Harta, Tahta, Renata

Harta, Tahta, Renata
Menyiapkan Amunisi Cerita Rania


__ADS_3

08.30 WIB – Rumah Rania


Pikiranku masih berkecamuk seakan masih tak percaya dengan apa yang kudengar dari cerita Dion. Dada ini rasanya bergemuruh memendam amarah, namun aku tak punya daya upaya. Perasaan gundah yang kurasakan sejak Kian masih di dalam perutku bukan tanpa sebab, mungkin sebenarnya sudah mengisyaratkan firasat. Mengapa Ray berubah saat aku hamil tua, ia mulai dingin padaku dan sering tak pulang dengan alasan sibuk. Selalu tiba di rumah pukul 02.00 dini hari, lalu pergi lagi keesokan harinya.


Pantas saja saat aku mencoba untuk bertahan dan memintanya jangan pergi, ia selalu bilang tidak bisa. Kucoba untuk memperbaiki semuanya, ia bilang sudah terlambat seolah-olah permasalahan rumah tangga kami sangat berat. Yang paling membuatku geram adalah ia menjatuhkan talak saat aku baru saja melahirkan 3 minggu yang lalu. Anakku saja masih merah, aku baru bisa berjalan sehabis operasi Caesar. Menjatuhkan talak saat istri masih dalam masa nifas adalah suatu perbuatan dzolim, ia tidak tau kondisi fisik dan psikis seorang ibu yang baru melahirkan bisa terganggu dan berpengaruh pada bayinya.


Itulah kini yang kualami pada Kian. Sudah 3 hari ASI-ku seret. Kucoba untuk tetap tenang namun tak bisa. Aku harus bebicara pada seseorang, beban ini tak sanggup aku pikul sendirian. Aku melirik ponselku yang tergeletak di atas kasur persis di samping Kian yang sudah tertidur lelap. Jemariku membuka aplikasi Whatsapp dan kucari grup yang merupakan sahabatku sejak SMP.


Rania : Gengs, I need help !!!


Grup itu masih sepi, jam segini mereka pasti masih berkutat mengantar jemput anaknya masing-masing. Kami tinggal di beberapa kota yang berbeda, namun semua itu tak menjadi masalah bagi kami untuk terus menjalin komunikasi.


Nayla : Apaan Ran? stalking lagi ya wkwkwk?.


Fika : Apaaaa?.


Mita : Hadiiir. Anak gue gak sekolah dong hari ini wkwkw.


Nayla : Ko bisa Mit? Kesiangan bangun ya si kakak?.


Fika. : Hari ini bebas anjem anak-anak dong, bapake yang anter jadi gue bisa nonton drakor deh.


Tasya : Drakor apa Fik? Mau dong link nya.


Random chat di grup ini sudah biasa terjadi. Mereka belum tau bahwa Ray sudah menjatuhkan talak padaku. Aku tak yakin apa ini saat yang tepat untuk memberitahukan yang sebenarnya, namun tekadku sudah bulat.


Rania : RAY TALAK GUE !!!


Mita : Si kakak kesiangan bangun trus gue juga mager deh.


Fika : Drakor judulnya lupaaa, tar ya gue share link nya.


Nayla : APAAAAAA????


Mita : HAH???


Fika : Raaaaan serius ah jangan becanda!!!


Tasya : Astagfirullah, yang bener ihhhhh.


Dalam hitungan detik pertanyaan muncul bertubi-tubi. Aku harus menyiapkan beberapa menit untuk mengetik panjang lebar kronologis perceraianku dan menyiapkan waktu untuk sesi tanya jawab.


Rania : Tanggal 10 Maret yang lalu Ray talak gue, sekarang dia udah di Bandung dan dia punya selingkuhan.


Nayla : Jadi Renata itu selingkuhan si Ray???


Mita : Selingkuhannya orang Bandung? Kenal dimana?.


Fika : Bandung? Yaelah Bandung mana? Kita samperin aja apa?


Mita : Renata saha? anakna saha? Imah dimana?.


Tasya : Innalillahi Ran, langsung merinding dong gue .


Fika : Gue meluncur dulu ke Instagram.


Kini jariku sibuk memencet tombol keyboard untuk menjelaskan pertanyaan sahabatku yang kian ricuh. Mereka shock atas apa yang menimpaku dan anak-anak. terlebih lagi pada Kiana yang baru saja lahir, bayi montok yang wajahnya mirip dengan Ray itu harus lahir tanpa merasakan hangatnya pelukan seorang ayah.


Dita : Ya ampun baru bangun udah 312 chat aja shay. Gosipin artis siapa sih? Siapa yang cerai?.


Fika : Yaelah Dita pasti males baca deh.


Dita : Innalillahi Raniaaaaa. Ini serius? Astagfirullah.

__ADS_1


Rania : Gue butuh kalian sekarang, mau nangis tapi udah ga bisa.


Bip bip bip bip bip bip


Dita


“ Halo Ran, ini serius Ran??? “, jerit Dita histeris dalam panggilan teleponnya.


“ Iya Dit, Ray talak gue bulan Maret. Maaf ya gak cerita, soalnya lagi males ditanya-tanya “, jawabku padanya.


