Harta, Tahta, Renata

Harta, Tahta, Renata
Menunggumu


__ADS_3

Cerita Ivan


13.00 WIB – Kantor Dion


“Ciecie yang naik jabatan, gaji udah gak berseri nih kayaknya Van. Libur aja bisa suka-suka, seloroh Dion sambil bertepuk tangan dengan muka tengilnya. Bima dan Angga ikut menyorakiku begitu aku sampai di kantor ini.


“Bisa aja lo, masih jadi kacung lah gue. Masih gedean CEO Analogous kayaknya sih,” ujarku.


“Hahaha, jabatan boleh Bos, tapi gaji gedean lo kemana-mana Bro,” ujarnya sambil menggaruk kepalanya yang mulai gondrong.


“Kenapa lo Bro, tumben lo gak pelontos lagi. Punya masalah apa gimana?”, kini giliranku berseloroh padanya.


“Pusing gue Van. Sepeninggal si Ray banyak klien yang gak bisa gue handle sendirian. Gue udah ganti Project Manager berkali-kali tapi gak ada yang sehebat Ray,”


Kami membisu begitu Dion kembali mengenang Rayendra. Pria yang selama beberapa bulan menjadi perbincangan kami. Aku tak menyangka akhirnya menyisakan luka, terutama bagi Rania dan ketiga putrinya.


“Gak nyangka gue Yon, akhirnya bakal begini,” ujarku pelan.


“Apalagi gue Van. Biarpun kesel setengah mati tapi dia tetep sahabat gue.”


“Rania gimana kabarnya?,”tanyaku lagi.


“Mana gue tahu, harusnya gue kali yang nanya sama lo. Lo masih suka kontak Rania?” tanyanya sambil mengulum senyum.


Aku hanya menggeleng pelan sambil melangkahkan kaki ke pantry kecil di pojok ruangan. Kuseduh kopi espresso milik Dion, hanya itu yang tersedia di kantor ini.


“Hey dude, what’s the matter?,” tanya Dion dengan gaya khas-nya.


“Gak ada apa-apa. Ya mungkin belum waktunya juga kan Rania membuka hubungan lagi,” jawabku.


“Loh, jadi support system itu gak harus punya hubungan spesial Bro. Lo tau sendiri mental anak-anaknya makin down sekarang ,” tutur Dion yang kali ini ada benarnya.


“Gue gak tau harus mulai darimana Yon. Semua kayaknya serba salah,” jawabku pasrah.


“Cinta gak akan pernah salah, selama lo memulai dengan cara yang benar,” balasnya.


Aku tergelitik mendengar jawaban pria brengsek di hadapanku. Sepertinya Dion sudah tobat sepenuhnya, bisa-bisanya ia menasihatiku soal cinta.


“Bisnisnya Rania gimana Yon,” tanyaku sambil menghirup kopi yang masih mengepul.


“Yaaaa mana gue tau lah Van. Lo tanya Nadine sana. Eh tapi bini gue pernah cerita kalau bisnisnya lagi sepi beberapa bulan lalu.”


Aku terkesiap mendengar jawaban Dion. Tak terbayang olehku bagaimana Rania menghidupi ketiga putri dan ibunya.

__ADS_1


“Tapi gue yakin Rania bisa lewatin semua kok Van, take it easy,” jawab Dion seakan membaca kegelisahanku.


“Renata? Nasib dia gimana? ,” tanyaku lagi. tiba-tiba saja perempuan itu melintas di kepalaku.


Kali ini Dion yang menghela nafas dibalik layar komputernya, raut wajahnya seakan malas untuk membahas Renata.


“Bu Anita bilang sih kasusnya sudah masuk ke pengadilan. Penggelapan bisa kena pasal maksimal 5 tahun penjara.”


“She deserve it,” balasku pelan.


“Masih dendaaaam?,” sindir Dion sambil menyunggingkan senyum.


“Gak lah, dia pantes dihukum gara-gara merebut Ray dari keluarganya,” serobotku.


“Lo justru harus berterima kasih sama Renata, dia yang menjauhkan Ray dari Rania. Coba kalau mereka masih bersama, Si Ray akan tetap jadi pria brengsek di belakang Rania,”


“Iya juga sih Bro, lo bener juga,”.


“Dan lo jadinya gak bakal kenal Rania kan hehehe,” selorohnya.


“Gue harus gimana sekarang Bro, mau WA aja gue gak berani!!!,” tanyaku sambil setengah berteriak. Gejolak emosi yang kupendam seakan tak tertahankan lagi. Bima sampai menahan senyum melihatku gelisah dari tadi.


“Go get her Van. What are you waiting for?,” seru Dion.


“Caranya?”


“Gue bukan mau nembak ABG Bro, gak semudah itu gue ngajak orang kawin,” serobotku.


“Yaelah, penjajakan dulu aja sih. Gak usah bahas kawin sekarang. Mumet gue mikirin kawin-cerai,” ujar Dion sambil memijat keningnya.


