Harta, Tahta, Renata

Harta, Tahta, Renata
Pusaran Cerita


__ADS_3

Cerita Renata


12. 30 WIB - Hotel Sahid


BRAKKKKKK


“ ITU DIA SI PEREMPUAN JALANG”


Pintu kamar President suite ini didobrak oleh sekelompok pria yang mengenakan baju Reserse. Seorang wanita terlihat di antara pria tersebut sambil memakiku.


“ DAVIIIID, DI MANA KAU!!!”


“ Kurang ajar kamu perempuan tak tau diri, penggoda suami orang. Sudah berapa banyak lelaki beristri yang kamu tiduri???”, teriak wanita itu sambil menjambak rambutku.


“ Apa-apaan ini? ”, teriak David yang keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuknya.


“ Tenang Bu Tania. Tolong jangan main hakim sendiri, serahkan pada kami”, lerai seorang petugas wanita menarik badannya yang terus menjambakku.


“ Aaaaaarrrrgggghhh, dasar kamu wanita murahan, biar binasa kamu di neraka”, jeritnya sambil mencakar wajahku.


“ Lepaskan, apa-apaan ini”, jeritku sambil melindungi wajahku yang berdarah karena cakaran kukunya.


“ Saudara Iriyanto David? Ini buku nikah saudara dengan Ibu Tania Wihelmina?”, tanya seorang petugas pria sambil memperlihatkan buku nikah David dan wanita itu.


David terlihat masih syok dengan kehadiran petugas dan beberapa wartawan yang merekam kejadian tersebut dengan ponselnya. Ia masih berdiri mematung sambil menggenggam erat handuk di badannya.


“ Keluaaaaar, apa-apaan ini. Enyahkan ponsel itu, keluar kalian semua!!!!”, jeritku sambil menangis histeris.


“ Kamu yang keluar wanita murahan. Akui saja kalau kamu sudah jadi simpanan David sudah lama. Hari ini aku buat kamu membusuk di penjara”, jeritnya dengan wajah merah padam.


“ Boleh lihat KTP dan buku nikahnya Bu?”, tanya seorang petugas wanita menarik badanku.


Tanganku bergetar dan pikiranku langsung kosong seketika. Buku nikah yang mana? Apa aku punya? KTP? Ada di mana KTP milikku. Aku hanya menangis sambil menutupi wajahku yang terus disorot oleh seorang petugas di depanku.


“ Ini tas saudari?”.


“ Iya Pak”, jawabku sambil tertunduk.


“ Saudari Renata Rahardjo? Menginap di sini membawa buku nikah?”.


“ Tidak Pak”, jawabku sambil terisak.


“ Ada hubungan apa dengan Bapak Iryanto David?”, selidiknya.


“ Tidak ada apa-apa Pak”, jawabku terus menangis.


“ Kok bisa Saudari yang tidak memiliki ikatan pernikahan berada dalam suatu ruangan tertutup berduaan?”.


“ Saya dijebak Pak”, jawabku terus menunduk.


“ Omong kosong Renata, kamu wanita murahan. Tangkap saja mereka berdua Pak”, jerit wanita tersebut.


“ Saudara David, mohon kenakan pakaian Anda. Saudari Renata silakan ikut kami ke kantor polisi. Tempat ini akan kami olah TKP. Semua barang bukti berupa pakaian, selimut, sprei akan kami amankan”, seru petugas seraya mengenakan sarung tangan dan memungut pakaian dalamku yang tergeletak di lantai. David kembali memasuki kamar mandi sementara aku digiring oleh petugas wanita keluar kamar hotel.


Semua pasang mata menatapku dengan sinis begitu aku keluar menyusuri koridor hotel. Beberapa petugas hotel berbisik-bisik, tak sedikit pegawai yang berpapasan menangkap moment memalukan ini dengan kamera ponselnya. Kututupi wajahku dengan selimut yang diberikan seorang petugas wanita, sungguh harga diriku sudah diinjak-injak.


Bip Bip Bip Bip Bip Bip


Bip Bip Bip Bip Bip Bip


Ponsel di dalam tasku berbunyi begitu aku masuk ke dalam mobil polisi.


“ Bu Renata silakan angkat dulu ponselnya “, ujar petugas yang duduk di sampingku. Kulihat sebuah kontak tak dikenal menghubungi, dengan lemas terpaksa kuangkat panggilannya.