“ Ya ampun Ran, gue merinding nih dengernya. Si Ray kurang ajar banget sih. Dulu dia pernah curhat sama gue, katanya lo itu ga sensitif sama suami, ga perhatian, sibuk ngurus anak-anak. Gue bilang kalau semua ibu-ibu pasti sibuk pasti sibuk ngurus anak, apalagi full time mom yang berhadapan sama dramanya ngurus anak selama 7 x 24 jam. Kalo mau istri punya waktu lebih leluasa buat melayani suami, ya perhatiin juga dong kebutuhan istri”, cecar Dita berapi-api.


“ Gue memang mengakui dalam permasalahan kami memang pasti ada sebab-akibat Dit. Pernikahan itu kan hubungan dua arah, gue juga pasti punya andil dalam retaknya rumah tangga kami. Gue gak bisa menjadi istri yang Ray harapkan, tidak bisa melayani sebanyak yang ia butuhkan. Kami emang ga cocok kali ya? “, jawabku sendu.


“ Tetep aja brengsek namanya. Semua pasutri pasti ngalamin ketidakcocokan, karena pernikahan itu adalah seni bertahan. Jangan ada masalah dikit bilang cerai, setiap tahun ke tahun pasti ada ujian untuk bisa dilewati bersama-sama. Kalo kasus si Ray mah emang bukan masalah cocok atau enggak, dia kepincut rumput tetangga yang keliatan lebih subur aja “, Ujar Dita menggebu-gebu.


“ Ya kalo ternyata ga jodoh lagi gimana Dit, kan jodoh Allah yang atur “, balasku pasrah.


“ Tetep aja ga dibenarkan Ran. Sekalipun lo punya kekurangan, harusnya kekurangan itu diisi, bukan diganti. Permasalahan ga cocok mah cuma dalih dia aja karena dia yang ga becus jadi suami “, cerocos Dita sambil mengeluarkan semua unek-uneknya memaki Ray.


“ Thanks Dit gue lebih enakan sekarang, saat ini gue masih mencerna semuanya. Yang jadi fokus gue cuma anak-anak, terutama Kian. ASI gue seret Dit, Kian rewel terus dari kemarin “, sahutku lagi.


“ Iya lah Ran, kondisi psikis ini bisa bikin lo baby blues tau gak. Sabar ya Ran, gue yakin lo kuat. Lo perlu apa? Popok Kian aman? Lo udah makan belum? Gue kirimin makanan biar ASI lo banyak ya “, hibur Dita.


“ Popok baru beli sih, kemaren Ray transfer buat anak-anak. Alhamdulillah gue masih bisa makan lah, dicukup-cukupin aja. Makasih ya Dit, gue mau mandi dulu trus masak buat anak-anak”, balasku pada Dita yang merupakan sahabatku sejak lama.


“ Iya Ran, peluk buat kalian semua ya. Stay strong Rania “, tutup Dita dalam panggilan teleponnya.


Perasaanku kini lega telah mengeluarkan segala pilu yang selama ini kupendam. Sinar mentari pagi menerpa wajahku dari balik jendela, hangat sinarnya seolah memberikan kekuatan baru.


PING


“ Selamat pagi dengan Ibu Rania?. Saya Ilham dari BSD kebetulan lihat iklan rumah dijual yang tayang di Internet. Boleh saya lihat rumahnya bu?”,


“ Pagi Mas Ilham, silakan langsung saja ke lokasi. Saya ada di rumah kok, nanti saya share location nya ya “ jawabku cepat.


“ Baik Bu, nanti siang saya mampir ke rumah Ibu “,


Alhamdulillah semoga pembeli ini berjodoh dengan rumahku. Aku sudah tak sanggup didatangi debt collector setiap bulan. Jika rumah ini berhasil di-take over pada pembeli, aku bisa segera mengontrak rumah di daerah sini.


13.10 WIB


Fika : Raaan, ini screenshot IG Story Ray kemarin.


Mita : Widiiih, si Ray jalan-jalan yah.


Tasya : Kayanya ke Bromo ini sih.


Nayla : Iya itu di Bromo, pasti sama si Renata. Ig Renata di private nih, gak bisa kepo deh kita.


Fika : Tenaaang, netijen mah cerdas.


Dita : Cari sampe dapet Fik, gemes gue pengen jambak si Renata.


Mita : Yoih, kalo ketemu gue pengen colok matanya.


FIka : Siram ajah pake aer coberan siiiis.


Nayla : Si pelakor kita telanjangin aja, trus diarak ke alun-alun.


Dita : Sabar dong netijen, cewe model gitu mah tar kena batunya sendiri.


Fika : Gue nemu nih akun temennya yang juga ikutan ke Bromo. Ternyata mereka kesana rame-rame.

__ADS_1


Mita : Nah ini muka si Renata jelas. Halah cewe beginian doang dikejar? Udah tua ya kayanya.


Nayla : Iya mukanya kaya ibu tiri wkwkkw.


Dita : Screenshoot semua barbuk Fik, siapa tau si Rania perlu.


