Harta, Tahta, Renata

Harta, Tahta, Renata
Menghapus Kenangan Cerita Rania


__ADS_3

Kumasukkan baju daster milikku ke dalam lemari baju yang sudah semakin kosong ini. Semenjak Ray pergi, lemari ini tak pernah penuh lagi. Tidak ada kaos miliknya yang terlipat tak beraturan di dalam lemari. Tidak ada lagi handuk basah yang sering teronggok di atas kasur. Tidak ada lagi celana jeans yang tergantung di pintu kamar yang bekas ia pakai selama berminggu-minggu. Kamar ini semakin sepi, meskipun masih ada anak-anak yang setiap hari bermain kucing-kucingan di kamarku, masih ada gelak tawa mereka saat bermain bersama Kian, namun semua itu tetap berbeda. Semua ini hanya kunikmati seorang diri. Air mataku harus selalu kutahan agar tidak menetes, terutama di depan anak-anak dan ibuku. Setiap aku harus keluar dari kamarku, ku oleskan concealer agar mataku tak kelihatan sembab. Aku selalu mengenakan kacamata kemanapun aku pergi, agar mataku yang selalu bengkak ini bisa tersamarkan.


“ Mamaaaa, ada tamu di bawah “, seru Kila sambil melongok ke dalam kamar.


“ Siapa kak?”.Tanyaku sambil mencari kacamataku di meja rias.


“ Gak tau. Katanya sih cari papa “, jawab anakku yang kebingungan.


Aku mengenakan jilbabku dan segera turun dari lantai dua lalu keluar menuju teras rumah. Rupanya tamu yang dimaksud adalah lelaki bertubuh tinggi besar sambil berdiri di depan pagar rumah.


“ Siang Bu, ini ada surat tagihan dari bank untuk Bapak Rayendra”, ujar pria yang tak asing tersebut sambil memberikan sepucuk amplop. Ia adalah seorang debt collector dari bank tempat kami mengambil kredit untuk rumah ini


“ Oh iya, terima kasih. Nanti saya sampaikan sama suami saya “, jawabku sambil menerima sepucuk amplop tersebut dari balik pagar.


“ Maaf Bu, kalau boleh tau kenapa Bapak Rayendra belum juga melakukan pembayaran?. Kami kooperatif kok kalau misal Bapak minta keringanan pembayaran, nanti ajukan saja pada kami “, seru petugas bank itu dengan ramah, tidak seperti debt collector lain yang datang menagih dengan kasar.


Aku hanya berdiri tak bergeming, tak tahu harus menjawab apa pada debt collector tersebut. Ray sudah pergi dari rumah ini, sudah tak mungkin lagi ia membayar cicilan rumah. Meskipun Ray sudah mengiklankan rumah ini di internet, namun saat ini belum ada tanda-tanda ada pembeli. Jangankan untuk membeli, yang datang untuk melihat-lihat saja belum ada. Setiap bulannya aku yang harus menghadapi debt collector yang mencari Ray, dan aku tak tahu harus berkata apa.


“ Bu, anaknya sudah lahir ya?”, pertanyaan Bapak itu membuyarkan lamunanku. Ia tengah mengamati perutku yang sudah tidak buncit lagi.


“ Iya Pak, saya melahirkan bulan lalu. Oya soal tagihan nanti saya informasikan sama suami saya agar segera mengurusnya. Dia sudah pergi ke Bandung lagi, jadi sedang tidak disini “, jawabku pada bapak tersebut.


“ Waduh baru lahiran sudah ditinggal suami, sabar ya Bu. Kalau Bapak perlu keringanan untuk pembayaran, langsung saja hubungi kantor. Nanti pasti kami bantu. Saya pamit ya, Assalamualaikum “, pamitnya sambi memasuki mobil Innova hitam.


“ Waalaikumsalam “, jawabku sambil menatap sepucuk surat di tanganku. Aku berjalan masuk ke dalam dan kujatuhkan badanku di sofa. Kubaca tagihan bank yang ternyata kami sudah menunggak 2 bulan. Kuhela nafasku dalam-dalam, dadaku terasa sesak tak tahu harus bagaimana. Haruskah kuhubungi Ray?. Apa ia masih mau membahas soal rumah ini. Pembayaran cicilan selama 1 bulan saja ia tak sanggup, apalagi selama 2 bulan.

__ADS_1


“ Kakak, tolong ambilin hp Mama di kamar dong nak “, panggil anak sulungku yang sedang bermain di teras belakang. Ia berlari saat kupanggil namanya, lalu bergegas ke kamarku di lantai 2 untuk mengambil ponselku.


“ Ini Mam, mau telpon siapa?”, tanyanya sambil memberikan ponselku.


“ Mau telpon Papa, Nak “, jawabku singkat padanya. Aku tak mau anakku bertanya lebih jauh lagi tentang Ray.


“ Wah Mama mau tanya kapan Papa pulang ya?, Papa mau bawa oleh-oleh apa Ma?”, tanyanya antusias begitu tau aku akan menghubungi Ray.


“ Enggak Nak, mau ngasih tau kalau tadi ada orang yang nyariin Papa “, jelasku pada anakku yang bersiap-siap duduk disampingku untuk menguping.


