar dengan tulus dari lubuk hati, rasanya tak ikhlas harus kembali ke lembah hitam lagi.


“ Lo serius nih? Kayaknya mimpi semalem merubah hidup lo banget ya”, ujarnya.


“ Iya Yon. Please jangan selingkuh. Kesenangan hanya sesaat, sisanya cuma penyesalan. Sanksi di dunia aja udah berat, apalagi di akhirat nanti. Tobat deh bro “.


“ Easy bro, gue gak seserius itu. Lo kesambet apaan sih?”.


“ Udah deh, gue cerita juga lo ga bakal percaya. Gue minta maaf ya Yon kalau punya salah”, sahutku tiba-tiba.


“ Apaan lagi sih lo, udah ah gue anter Sean ice skating aja deh”.


“ Salam buat Nadine sama Sean, makasih udah jadi orang baik selama ini”.


Aku menutup sambungan ponselnya, kuyakin Dion masih bertanya-tanya akan segala ucapan barusan. Sambil menunggu Rania, aku mengecek kontak yang ada di ponsel, mencoba mencari apakah sosok Renata memang ada di hidupku. Kuhapus semua daftar perempuan yang pernah kudekati dulu, perasaan bersalah pada Rania kini membuncah. Aku sudah bertobat tak mau lagi mengkhianatinya.


21.30 WIB


“ Kila…Kica besok malam kita liburan ya “, ujarku sambil memeluk tubuh mereka di kamarnya.


“ Waaaahhhh, asyiiiik. Kita liburan kemana Pap?”, pekik Kila.


“ Kita mau ke Sumba, kalian pasti suka”.


“ Dimana tuh? Ada apa di sana?”, tanya Kica.

__ADS_1


“ Pokoknya suatu tempat yang paling indah, ada banyak kuda yang gagah berlarian di savanna yang luas”, tuturku sambil membelai rambut mereka.


“ Waaaah, ada kuda besar warnanya putih ga Pap?”.


“ Ada, kita bisa lihat kuda di sana? Kalian mau kan ikut Papa?”.


“ Mau Pap. Aku mau ikut kemana aja Papa pergi. Jangan tinggalin aku ya Pap”.


Tiba-tiba hatiku berdesir mendengar ucapannya. Kepalaku terasa berputar-putar dan pandanganku mulai berkunang-kunang. Pelipis kananku tiba-tiba sakit dan dadaku sesak. Mungkin aku kelelahan gara-gara kerja lembur, batinku. Ah biarlah, semoga dengan liburan bersama Rania dan anak-anak bisa mengobati lelahku.


Keeseokan harinya….


“ Selamat Pagi, Selamat datang di Sumba Eco Resort. Mau booked untuk berapa kamar Pak?”, sapa seorang resepsionis menyapaku.


“ 1 kamar untuk 2 dewasa dan 2 anak ya”, jawabku.


“ Baik Pak, kami cek kamarnya ya. Kebetulan masih available, mau masuk sekarang apa ada yang ditunggu?”, tanyanya dengan sopan.


“ Langsung aja, sudah bisa check in kan?.


“ Bisa Pak”.


“ Tolong bawakan barang-barang saya dan anak-anak ya. Boneka Little Pony nya jangan sampai ketinggalan”, pintaku pada room boy yang berdiri di sampingku.


Room Boy itu menatapku keheranan, ia melemparkan pandang pada rekan kerjanya seolah-olah kebingungan.


“ Maaf, barang yang mana ya? Bapak gak bawa apa-apa soalnya”.


“ Saya bawa koper Mas, punya istri dan anak-anak tuh. Apa sudah dibawa sama istri ya?”, jawabku tak kalah kebingungan.


“ Maaf, Bapak datang sendiri. Tidak ada wanita atau anak kecil yang datang bersama Bapak”.


“ Loh, ada Mas. Gak mungkin mereka ketinggalan di bandara, coba tanya driver yang barusan jemput saya”, jawabku mulai berang.


Petugas tersebut langsung berlari sambil keheranan, tak lama ia datang menghampiriku sambil membawa driver yang menjemputku barusan.


“ Maaf Pak, kata rekan saya Bapak memang sendirian. Sepanjang jalan dari Bandara Bapak hanya tertidur pulas”.


