Harta, Tahta, Renata

Harta, Tahta, Renata
Tahap Seleksi Cerita Renata


__ADS_3

Bip bip bip bip bip bip


Terdengar suara ponsel berbunyi nyaring, mencoba membangunkan dari tidur lelapku. Aku baru saja tertidur jam 2 dini hari, saat ini mataku masih terasa berat. Kuindahkan saja panggilan itu, kutarik selimut dan kubenamkan kepala ke bawah bantal.


Bip bip bip bip bip bip


Ponselku masih saja berbunyi, aku menyesal tidak mengubah mode silent tadi malam. Kucoba bangun dari kasurku, kupicingkan mata untuk mencari dimana letak ponselku. Sial, ponselku pasti tergeletak di suatu tempat, suaranya terdengar tapi wujudnya tidak kutemukan. Kucoba terus kucari dan kulempar semua bantalku, ah ternyata terselip di sela kasurku.


Daffa calling


“ Halo ma, hari ini aku sama nenek ke sana sore ya “, sahut suara anakku di sebrang sana.


“ Iya fa, mama pulang cepet ko hari ini. Kamu sama nenek sekalian bawa baju aja ya, kalian nginep disini kan “ tanyaku sambil menggaruk-garuk kepalaku. Kepalaku masih pening akibat kurang tidur semalam.


“ Iya ma. Aku bawa dokumen-dokumen yang harus mama tanda tangani buat beasiswa. Minggu depan harus dilengkapi persyaratannya. Mama udah bayar buat biaya visa aku kan?” tanya Daffa kembali.


Aku menepuk jidatku dan sekejap saja kantukku hilang. Aku lupa belum mengurus dokumen kuliah Daffa ke luar negri. Aku langsung membuka laptop dan mengecek emailku tentang persyaratan apa saja untuk mengurus kuliah Daffa di Jepang nanti.


“ Iya mama inget, nanti siang mama urus. Udah ya mama mau ke kantor dulu, nanti sore ga usah makan di rumah, mama mau ajak kalian makan sama Ivan “ jawabku spontan sambil fokus mengecek email di laptopku.


“ Ivan? Om Ivan siapa lagi ma? Cieee pacar baru mama ya? ledek Daffa sambil cengengesan menggodaku. “ Neneeek, mama punya pacar nih namanya Om Ivan! “ jerit Daffa yang membuyarkan konsentrasiku.


“ Eh Daffaaaa, apaan sih. Udah ah nanti malem ditunggu disini ya. Bye sayang “ sahutku mengakhiri pembicaraan sebelum Daffa meledekku lebih jauh lagi. Aku memang berencana mengenalkan Ivan pada ibu dan Daffa hari ini. Ivan sudah lama mendesakku untuk bertemu dengan mereka, dia ingin berkenalan lebih jauh dengan keluargaku.


Aku mengambil sebatang rokok di samping kasurku dan menyulutnya, mulutku terasa masam belum menghirup rokok pagi ini. Kumatikan AC kamar, kubuka tirai balkon dan kuberdiri di balkon kamar yang tepat menghadap kolam renang di bawahku. Sayup-sayup terdengar suara jerit tawa anak kecil di bawah yang sedang diasuh oleh ART atau susternya. Aku seringkali menikmati pemandangan anak-anak lucu yang sedang sarapan sambil berenang di bawah, aku teringat saat Daffa masih kecil. Aku menyukai anak kecil, tapi aku tak mau punya anak lagi. Aku membesarkan Daffa seorang diri, hanya dibantu ibuku hingga Daffa sebesar ini. ayah Daffa sama sekali tidak peduli pada kami, dia sudah menikah lagi dan tidak ada itikad untuk mencari anaknya. Kabarnya ia sudah memiliki 2 anak dari pernikahan yang sekarang, pastinya nafkahnya hanya ia berikan pada anak tiri dan istri barunya. Betapa zolim lelaki itu, ia sengaja melupakan kewajiban untuk menafkahi darah daging dan membiarkanku bekerja pontang-panting.


