
10.20 WIB – Rumah Ivan
“ Van…..Ivan, kamu ga ke kantor hari ini?”
Suara lembut itu membangunkan dari tidur lelapku. Ia mengguncangkan punggung sambil menarik selimut yang membalut tubuhku.
“ Hmmmmmh….iya nanti siang “, jawabku sambil kembali menarik selimutku.
“ Ivan…jam berapa ke kantornya ?”.
“ Tar siang “, jawabku singkat sambil memejamkan mataku yang masih terasa berat.
“ Anter Mama dulu ya Van, Pak Ujang sakit ga bisa anter Mama hari ini”.
“ Minta anter Papa aja sih Ma “.
“ Papa udah berangkat tadi pagi Van, lagian juga jadwalnya bentrok “, ujarnya sambil kembali menarik selimutku.
“ Aduh….iya iyaaa. Tar aku drop Mama aja deh. Mau kemana sih?, jawabku kali ini sambil membuka mata menatap wajahnya yang sudah nampak cantik dengan riasan make up.
“ Kamu tuh udah sebulan di Jakarta, pulang-pulang malah tidur, disuruh anter Mama ga mau”.
“ Mau Ma, tar siang kan. Masih ngantuk ini semalem sampe jam 2 subuh “. Jawabku sambil mengucek mataku.
“ Sibuk banget kamu sampe ga inget rumah, ngerjain apa sih Van?”.
“ Yah ngerjain proyek temen Mama kan, sama bantuin kerjaan Dion “.
“ Kirain punya pacar sampe ga inget pulang “, tukasnya sambil tersenyum simpul.
“ Apaan sih Ma, orang kerja kok dibilang pacaran “.
“ Eh kemarin di telepon kamu cerita soal mantan mahasiswa Mama di kampus Fikom, siapa tuh Van?”. Pertanyaan ibuku kali ini langsung menghilangkan semua kantukku.
“ Hah? Oh itu, Rania. Iya kita tuh deket trus dia cerita kalo Mama dosen yang ngajar di kelasnya dulu “, jawabku gelagapan.
“ Aduh Mama lupa deh kalo nama. Mungkin kalo wajah Mama bisa inget Van. Kamu kok bisa ketemu, kenal darimana?”, pertanyaan khas Mama yang pasti berbuntut panjang menginterogasiku.
“ Dikenalin Dion Ma”.
“ Oh dikenalin Dion, terus kalian deket gitu?”, ujarnya sambil menggodaku.
“ Eh enggak deket, maksudnya jadi kenal aja”, jawabku panik sambil meralat ucapanku.
“ Ya kalo jadi deket juga gak apa-apa kan Van “, sahutnya sambil kembali menarik selimut dan melipatnya. Pertanda aku tak bisa menghindar untuk tak kembali meringkuk di bawah selimut.
“ Aduh ini gak yang seperti yang Mama kira kok, kita gak ada apa-apa. Sumpah Ma“.
“ Haha pake sumpah segala. Jadi Rania tuh siapa? Kok sampe bisa bikin kamu salah tingkah gitu “.
“ Aku tuh sama Dion bantuin Rania buat ngurusin perceraiannya di pengadilan. Dia itu mantan istri Ray, Ray itu cowo Renata yang sekarang. Pusing kan jelasinnya “. Jawabku sambil kembali memeluk gulingku.
“ Eh bentar. Jadi Rania itu istri yang baru melahirkan yang ditinggal Rayendra?”, tanya ibuku sambil menarik gulingku.
“ Iya, kok Mama tau?”, tanyaku.
“ Hardian kan pernah cerita sama Mama. Ya ampun ternyata istrinya tuh Rania ini? Bener-bener ya dunia tuh sempit. Trus gimana kabarnya Van?”.
“ Masih ngurusin sidang cerai aja sih, kita ketemu tiap Sabtu di Bintaro buat kerjain draft agenda sidang. Anaknya yang kecil lucu deh Ma, Kian paling suka kalo aku gendong “.
“ Kamu sampe gendong anaknya? Udah sedeket itu? “, tanyanya sambil terbelalak.
“ Eh maksudnya, aku nolongin buat gendong anaknya kalo Rania ngobrol sama Nadine. Please deh Ma jangan mikir macem-macem. Aku, Dion sama Nadine cuma pengen bantu Rania, kasian dia harus ngurus 3 anaknya sambil bolak-balik ke pengadilan”.
