Harta, Tahta, Renata

Harta, Tahta, Renata
Gamang Cerita Rania


__ADS_3

07.00 WIB – Pasar Modern BSD


Kususuri selasar pasar modern yang kini sudah seperti rumah kedua bagiku. Setiap hari aku kemari untuk mengantar atau mengambil Brownies yang kutitipkan pada Ncik Lily. Kadang Browniesku laris, kadang juga tidak tersentuh sama sekali. Namun semangatku belum tergoyahkan, masih ada suatu keyakinan untuk terus mengais rejeki di pasar ini.


Kakiku berhenti di sebuah kios berukuran 4 x 4m2 . Sebuah meja panjang digelar di depan kios dengan aneka kue warna-warni tertata rapi diatasnya. Mulai dari kue tradisional hingga kue modern yang menerbitkan air liur bagi siapapun yang melihatnya. Ncik Lily sedang asyik menata kue, sementara suaminya sedang sibuk mencatat di meja kerjanya.


“ Pagi Ncik, pagi Koh”, sapaku sambil melempar senyum pada pasangan lansia itu.


“ Eh Mbak Rania, ditungguin dari tadi. Kue yang kemarin habis ya, jadi ga ada sisa”, ujar Ncik Lily sambil menyapaku dengan senyum hangatnya.


“ Alhamdulillah, saya bawa varian baru Ncik. Ada rasa keju sama tiramisu”, sahutku sambil mengeluarkan 3 box Brownies ke hadapan Ncik Lily.


“ Nah cakep nih toppingnya. Saya kemarin ambil satu buat cucu saya, dia suka banget Mbak”, ujar Ncik Lily sambil memperhatikan kue yang kubuat.


“ Alhamdulillah, seneng dengernya Ncik. Saya juga masih belajar bikin kue, masih banyak gagal daripada suksesnya Ncik”, sahutku sambil terbayang-bayang tragedi Brownies gosong tempo hari.


“ Semua pasti ngalamin Mbak, yang bikin kue di toko saya juga awalnya sama. Ga ada kegagalan ya ga belajar. Bikin kue itu ga kaya masak, semua butuh perhitungan yang cermat dan kedisiplinan”.


“ Betul Ncik, Maaf ya kalau misal masih agak aneh rasanya. Saya minta masukan dari Ncik Lily saja”.


“ Rasa oke kok, cuma mesti latihan buat hias topping sama cari kemasan yang lebih bagus. Biar Brownies kamu bisa naik kelas nantinya”, jawab Ncik Lily sambil memberikan nasihat.


“ Mbak Rania, ini bon yang kemarin ya. Browniesnya laku 3 box, jadi totalnya seratus delapan puluh ribu rupiah”, sahut suaminya yang memanggilku di meja kerjanya.


“ Siap, makasih Koh”, ujarku sambil menerima bon dan uang hasil penjualan Brownies kemarin hatiku berbunga-bunga karena akhirnya kueku laris juga.


“ Ncik, bolu Panda nya ada ga? Saya mau beli 4 ya”, tanyaku pada Ncik Lily yang masih membereskan kuenya.


“ Ada nih, pilih aja mbak”, sahutnya sambil memberikan kue kesukaaan anakku ke atas nampan kecil.


Aku mengambil kue tersebut dan memasukkan pada kantung plastik yang terdapat di meja. Kubiarkan Ncik Lily menghitung dan kusiapkan uang untuk membayarnya.


“ Saya jadi inget nih sekarang, Mbak ini yang dulu suka beli bolu bareng dua anak kecil ya? kalau kesini suka borong kue ditemenin sama suaminya yang matanya agak sipit itu kan?”. ujar Ncik Lily sambil menatapku.


“ Iya Ncik, dulu saya suka beli kue untuk arisan. Anak saya suka banget Kue Panda, kebetulan yang jual cuma Ncik Lily aja”.


“ Ya ampun, maaf saya lupa Mbak. Sekarang udah ga borong lagi nih?”.


Aku tersenyum mendengar pertanyaannya. Entah ada angin apa tiba-tiba aku menceritakan segala kisahku pada Ncik Lily. Ada suatu hubungan emosional antara aku dan toko kue ini, betapa seringnya aku dan Ray kemari saat kami masih bersama.