“ Halo”


Cerita Rania


13.00 – Rumah Damai


“ Halo, apaaaaaa? Astagfirullah “, jeritku saat aku menerima panggilan siang ini.


“ Rania ada apa?”, tanya Pradipta yang ikut terkejut melihatku histeris.


“ Mas, saya harus pulang sekarang. Saya harus ke rumah sakit “, jeritku. Tanganku sibuk mencari kontak Nadine sambil bergetar.


“ Tenang Rania, minum dulu. Kamu mau pulang naik apa?”.


“ Naik taksi Mas. Saya gak bisa cerita sekarang, sudah ditunggu Mas”, jeritku.


Pradipta langsung menyodorkanku segelas air minum, ia mencoba menenangkan agar aku berhenti histeris.


“ Simpan ponselmu Rania, minum dulu ya. Biar saya yang order taksinya”, ujarnya sambil membuka layar ponsel dan menanyakan alamat yang akan kutuju.


“ Mau kemana Ran?”.


“ Rumah sakit ini Mas “, jawabku sambil memberikan alamat yang tertera di ponsel.


“ Oke Ran, sudah saya pesan. Drivernya 10 menit lagi sampai. Kamu tenang ya Ran”.


Bip Bip Bip Bip Bip Bip


Ponsel Pradipta berbunyi, sepertinya driver tersebut menghubunginya.


“ Halo”


Cerita Dion


13.20 WIB – Kantor Dion


“ Halo, ada apa Nad?”.


“ Dion, cepet pulang sekarang “, teriak Nadine di sebrang sana.


“ Ada apa sih? Gak bisa Nad, aku lagi meeting bareng Ivan dan Tante Maya”, balasku.


“ Aduuuh penting ini. Barusan Rania telfon sambil nangis-nangis. Ivan mana? Aku mau ngomong sama Ivan !”, perintahnya. Dengan bingung kusodorkan ponselku pada Ivan yang sedang berbicara dengan Ibunya.


“ Van, Nadine mau ngomong sama lo”, ujarku. Ivan menerima ponselku dengan wajah kebingungan.


“ Halo Nad, ada apa?”.


“ Apa???, Innalillahi. Gue sama Dion ke rumah sakit sekarang”, tutupnya sambil meletakkan ponselku di meja.


“ Yon cabut sekarang. Maaf Tante Wiwi, meeting bisa dilanjut besok pagi? Ada urusan penting, kami harus ke rumah sakit”, ujarnya sambil berbicara pada sahabat Tante Maya.


“ Ada apa Ivan? Kok mau ke rumah sakit segala?”, tanya Tante Maya ikut terkejut melihat reaksinya.


“ Nanti Ivan cerita Ma. Dion buruan cabut. Pakai mobil gue”, perintahnya sambil berlalu.


Aku masih syok melihat kepanikan Ivan, segera saja aku pamit dan berlari mengikuti Ivan yang berlari sambil membuka pintu ruangan.


BRUKKK


Cerita Renata


14.00 WIB – RS Parahyangan Padalarang


BRUKKK


Petugas Reserse itu membanting pintu mobil untuk mengantarku ke rumah sakit yang letaknya 20 KM dari Kota Bandung. Kejadian penggerebekan di hotel sudah membuatku lemas tak berdaya, ditambah lagi aku mendengar kabar Ray kecelakaan di Tol Padalarang. Seketika saja duniaku serasa runtuh, seakan tak percaya dengan kejadian hari ini. Petugas Reserse memberikanku waktu selama 1 jam sebelum menggiringku ke Polres Bandung.


Kususuri selasar rumah sakit seraya berlari mencari ruangan IGD. Mataku sudah tak kuasa menahan tangis. Petugas medis terlihat lalu lalang dengan segala kesibukannya, segera kucari petunjuk ruang IGD di RS tersebut.


“ IGD di sebelah mana suster?”, tanyaku pada seorang suster yang melintas.


“ Tinggal belok kiri Bu”, jawabnya sambil menujukkan arah padaku.


Aku langsung berlari ke arah yang ia tunjuk, lututku sudah lemas tak mampu lagi berjalan, namun aku harus melihat kondisi Rayendra di dalam.


“ Ibu keluarga siapa?”, tanya seorang suster.


“ Rayendra Saputra, saya dapat kabar bahwa ia kecelakaan dan dibawa petugas tol ke sini”.


“ Oh yang kecelakaan di Tol Padalarang ya, sebelah sini Bu”, ajaknya sambil berjalan tergopoh-gopoh menunjukan ranjang pasien.