__ADS_1
“ Lucu juga ya, kamu bisa ketemu sama Rania mantannya Rayendra. Taunya dia mantan anak didik Mama. Kita gak tau apa rencana Allah dibalik ini ya Van”.
Ibuku menghela napasnya, matanya terlihat menerawang ke langit-langit kamarku, lalu kembali menatap mataku dalam-dalam.
“ Van kamu percaya ga kalo manusia itu cenderung bersatu sesuai dengan golongannya. Mau dipaksakan kaya apa juga kalo beda frekuensi ya gak akan nyambung. Sekarang kita sudah tau kan level Renata dan Rayendra? Mungkin mereka berjodoh karena level mereka sama”.
“ Mama sih gak merasa kasihan sama Rania, justru bersyukur telah dijauhkan. Apa yang ia alami bukan suatu kutukan, tapi misi penyelamatan dari Allah agar terbebas dari belenggu lelaki yang tak cocok jadi imamnya. Begitu juga kamu Van, Allah memberikan petunjuk disaat kamu merasa yakin sama Renata, coba kalo seandainya kamu jadi nikah, rumah tangga kamu belum tentu bahagia kan?” tutur ibuku dengan bijak.
“ Maafin Ivan ya Ma, belum bisa bahagiain Mama sampe detik ini. Belum bisa kasih cucu seperti yang Mama pengen”.
“ Take your time Ivan. Jodohmu adalah cerminan dirimu. Mendingan kamu upgrade diri biar jodoh kamu ga selevel sama Renata lagi. Fokus sama ibadahmu, biar Allah yang mengurus hidupmu nanti “. Ujarnya sambil menjawil hidungku.
“ Makasih Ma, ngomong-ngomong sesi curhat ini berbayar ga? Jadinya aku harus bayar nganterin Mama nih tar siang?”, gurauku menggoda ibuku yang masih duduk bersila di kasur sambil mengeluarkan petuah andalannya.
“ Ah kamu nih, sama Ibu sendiri pake itungan. By the way, tolong sampaikan salam Mama buat Rania ya, peluk buat si kecil juga “, ujarnya sambil berjalan kearah pintu kamarku.
“ Jam 11 kamu harus udah siap, nanti kamu anter Mama ke kantor Hardian “, ujarnya sambil berlalu keluar pintu kamarku. Seketika saja jantungku terkesiap mendengar nama Hardian, jadi orang yang akan Mama temui adalah Hardian Hardjawinata. Tanpa menunggu lama aku langsung melompat dari kasurku.
“ Aku mandi sekarang Ma!!!!”.
11.30 WIB – Pelataran Parkir Hardja Sukses Grup
Kuparkirkan mobilku di kantor Hardian Sukses Grup sembari menyisir pandangan ke seantero pelataran, berharap aku bisa melihat batang hidung Ray atau Renata di sana. Nasib baik masih berpihak pada Ray saat ia menghadap Dion di Jakarta tempo hari, kalau saja aku tidak datang terlambat, tinjuku ini sudah melayang tepat di wajahnya.
“ Mama mau ngobrol tentang apa sama Pak Hardian? Soal Renata lagi?”, tanyaku penasaran akan maksud ibuku kembali ke kantor ini.
“ Hardian minta Mama untuk bikin training customer satisfaction untuk frontliner di kantornya. Sama biasa lah, Hardian suka pengen curhat soal bisnisnya “, jawabnya sambil merapikan riasan make up di wajahnya.
Kami berdua keluar dari mobil dan berjalan memasuki lobby Hardja Sukses Group. Ibuku tersenyum saat salah seorang staf menyapa kami.
“ Selamat Pagi Ibu Maya, mau ketemu Bapak ya? silakan naik ke atas aja Bu, Bapak sudah menunggu di ruangan meeting”, sapa seorang staf sambil tersenyum ramah kepada kami.
“ Terima kasih Mbak, kami langsung naik ya “, senyum ibuku dengan ramah membalas sapaan mereka. Bibir ibuku tak pernah berhenti melemparkan senyum pada seluruh staf di sini, ada suatu kebanggan tersendiri aku memiliki ibu seperti beliau.
