
Cerita Ivan
14.05 WIB - Rumah Dion
"Rania gak ada kabar Van?" tanya Nadine yang berjalan dengan gontai ke teras rumahnya yang asri. Gelas teh di tangannya masih mengepul, wajahnya masih terlihat pucat pasi.
"Belum Nad, hp nya mati," jawabku sambil menatap layar ponselku.
Nadine hanya tersenyum sambil menjatuhkan tubuhnya di kursi, sesekali ia menyeruput teh hangat di tangannya.
"Makasih ya kalian mau nengok gue, baru hari ini bisa turun dari kasur," balasnya.
"Lo kok ga cerita kalo hamil sih Nad, gue kira sakit apaan," jawabku antara kuatir dan bahagia saat mengetahui Sean akan memiliki adik.
"Baru kemarin gue ke dokter. Taunya udah hamil 8 minggu. Puji Tuhan, Sean bakal punya adik lagi," balas Nadine sambil mengelus perutnya.
"Nadine tuh kalo hamil kaya orang sakit Van. Hamil Sean aja dia muntah-muntah sampe 6 bulan. Gak bisa stres sama sekali," jawab Dion yang menghampiri kami berdua sambil membawa cangkir kopi untukku.
"Lo jangan bikin stres lah Bro. Gak usah kelayapan kalo pulang kantor, inget Nadine butuh lo tuh di rumah,"
"Hahaha kelayapan kemana juga. Kan udah ada Nanda sekarang. Pala gue pusing kalo dia nanyain lo tiap hari Van," timpalnya sambil menggelengkan kepala mengingat tingkah Nanda.
Aku menyeruput kopiku dalam kegelisahan. Aku hanya tersenyum mendengar obrolan Dion tentang ulah Nanda, tapi pikiranku tidak ada di sini. Pikiranku hanya tertuju pada Rania, dimana dia sekarang?
"Van, mungkin Rania sibuk bikin kue, terus hp-nya mati," ujar Nadine seolah bisa membaca pikiranku.
"Iya sih, tapi dia udah janji mau kesini. Gak mungkin dia lupa, apalagi tau lo sakit," timpalku cemas.
"Mungkin ada orderan mendadak dan customernya nungguin. Gue juga kan punya usaha kue, tau banget lah suka duka tukang kue kalo ada pesenan dadakan," balas Nadine menenangkanku.
"Samperin lah Van," ujar Dion.
"Datengin ke rumahnya. Udah berapa kali lo gagal ketemu Rania. Kali ini usaha lo harus lebih keras lagi," usul Nadine.
Kali ini mereka benar, mungkin usahaku kurang untuk mencari simpati Rania. Ah bukan, aku tidak mencari simpati. Aku tulus menyayangi mereka, aku rindu gelak tawa ketiga anaknya. Aku rindu aroma Kian yang dulu sering kudekap erat.
"Bukan mau ngusir loh Van. Lo mendingan ke rumahnya sekarang. Siapa tau ada kenapa-napa sampai dia gak bisa datang. Sampein salam gue, next time kalo perut gue gak mual, gue telepon Rania. I miss them too," ujar Nadine.
Aku mengikuti usul kedua sahabatku ini. Kerinduan yang mendalam serta rasa hati yang kuat mendesak untuk menemuinya. Hadiah yang sudah kusiapkan untuk Kila, Kica dan Kian harus aku berikan. Setelah berpamitan dengan Dion dan Nadine, kutancap gas tanpa ragu menyusuri jalanan Tol Bintaro. Kali ini tiada keraguan di dadaku, tekadku sudah bulat untuk bertemu.
16.45 WIB - Rumah Rania
Mobilku akhirnya berhenti di depan rumah Rania, terlihat pintu rumahnya terbuka menandakan ada orang di rumah. Sayup-sayup kudengar teriakan Kian, membuatku tak sabar untuk memanggil mereka.
"Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam," jawab suara di dalam rumah membuka pintu lebar-lebar.
"Permisi Tante, Rania ada? Saya Ivan temennya Dion dan Rania," sapaku pada Ibu Rania yang masih kebingungan.
"Oooh Nak Ivan, yang waktu itu nemenin Rania di Rumah Sakit ya," jawab ibunya mulai mengenaliku.
"Silakan masuk Nak Ivan, tapi maaf di dalam berantakan, Kian numpah-numpahin air nih," ajak Ibunya dengan sopan.
"Makasih Tante, saya di luar aja. Boleh saya ketemu sama Kila, Kica dan Kian, Tante," pintaku.
"Boleh-boleh. Kilaaaaa, Kicaaaaa ada Om Ivan mau ketemu nih. Mana Kian, ajakin ketemu Om Ivan tuh," panggil Ibunya mencari ketiga cucunya.
