
“ Mam kapan papa pulang? “, tanya anakku Kila saat ia hendak bersiap-siap untuk tidur di kamarku. Kica sudah tertidur pulas sedari tadi karena seharian asyik bermain.
“ Katanya sih 3 hari lagi kak “, jawabku dengan penuh keraguan. Diriku masih linglung, perkataan Ray tentang rumah ini tempo hari masih menyita pikiranku. Kini ia sudah kembali ke Bandung, sementara aku ditugasi untuk memfoto seluruh bagian rumah untuk ia posting di internet.
Berat rasanya aku melepaskan rumah ini. Bukan karena materi, tapi kenangan indah bersama Ray dan anak-anak masih membayangi di segala sudut rumah ini. Kamar tidurku, adalah tempat paling favorit untuk kami berkumpul, bercengkrama, saling memeluk satu sama lain. Kamar anakku baru saja aku hias dengan wallpaper kesukaan mereka, kamar yang sengaja aku rancang agar mereka mau belajar tidur tanpa kami. Ruangan main sengaja aku hias dengan lukisan Kila saat ia kursus gambar. Aku susun semua lukisannya menjadi sebuah galeri, agar suatu hari ia akan bangga dengan hasil karyanya sendiri. Turun ke lantai 1, ada ruang tamu sekaligus ruang keluarga yang merupakan tempat kami bercengkrama dengan keluarga dan kerabat. Tempat kami menonton televisi sambil memesan makanan via aplikasi setiap akhir pekan. Di pojok ruang tamu terdapat sebuah piano digital milik Kila, sebuah sertifikat apresiasi saat Kila mengikuti recital terpampang di atasnya. Ray sering memainkan lagu kesukaanku, Perfect dari Ed Sheeran. Aku sering duduk di sampingnya sambil melihat jari tangan Ray menari di atas tuts piano melantunkan lagu favorit kami. Bergeser ke taman belakang, inilah spot kesukaan kami untuk foto-foto dan bemain ayunan bersama anak-anak. Sebuah taman kecil yang kami hias sebagai tempat melepas penat kami. Daun sirih gading tumbuh menjulur dengan lebatnya bagaikan tirai yang menari-nari menghiasi dinding tembok taman belakang. Aneka dedaunan dan beberapa pot bunga tertata rapi menghiasi rak dinding agar tampak asri. Kami sekeluarga sering berkumpul di taman ini untuk sekedar minum teh bersama bakwan goreng kesukaan Ray. Ray sangat menyukai gorengan buatan Ibuku, bisa habis sepiring ia habiskan semuanya sendirian.
Aku menghela nafasku. Kupenjamkan mataku dan berusaha menghapus semua kenangan itu. Sakit hati ini Ya Allah. Aku bukan sedih karena kehilangan rumah, tapi aku tak siap kehilangan semua kenangan indah. Kupeluk Kila yang sepertinya sudah terkantuk-kantuk di kasurku. Kudekap erat tubuh anak sulungku itu hingga ia tertidur lelap. Aku sengaja mengajak kedua anak-anak itu tidur di kamarku sejak Ray sering berada di Bandung. Kamar ini menjadi terlalu besar, sunyi dan sepi tanpa ada Ray di sisiku lagi.
Keesokan Harinya.
“ Pap ini foto-foto rumah ya , deskripsi rumahnya kamu tulis sendiri aja “ tulisku pada sebuah pesan Whatsapp.
“ Ok “ jawabnya dengan singkat.
“ Kamu kapan pulang ?”, tanyaku lagi
“ Gak tau “, sahutnya lagi.
Aku sangat terpukul dengan jawaban Ray yang sangat dingin. Aku butuh teman bicara untuk mengeluarkan segala keluh kesahku. Akhirnya kuberanikan diri untuk menelepon ibu mertuaku. Aku tumpahkan semua kesedihanku tentang Ray selama ini.
“ Mama sedih dengernya Ran, tapi mama ga bisa berbuat apa-apa. Coba kamu ikuti saja semua mau Ray, siapa tau Allah meluluhkan hatinya agar kembali seperti dulu “, ujar ibu mertuaku.
“ Saya udah ikutin semua mau Ray, saya udah minta maaf pernah ribut tempo hari. tapi Ray masih dingin. Kalau saya boleh jujur, selama saya hamil sampai sekarang saya gak pernah protes sama dia. Hati Rania sakit sebetulnya “, jawabku sambil terisak.