“ Permisi Mbak Nanda, ruangan meeting Pak Hardian dimana ya”, tanyaku sambil mendekatkan badanku kearahnya. Seketika saja ia mendongakkan kepalanya hingga mulutnya menganga.
“ Mbak, maaf ruangan meetingnya dimana?”, tanyaku sekali lagi pada Nanda yang masih terbelalak melihatku.
“ Eh maaf, ruangan meeting ya. Mau ketemu siapa Pak, eh Mas, eh Kak “, jawabnya salah tingkah. Kelakuan staf yang satu ini membuatku menahan tawa.
“ Mau ketemu Pak Hardian, kami sudah bikin janji. Pak Hardian minta kami langsung ke ruangan meeting “, jawabku sambil menyunggingkan senyum hingga Nanda menjadi makin salah tingkah.
“ Oh udah bikin janji ya, ayo saya antar Mas ke ruangan meeting “, ujarnya sambil meletakkan handphone-nya dan tersenyum manis padaku.
Ibuku memandangi kami dari kejauhan sambil menahan tawa, lalu berjalan mengikuti kami ke ruangan yang dituju. Terlihat sosok lelaki yang kira-kira usianya sama seperti ibuku sedang menunggu di ruangan meeting sendirian.
“ Permisi, Hardian maaf kalo nunggu lama “, sapa ibuku dari balik pintu.
“ Eh Neng Maya, udah saya tungguin dari tadi, *kamana wae “, jawabnya ramah dengan aksen sunda yang kental.
“ Tadi pagi harus ngerayu anak bujang dulu buat minta anter. Untung anaknya mau ngikut nih sekarang “.
“ Eh si kasep teh udah gede. *Meni jangkung nya siga bapana. *Kumaha damang Van?”, sapa Hardian sambil menjabat tanganku.
“ Alhamdulillah baik Om “, jawabku.
“ Nanda, tolong suruh OB siapin minum buat tamu ya “, seru Hardian pada Nanda yang masih berdiri mematung di depan pintu.
“ Ayo silakan duduk. Wah untung ada Ivan nih disini, saya jadi bisa nanya-nanya sama kamu “.
“ Silakan Om, ada yang bisa saya bantu “, jawabku.
“ Profit perusahaan mulai turun akhir-akhir ini. Baik dari hotel, sampai rumah makan saya turun 30%. Staf banyak yang keluar masuk karena pindah ke hotel sebelah”.
__ADS_1
“ Kalo boleh tau turun karena apa Har? Persaingan kah?”, tanya ibuku.
“ Harus diakui fasilitas dari unit bisnis kami harus perbaiki. Cuma kami ga bisa renovasi total karena makan biaya banyak”.
“ Kalo fasilitas sih sudah fundamental sifatnya Om. Mau tak mau harus di-maintain demi kepuasan pelanggan. Lebih baik unit bisnis sedikit tapi bisa memberikan full service”, jawabku.
“ Iya betul kamu Van. Saya lagi berpikir untuk menutup beberapa unit bisnis saya yang tidak menghasilkan. Mungkin bulan depan saya mau coba jual sahamnya ke beberapa partner saya”.
“ Betul Om, lebih baik begitu. Om harus menyelamatkan unit yang lebih besar karena perbaikan sifatnya tak bisa ditunda-tunda sebelum terjadi kerusakan lebih besar, ongkosnya juga akan makin membengkak. Saran saya Om lepas saja perusahaan yang sekiranya hanya menggerogoti profit perusahaan”. Jawabku panjang lebar.
“ Gimana kabar RENTZ Har? Sudah ada titik terang?”, tanya ibuku menyela pembicaraan.
“ Ah masih gitu-gitu aja. Yang ada saya terus didesak buat nutup RENTZ secepatnya. Kami udah gak kuat buat gelontorin budget tiap bulan buat mereka”, Jawab Hardian sambil menggelengkan kepalanya.
“ Saran saya tutup aja Om. Perusahaan startup memang tidak bisa memberikan keuntungan, mereka hanya bermain valuasi menunggu Investor lain membeli saham kalian. Kalau tidak dibarengi performa yang baik, jadinya cuma bakar duit. Saya rasa startup tidak cocok dengan gaya bisnis Om ”.
“ Iya betul Van. Bulan depan saya harus ambil keputusan. Si Ray sih belum tau tentang ini, malah pada senang-senang mereka abis sukuran pernikahan si Ray sama Renata “.