Ncik Lily mendengarkan ceritaku dengan serius, kue yang sedang ia susun diberikan pada karyawannya yang baru saja tiba di kios. Sesekali ia menghela napasnya, sorot matanya mulai memancarkan rasa iba.

__ADS_1


“ Ya ampun Mbak, saya ga tau harus ngomong apa. Sabar ya, Tuhan tidak pernah tidur. Kamu harus kuat, saya tau anak-anak kamu yang masih kecil itu. Saya jadi merinding dengernya, anak kamu suka digendong pas beli kue sama ayahnya”, ujar Ncik Lily sambil bergidik mengusap tangannya.


“ Iya Ncik Makasih. Saya juga langsung inget toko Ncik buat titip Browniesnya, semoga saya bisa mengais rejeki disini”, ujarku sambil tersenyum pada wanita berambut putih itu.


“ Eh ini kuenya masih ada banyak. Sini saya masukin lagi sisanya”, ujar Ncik Lily sambil memasukkan 6 buah kue ke dalam plastik.


“ Jangan Ncik kebanyakan, saya beli 4 aja udah cukup kok”, jawabku sambil menolak dengan halus.


“ Gak apa-apa, sisanya bonus dari saya. Kasih buat anak-anak ya, pasti mereka seneng kalau dikasih kue”.


Aku mengucapkan terima kasih berkali-kali padanya, sambil menenteng bungkusan kue yang diberikan Ncik Lily untuk anak-anakku. Kulangkahkan kaki menuju luar pasar untuk memesan ojek online. Tiba-tiba saja ponselku bergetar, menandakan ada panggilan telepon yang masuk.


“ Halo, Mbak Rania ya”, sapa suara perempuan di sebrang sana.


“ Iya, maaf dengan siapa”, tanyaku.


“ Saya Yasmin, yang punya jadwal sidang sama dengan Mbak Rania”.


“ Oalah Mbak Yasmin, saya kira siapa. Maaf saya belum save no Mbak”, ujarku meminta maaf.


“ Iya gak apa-apa Mbak. Sudah 2 minggu saya ga liat Mbak Rania, sidangnya apa sudah selesai Mbak?”, tanyanya.


“ Belum Mbak Yasmin. Kemarin agenda Replik, minggu depan agenda Duplik. Masih ada 3 – 4 kali sidang lagi Mbak”, jawabku lemas.


“ Kalau kata temenku sih harus bawa alat bukti yang valid dan harus dilegalisir di kantor pos. Jangan lupa bawa saksi orang terdekat, diutamakan keluarga yang mengetahui seluk beluk pernikahan kalian”.


“ Oh gitu ya, oke nanti saya kumpulin dulu alat buktinya seperti apa . Oya kabar anak-anak bagaimana Mbak? Kalian sehat kan?”, tanyanya tiba-tiba.


“ Baik sih Mbak, tapi psikologisnya agak sedikit terganggu”, jawabku sambil mengambil tempat duduk di halte depan pasar.


“ Terganggu bagaimana Mbak Rania? Anak Mbak usia berapa sih?”.


“ Kila usia 8 tahun, Kica usia 6 tahun. Kalau yang bayi sih memang belum ngerti kan, tapi akhir-akhir ini sering ikut rewel gara-gara saya sering tinggal bikin kue. Saya lagi stres dengan anak saya yang pertama, akhir-akhir ini jadi pemurung. Nah yang kedua kadang-kadang sering marah-marah ga jelas”, jawabku.


“ Oalah, mereka stres tuh Mbak. Karena masih kecil jadinya ga bisa mengutarakan”.


“ Kemarin saya sampai marahin mereka Mbak, saya yang ga sanggup liat anak saya terus murung tanpa sebab. Saya yang emosi jadinya, harus banting tulang cari nafkah plus ngurus anak yang uring-uringan. Rasanya mau murka Mbak”.