Sayup-sayup kudengar teriakan dari dalam rumah. Aku ingin melongok tapi tak sopan rasanya. Hatiku dag dig dug tak karuan. Entah kenapa yang kucari pertama kali adalah anak-anaknya, sementara Rania tak tau ada dimana.
"Tuh salim dulu sama Om Ivan," ujar Ibu Rania mengajak Kila dan Kica ke teras rumah. Mereka berdua tampak malu-malu bersembunyi di belakang neneknya.
__ADS_1
"Halo Kila, Kica. Masih inget sama Om Ivan gak," sapaku sambil berjongkok si hadapan mereka.
"Om Ivan yang beliin es krim di mall ya," sahut Kica pelan dan menahan malu.
"Iyaaaaa, masih inget ya. Apa kabar sayang,"
"Baik Om," jawabnya sambil masih menahan malu.
"Kalian kemana tadi siang, Om ngajak kalian main ke rumah Sean loh," tanyaku sambil memegang tangan mereka berdua.
"Mama pergi sama Nenek Yuni. Aku kira sebentar, taunya lama banget. Baru aja Mama pulang barusan," timpal Kila sambil merengut.
"Yaaaah kasian. Tau gitu Om jemput kalian aja biar main sama Sean,"
"Iyaaaa Om. Aku sedih gak jadi main ke rumah Sean," balas Kica.
"Jangan sedih ya, Om bawa hadiah buat kalian. Nih biar kalian gak sedih lagi. Tante Nadine juga kasih cupcake kesukaan kalian," jawabku sambil memberikan kado yang sudah kusiapkan untuk mereka.
Kila dan Kica langsung berteriak dengan girang melihat hadiah yang kubawa. Mata mereka berbinar-binar, seakan bahagia dengan kado yang kuberikan.
"Ivan!!!"
Suara yang tak asing itu memanggil namaku. Rania nampak kaget melihat aku berjongkok di depan Kila dan Kica yang asyik membuka kado. Ia muncul dari dalam rumah sambil menggendong Kian.
"Ivan, maaf banget barusan aku gak bisa ngabarin. Aku diajak Tante..."
"Gak apa-apa Ran. Kila udah cerita kok tadi. Kamu diajak Tante ke rumahnya ya," potongku untuk menenangkan Rania yang tengah panik sambil meminta maaf.
"Duduk Van, maaf di dalam kotor. Kian abis numpahin susu jadi lengket deh,"
"Iya santai aja Ran, aku duduk di sini aja," jawabku sambil duduk di kursi teras. Sementara Kila dan Kica asyik membuka kado di lantai. Sementara Kian seperti mulai mengenaliku, bibir mungilnya berceloteh sambil melemparkan senyum menggemaskan.
"Kian kamu udah gede, sini sama Om Ivan," panggilku pada bayi yang sudah bisa berjalan ini. Kian langsung turun dari pangkuan Rania dan berjalan ke arahku. segera saja kugendong tubuhnya, kuciumi rambutnya yang masih basah dan harum sampo bayi. Tangan mungilnya mencubit lembut pipiku, ia seperti mengajakku bercanda sambil terus berceloteh riang.
"Om Ivan juga inget terus sama Kian, kangeeeen banget pengen nyulik kalian bertiga," jawabku sambil tangan mungilnya. Bayi montok ini tertawa renyah menahan geli.
Ada sebuah senyuman manis tersungging di depanku. Sudut mataku menangkap tatapan haru saat Kian berada di pelukanku. Kubalas tatapannya dan mata kami beradu. Tak ada sepatah kata yang keluar, yang terasa hanya renjana yang membuncah namun dengan sekuat hati kutahan.
"Keadaan kalian bagaimana," tanyaku sambil membiarkan Kian turun dari pangkuan.
"Masih sama seperti kemarin. Insyaallah baik-baik aja Van," balasnya.
"Aku udah pindah Jakarta, Ran. Kalau perlu sesuatu kabari aku ya," jawabku.
"Makasih Van. Tinggal dimana kamu sekarang?"
"Sementara masih di rumah adiknya Mama. Budget kantor untuk sewa apartemen belum turun soalnya," balasku sambil menatap mata sendunya.
"Alhamdulillah, karir kamu makin sukses dong kalau pindah Jakarta. Bisa sering ketemu Dion kan sekarang," sahutnya sambil membalas tatapanku.
"Bukan Dion yang aku cari, tapi....."
Tin Tiiiiiiiin
Sebuah mobil MPV hitam membunyikan klakson persis di depan rumah ini. Kian sampai terperanjat dan berlari ke arahku.
"Loh Tante Yuni ngapain lagi ke sini," ujar Rania yang berdiri dari duduknya.