Kini saatku tunjukkan pada Ferdy bahwa aku sudah jauh lebih hebat dan kuat tanpa dirinya. Wanita yang ia tinggalkan sekarang jauh lebih sukses, anak yang kuurus sendiri bisa kuliah ke luar negri dengan mendapatkan beasiswa dari sekolahnya. Lelaki sampah macam dia hanya akan terpana bahwa mantan istrinya bisa move on, aku bisa memilih pria manapun untuk jadi pendamping hidupku. Hanya seorang wanita kuat yang pantas bersanding dengan lelaki hebat, dan kini mereka berada dalam genggamanku. Sudah muak aku dengan cibiran orang-orang tentang statusku, mereka mencemoohku karena aku seorang ibu tunggal bagi Daffa. Mereka berpikir aku mengemis-ngemis pada tiap lelaki untuk membiayai hidup kami. Padahal kenyataannya aku sudah bekerja sedemikian keras, dan bukan salahku jika lelaki-lelaki itu mengejarku. Ingin rasanya kusumpal mulut mereka yang memandang diriku hina, seakan-akan aku akan merebut suami mereka. Seharusnya mereka berkaca sudah sejauh mana mereka jadi bisa istri yang hebat dan bisa mengatur rumah tangga. Perempuan yang hanya berdaster lusuh sambil bergosip di tukang sayur setiap hari bukan levelku. Pantas saja jika suami mereka mencari kesenangan di luar sana.


13.20 WIB


Kantor RENTZ – Dago


Meeting siang ini dipimpin oleh Pak Hardian di kantor RENTZ setelah sekian lama ia absen selama Rayendra cuti. Wajah Ray kini terlihat berseri-seri, jauh lebih bahagia dibanding sebelumnya. Pagi-pagi ia sudah meletakkan coklat di atas meja kerjaku. suatu usaha yang bagus untuk mendekatiku, tapi aku masih malas untuk meladeni semua rayuannya. Aku tak pernah menyangka Ray akan senekat ini, ia benar-benar menyudahi hubungan rumah tangganya.


Usai meeting Ray dan Pak Hardian lanjut pergi ke luar kantor. Mereka sudah terbiasa seperti itu, Pak Bos sepertinya rindu dengan anak kesayangannya. Suasana kantor juga jadi lebih ceria gara-gara Ray memesan banyak pizza untuk semua staf. Target bulanan kami juga tercapai serta aku puas bisa memangkas biaya operasional kantor sehingga kas RENTZ bisa dialokasikan untuk budget marketing. “Good job Renata, you’ve done great “ seruku dalam hati.


PING


Daffa


“ Ma aku lewat kantor mama, temenin makan dong “

__ADS_1


sebuah pesan masuk ke whatsappku. Kulirik ponselku dan aku terheran-heran membaca anakku baru saja lewat kantorku.


“ Kamu dimana? Abis ngapain? “ tanyaku singkat.


“ Aku abis ambil sertifikat TOEFL di kursusan deket kantor mama. Aku udah di depan nih, turun dong “, jawabnya.


Aku bergegas membereskan ponsel dan laptopku. Tiba-tiba ponselku berbunyi, ternyata panggilan dari klienku.


“ Halo Mbak Rena, aplikasi nya error atau gimana sih?. Saya mau join as tenant ga bisa-bisa dari kemarin “, ujar klienku di seberang sana.


“ Oh gitu ya pak, saya hubungkan dengan IT support ya pak. Kami akan segera perbaiki segera sistemya “, jawabku sekenanya. Kurasa ia salah orang, harusnya ia menghubungi pihak customer service untuk melayangkan protesnya.


“ Mbak tolong bantu saya langsung saja, saya gak ada waktu via aplikasi ginian. Saya temennya Hardian, banyak properti saya yang mau saya sewakan. Tolong ya mbak “ cerocos klienku tanpa henti.


Lagi-lagi nepotisme dengan membawa-bawa nama Pak Hardian. Mau tak mau aku harus melayani permintaannya, aku langsung mendatangi meja tim IT support untuk menyelesaikan urusan klien yang satu ini. Pikiranku jadi cemas memikirkan Daffa yang sudah menungguku di bawah, namun apa daya urusan ini harus aku selesaikan sesegera mungkin.


PING


“ Mama masih lama gak? Aku udah nunggu setengah jam. Laper !!! “


Pesan dari Daffa masuk ke ponselku, namun klienku masih saja menghujaniku dengan sederet pertanyaan yang harus kujawab.