Ibu mertuaku hanya terdiam di ujung sana. Tak banyak saran yang keluar dari mulutnya. Ia hanya menyuruhku untuk banyak berdoa agar Allah mengembalikan Ray seperti sedia kala. Tak puas dengan curhatanku dengan ibu mertuaku, aku cari kontak di grup keluarga yang sekiranya cukup dewasa untuk membantu menyelesaikan masalahku. Akhirnya aku memberanikan diri menghubungi Mas Doni, ia adalah mantan suami Kak Anggi yang telah meninggal 9 tahun yang lalu. Namun Mas Doni masih dianggap kakak bagi kami semua, aku rasa ia adalah orang yang tepat untuk kuajak bicara.
“ Mas tolong bantu gue mas, gue gak tau harus gimana lagi ngadepin Ray “, pintaku dengan memelas saat Mas Doni mendengar curhatanku.
“ Gue kaget denger Ray kaya gitu Ran, setau gue kalian baik-baik aja. Kalian keliatan bahagia sampe bisa punya rumah, punya tiga anak, malah terakhir ketemu kalian baik-baik aja “, jawab Mas Doni dengan nada tak percaya.
“ Menurut gue juga baik-baik aja, tapi mungkin enggak menurut Ray mas. Gue udah ngikutin apa yang Ray mau. Gue mau berubah demi kelangsungan rumah tangga gue. Gue percaya setiap rumah tangga pasti diuji, dan gue selalu siap akan itu. Gue akan pertahankan rumah tangga gue mas “, seruku sambil memelas pada kakak iparku itu.
“ Gini ya Ran, gue sangat prihatin sama kalian. Gue sangat sayang sama kalian berdua, apalagi sama tiga keponakan gue yang cantik-cantik itu. Gue pasti bantu sebisa gue, nanti gue telepon mama biar kita bisa bicarain ini sampai tuntas. Lo tenang aja ya Ran, gue pasti mau yang terbaik buat kalian “, Ujar Mas Doni sedikit menenangkan hatiku.
Sore harinya
Mas Doni calling
__ADS_1
“ Halo Mas gimana “ tanyaku sigap saat menerima panggilan Mas Doni saat aku baru saja selesai menidurkan Kiana.
“ Ran kamu bisa ke rumah mama ga sekarang juga? Pinta Mas Doni tanpa basa-basi
“ Mau bicarain apa mas “, tanyaku lagi. mengingat jarak rumahku di Tangsel dan rumah mamanya di Bogor cukup jauh.
“ Mama udah telepon Ray biar segera pulang ke rumah mama. Jujur aja Ran gue sama mama berusaha jadi penengah diantara kalian, semoga gue bisa memediasi segala permasalahan kalian selama ini.
“ Oke mas gue siap-siap dulu kalo gitu, nanti begitu udah jalan gue kabari. Sampe ketemu nanti mas “, jawabku sambil bergegas turun mengabari ibuku agar membantu Kila dan Kica menyiapkan baju.
16.30 WIB
PING
“ Ran kita ketemu di rumah mama ya “. Sebaris pesan singkat dari Ray muncul di notifikasi ponselku.
“ Iya pap, aku jalan sebentar lagi. Taksinya belum dateng, nanti begitu udah naik aku kabari “, jawabku pada lelaki yang kini sedang bergegas menuju Bogor dari Bandung. Aku tak menghiraukan siap dinginnya Ray padaku. Mungkin kalau dahulu Ray bersikap seperti ini, aku langsung membunyikan genderang perang. Tidak ada wanita yang mau terus-terusan didiamkan, ditinggalkan, diacuhkan seperti ini. Apa salahku sedemikian hebat sampa Ray bersikap acuh sampai detik ini.
Namun sekarang semua berbeda, aku tak punya kekuatan untuk berperang dengannya. Aku baru saja melahirkan anak ketigaku. Tak ada gunanya harus memendam perasaan kesal atau marah pada Ray, aku harus fokus memberi ASI untuk Kian. Badanku masih nyeri, luka jahitanku saja belum kering. Tertawa terbahak-bahak atau menjerit saja aku tak bisa.