Fika : Iyes tar di save semua bukti.


Tasya : Si Rania kemana? Gak nyaut-nyaut.


Dita : Lagi tidur siang kali beb. Kasian biarin aja.


Nayla : Biarin dia istirahat, sisanya serahkan pada Allah dan jari Netizen.


Fika : Wkwkkwkwkw.


Dita : Hukuman Allah dan sanksi sosial lebih kejam. Tunggu aja Rayendra, saatnya pasti akan tiba.


13.30 WIB


Tok Tok Tok


Terdengar suara ketukan dari pintu rumah. Aku baru saja menyuapi anak-anak di teras belakang, segera berlari kecil membukakan pintu.


“ Siang Ibu Rania saya yang tadi pagi mau liat rumah “ salam sesosok pria berumur 30 tahunan menyapaku ramah.


“ Mas Ilham ya, silakan masuk mas. Monggo dilihat-lihat rumahnya, maaf berantakan maklum anak-anak saya masih kecil “ jawabku sambil mempersilakan pembeli itu masuk.


Pria itu melihat-lihat ke seisi penjuru rumahku. Pandangannya menyapu ke segala penjuru tanpa berkomentar sepatah katapun, namun tatapannya menyiratkan antusias. Aku menemaninya hingga ke lantai dua rumahku, pembeli itu tak banyak berkomentar hanya mengangguk-angguk saja.


“ Masih baru ya rumahnya, bangunannya kokoh saya suka “ jawab pembeli itu sambil meraba kusen pintu kamarku.


“ Iya Mas, baru 2 tahun kok. Belum ada perbaikan sama sekali. Jujur aja ini rumah kesayangan kami, sayangnya kami sudah tidak berjodoh dengan rumah ini “ jawabku miris.


“ Kenapa dijual Bu? Apalagi Ibu punya tiga anak, pasti perlu rumah besar suatu saat nanti“, tanyanya padaku.


“ Suami saya sedang drop Mas, kami perlu uang “, jawabku singkat tak ingin basa-basi lebih panjang lagi.


“ Oh gitu Bu. Kalo saya sih cocok banget sama rumahnya. Nanti saya bicarakan sama istri saya dulu, nanti 3 hari lagi saya kabari. Mudah-mudahan belum terjual sama orang lain “ serunya mantap sambil terus melongok ke setiap penjuru ruangan.


“ Baik Mas, saya tunggu kabar baiknya ya “ jawabku lega. Hati kecilku berdoa semoga dialah yang akan menjadi pemilik rumah ini nantinya. Sosoknya baik dan ramah, hatiku ikhlas harus melepaskan rumah kesayanganku ini padanya.


Aku menutup pintu rumah dengan lega setelah Mas Ilham pulang seusai melihat-lihat rumah. Kila dan Kica melongok keluar jendela sambil bertanya.


“ Om itu siapa Mam? “


“ Yang mau beli rumah kita sayang. Doakan ya rumah ini dibeli sama Om itu. Nanti kita bisa pindah ke rumah baru “, jawabku lembut pada kedua anakku.


“ Rumah baru kita besar atau kecil? Tanya Kica dengan polosnya.


“ Kecil saja ya nak, sampai nanti kita punya uang buat beli rumah sendiri “ jawabku sambil mencubit pipinya.


“ Iya gak apa-apa kok. Aku sama Kica kan mau bikin istana besar di surga “ balas Kila sambil melebarkan tangannya.


“ Aamiin Nak, Inshaallah “ Senyumku pada dua malaikat kecilku itu. Hatiku semakin tenang hari ini, Kian juga sudah tidak rewel lagi, malah kini sedang tidur dengan pulasnya di bouncer ruang tamu.


Kugendong Kian menuju kamarku diikuti oleh Kila dan Kica yang bernyanyi kegirangan. Kuletakkan dengan hati-hati di kasurku sambil mencari-cari dimana ponselku yang sedari tadi tak kusentuh. Kubuka dan kulihat 130 pesan yang belum terbaca dari geng SMP ku. Kubuka chat mereka dan seketika saja jantungku terperanjat melihat banyak foto-foto Ray dan Renata di dalamnya. Terlihat Ray memeluk mesra Renata di sebuah padang pasir dengan latar belakang gunung Bromo. Tangan kokohnya memeluk pinggang sang penggoda dengan erat. Mereka terlihat seperti pasangan yang baru saja dimabuk cinta. Ah tidak, sepertinya hanya Ray yang dimabuk cinta, tatapan Renata terasa dingin dan hampa. Aku menatap lekat-lekat foto mereka, chat dari sahabatku tidak kugubris. Aku simpan semua foto-foto itu dan kubuat folder khusus di ponselku.


Rayendra, kini aku telah siap menerima tantangan yang kau berikan. Telah aku siapkan segala amunisi untuk berperang, bersiaplah karena Rania akan datang!


* Terima kasih kepada kalian yang dengan setia menyimak kelanjutan cerita Rayendra-Renata-Rania. Kepada pembaca baru saya ucapkan selamat menikmati \=)


XOXO

__ADS_1


Author


__ADS_2