Keluarlah satu persatu penumpang dari mobil itu. Seorang pria besar yang pernah kulihat berdiri di depan rumah Rania tempo hari, lalu seorang wanita 50 tahunan yang mungkin adalah Tante Yuni.
"Tante, ada yang bisa dibantu lagi?" sapa Rania sambil membukakan pintu pagar. Wanita yang dipanggil Tante Yuni itu terlihat menenteng bungkusan sepertinya berisi makanan.
"Ini Loh Ran, makanannya ketinggalan. Sayang kalau gak habis, makanya Tante bawain sekalian mau anter Om potong rambut," balas tantenya.
__ADS_1
Pria besar itu langsung menatap ke arahku. Mengamatiku yang sedang memeluk Kian di pangkuanku. Kulemparkan senyum pada mereka berdua, berusaha mengambil simpati keluarga Rania.
"Lagi ada tamu Ran?," tanya lelaki tersebut sambil melirik Rania.
"Saya Ivan, Om. Temennya Rania," sapaku sambil mengulurkan tangan.
"Hari. Om nya Rania, ini tantenya Rania," balasnya.
"Temen deket?" tanya Tante Yuni seakan menginterogasiku. Ia seperti tak rela Kian masih berada di dekapanku.
"Ivan ini temennya temenku. Eh gimana ya jelasinnya. Pokoknya mereka yang support Rania selama ini Tante," potong Rania seperti tak enak dengan pertanyaan mereka.
"Support gimana? Kalau support materi sih keluarga juga masih bisa kasih, Ran," timpal Om Hari yang tiba-tiba duduk di kursinya Rania. Aku langsung berdiri mempersilakan tantenya untuk duduk.
"Gak mesti materi lah Om. Mereka yang bantu Rania bisa bangkit sampai saat ini," jawab Rania mulai gusar.
"Ya baguslah kalau support seperti itu, kalau materi kan kami-kami ini masih bisa bantu loh," jawan Om Hari sampil melemparkan pandangan ke mobilku yang terparkir di depan MPV hitamnya.
"Eh Yuni, masuk sini. Mau kemana lagi sore-sore?," sapa Ibu Rania keluar menghampiri mereka berdua.
"Ini mau kasih makanan, tadi aku udah suruh Rania bawa malah ketinggalan," jawab Tante Yuni sambil memberikan bungkusan makanan.
"Masuk Yun, aku bikin bakwan tuh mumpung masih anget," balasnya.
"Wah boleh Kak. Aku di sini dulu aja, nemenin Rania ngobrol," balasnya tantenya sambil melemparkan pandangan pada Rania yang mulai kesal.
"Udah mau Magrib loh Ran, anak-anak suruh mandi gih. Kian gak boleh main di luar kalau mau magrib begini," perintah Tante Yuni sambil menarik tangan Kian.
"Permisi Om, Tante. Saya mau pamit dulu sudah sore," ujarku yang semakin kikuk akan kedatangan mereka.
"Iya Mas, udah sore nih. Kasian Rania kalau magrib-magrib kedatengan tamu, nanti jadi bahan omongan orang," timpal Tante Yuni seakan memberikan peringatan kepadaku.
"Kian, Om Ivan pulang dulu ya," bisikku pada Kian yang masih menggelendot manja padaku.
"No no no no no ," celoteh Kian sambil memukul-mukul dadaku. Ia melingkarkan tangannya dan menjatuhkan kepalanya di dadaku.
"Kian, Om Ivan pulang dulu katanya. Nanti main sama kakak ya," ujar Rania berusaha menarik Kian dari pelukanku.
Kian menggelengkan kepalanya dengan keras, raut wajahnya merengut dan ia memekik dengan keras.
"Om sayang Kian. Nanti kita main lagi ya sama Mama dan Kakak," bisikku pelan pada telinganya. Kuciumi pipi dan kupeluk tubuh mungilnya. Akhirnya ia mulai melonggarkan pelukan dan berpindah pada Rania.
"Pamit ya Ran. Nanti aku kabari lagi," bisikku pelan padanya. Aku langsung pamit pada Ibunya, Om Hari dan Tante Yuni. Terbersit rasa kecewa akan kedatangan mereka, tapi apa yang mereka katakan memang benar adanya.
Kumasuki mobil dengan segera, sambil melaju perlahan kutengok wajah yang masih menatapku sambil menggendong Kiana. Kila dan Kica ikut memperhatikan sambil memeluk buku cerita yang kuhadiahkan pada mereka. Ah, pertemuan ini terlalu singkat adanya. Namun meski begitu aku sudah cukup bahagia, melihat wajahnya dan mendengar suaranya sudah cukup bagiku. Semoga esok hari semesta berpihak kepadaku.
__ADS_1