
Cerita Rania
14.30 WIB – Rumah Rania
“Mamaaaaaaa, Kian coret-coret dindiiiiiing,”
Teriakan Kica dari ruang tamu saat ketiga anakku bermain Bersama. Aku hanya menoleh sambil menggelengkan kepala. Tangan kananku masih sibuk memutar mikser untuk mengocok adonan kue. Sudah 3 hari jualanku sepi orderan, Alhamdulillah hari ini ada pesanan 3 box kue untuk arisan.
“Dedeeee, kamu gak boleh coret-coret dinding. Ini kan rumahnya orang lain,” seru Kica sambil merebut spidol yang tengah dipegang adik bungsunya. Sontak saja si kecil menangis kencang dan jerit tangis tak terelakkan.
Itulah keseharian kami di rumah ini. Penuh dengan teriakan, jerit tangis hingga gelak tawa. Kila dan Kica nampaknya sudah mulai menerima kepergian ayahnya kali ini. Kian, si kecil itu tidak pernah ingat wajah ayahnya. Meskipun sejak ia masih di perut dan ikut merasakan kegelisahanku saar Ray sudah berselingkuh, saat ia dilahirkan Ray sudah berniat untuk meninggalkan, Kian tumbuh menjadi anak yang sehat, ramah dan ceria.
Drrrrtttttt
Suara mikser di tanganku mendadak tak seperti biasa. Tiba-tiba saja mesinnya berhenti saat aku belum selesai mengaduk adonan. Sepertinya pengaduk kue ini mulai rusak, batinku. Maklum saja usia mikser milik ibuku sudah 10 tahun lamanya. Aku belum punya cukup uang untuk mengganti pengocok kue yang satu ini.
“Kenapa Ran? Error lagi ya mesinnya?,” tanya ibuku sambil melintas di dapur.
“Iya Ma, mendadak mati nih. Kayaknya dinamonya kena deh. Harus diservis lagi nih,” jawabku.
“Ya maklum lah udah tua juga umurnya,” jawab ibuku sambil menggendong Kian yang masih terisak gara-gara bertengkar dengan Kakaknya.
“Assalamualaikum,”
Terdengar suara lelaki di teras rumah. Mungkin itu suara ojek online yang mengantar paket untuk kami. Kica langsung bergegas membuka pintu dan aku sibuk mencari jilbabku.
“Waalaikumsalam. Kakek Hariiiii,” sapa Kila dan Kica sambil menyalami tamu yang dimaksud. Rupanya Om Hari adik sepupu Ibuku yang berkunjung.
“Om Har, sama siapa kemari? Tante Yuni kemana Om?,” tanyaku sambil bergegas menyambutnya di depan pintu.
“Ada tuh di mobil, lagi milah-milah belanjaan kayaknya,” sahutnya sambil menunjuk pada mobil MPV hitam yang parkir di depan rumah kami.
__ADS_1
“Ada Hari rupanya, sama Yuni Har?,” tanya ibuku sambil ikut menyambut mereka.
“Iya Kak Lies, itu Yuni abis belanja bulanan jadi sekalian mampir,” jawab Om Har.
“Kak Lies, ini ada sedikit beras sama minyak goreng buat kalian. Mumpung lagi promo aku beli banyak nih,” ujar Tante Yuni sambil menjinjing belanjaan disusul Om Har yang menggotong beras ke dalam rumah.
“Masyaallah Om, gak usah repot-repot,” jawabku tak enak menerima sembako yang dibawakan Tante Yuni.
“Ah enggak repot kok Cuma ini aja Ran,” jawabnya sambil menghempaskan badannya pada sofa kami.
“Masih jualan Ran, tanya Om Hari sambil melongok ke arah dapur yang berantakan dengan bahan-bahan kue.
“Masih Om, kalau gak jualan ya gak bisa makan,” jawabku sambil memberikan minum pada mereka.
Om Hari tak merespon jawabanku, matanya sibuk menyisir setiap sudut rumah kontrakanku. Tante Yuni juga tak banyak bicara, ia ikut melongok setiap penjuru rumah mengikutid v suaminya.
“Berapa sewa di sini Ran?,” tanya Om Har.
Aku enggan untuk menjawab pertanyaannya, berapa yang kami keluarkan untuk menyewa rumah ini terlalu privasi untuk kusebutkan.
“Ran, kenapa sih kamu gak pulang ke rumah Mama aja. Gak usah maksain tinggal di sini. Punya rumah di Bandung bukannya diisi malah nyusahin diri aja ngontrak di sini,” ujarnya.
Kulemparkan pandangan pada Ibuku, ia terlihat menghela nafas atas ucapan adik sepupunya itu. memang benar apa yang Tante Yuni katakan, tapi hati ini masih enggan untuk kembali ke sana. Bandung sudah tak indah lagi bagiku, semua kenangan buruk tentang Ray dan Renata berputar-putar di kepalaku. Selain itu Kila dan Kica sudah memiliki banyak teman di sini.