Kepalaku langsung berputar seketika, pandanganku langsung kabur dan rasa nyeri di dada kembali kambuh. Ada apa denganku, di mana Rania dan anak-anak? Mengapa aku ada di tempat ini sendirian?


Aku berlari ke luar hotel sambil mencari-cari mereka. Kuyakin mereka datang bersamaku, semalam saja kami masih bercengkrama sambil membayangkan liburan di tempat ini. mengapa semua ini terasa seperti mimpi?


Kulangkahkan kakiku pada sebuah padang savanna yang menghampar luas. Terlihat sekumpulan kuda liar nan gagah sedang berlari kesana-kemari. Sebuah kuda putih dengan surai yang indah nampak berlari kencang ke arahku. Langkah kakinya berderap seperti irama, terdengar selaras dengan degup jantungku.


Kuda putih itu berdiri dihadapanku, ia menundukkan kepalanya seolah ingin kuelus. Dengan hati-hati kuelus surai indahnya, entah mengapa kuda ini mengingatkanku pada anak-anakku.


“ Pa Pa Pa Pa “.


Tiba-tiba terdengar seruan anak bayi memanggil-manggil, kusapu pandangan ke sekeliling untuk mencari sumber suara tersebut. Seorang anak bayi perempuan sedang duduk di hamparan rumput yang mengering, tangan mungilnya sibuk mencabuti ilalang sambil berceloteh sendirian.


“ Dek, kamu ngapain di sini sendirian? Mama kamu mana?”, tanyaku sambil menggendong badannya.


“ Pa Pa Pa Pa Pa”.


Kuamati wajah bayi tersebut, dia mirip sekali dengan Kica saat kecil. Matanya mirip seperti mataku yang sipit. Dia sangat mirip seperti anakku, ia terus-terusan memanggiku Papa”.


“ Kiana?”.


“ Pa Pa Pa Pa Pa”.


Ya Allah ada apa ini? Apa aku kembali bermimpi?. Perjalananku ke sini bagaikan teka-teki yang tak bisa kupahami. Mimpi akan Renata hingga berdiri di tempat asing sendirian membuat bulu kudukku merinding. Lalu mengapa aku bertemu anak yang mirip Kian di mimpiku kemarin?.


“ Pa Pa Pa “, celoteh bayi itu sambil memberikan ilalang kering di tangannya.


“ Kiana, ini kamu?”.


Bayi perempuan itu tertawa begitu kupanggil, ia menjulurkan tangannya seolah-olah ingin kupeluk. Kudekap tubuh mungilnya, sungguh terasa damai dan hangat.


“ Kian, kalau memang ini kamu, Papa mau minta maaf sama Kian”.


“ Pa Pa Pa Pa Pa”, sahutnya sambil berceloteh tanpa makna.


“ Maafkan Papa telah meninggalkanmu Nak, Papa sayang sama Kian. Kian sayang sama Papa gak?”.


“ Pa Pa Pa Pa Pa Pa”, sahutnya sambil menepuk wajahku.


“ Kian harus jadi anak sholeha, sayang sama Mama dan Kakak ya”.


“ Pa Pa Pa Pa Pa Pa”, celotehnya sambil tertawa. Tangannya menjulur ke depan, seolah-olah menunjukkan suatu tempat agar aku berjalan ke sana.


“ Kita mau ke mana? Kamu mau kita ke sana?”.


“ Pa Pa Pa Pa Pa Pa”, ujarnya sambil mengangguk. Ia terus menjulurkan tangannya seraya mengajakku ke sana.


“ Kian, maafkan Papa ya Nak. Papa sayang sama kalian semua”.


Kususuri langkahku menuju suatu padang rumput yang luas ditemani sekumpulan kuda liar yang saling berlarian. Meskipun semua ini terasa seperti mimpi, namun aku sangat menikmati pelukan dari bayi mungil ini. Harum baunya, tatapan lugunya, hingga celoteh riangnya begitu kukagumi, dia sangat cantik bak malaikat. Entah apa yang akan kutemui di depan sana, yang jelas hati ini menjadi damai dan bahagia.



2 episode terakhir ❤️


.


.


Bagaimana nasib Ray - Renata - Rania? Masih ada 2 episode berikutnya. Please like, vote & comment ya 👌

__ADS_1


__ADS_2