20.15 WIB
Taksi yang kami tumpangi tiba di sebuah halaman luas tempat dimana mertuaku tinggal. Kulihat mobil Chevrolet milik kami sudah terparkir di garasi mobil. Ray keluar dari dalam rumah dan segera membukakan pintu mobil kami. Kila dan Kica menjerit-jerit kegirangan melihat papanya yang sudah tiba duluan di rumah oma mereka.
Ibu mertua, Mas Doni dan Nana sudah menunggu kami dengan wajah tegang. Mereka menyuruh aku dan ibuku untuk makan, tapi aku sudah tak berselera. Wajah Ray kusut sekali seperti orang yang penuh dengan beban penderitaan.
“ Makan dulu Ran “, ujar Ray sambil memberikan sepiring nasi dan opor ayam buatan ibu mertua kepadaku. Kuterima piringnya dan aku makan sambil menyuapi Kila dan Kica. Mulutku sudah tak berselera, meskipun perutku memang lapar minta untuk diisi. Ibu mertuaku nampak risau, namun ia berusaha menutupi segala kegelisahannya dengan bercanda-tawa dengan ibuku.
Usai makan aku masih duduk di ruang tamu bersama ibu, Nana, dan anak-anakku. Ray menyuruh aku dan ibuku untuk masuk ke kamar ibu mertuaku. Disana sudah berada ibu mertua, Mas Doni dan Ray yang hendak berbicara mengenai masalah kami. Kila, Kica dan Kian diasuh oleh Nana dan suaminya. Aku kuatkan hatiku untuk menghadapi Ray, aku pasrah dengan apa yang akan terjadi malam ini. Kulirik ibuku yang duduk disampingku, raut wajahnya menampakkan kesedihan yang mendalam.
“ Ibu, Rania, dan Ray… mohon maaf malam ini Doni selaku kakak yang dituakan, dan dipercaya oleh mama, datang untuk membantu memediasi permasalahan yang Ray dan Rania hadapi. Semoga kita bisa bicarakan masalah rumah tangga ini secara baik-baik “, ujar Mas Doni membuka pembicaraan.
“ Ray, selama ini apa yang menjadi masalah dari lo? Apa yang ingin disampaikan pada Rania? “, tanya mas Doni dengan tatapan mengarah pada Ray.
“ Gue selama bertahun-tahun menjalani pernikahan dengan Rania. Ternyata selama ini gue ngerasa kali ini udah ga cocok mas “, sahut Ray dengan nada ketus.
Aku terperangah mendengar ucapan Ray. Kulirik wajahnya dan kutatap dalam-dalam matanya.
__ADS_1
“ Udah beberapa bulan terakhir gue ngerasa kita ribut terus, udah ga cocok, permasalahan gue udah sangat banyak. Keadaan finansial gue makin drop, debt collector ngejar-ngejar gue karena demi menyenangkan Rania, gue berhutang sampai 200 juta “, ujarnya sambil menunjuk-nunjuk diriku.
“Eh bentar ya, 200 juta? Itu uang yang kamu pinjam untuk membiayai project kamu Ray? Bukan uang yang aku pegang? “, serobotku sewot karena merasa Ray sudah memfitnahku.
“ Ya sama aja demi kamu, demi keluargaku aku ambil project itu mati-matian sampai aku harus menanggung hutang “, jawabnya sambil terus mengelak.
Ya Allah siapa lelaki yang aku ajak bicara ini?. Dia jelas-jelas bukan suamiku lagi. sorot matanya, gaya bicaranya, sampai caranya memperlakukanku sudah tampak asing bagiku. Ibuku terlihat emosi, tatapan kecewa, marah dan sedih terpancar dari matanya. Ia ingin berbicara membelaku tapi tak kuasa.
“ Ray, mencari nafkah untuk istri itu tanggung jawab suami. Sesulit apapun itu sudah menjadi kewajiban lo. Semua itu memang rejeki yang lo harus jemput, Ray !”, sanggah Mas Doni yang terdengar kekecewaan dari suaranya.
Ibu mertuaku terlihat bingung dan mengacak-ngacak rambutnya yang sudah memutih. Wajahnya pucat pasi. Sama seperti ibuku, beliau tidak bisa berkata apa-apa karena perasaan mereka juga sangat terluka melihat nasib rumah tangga kami yang sedang di ujung tanduk.