“ Apa??? Ray udah nikah Om?”.
“ Iya udah 2 minggu mereka nikah. Eh kamu teh mantan si Rena ya Van ? Kok bisa sih pacaran sama dia? Kenal di mana?”.
“ Ga penting lagi buat dibahas Om. Ray kan belum resmi cerai kok bisa-bisanya nikah?”, tanyaku kembali mempertanyakan pernikahan Ray dan Renata.
“ Iya, staf disini udah heboh ngomongin tuh kelakuan ajaib anak-anak RENTZ. Makin hari mereka tambah kesel lah sama kelakuan mereka”, jawabnya sambil memijat keningnya.
“ Kamu harus ambil tindakan Har, sebelum skandal ini meluas. Citra perusahaan harus kamu jaga dengan apik, tidak boleh ternoda dengan skandal macam gini”, sahut ibuku kemudian.
“ Iya May, saya udah ambil keputusan kok. Saya udah gak percaya lagi sama si Ray, lebih baik mengorbankan segelintir orang untuk menyelamatkan perut ratusan orang. RENTZ akan saya tutup”.
Ada perasaan kesal bercampur lega akan pernyataan Hardian barusan, emosiku kembali naik begitu mengetahui Ray telah menikah dengan Renata. Wajah Rania dan Kian langsung melintas di ingatanku. Jika saja ibuku tidak memberi kode untuk menjaga sikap, aku sudah mengumpat di depan Hardian sejak tadi.
Tok Tok Tok
“ Permisi Pak ini teh nya “, seru Nanda yang memasuki ruangan sambil membawa nampan berisi tiga cangkir teh di tangannya.
“ Mana OB nya, kenapa kamu lagi yang bikin?”, tanya Hardian sambil menatap keheranan.
“ Gak apa-apa Pak.Saya lagi ga ada kerjaan kok, silakan diminum teh nya Bu, Mas “, ujarnya sambil meletakkan secangkir teh di hadapan kami.
“ Ah si Nanda mah *ningali nu kasep weh langsung caper “, goda Hardian pada Nanda yang masih tersipu.
“ Teh nya dikasih gula ga Nanda? Mas Ivan sukanya teh manis loh “, goda ibuku tak mau kalah.
“ Teh nya manis kok Bu, maniiiis banget kaya Nanda “, ujarnya sambil cengengesan melirik genit ke arahku.
“ Ya sudah makasih Nanda. Kembali lagi ke meja kamu, kasian Ivan diliatin sama kamu terus”, usir Hardian pada Nanda yang masih cengar-cengir depan pintu.
“ Sama-sama Pak. Permisi Bu Maya, permisi Mas Ivan”, jawabnya manja sambil keluar ruangan. aku berusaha menahan tawa karena kelakuannya barusan.
Akhirnya semua ketegangan mencair setelah Nanda datang dengan tiga cangkir teh nya. Meskipun aku masih kesal akan berita pernikahan Rayendra, tapi hatiku puas begitu mengetahui Hardian akan menutup RENTZ bulan depan. Biar tau rasa kau Ray, karma itu tidak akan salah alamat. Cepat atau lambat, semua perbuatan pada istri dan anak-anakmu akan terbalas.
“ Sok mangga diminum dulu teh nya May, Van”, sahut Hardian mempersilakan kami untuk minum.
Aku mengambil cangkir tersebut dan menghirup teh yang masih hangat dengan uap panas yang masih mengepul. Kuhirup sedikit dan seketika saja aku tersedak, rasanya terlalu manis di lidahku.
“ NANDAAAAAAA……..kamu ngasih gula berapa sendok inih????”, teriakan Hardian menggelegar memanggil Nanda dari ruangan meeting tersebut. Aku dan ibuku tak bisa lagi menahan tawa, kami akhirnya tertawa terbahak-bahak bertiga. Akhirnya tawa ku pecah mengikis semua rasa kesalku pada Rayendra siang ini. Pikiranku terus tertuju pada Rania, apa jadinya jika ia tahu mantan suaminya akan jatuh bangkrut bersama istri barunya.
*kamana wae \= kemana aja
* meni jangkung siga bapana \= badannya tinggi persis papanya
* kumaha damang \= apa kabar
__ADS_1
*ningali nu kasep weh langsung caper \= liat yang ganteng langsung caper