“ Istigfar aja, saya paham kondisi Mbak. Ketika energi kita habis terkuras, pikiran kita juga jadi ga waras. Kalau Mbak Rania mau, saya bisa kasih rekomendasi psikolog, sekolah saya sering manggil dia ke sekolah untuk konseling”, ujarnya.


“ Aduh Mbak pengen banget. Tapi biaya psikolog kan mahal. Saat ini saya harus mengatur keuangan lebih cermat”.

__ADS_1


“ Rekanan yang ini kebetulan gratis Mbak. Saya punya no telepon pemilik yayasannya. Orangnya baik banget, dia memang memang sering kasih konseling cuma-cuma. Nanti saya kasih langsung pemilik sekaligus psikolognya ya”, jawabnya .


“ Makasih banyak Mbak, nanti share aja kalau lagi senggang. Saya lagi di pasar nih, sebentar lagi mau pulang”.


“ Sama-sama Mbak, semoga membantu ya. Saya mau lanjut ngajar lagi. Tadi tuh tiba-tiba aja saya kepikiran Mbak Rania, mumpung inget saya telepon aja buat nanya agenda sidang selanjutnya”.


“ Ga usah sungkan buat hubungin saya Mbak, Insyaallah saya bantu selama saya bisa”, tutupku. Dengan segera aku menyimpan nomornya, jika saja aku perlu menghubunginya suatu saat, batinku.


Aku bergegas memesan ojek online, aku sudah terlalu lama di pasar, anak-anak pasti sudah menungguku di rumah. Tak begitu lama ojek yang kupesan tiba di halte yang kududuki, secepat kilat motor kami melaju memecah kepadatan jalan raya BSD. Untung jarak antara pasar tak begitu jauh, 10 menit saja aku sudah menginjakkan kaki di depan pintu.


“ Mamaaaaa, kamu kok lama banget sih”, teriak Kica menyambutku di depan teras rumah kontrakanku.


“ Maaf Kica, tadi Mama ngobrol dulu di pasar. Mama punya sesuatu buat kalian”, ujarku sambil menyembunyikan bungkusan kue di belakang badanku.


“ Apa itu? Kakaaaak, Mama punya kejutan nih!”, teriaknya.


“ Kakak, sini dong. Mama punya kejutaaaan”, panggilku mencari anak sulungku. Kila keluar dari kamarnya dengan wajah kusut karena belum mandi.


“ Tadaaaa, Mama bawa kue kesukaan kalian”, seruku sambil memamerkan bungkusan Kue Panda dari Ncik Lily.


“ Waaaah banyak banget Kue Pandanyaaa, Makasih Mama”, jerit Kica.


“ Kue Pandaaaa, ini kue yang sering dibeli kalau sama Papa ke pasar ya Ma?”, pekik Kila tak kalah histeris.


“ Iya Nak, dulu kita suka beli ini sama Papa”, jawabku menahan rasa pilu. Lagi-lagi kenangan akan Ray hinggap di benaknya.


“ Aku mau Ma, jadi inget dulu Papa suka beliin ini ya buat kita”, ujarnya sambil membuka bungkusan kue dan memakannya.


“ Iya Kak, Papa juga suka icip kuenya. Kata Papa, waktu kecil suka makan kue ini, iya kan Ma?”, seru Kica pada kakaknya.


Aku menghela napas mendengar pembicaraan mereka. Kualihkan pikiranku dengan segera mandi agar tidak terhanyut dalam kesedihan. Tiba-tiba ponselku berbunyi, menandakan ada pesan masuk.


PING


Mbak Yasmin


“ Mbak Rania ini no WA psikolognya. Mbak Rania silakan hubungi langsung, bilang aja dapat nomornya dari saya”.


Contact :


Pradipta Erlangga

__ADS_1


Kubaca pesan WhatsApp dari Mbak Yasmin barusan. Tak lupa aku membalas terima kasih atas kontak yang ia berikan. Hatiku gamang, apakah aku perlu menghubungi psikolog yang dimaksud? Sejujurnya aku belum memiliki keberanian untuk bercerita pada siapapun selain sahabat terdekatku. Namun sikap anak-anak dan kerinduan mereka pada Ray sudah teramat sangat, apa aku memang perlu bantuan?


__ADS_2