“ Fa, kamu mau duluan aja makannya. Mama masih ada kerjaan mendadak nih. Nanti mama transfer ya “ balasku pada anak semata wayangku. Aku tau ia akan marah karena menolak ajakannya. Betul saja, tidak ada pesan masuk lagi darinya hingga saat ini. aku tau pasti Daffa marah dan kecewa padaku.


Apartemen Renata


“ Kamu parkir di depan minimarket aja Van, nanti begitu Daffa dan ibu turun kamu jemput di lobby yah” ujarku pada Ivan yang sibuk melirik mencari tempat parkir di belakang kemudi mobilnya.


“ Iya Ok, kamu jemput mereka gih, aku parkir disini aja sambil nunggu kalian” sahutnya sambil memarkirkan mobilnya di depan sebuah minimarket sebelah lobby utama. Aku segera turun bergegas sambil memencet layar ponselku untuk menghubungi Daffa agar segera turun ke lobby. Aku tau ia pasti marah padaku gara-gara kejadian siang tadi.


“ Fa, turun sekarang ya. Mama udah di lobby nunggu kalian “, ujarku saat telepon terhubung dengan anakku di seberang sana.


“ Ya, Ok! “, jawab Daffa singkat.


Aku berjalan kearah sofa kulit di tengah-tengah lobby. Aku duduk sejenak dan meluruskan kakiku yang pegal gara-gara high heels baruku ini. kalau bukan karena pergi acara makan malam dengan Ivan di hotel, aku tak akan memakai heels setinggi 12 cm ini, betisku sudah sakit dan punggungku sudah terasa nyeri.


TING


Terdengar suara pintu lift terbuka, nampak Daffa dan ibuku keluar dari lift itu. Raut wajah mereka nampak sumringah, terutama ekspresi Daffa yang senyum-senyum melihatku saat pintu lift terbuka.


“ Cie cie yang mau dinner sama pacar baru, cakep ga ma? “, godanya sambil mencolek pinggangku. Aku hanya tersenyum dan memeluk bahunya. Aku lega Daffa tidak marah gara-gara kejadian tadi siang. Kuambil ponselku dan aku segera menelepon Ivan agar menjemput kami di depan lobby.

__ADS_1


19.35 WIB


The 20th Restaurant – Bandung


Seorang waiter dengan setelan hitam elegan mempersilakan kami untuk memasuki restoran yang berada di lantai 20 sebuah hotel mewah di pusat Kota Bandung. Ia mengarahkan kami untuk duduk di area outdoor persis menghadap city view. Pelayanannya sangat prima dan mengesankan, senyum ramah selalu tersungging dari bibir waiter tersebut.


Ivan duduk di sebelahku sambil menatap daftar makanan yang terdapat dalam buku menu. Ia tak banyak bicara pada kami, gestur tubuhnya terlihat canggung di depan ibu dan anakku. Begitupun dengan ibu yang terlihat kaku bertemu dengan Ivan. Ia tidak pernah makan di restoran mewah seumur hidupnya. Kalau bukan karena ajakan Ivan, kurasa ibu enggan untuk datang. Lain halnya dengan Daffa, ia seperti sibuk menelisik pria yang duduk di hadapannya. Sesekali ia mencuri pandang lalu senyum-senyum ke arahku. Ia punya banyak teman lelaki yang nyaris seumuran Ivan, sepertinya ia akan menginterogasi Ivan dengan sejumlah pertanyaan.


“ Om Ivan kerja dimana ?”, tanya Daffa persis seperti dugaanku.


“ Di Asia Development Bank, Fa “, jawabnya singkat sambil tersenyum kearah Daffa.


“ Oh….bagian apa “, tanyanya kembali. Kulihat ibu menyikut lengan Daffa sambil meleparkan tatapan sinis agar Daffa berhenti bertanya.


“ Auditor Fa “, sahutnya pendek sambil tersenyum lalu kembali mombolak-balik halaman buku menu.