“ Betul, gue setuju mas. Semua itu memang tanggung jawab gue. Gue seorang suami juga punya hak untuk menentukan arah rumah tangga gue harus dibawa kemana. Apa gue harus memulai lagi dengan Rania dengan masalah yang kusut? Gue ga bisa yakin akan berapa lama lagi? Maaf ya Ran, selama menikah sama kamu aku tidak pernah bahagia!”, bentak Ray yang seketika duniaku serasa runtuh mendengar jawabannya.
Aku tak bisa berkata-kata, mataku terbelalak mendengar ucapannya. TIDAK PERNAH BAHAGIA. Kalimat macam apa yang ia lontarkan hingga ia bisa menyebut tidak bahagia. Semua kenangan manis, canda-tawa, susah-senang, hingga hadirnya tiga putri kecil kami ia bilang tidak bahagia?
“ Gak bahagia gimana sih Ray?, banyak pasangan suami-istri di luar sana yang ingin seperti kalian. Sampai bisa punya tiga anak perempuan, apalagi anak terakhir yang baru aja dilahirkan? Gimana ceritanya Kiana bisa ada di dunia kalau lo ga bahagia sama Rania? “, serobot Mas Doni yang kecewa dengan jawaban Ray.
“ Anak-anak cuma pelampiasan gue aja. Jujur, Kiana itu hasil pemikiran ide liar gue aja, siapa tau dengan adanya anak lagi perasaan gue bisa kembali sayang sama Rania “, ujar Ray dengan jawabannya yang semakin melantur tak karuan.
Tanganku sudah terkepal sambil meremas bantal di pangkuanku. Kecewa yang amat sangat menumpuk di dadaku. seketika aku ingin mengamuk di kamar mama mertuaku, kalau menampar suami itu tidak berdosa, ingin aku tampar dan kulempar bantal di kasur mertuaku ini ke arahnya, lalu kucabik-cabik wajahnya. Bisa-bisanya dia bilang kehadiran Kiana karena hasil ide liar dia. Air mataku sudah mengucur deras, harga diriku sudah dikoyak-koyak oleh lelaki yang tak lain masih suamiku ini.
Ibuku tampak sudah terisak, ibu mertuaku berusaha menenangkannya dengan mengusap-usap punggungnya. kali ini ibu mertuaku sudah tak tahan ingin angkat bicara.
“ Ray, kamu dengerin mama kali ini. Mama menjamin Rania akan berubah menjadi istri seperti yang kamu minta. Mama jadi jaminannya Ray, kasih Rania kesempatan lagi “, ucap mertuaku yang berusaha meyakinkan Ray mau berusaha memperbaiki hubungan kami.
“ Gak bisa ma, Ray gak tau akan bertahan berapa lama “ jawabnya singkat.
“ Ya sudah Ray, gue ga bisa meyakinkan lo lebih jauh lagi. Gue hadir disini sebagai kakak dan om yang sangat peduli sama Rania dan anak-anak lo. Gue harap lo bisa memberikan keputusan sebaik dan sewaras mungkin. Gue pamit mau pulang, udah malem soalnya “ pamit Mas Doni sambil menepuk bahu Ray.
Mas Doni pamit menyalami mertua dan ibuku. Wajah ibuku sudah sangat lelah dan tak kuasa lagi menahan kesedihan yang mendalam. Seketika tubuhnya limbung saat Mas Doni memeluk tubuhnya. Ia menjerit histeris dan pingsan di pelukan Mas Doni. Aku langsung beranjak dari kasur memeluk ibuku, kubisikan lafadz istigfar sambil mendekap erat ibuku yang masih histeris. Kurasakan kekecewaan dan kesedihan yang selama ini ia pendam, ditambah lagi ia menyaksikan sendiri bagaimana perlakuan Ray malam ini.
Pertemuan malam ini yang seharusnya mediasi berubah menjadi tragedi. Dengan gagahnya Ray mengatakan tidak pernah bahagia selama 8 tahun kami menikah. Wajah Ray semakin kusut, sama kusutnya dengan wajah-wajah lain di rumah ini. Hanya terdengar jerita tawa anak-anak yang masih polos tidak memahami apa yang sedang terjadi. Medengar wajah mereka, hati ini semakin remuk redam. Aku tak tega membiarkan rumah tanggaku hancur sementara ada 3 buah hati yang harus kutopang masa depannya.
Kesedihan ini belumlah usai, hari demi hari Ray menjadi seperti neraka bagiku…
`
__ADS_1