“ Raaaaayyyyyyy “, seketika aku menjerit begitu melihat kondisi Ray yang mengenaskan. Kepalanya memar dan pelipis kanannya berdarah. Terlihat suster sedang memasang alat di dada Rayendra. Tak ada kata-kata yang bisa keluar dari mulutku. Aku terus berteriak histeris sambil duduk bersimpuh di lantai ruangan IGD tersebut.


“ Dokter, tolong selamatkan suami saya Suster tolong selamatkan Ray “, jeritku sambil terus berteriak, petugas Reserse membantuku berdiri sambil memeluk tubuhku.


“ Dooook, tolong Doook”, jeritku sambil terus menangis.


Cerita Rania


14.30 WIB – RS Kasih Bunda Bintaro


“ Doook, anak saya gak apa-apa kan Dok?”, jeritku begitu tiba di RS yang diberitahu ibuku. Di depanku Kian sedang terbaring lemas.

__ADS_1


“ Anaknya kenapa Bu?”, tanya dokter tersebut sembari menempelkan steteskop di dadanya.


“ Jatuh dari tangga Dok. Barusan saya lagi masak, Kian main sendiri lalu saya dengar suara dia jatuh Dok”, jawab Ibuku sambil menangis.


“ Muntah gak bu anaknya?”.


“ Ga sih dok, cuma nangis kencang saja. Baru berhenti nangis barusan”, jawabnya.


“ Saya observasi dulu ya Bu, mohon ditunggu sebentar, sembari menunggu antrian di radiologi”, jawabnya sambil berlalu keluar dari IGD.


Aku langsung memeluk Kila dan Kica yang yang menangis ketakutan, tak henti-hentinya mereka memanggil Kian.


“ Rania, Kian kenapa?”, tanya sesosok pria yang baru saja masuk ke ruangan IGD dengan wajah panik.


“ Ivaaan, Kian jatuh dari tangga”, jawabku.


“ Astagfirullah Kian. Kamu gak apa-apa kan Nak?”, ujarnya sambil mendekati tubuh anakku.


“ Kian, bangun dong sayang. Sehat lagi, ketawa lagi, Om Ivan sayang banget sama Kian. Bangun dong Nak”, bisiknya sambil mengelus kepala Kian dengan lembut. Aku berdiri mematung melihat Ivan tengah menciumi Kian, ia terlihat sangat khawatir akan kondisi anakku.


“ Rania, sabar ya. Nadine sama Sean lagi nyusul ke sini “, ujar Dion.


“ Makasih udah kemari, gue panik Yon “.


“ It’s okay Ran. Memang sudah seharusnya lo minta bantuan”, jawabnya.


“ Kian, bangun dong sayang. Kalau Kian sehat Om Ivan janji beliin kucing. Kian bangun dong, Om Ivan sayang sama Kian”, bisiknya terus memanggil Kian.


Aku dan Dion saling bertatapan melihat Ivan. Air mataku menetes melihat Kian yang masih terbaring lemas. Ibuku menggiring Kila dan Kica keluar, mereka juga sangat prihatin dengan kondisi anak bungsuku.


“ Bu, kita masuk ruangan observasi ya”


Cerita Renata


15.00 WIB – RS Parahyangan Padalarang


“ Iya Dok, obeservasi saja sekarang. Selamatkan suami saya Dok”, ujarku saat dokter memindahkan Ray dari ruang IGD.


“ Suster, segera bawa ke radiologi. Kondisinya semakin kritis”.


“ Baik Dok”.


“ Bu Renata, Anda penanggung jawab atas Pak Rayendra?”, tanyanya.


“ Iya Dok, saya istrinya”.


“ Segera tandatangani formulir di ruangan administrasi ya. Saya tunggu sebelum kami mengambil tindakan medis selanjutnya”, perintah dokter tersebut.


aku berlari ke ruangan administrasi. Kepalaku berputar-putar hingga tak bisa berpikir jernih. Kutandatangani saja formulir jaminan tersebut, meskipun aku tak tahu uangku berapa nominal uang yang tersisa di rekeningku.


Tiba-tiba saja aku teringat seseorang, kucari kontaknya lalu kuhubungi nomornya.


Tut Tut Tut Tut Tut Tut


Cerita Hardian


15.15 WIB – Kantor Hardja Sukses Grup


“ Halo “


“ Pak Hardian, tolong saya. Ray kecelakaan Pak”, ujar Renata yang tiba-tiba saja menghubungiku.