Sungguh canggung sikap Ivan kali ini. Biasanya ia mengobrol panjang lebar tentang kehidupannya. Pria dengan postur tinggi ideal, berkulit putih bersih, berambut cepak nan rapi, dengan hidung mancungnya yang sepintas mirip dengan Christian Sugiono ini nampak sangat kikuk. Ivan memang ramah, namun tidak bisa mengambil hati keluargaku. Pria berumur 35 tahun ini masih single, padahal tak sulit baginya untuk memilih wanita manapun untuk ia jadikan seorang istri. Karir cemerlang, wajah rupawan, harta berkecukupan namun ia masih saja melajang. Aku masih meraba-raba apa aku bisa serius dengan pria yang lebih muda 5 taun dariku ini. Oleh karena itulah aku sengaja untuk mengenalkan Ivan pada keluargaku, aku ingin melihat bagaimana Ivan bisa menerima keluargaku.


Ivan lalu melambaikan tangannya untuk memesan makanan. Setelah waiter itu mencatat setiap menu yang kami pesan, Ivan mencoba membuka pertanyaan untuk kami. Kuhargai usahanya untuk mencairkan ketegangan, meskipun belum cukup memuaskan hatiku saat ini.


“ Fa kamu tadi siang jadinya makan dimana? “, tanyaku pada Daffa disela-sela obrolan kami.


“ Ke café samping kantor mama lah, kemana lagi emangnya “, sahutnya sambil memainkan ponselnya.


“ Kamu makan sendirian dong tadi, kenapa ga pulang aja sih makan sama ibu di apartemen “ tanyaku balik.


“ Aku tadi diajak ngobrol sama bos mama di lobby. Aku bilang mau makan sama mama tapi gak jadi. Trus dia ajak aku ngobrol di café deh “, sahutnya sambil asyik memainkan ponselnya.


“ Hah sama siapa Fa?”, tanyaku dengan sedikit terperanjat. Bos yang mana yang mengajak anakku makan siang?. Kenapa Daffa tak cerita kalau ia diajak makan oleh orang kantor?.


“ Pak Rey…Reynold? Rey siapa sih lupa tadi namanya”, jawabnya sambil memicingkan mata berusaha mengingat-ingat nama pria yang mengajaknya makan tadi siang.


“ Rayendra? “, potongku sambil setengah panik.


“ Nah iya, Rayendra. Dia langsung ngajak aku ngobrol banyak pas tau aku anak mama. Aku cerita kalau aku mau ke Jepang, eh dia malah kasih rekomendasi temennya yang bisa urus dokumen kuliahku. Baek sih dia orangnya “, jawab Daffa panjang lebar pada kami.


Ivan terdiam dan melirikku dengan ujung matanya. Tatapannya seakan menunjukkan seakan tak suka dengan pembicaraan tentang Rayendra bersama Daffa.


“ Nak Ivan katanya kuliah di Amerika ya “, tanya ibuku yang mencoba menetralisir keadaan kami yang semakin canggung.


“ Bukan Amerika bu. Saya cuma ambil S2 di Aussie”, jawabnya merendah. Meskipun bukan jawaban yang humble buatku, kasta kami dan Ivan jelas-jelas berbeda. Itu yang membuat Ibu salah tingkah di depannya.

__ADS_1


Untungnya pesanan kami datang juga. Pertemuan malam ini rasanya gagal total. Kulihat raut wajah ibu tidak terkesan dengan Ivan yang tidak luwes membaur dengan mereka. Padahal Ivan sudah mengajak kami makan malam di restoran dengan menu jutaan, menjemput kami dengan mobil mewahnya, semua itu tidak membuat ibu dan Daffa terkesan. Bagaimana aku harus meyakinkan kalau lelaki ini adalah orang yang bisa menopang masa depan kami, kalau Ivan saja tidak maksimal untuk mencuri hati ibu dan anakku. Malah Daffa bisa-bisanya membahas Rayendra, kepalaku pusing dan nyaris aku kehilangan selera makanku. Seketika saja wagyu steik seharga 1 juta ini tidak bisa tidak bisa menerbitkan air liurku. Acara dinner malam ini tidak berkesan, wajah-wajah di depanku makan dengan ekspresi kebosanan. Mereka hanya mencoba menghargai Ivan, meskipun hati kecil mereka menjerit seakan ingin segera pulang.


__ADS_2