“Ya udah lah, sebelum lo mumet gue samperin Rania aja sekarang. Gue kangen sama Kian, pastinya dia udah gede ya Bro,”


“Hmmmm…..,” Balas Dion menggumam, jarinya sibuk menari diatas keyboard.


“Okedeh, gue cabut ya Yon. Thank you sob,” ujarku sambil berdiri meninggalkan Dion.


“Good luck Van, salam buat Rania dari gue dan Nadine,” ujar Dion dari balik layar monitor.


“Pastinya.”


14.25 – BSD Tangsel


Kuinjak pedal gas di ruas Tol BSD yang membawaku ke arah kediaman Rania. Disampingku sudah terdapat sekotak muffin kesukaan anak-anak. Sudah kubayangkan teriakan gemas, dan wajah lucu mereka. Sudah lima bulan lamanya aku tak bertemu dengan mereka, mungkin Kian sudah tidak mengenalku lagi saat ini.

__ADS_1


Mobilku sudah keluar dari ruas tol, GPS ku menunjukkan tinggal 10 menit lagi aku tiba di rumah Rania. Tanganku mulai berkeringat dingin, entah apa yang harus aku katakan begitu tiba disana.


“Halo Ran, gue gak sengaja lewat sini,”


“Assalamualaikum Rania, aku sengaja kemari bawa kue,”


“Hai Ran, apa kabarnya. Aku kangen sama anak-anak,”


Aaarrrrrggghhh….pikiranku terus berkecamuk merangkai kata-kata yang pas. Aku tampak bodoh tiba-tiba datang ke rumahnya seperti ini. Bagaimana nanti kata ibunya, keluarganya, tetangganya?. Tapi jika aku diam saja, kapan aku bisa memulai hubunganku dengannya.


Akhirnya mobilku tiba di depan sebuah rumah berpagar hitam. Di teras rumahnya tersimpan dua buah sepeda anak berwarna ungu, tak diragukan lagi pasti ini benar rumah Rania. Kuparkir mobilku agak jauh di depan rumahnya, aku sengaja agar Rania tak menyadari kehadiranku. Kulepas kacamata hitam sambil merapikan rambut di kaca spion. Tanganku masih berkeringat dingin dan dadaku berdegup makin kencang. Tiba tiba saja sebuah mobil MPV hitam parkir di depan rumah Rania. tak ayal lagi, mobil itu pasti tamunya Rania. kuurungkan niat untuk melangkah keluar mobil. Aku hanya mengamati mobil MPV itu dari spion mobilku.


Penumpang di mobil itu akhirnya turun, tampak seorang pria berperawakan besar turun dari pintu supir. Matanya sibuk menatap layar ponselnya, ia tak langsung masuk seolah sedang menunggu sesuatu.


Tak pikir Panjang lagi, aku langsung memajukan mobilku meninggalkan rumah Rania. kuurungkan niat untuk bertemu dirinya hari ini. Siapa lelaki yang hendak bertamu ke rumahnya? Kerabatnya? Pelanggan? Atau malah lelaki yang mendekatinya?


Bip bip bip bip bip bip bip


Dion Calling


“Halo Bro, gimana? Udah ketemu Rania?,” ujar suara di sebrang sana.


“Boro-boro Yon, gue balik lagi nih,” jawabku ketus.


“Rania gak di rumah apa lo diusir nih?,”


“Lagi ada tamu kayaknya. Timingnya gak pas Bro,”


“Makanya lain kali ijin dulu kalau mau mampir. Tinggal WA atau telfon aja mikir seribu kali,” ejek Dion.


“Next time lah Bro. Gue mampir ke rumah lo aja deh, ada muffin nih buat Sean,” jawabku sambil melirik kotak muffin yang asalnya ingin kuberikan pada anaknya Rania.


“Okay Bro. Gue juga mau balik cepet nih, tar malem mau meeting di luar. Eh Van cariin gue admin dong, gue gak sanggup ngurusin jadwal meeting sama proposal sendirian,” pinta Dion.


“Yah, selera lo kan cewek seksi gitu, mana ada gue kenal gituan.”


“Gak usah model begituan lah, bisa habis gue dilibas Nadine. Yang penting dia bisa kerja, jujur, cekatan,” jawab Dion.


Aku merenung sambil menatap jalan di depanku. Lalu tiba-tiba sebuah ide melintas di pikiranku.


“Kayaknya gue punya kandidat yang bisa bantuin lo, gue yakin Nadine gak bakal cemburu,” jawabku sambil mengulum senyum.


“Good. Langsung suruh dia menghadap gue ASAP. Urgent nih Van.”

__ADS_1


“No worries…gue bisa pastiin dia bakal dateng.”


Aku kembali melajukan mobilku di jalan tol. Meskipun dada ini diliputi kecewa, tapi aku bersyukur tak bertemu Rania hari ini. Aku belum siap untuk memulai pembicaraan kembali. Mungkin hari ini tak tepat, tapi aku yakin kami akan bertemu kembali di saat yang tepat. Aku tau hari itu akan tiba, kita lihat saja.


__ADS_2