“ Astaga, di mana Ren?”.


“ Sekarang di RS Parahyangan Padalarang Pak”, jawabnya dengan nada cemas.


“ Oke saya kesana sekarang”. jawabku sambil menutup ponsel.


Segera saja aku beranjak ke luar ruangan mencari Nanda, rupanya ia sedang berada di mejanya sembari cekikikan melihat ponselnya.


“ Nandaaaaaaa, bukannya kerja malah main ponsel. Cariin si Yudi sekarang ”.


“ Maaf Pak. Mau panggil Mas Yudi ya? Tapi kan sekarang masih jam 3, belum saatnya pulang Pak”, jawabnya polos.


“ Ini perusahaan saya, ya suka-suka saya atuh. Kumaha sih? Cepetan cari si Yudi sekarang!”, perintahku dengan kesal.


“ Mobilnya sudah menunggu di luar”


Cerita Renata


15.30 WIB – RS Parahyangan Padalarang


“ Tolong ngertiin saya Bu, suami saya sedang kritis. Keluarganya belum tau, cuma saya penjamin disini, kalau tidak nyawanya tidak akan tertolong Bu”, ujarku sambil memohon-mohon agar tidak digiring ke kantor polisi.


“ Ada keluarga dari pihak suami? Mohon beritahu yang lain agar segera menyusul menggantikan Ibu”.


“ Ada, saya sudah hubungi ibunya. Mereka sedang dalam perjalanan kemari.


“ Saya beri waktu hingga Magrib, begitu ada yang menggantikan, Anda harus segera ikut kami”.


Aku tertunduk lesu mendengar perintah polisi tersebut. Air mataku menetes tiada henti. Sambil terisak aku langsung ke ruangan radiologi sambil menggenggam formulir ditanganku. Belum sempat aku masuk suster sudah mendorong ranjang Ray dengan tergesa-gesa.


“ Pindah ICU Bu, kondisinya menurun”.


“ Sus, ada apa dengan suami saya? Gak apa-apa kan?”.


“ Berdoa saja Bu. Ibu bisa hubungi keluarganya, kondisinya semakin kritis”.


Aku berlari mengikuti para suster ke ruangan ICU dengan cemas, jantungku sudah berdebar kencang. Ray sudah terkulai lemas dengan selang oksigen terpasang di mulutnya. Sambil setengah berlari suster mendorong ranjang Rayendra, wajah mereka juga tak kalah cemas sepertiku.


“ Pasang EKG sekarang Sus”, perintah dokter yang menangani Rayendra.


“ Baik Dok”, jawab suster tersebut sembari memasang elektrokardiogram di dada Rayendra.


“ Dok, pasien mengalami bradikardi. Denyut jantung kurang dari 60 kali per menit”.


“ Ambil alat pacu jantung”.


“ Baik Dok”.


“ Siap-siap. Hitung denyutnya. Bismillah”, ujar dokter spesialis sambil menempelkan alat picu ke dada Ray. Tubuhnya tersentak begitu aliran listrik menyengat tubuhnya. Bunyi detak jantung yang terekam EKG masih terdengar lemah. Grafik jantung masih terlihat datar tak menunjukkan kemajuan.


“ Sekali lagi Sus, Bismillah”.


Tubuh Ray kembali tersentak, grafik denyut jantung naik perlahan-lahan. Dokter menghentikan tindakannya sembari mengukur denyut nadinya.


“ Gimana kondisinya Dok?”, tanyaku dengan suara tercekat.


“ Pasien koma Bu. Mohon bantu doa. Sudah hubungi keluarganya? Kira-kira ada orang yang paling ditunggu?”, tanya dokter tersebut.


“ Anaknya Dok”, jawabku sambil terisak.


“ Mohon kabari segera, bantu doa ya Bu”, ujarnya sambil menepuk bahuku.


“ RAAAAAAYYYYYYYY”, jerit seorang wanita di depan pintu kamar. Ibu mertuaku sudah tiba bersama Nana, mereka menjerit histeris melihat Rayendra yang terbaring koma.


“ Astagfirullah Ray, kamu kenapa? Jangan tinggalin Mama Ray. Bangun Raaay”, jeritnya.


“ Nana, telepon Rania sekarang. Rania harus tau. Tolong hubungi Rania “, jerit ibunya.


“ Iya Ma, Nana lagi coba telepon Kak Rania”, jawabnya sambil memencet ponselnya dengan gelisah.