Terlihat gurat kecewa dari wajahnya, namun dalam seketika ia langsung bersikap seolah-olah tak peduli dan segera kembali bermain di teras belakang bersama Kica. Ku foto surat tersebut dan segera aku kirimkan pada Ray. Hati kecilku sangat merindukannya, sedang apa dia disana. Bagaimana dia makan, dimana dia tinggal, batuknya suka kumat lagi atau tidak. Semuanya berkecamuk di kepalaku. Aku ingin bertanya apa kabarnya, namun aku takut dia tak menggubris kekhawatiranku. Kulihat foto di profil whatsapp-nya, masih foto lama hasil jepretan diriku. Aku masih tak percaya kalau ia sudah bukan suamiku lagi.


“ Ping “


Papa


“ Orang bank datang lagi ya, maaf ya merepotkan. Doain aja rumahnya laku, aku udah posting di internet. Minggu lalu ada yang nanya-nanya sih, katanya minggu ini dia mau liat rumah “ jawabnya.


“ Alhamdulilah kalau gitu, kamu tolong hubungi bank ya. Kalau sampe akhir bulan belum dibayar, aku takut rumah ini keburu disegel bank “, ujaku sambil mengetik dengan cepat di layar ponselku.


“ Ok nanti aku kabari. Thanks ya. Salam untuk anak-anak “, jawabnya sambil mengakhiri pembicaraan.


Hatiku perih saat ia menyudahi obrolan kami, sudah lebih dari 1 bulan ia pergi dan belum berbicara dengan anak-anakku. Masih banyak yang ingin aku bicarakan pada Ray, terutama hubungan rumah tanggaku. Meskipun ia sudah mengucap talak satu, aku masih berharap kami bisa rujuk demi anak-anak. Aku iklas kehilangan rumahku, hartaku, tapi jangan keluargaku. Anak-anak ini membutuhkan ayahnya, kami sangat kehilangan dirinya. Rumah ini sudah bukan tempat yang nyaman lagi untukku, kenangan di tiap sudutnya sudah mulai memudar perlahan. Kalau Ray mantap untuk pindah ke Bandung, aku siap mengikutinya dan kembali ke rumah mama di Bandung.


“ Mama, tadi siapa yang dateng cari Papa? “, tanya Kila dan Kica yang menghampiriku dengan tangan berlumuran cat poster.

__ADS_1


“ Orang dari bank nak, Om nya mau ngobrol tapi Papanya ga ada “, jawabku sambil menutup ponselku.


“ Kapan dong Papa pulang?, kan kasian banyak orang yang dateng cariin Papa “, tanya Kica polos sambil duduk di sebelahku. Kila duduk di sampingnya sambil mengambil remote untuk menyalakan TV. Raut wajahnya seakan tak peduli namun dia sedang menyimak perkataanku.


Aku tak menjawab pertanyaannya, aku mengusap rambutnya sambil bertanya balik padanya.


“ Kakak, Kica…. kalau seandainya rumah ini dijual ke orang lain dan kita kembali ke Bandung gimana? “ tanyaku dengan penuh hati-hati sambil menatap mereka lekat-lekat. Kica menatapku bingung lalu menoleh pada kakaknya. Kila terlihat merengut tak ada sepatah kata yang keluar dari mulutnya.


“ Kita pindah ke Bandung sama Papa kan?”, tanyanya balik.


Aku menyesal telah melontarkan pertanyaan ini pada mereka. Apa yang harus aku jawab, kalaupun kami ke Bandung, Ray tidak akan tinggal bersama kami. Luka batin anak-anak akan semakin bertambah, rasa penasaran mereka akan semakin besar.


“ Sekolah aku gimana Mam,aku kan senang sekolah disini “, jawab Kila pelan, raut mukanya terlihat sangat kecewa.


“ Iya aku juga, aku kan gak mau jauh dari Mika. Nanti kalau aku ke Bandung, Mika ga punya teman main di sekolah”, jawab Kica sambil cemberut.


Aku segera berdiri dan duduk diantara kedua putri kecilku. Kupeluk tubuh mereka yang kini sedang merasakan kesedihan yang sama denganku. Hati kecilku juga tak ingin pindah ke sana, aku tak mau mengorbankan sekolah anakku. Teman-teman mereka ada disini, begitu pula sahabatku. Dan yang paling membuatku enggan adalah pertanyaan anak-anak yang tak bisa aku jawab saat ini. Mengapa Papanya tak tinggal bersama lagi disaat mereka turut pindah ke Bandung, sementara kami sudah melepas segala kehidupan yang kami miliki dengan berat hati.


“ Berdoa aja ya Nak, semoga kita bisa dapat rumah yang lebih nyaman. Mungkin Allah akan mengganti dengan yang lebih indah untuk kita tempati. Gak apa-apa kan kalau kita cari rumah baru, meskipun tidak sebesar ini?”, hiburku pada kedua putri kecilku yang masih merengut sedih.


“ Iya mam gak apa-apa “, jawab Kila dengan mantap.


“ Nanti kita pindah rumah lagi dong mam, nanti angkat-angkat barang lagi dong “, tanya Kica dengan polosnya.


Aku tersenyum dan mencium kepala keduanya. Rambut mereka basah dengan keringat sehabis main di teras belakang. Meskipun bau kecut campur bau matahari, aroma ini akan selalu aku rindukan. Aroma ini juga pasti dirindukan oleh Ray, setiap gelak tawa atau jerit tangis anak-anak ini tak akan pernah ia dengar lagi.

__ADS_1


__ADS_2