Harta, Tahta, Renata

Harta, Tahta, Renata
Makhluk Ajaib


__ADS_3

Cerita Dion


10.30 WIB – Kantor Dion


PING


Ivan


“Bro, pelamar yang lo cari kayaknya mau dateng hari ini ya”


Aku terkejut membaca pesan dari Ivan, padahal aku belum berencana untuk melakukan interview hari ini. tiba-tiba saja dia sudah mengirim utusannya padaku.


“Buset Bro. Cewek apa cowok? Cakep gak? Kalo cakep Nadine bisa ngomel-ngomel sama gue nih”


PING


Ivan


“Hahaha, liat aja nanti. Good luck”


Pekerjaanku akhir-akhir ini semakin menumpuk, banyak hal administratif tak bisa kukerjakan sendirian. Belum lagi Nadine semakin uring-uringan di rumah. Kadang hal sepele saja bisa memancing keributan, dan tentu saja aku yang selalu disalahkan. Wanita oh wanita, ada saja ujian dalam rumah tangga karenanya.


Kriiiing


“Halo Pak Dion, ada tamu mau interview katanya,” ujar Astri sang resepsionis di sambungan teleponku.


“Suruh masuk aja Tri. Thank you,” jawabku sambil menutup gagang teleponku.


Beberapa detik kemudian, terdengar suara ketukan pintu. Dengan cekatan Bima langsung membukakan pintu pada seseorang di luar sana. Belum jelas siapa sosoknya, yang kudengar hanya suara Bima menyuruh masuk ke dalam ruangan co-working space yang kusewa ini.


“Permisi, mau ketemu Pak Dion. Yang mana yah Pak Dion nya,”


Kuperhatikan sesosok wanita dengan tinggi sekitar 157 cm, berkulit sawo matang, berambut lurus menyentuh bahu dengan poni tebal. Riasannya agak sedikit mencolok begitu juga dengan parfumnya cukup menyengat.


“Saya Dion, silakan duduk Mbak,” jawabku sambil mempersilakan wanita itu untuk duduk.

__ADS_1


“Oooh, Bapak yang Namanya Pak Dion. Makasih banyak Pak. Haduuuuh Jakarta panas yah,” jawabnya sambil mengipas-ngipaskan tangannya.


“Saya Dion Emmanuel, kamu siapa namanya?,” tanyaku sambil mengulurkan tangan, sementara ia masih mengipas-ngipaskan tangannya.


“Eeeeehhhh…ya ampuuun lupa belum memperkenalkan diri. Saya Ananda Cantika dari Bandung,” jawab perempuan 25 tahunan itu.


“Kamu kenal Ivan ya? bawa CV nya Mbak Ananda? Kerja di mana sebelumnya?,” tanyaku.


“Aduuuuuuh Mas Ivan. Iya dong saya mah deket sama Mas Ivan. Mas Ivan pindah ke Jakarta aja sampe ajak-ajak saya, gak bisa jauh dari saya dia mah,” jawab wanita itu sambil mengeluarkan CV nya.


“Kenal darimana ya Mbak Ananda?” tanyaku keheranan dengan wanita ajaib di depanku ini.


“Kenal di Bandung laaah, Mas Ivan sering ke kantor tempat saya kerja. Ibunya aja udah akrab sama saya Pak Dion hehehe,” jawabnya sambil tersipu dan memainkan poni tebalnya.


“Kamu kerja sama Hardian Hardjawinata? Kamu mantan asisten Hardian?,” ucapku begitu membaca CV yang ia berikan.


“Iya Pak. Nanda kerja sama Pak Hardian sudah 5 tahun. Saya betah-betah aja sih kerja di Hardja Group, tapi begitu Mas Ivan ngajakin saya ke Jakarta, saya gak bisa nolak Pak. Saya mau ngikut kemana Mas Ivan pergi,” jawabnya manja sambil mengibaskan rambutnya bak iklan sampo.


“Kamu kerja sama saya loh, bukan sama Ivan. Saya cari karyawan yang serius untuk jadi tim kami. Kamu akan jadi asisten saya untuk mengurusi administrasi dll”, jawabku sambil membaca pengalaman kerja duta sampo yang satu ini.


“Ekpektasi gajinya berapa Mbak?” tanyaku sambil menimbang-nimbang kandidat di hadapanku ini.


“Sesuai pengalaman dan standar gaji ibukota ya Pak. Saya kan di sini harus nge-kost. Belum lagi biaya di ibukota pasti lebih mahal, apalagi biaya salon. Aduuh, nanti rambut Nanda ga kece kalo gak ke salon,” jawabnya sambil mengelus-ngelus rambutnya.