“ Ma, gak diangkat. Ga ada jawaban Ma”, ujarnya sambil menangis.


Perlahan aku mendekati ibu mertuaku, mencoba untuk mengelus tubuhnya. Ia terus menangis sambil mengguncang tubuh Ray yang tak berdaya. Tangannya mengelus pipi Ray yang lebam, matanya masi menutup tak bereaksi sama sekali.


**


Bismillaahir rahmaanir rahiim.


Alhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin.


Arrahmaanir rahiim.


Maaliki yaumiddiin.


Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin.


Ihdinash shiraathal mustaqiim.


Shiraathal ladziina an’amta ‘alaihim.


Ghairil maghdhuubi ‘alaihim wa ladh dhaalliin.


**


**

__ADS_1


Dengan lembut mertuaku membacakan Al-Fatihah ke kupingnya, tangannya membelai lembut kepala anaknya. Terlihat setitik air mata menetes dari mata Rayendra, seakan bereaksi saat lantunan ayat suci dibacakan.


“ Kila, Kica Kian”, terdengar suara lirih keluar dari mulutnya.


“ Raaaay, bangun sayang. Ada Mama di sini Ray. Bangun sayang, nanti kita ketemu anak-anak ya”.


“ Bangun Nak, banguuuun “.


Cerita Rania


17.30 WIB – RS Kasih Bunda Bintaro


“ Nak Bangun. Banyak yang jenguk Kian di sini. Ada Tante Nadine, Om Dion, Om Ivan. Semuanya mau ajak Kian main. Bangun dong sayang”, bisikku di telinga Kian yang masih terbaring lemas.


“ Rania, makan dulu yuk. Lo belum makan dari tadi”, ajak Nadine memeluk badanku.


“ Gak laper Nad, gue nunggu dokter aja”, jawabku lemas.


Tiba-tiba Dokter yang memeriksa Kian datang sambil mambawa hasil rontgen di tangannya.


“ Bu Rania, dari hasil rontgen tidak menujukkan adanya patah tulang. Anaknya tidak apa-apa. Tapi harus terus diobservasi, jangan sampai anaknya muntah. Sepertinya Kian sedang syok, mudah-mudahan sebentar lagi bangun”, ujar dokter tersebut.


“ Alhamdulillah, jadi gak kenapa-napa kan Dok?.


“ Kami harap tidak apa-apa, ibu tidak usah kuatir. Nanti saya beri obat penghilang rasa nyeri”, jawabnya.


Lega rasanya mendengar jawaban dokter tersebut, kupeluk tubuh anakku dan kuciumi kepalanya.


“ Ran, Lo gak kabari Ray ?”, tanya Dion.


“ Lebih baik lo kabari kondisi Kian, meski bagaimanapun dia ayahnya”, sahut Nadine.


Aku terdiam sambil memikirkan perkataan mereka. Akhirnya hatiku luluh juga, kucari ponselku di dalam tas.


“ Loh, Hp gue mana ya? Astagfirullah Nad, kayaknya ketinggalan di ruangan Mas Dipta!”, jeritku.


“ Gue yang hubungi Ray deh”, ujar Dion sambil merogoh saku celananya. Tak lama ia pun terlihat kebingungan.


“ Hp gue ketinggalan di kantor jangan-jangan?”.


Cerita Renata


17.45 WIB – RS Parahyangan Padalarang


Kucoba berkali-kali menghubungi semua kontak kenalan Rayendra. Kebetulan aku menyimpan nomor Dion tempo hari, sudah kuhubungi berkali-kali namun tidak diangkat juga. Aku semakin panik karena mertuaku terus histeris memanggil Rayendra. Denyut jantungnya juga kembali melemah.


“ Tolong Renata, bawa Rania dan anak-anak kemari. Mama mohon sama kamu Ren”, isak mertuaku.


“ Iya Ma, saya lagi hubungi temen Ray. Semuanya gak diangkat”.


“ Kasihan Ray, dia harus ketemu anaknya. Cari Rania sekarang, kaki Ray udah mulai dingin, Na”.


“ Nana telepon dan WA Kak Rania, ga ada jawaban juga”, ujarnya.


“ Ray belum minta maaf sama mereka, Rania harus tau kondisi Ray sekarang”.


Nana terlihat gelisah sambil mondar-mandir menggigiti kukunya. Mataku terus melirik jarum jam. Sebentar lagi polisi akan membawaku ke kantor. Apa yang harus aku lakukan sekarang?