“Masih bingung aja Tante, mau usaha apa Rania di sana,” jawabku.
“Ya usaha seperti yang kamu lakukan di sini lah, rejeki kan pasti ngikut kemanapun kamu berada,” jawab Om Har.
“Bukan begitu Om. Saat ini saya lebih nyaman berada dekat support system saya. Teman-teman yang menguatkan saya dan anak-anak. Lagipula kasihan anak-anak sudah bersekolah di sini.
“Pindahkan saja lah mereka, jangan mempersulit diri sendiri Ran,” ujar Om Har.
__ADS_1
“Iya Ran, lagipula melihat status kamu seperti ini mendingan kamu pulang saja ke Bandung. Takut jadi bahan omongan orang loh,” celetuk Tante Yuni.
Aku terperanjat dengan celetukan Tante Yuni. Masih setengah mencerna ‘status’ yang ia maksud.
“Maaf Tante status apa ya? Status saya menjadi seorang ibu tunggal dengan 3 anak maksudnya?” ujarku sambil meninggikan suaraku. Ibu terlihat menatapku, seakan berusaha mengingatkan untuk menjaga emosiku.
“Eh enggak gitu Ran. Ya intinya kan kalau di Bandung kalian bisa punya hidup baru, Suasana baru, jodoh baru mungkin,” ujar Om Har.
“Hari, kami tinggal di sini masih 8 bulan lagi. Nanti kami pikirkan ya, sementara ya biarkan Rania dengan usahanya. Anak-anak juga masih sekolah, sudah mulai ceria dengan kawannya. Masalah besok ya nanti saja kami pikirkan ya,” ujar ibuku diplomatis.
Aku malas menjawab segala pertanyaan Tante Yuni dan Om Hari, semua yang mereka lontarkan terasa membebaniku. Menjadi seorang Ibu Tunggal seakan menjadi stigma. Wanita yang hanya bisa pasrah karena kegagalan pernikahan sekaligus ditinggal wafat sang mantan suami. Objek yang sering bahan ejekan para pria dan gunjingan tetangga.
“Maaf Tante, saya nyaman-nyaman aja sih tinggal di sini. Gak ada yang mempermasalahkan status saya, dan gak perlu cerita juga sama mereka,” jawabku ketus.
“Tapi kan Ran, kamu kedatangan banyak lelaki tiap hari, nanti jadi bahan omongan,”jawab Tante Yuni.
“Loh, yang datang ke sini ojol sama kurir paket Tante. Namanya juga orang usaha, ya tiap hari kedatengan tamu lah,” sahutku mulai geram.
“Ya kami Cuma mau kasih saran Ran. Selebihnya kamu yang menjalani sendiri. Kamu kan tulang punggung sekarang, harus bisa berpikir panjang dalam bertindak,” ujar Om Har sambil berdiri dari duduknya.
“Kami pamit ya Kak Lies, sebentar lagi ada pengajian di di rumah Bu RT,” pamit Tante Yuni sambil membereskan tasnya.
“Kila, Kica sini. Kakek mau kasih hadiah nih sama kalian,” panggil Om Har pada anak-anakku. ia terlihat membagikan uang selembar seratus ribuan pada mereka.
Kila dan Kica menghampiri Om Har tanpa ekspresi. Mereka memang tidak begitu antusias kalau diberi uang, itupun uangnya selalu diberikan padaku untuk aku simpan. Masih ada gemuruh di dada saat mereka memasuki mobil MPV hitamnya. Ibuku hanya terdiam dengan wajah kecewa, sepertinya ia menangkap kekecewaanku. Aku langsung berpaling dan kembali pada kesibukanku mengaduk adonan kue tanpa memperhatikan mobil mereka meninggalkan rumah kami.
“Tau begitu gak usah diterima tuh sembako dari mereka. Bukannya ikhlas nolong malah mengusik hidup kita. Pake bawa-bawa status segala,” ujarku mengomel sambil mengaduk adonan.
“Maklum lah Ran, hidup mereka kan sempurna. Anak-anaknya mapan, bahagia, punya nama baik di kalangan komplek. Mereka kan selalu hidup di zona aman, gak kaya kita-kita ini,” jawab ibuku memaklumi.
“Mending gak usah bantu kita lah, bikin emosi aja,” jawabku makin geram.
__ADS_1
“Istigfar Rania, Allah kasih rejeki buat anak-anakmu lewat mereka. Gak boleh seperti itu, mau gimanapun masih saudara kita,” sahut ibuku mengingatkan.
“Mamaaaa, ada paket di depan,” teriak Kila memanggilku. Aku berlari ke teras rumah mengambil paket dari kurir tersebut. sambil menerima dari balik pagar, mataku seolah membawaku ke ujung jalan. Entah apa yang kucari di jalan tersebut, seakan menyesali atas kedatangan Om Han dan Tante Yuni. Seharusnya bukan mereka yang hadir di sini, batinku.