Harta, Tahta, Renata

Harta, Tahta, Renata
Secercah Harapan Cerita Rayendra


__ADS_3

“ Halo Ray, gimana nih proyek kita?, sapa Om Yan di telepon saat aku sedang mengendarai mobilku menuju kantor pagi ini.


“ Halo Om Yan, ada kabar baik nih. Aku sudah dapet beberapa investor yang join sama proyek kita. Mereka pengusaha di Bandung kenalan asistenku”, jawabku bersemangat sambil fokus memegang kemudi.


“ Wah mantap Ray, siapa mereka? “, tanya Om Yan balik.


“ Pengusaha property juga Om, tapi mereka gak mau tampil, jadi biar asistenku yang maju. Namanya Rena Om, dia business manager di perusahaanku. Rena ini tangan kanan dari Hardian Hardjawinata “, jawabku sambil meyakinkan Om Yan yang terdengar antusias.


“ Oh pengusaha Bandung semua ya, boleh lah kita lanjut secepatnya ya. Mereka mau minta saham berapa?. Minimal Om minta 40% aja ya “ tutur Om Yan tanpa basa-basi.


“ Mereka minta 60% aja kok Om, dana juga sudah siap. Kita bisa langsung mulai nih. Aku sama Dion buat perencanaan bisnisnya ya Om “ Balasku cepat sambil melirik kearah wanita disampingku yang tengah berdandan.


Renata terlihat mengerjap-ngerjapkan matanya tak percaya, bibir tipisnya mengembang dan wajahnya sumringah. Aku berusaha untuk berkonsentrasi di balik kemudi sambil berbicara dengan Om Yan di sebrang sana.


“ Kalian atur aja lah. Om yakin kamu dan Dion itu konsultan handal, sanggup merancang bisnis ini sesuai kebutuhan pasar. Nanti kabari Om kapan harus teken kontrak, dana udah siap cair pokoknya “, jawab Om Yan dengan kabar yang sangat melegakan hatiku.


Seketika segala permasalahanku sirna. Terlihat secercah harapan agar aku bisa keluar dari segala permasalahan yang membelitku selama ini. Renata menjerit kegirangan sambil menarik-narik lenganku.


“ Yeaaaay, si Om mau dapetin saham minoritas nih ?”, tanya Rena seakan tak percaya dengan pembicaraan kami.


“ Iya Ren. Dia orang yang gak butuh duit, proyek ini dia buat karena ada lahan nganggur aja “, jawabku sambil tersenyum pada wanita yang tengah berdandan sambil mengenakan roll rambut itu.


“ Jadi skenarionya gimana nih?, aku maju pake duit siapa Mas? “, tanya Rena sambil membubuhkan mascara sambil menatap layar cerminnya.


“ Aku punya dana nih 3M, sementara kita bisa keluarkan segitu dulu untuk satu tahun. Nanti aku rancang uangnya untuk pembangunan wisata selfie. Targetku dalam waktu 3 bulan, wisata selfie ini sudah selesai dan bisa segera dibuka untuk umum “ jelasku pada Renata yang berkonsentrasi dengan riasan matanya.


“ Setelah 3 bulan kita bisa mulai dapat keuntungan Mas. Nanti setelah kita bagi deviden, uangmu bisa balik lagi ko. Nanti aku hitung agar kita bisa investasi bisa kembali dalam jangka waktu cepat.


“ Nah ini Renata, udah cantik pinter ngatur duit lagi “, seruku bangga sambil mencolek dagunya.


“ Iyalah, gak kaya mantan istrimu kan Mas “, ujarnya sambil mendelik manja padaku.


Aku hanya tersenyum sambil melemparkan tatapan ke jalanan di depanku. Jalanan di area Jl Merdeka ini masih lengang. Mobil kami melaju cepat dalam suasana pagi yang cerah, secerah hatiku yang sedari kemarin diselimuti kelabu. Hatiku sebenernya pilu menahan rindu pada anak-anakku. Tapi aku harus kuat, aku harus membenahi semua masalah ini satu-persatu.


“ Mas, sebelum proyek ini mulai aku mau jalan-jalan dong ”, bujuk Renata sambil menarik lenganku manja.

__ADS_1


“ Boleh dong sayang, kamu mau kemana?. Luar negri yuk “, jawabku cepat.


“ Aduh ngapain sih ke luar negri, sayang uangnya nanti. Aku cuma mau ke Bromo Mas. Nanti kita ajak anak-anak kantor aja. Pak Hardian kan mau buka Hotel di Semarang, jadi kita bisa Java Trip tuh sekalian “, ujarnya sambil membuka gulungan roll rambutnya.


“ Ah cerdas kamu. Iya Pak Hardian nyuruh aku ke Semarang minggu depan. Nanti aku ajukan budget untuk liburan ya, sekaligus mengapresiasi hasil kerja anak-anak selama 6 bulan kemarin “, pujiku atas ide cemerlang Renata.


“ Mas, dana buat proyek Om Yan gimana?. Kamu sudah pegang uangnya?”, tanyanya lagi.


“ Ada sih Ren. Ini uang bagi hasil aku sama Dion selama 6 tahun kerja sama dia. Berhubung ini uang perusahaan, aku ga campur dengan uang pribadiku “ kilahku padanya.


“ Ya memang harusnya begitu lah. Trus kamu udah bayar tunggakanmu belum?. Apalagi yang harus kamu bayar?”. Si Rania tuh kebangetan ya sampe habis-habisin duit kamu sampe kamu ga punya duit sepeserpun Mas”, gerutu Renata sambil menyebut nama Rania.