“Jadi harapan gajinya berapa Nanda?” tanyaku sambil berusaha bersabar.


“6 juta oke lah Pak, saya mah yang penting deket sama Mas Ivan hihihi,” ujarnya sambil mengikik.


Aku menghela nafas sambil memijat kening. Sejujurnya ekspektasi gajinya masih masuk masuk budget kami, tapi sepertinya aku harus banyak bersabar menghadapi wanita yang satu ini.


Bip Bip Bip Bip Bip Bip Bip Bip


Mommy Nadine


“Yes Nad, I’m in interview. Can I call you later”, jawabku cepat saat Nadine menghubungiku.

__ADS_1


“What she look like? Is she hot and sexy?” cecar Nadine seolah tak percaya padaku.


“Not at all. Don’t worry. You will thank me later for this,” jawabku sambil menolah ke arah Nanda yang sedang menyisir pandangan ke seluruh ruangan kantor.


“Good. No matter what she look like, if she qualified enough, you must hired her as soon as possible,” titah Nadine seolah merasa lega dengan kandidat yang Ivan bawa padaku.


“We’ll see. I’ll call you later okay. Bye ,” tutupku.


Wanita yang menyebut dirinya Nanda ini sepertinya pintar namun nyeleneh. Mengingat dia pernah bekerja dengan Hardian, pastinya mentalnya sudah sekuat baja. Kurasa ia sudah tahan menghadapi kerasnya tekanan bekerja di ibukota.


“Nanda, pengalaman kerja kamu lumayan, gaji kamu juga sesuai dengan budget kami. Kamu akan mendapat probation selama 3 bulan, jika cocok maka kamu bisa saya angkat jadi karyawan tetap. Apa kamu siap untuk resign dari Hardja Group?,”


“Nanda sih selama ada Mas Ivan nurut-nurut aja Pak. Yang penting kami masih deket, kerja di mana aja gak masalah,” jawabnya meracau dengan aksen Sunda kentalnya.


“Mas Ivan gak ada di kantor ini ya Nanda, saya harap kamu profesional dan fokus sama kerjaan kamu. Bukan sama Ivan,” jawabku sambil menghela napas.


“Oh pastinya Pak Dion. Apalagi Bapak sahabatnya Mas Ivan, saya gak bakal ngecewain Bapak. Nanda janji Pak,” jawabnya sambil mengacungkan kedua jarinya.


Astaga Ivaaaan, makhluk apa yang lo kirim ini, batinku. Aku mulai teringat besok sudah harus mulai membuat proposal penawaran dan mengurus project yang masuk. Sepertinya aku tak bisa menunda lagi. Aku harus secepatnya menerima Nanda meskipun tingkahnya lumayan ajaib.


“Oke Nanda, kamu diterima. Saya beri waktu satu minggu untuk resign dan mencari tempat tinggal di Jakarta. Bisa kamu atur kan?”


“Oh bisa Pak. Nanda bisa cari kostan segera. Jadi Nanda diterima nih? Minggu depan Nanda udah kerja di sini Pak?”, jawabnya sumringah.


“Iya gitu deh. Kamu bersedia kan?”, tanyaku sambil menahan tawa dengan ulahnya.


“Alhamdulillah Ya Allah, emang yah jodoh mah gak akan kemana. Inikah tandanya Nanda berjodoh sama Mas Ivan? Ya Allah semuanya serba dimudahkan. Makasih ya Pak Dion, Nanda gak bakal ngecewain Bapak pokoknya,” jawab Nanda sambil menengadahkan tangannya. Kurasa begitu sampai rumah ia bakal selametan 7 hari 7 malam.


“Oke Nanda kamu boleh pergi, saya tunggu Senin depan jam 8 pagi sambil membawa surat Resign dari Bandung. Saya hargai kedatangan kamu, selamat bergabung dengan Analogous team,” ujarku sambil memberi selamat padanya.


“Makasih ya Pak Dion, Makasih yaaaa….Alhamdulillah jauh-jauh naik bis gak sia-sia. Berkat doa mamah, abah sama driver ojol yang tadi nganterin ke kantor ini kayaknya. Nanda bisa kerja deket Mas Ivan Ya Allah. Makasih yaaaa,” ucapnya sambil menyalami satu-persatu tim kami yang masih melongo keheranan.


“Pak Dion Nanda pamit yaaah, babay semuaaa,” pamitnya sambil melambaikan tangan di balik pintu. Akhirnya pintu ditutup dan kami semua hanya melongo sesaat.


“IVAAAAAAAAAAANNNNNN!!!!!!!”

__ADS_1


__ADS_2