17.50 WIB – RS Kasih Bunda Bintaro


Cerita Ivan


“ Ran, minum dulu”, ujarku sambil memberikan secangkir teh hangat padanya.


“ Makasih Van”, sahutnya sambil mengambil teh hangat di tanganku.


“ Rania, betul apa kata Dion sama Nadine. Lo harus kabari Rayendra”.


“ Ponsel gue ketinggalan Van, gue gak hapal nomor barunya”.


“ Lo bisa kirim email setidaknya. Pakai hp gue nih”, jawabku.


“ Iya Van. Tar ya abis solat magrib”.


“ Lo tenangin diri dulu deh. Makan sama anak-anak yuk”, ajakku.


“ Makasih Van. Tar abis solat ya, sebentar lagi Adzan Magrib”.


“ Ran, gue mau tanya. Kalau seandainya Ray minta maaf, apa lo mau maafin kesalahannya?”.


“ Gue pasti maafin Ray. Dia adalah ayah dari anak-anak. Mau sampai kapanpun dia adalah bagian dari hidup kami”


Allaahu Akbar, Allaahu Akbar


Asyhadu allaa illaaha illallaah.


Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah.


Hayya 'alashshalaah


Hayya 'alalfalaah.


**


Cerita Renata


17.45 WIB – RS Parahyangan Padalarang


Allaahu Akbar, Allaahu Akbar


Laa ilaaha illallaah


**


Tuuuuuuuut…..tuuuuuuuuut…….tuuuuuut……


Mesin EKG berbunyi sambil menujukkan grafik denyut jantung yang kian melambat, lalu grafiknya terus melemah dan berangsur datar. Dokter spesialis berlari ke arah Ray, diikuti seorang suster di belakangnya.


“ Permisi Bu, saya cek nadinya”, ujar dokter tersebut.


“ Alat picu jantung”


“ Baik Dok”.


“ Hitung Sus. 1..2…3....Lagi……1…..2…..3…..”


Suster itu menggeleng. Dokter memeriksa pembuluh nadi di pergelangan Rayendra. Ia telihat menarik nafas dengan berat.


“ Innalillahi Wa innaliahi Rojiiun. Kami sudah berusaha semampu kami. Semoga keluarga diberikan ketabahan”, ujarnya sambil mengelus punggung mertuaku.


“ Rayendraaaaaaaaaaa”


18.00 WIB – RS Kasih Bunda Bintaro


Cerita Rania


Prang


Cangkir teh hangat yang ada di tanganku seketika saja pecah. Air panas langsung mengenai kakiku. Sontak Ivan langsung membantuku memungut pecahan beling di lantai.


“ Gak apa-apa Ran?”.


“ Gak apa-apa Van. Maaf tiba-tiba cangkirnya licin “, jawabku sambil mengelap bajuku yang basah. Tiba-tiba saja badanku merinding.


“ Lo lemes kali Ran, yuk solat dulu terus makan”, jawabnya.


Aku segera berdiri untuk menuju mushola, tiba-tiba terdengar suara yang kukenal memanggilku.


“ Rania !!!!”.


“ Mas Dipta? Kok bisa kemari?”.


“ Ran, ponselmu ketinggalan di ruanganku. Dari tadi bunyi terus, sepertinya banyak pesan masuk. Kamu harus baca Ran”, ujarnya sambil terengah-engah.


Kuterima ponselku segera, entah mengapa tangan ini masih saja bergetar. Ada 50 missed call dan pesan WhatsApp beruntun memenuhi layarku. Ternyata pesan dari Nana, kubaca pesan terbaru yang baru saja ia kirim.


“ Raaaaaayyyyyyy”


Mulutku menjerit dan tiba-tiba saja pandanganku kabur. Kepalaku seperti diliputi awan hitam, gelap dan sunyi. Suara Rayendra seakan terngiang-ngiang di telinga memanggilku.


“ Rania, kamu gak apa-apa”


“ Rania”


“ Suster, tolong ada yang pingsan”.


Sayup-sayup terdengar suara orang berteriak memanggilku. Namun yang kudengar hanya panggilan Rayendra. Suara lembutnya saat pertama kali kami bertemu, elusan tangannya, pelukan hangatnya, semuanya terasa nyata. Bayangan Rayendra bersama anak-anak berputar-putar di kepala, badanku serasa melayang dalam lautan kenangan masa lalu bersamanya.

__ADS_1



__ADS_2