“ Ya gitu deh, aku kan abis-abisan buat keluargaku Ren. Sayangnya Rania gak bisa kontrol keuangan, semuanya selalu dia habiskan untuk keperluan pribadi. Mobil, rumah, sekolah anak-anak dia yang milih”, dalihku mengiba mencari simpati Renata.


“ Gila tuh perempuan bisanya cuma ongkang-ongkang kaki minta duit sama laki. Kasih pelajaran aja, dia harus tau gimana susahnya menghidupi anak seorang diri. Aku aja dari SMP udah mandiri ga bergantung sama ibu. Aku punya tabungan agar Daffa dan Ibu gak kekurangan di masa depan”.


Renata tampak menggerutu saat membicarakan Rania. Kini ia sibuk mencari-cari ponselnya dan tampak sibuk membaca notifikasi yang muncul. Sepertinya Renata sedang menjawab puluhan pesan masuk di Whatsapp-nya, sesekali ia tertawa kecil saat menjawab pesan.


Mobilku kini sudah sampai di parkiran kantor. Aku dan Renata bersiap-siap turun lalu kami melenggang masuk ke dalam. Kantor sudah ramai, beberapa karyawan sedang sarapan di mejanya masing-masing. Kulihat Fadli sedang sibuk menyentap nasi kuning dan Nurul seperti biasa sedang dikerubuti saat menggelar gorengan di mejanya.


Bip bip bip bip bip bip


Dion


“ Halo Ray, kata si Om lo udah nemu investor ?”, tanya Dion saat aku mengangkat panggilannya.


“ Iya bro, Pak Hardian mau suntikin dana “, jawabku singkat.


“ Hardian?. Gak salah sekelas Hardian mau join sama si Om?. Dia kan bisa bikin sendiri, masa join sama orang?”, tanyanya menyelidik.


“ Mmmh, maksud gue anaknya bro. Mereka gak mau tampil, jadi diwakilkan anak buah gue. Masa gue yang maju, kan gak mungkin “ dalihku sambil memelankan suara agar tidak terdengar keluar.


“ Anak buah lo siapa?, dia dapet bagian dong di saham? “, tanyanya semakin menyelidik padaku.


“ Renata, bro. Dia kan kepercayaan Pak Hardian. Keuangan kantor dia yang pegang sekarang, jadi kalo Rena yang maju bakal lebih mulus jalan kita “, jawabku berusaha meyakinkan Dion.

__ADS_1


“ Oh, yaudah deh. Atur-atur ya. Sebelum project Om Yan masuk tolong kerjakan tugas lo satu-persatu. Project marketplace senilai 2M yang kemaren tolong beresin dulu, abis itu kita audit keuangan perusahaan. Lo masih sanggup pegang keuangan ga? “, tanya Dion yang nyaris membuatku panik setengah mati.


“ Bisa ko bro, santei aja. Gue kan masih perlu buat bayar anak buah gue. Tar gue update laporan keuangan ya “ jawabku berusaha mengalihkan pembicaraan.


“ Ok tolong beresin secepatnya, minggu depan lo harus sudah update laporan keuangan kantor. Kalo masih belum juga, gue ambil alih rekening sama ATM-nya“, gertak Dion di sebrang sana.


“ Iya siap bro, satu-persatu gue kerjain. Nanti gue update ya “, jawabku sambil menyudahi pembicaraan dengannya sebelum Dion bertanya lebih jauh lagi. Kepalaku berdenyut-denyut setiap Dion mencecarku, jika bukan karena ikatan project yang kami bangun, sudah aku tinggalkan lelaki botak ini.


BRAKKK


Renata muncul dari balik pintu ruangan kerjaku dengan wajah pucat sambil mengacungkan ponselnya.


“ Mas, liat Instagramku!!!”, jerit Renata sambil tergopoh setengah berlari kearahku.


“ Ada apa Ren?”, tanyaku kaget melihat Rena yang panik menggebrak pintu.


“ Ini liat sendiri!!! “, bentaknya sambil memberikan ponselnya kepadaku.


Aku masih kebingungan melihat postingan yang ada di akun Renata. Hanya sebuah kata-kata bijak yang terpampang disana. Kutelusuri postingan tersebut sampai aku tercekat siapa yang men-tag Renata.


“ RANIA !!!”


Jantungku serasa berhenti berdegup, mataku terbelalak melihat postingan yang ia kirim pada Renata. Rania mengetahui perselingkuhanku. Darimana ia tahu???.


“ Apa maksud Rania kirim ini sama aku?, dia mau apa Mas ? “, tanya Renata dengan ketus sambil menyilangkan tangannya.


“ Tenang Ren, gak akan ada apa-apa. Rania ga bakal ngapa-ngapain kamu “, ujarku sambil menenagkan Renata.


“ Aku gak apa-apa kok, aku tenang banget. Kalo dia mau main-main sama aku, sini hadapin aku. Aku gak takut sama perempuan gak berguna itu!!!”, Tangkis Renata saat aku mencoba meraih tangannya.


“ Iya kamu tenang aja, udahlah gak usah dipikirin. Ini cuma gertakan Rania aja. Kamu tenang ya sayang “, jawabku sambil memeluk Renata yang masih terlihat emosi. Jantungnya berdegup kencang, begitu juga diriku.


Aku mencoba terlihat santai di depan Renata sampai emosinya mereda. Setelah dia bisa tersenyum aku minta dia untuk kembali ke mejanya. Sejumlah pertanyaan terbersit di kepalaku, darimana Rania tau hubungan gelapku dengan Renata?. Siapa yang memberitahu dia?. Aku mencoba menelisik kembali kepada siapa aku bercerita tentang hubungan gelapku, hingga akhirnya satu nama tertambat di otakku.


“ DION “

__ADS_1


__ADS_2