Harta, Tahta, Renata

Harta, Tahta, Renata
Hiraeth Cerita Rayendra


__ADS_3

07.00 WIB – Stasiun KA Bandung


“ Halo Bos, ada yang nawarin spare part nih. sama ongkos masang jadinya 2 juta. Kalau mau, saya pesen sekarang nih”, seru Koh Leo dalam sambungan teleponku.


“ Aduh Koh, duitnya belum ada kalau segitu. Kalo dibawah 1 juta saya mau deh”, jawabku sambil memijat kening saat mendengar harganya.


“ Ga ada kalo di bawah sejuta, ini juga inden Bos”.


“ Saya cari sendiri aja deh Koh. Titip mobil dulu ya, kalau nemu tar saya kasih Koh Leo”.


“ Boleh Bos, kalau memang ada yang lebih murah gak apa-apa. Saya cuma nawarin, siapa tau perlu cepet aja”.


“ Nanti deh Koh, saya juga mau ke luar kota dulu. Nanti saya kabari ya”, jawabku sambil mengakhiri panggilan Koh Leo.


Kepalaku berdenyut mendengar biaya yang harus dikeluarkan untuk spare part mobil, ditambah lagi saat ini uangku sudah kian menipis. Belum lagi pekerjaan yang harus kuselesaikan untuk mengerjakan hutangku pada Dion. Dengan terpaksa aku merogoh kocek untuk membeli tiket kereta agar aku bisa bertemu Om Frans di Jakarta. Ia adalah konsultan yang mempertemukanku dengan Hardian, kuharap ia juga bisa membantuku untuk mendapatkan investor baru.


12.30 WIB – Mall Pacific Place


“ Ray, aduh apa kabar kamu ? Semenjak bisnis sama Hardian kok jadi gak kedengeran kabarnya nih”, sapa Om Frans saat ia baru saja tiba di sebuah café yang kudiami.


“ Ya begini saja Om, biasa lah keadaan selalu naik turun. Saya lagi butuh bantuan nih”, jawabku sambil menjawab pertanyaanya tanpa basa-basi.


“ Kenapa bisnismu? Kayaknya serius banget nih?”, tanyanya sambil duduk dan memesan minuman yang terdapat di buku menu.


“ Saya perlu investor baru Om. Pak Hardian sudah berhenti menyuntikkan dana karena kami sudah berbeda visi. Saya harus menyelamatkan nasib karyawan saya Om”.


Kuceritakan semua permasalahan yang kualami hingga aku berada di titik ini. Om Frans hanya menganggukan kepalanya, matanya menerawang dan mulutnya diam tanpa sepatah kata.


“ Ray, usaha yang kamu rintis ini baru satu tahun loh. Seharusnya kalau kamu cermat, semua ini bisa kamu hindari. Agak sulit buat saya mencarikan investor baru, karena 1 tahun belum berarti apa-apa”.


“ Saya bersedia mengubah model bisnisnya Om, apa saja yang penting ada yang mau beli saham kami”, pintaku dengan memelas.


“ Sabar Ray, tidak semudah itu. Sambil ngobrol makan dulu lah, kamu baru minum lemon tea kan, pasti laper habis dari Bandung”, ajak Om Frans.


“ Saya baru saja makan Om, minum saja cukup”, ujarku berbohong. Sejujurnya aku belum makan, uang yang kupegang saat ini sedang pas-pasan.


“ Anak-anak sehat Ray? Terakhir kita ketemu dengan Hardian kamu cerita bahwa istrimu lagi hamil besar kan? udah gede dong anak ketigamu sekarang?”.


Aku terdiam mendengar pertanyaannya, cerita lama itu selalu saja mengusik pikiranku.


“ Sudah Om, anak-anak sehat sepertinya”.


“ Sepertinya? Gimana sih kok nebak-nebak? Kamu Long Distance Marriage ya sekarang?”.

__ADS_1


“ Anak-anak di Tangsel dengan ibunya, saya tinggal di Bandung soalnya”.


“ Iya itu kan LDM namanya, jadi tiap minggu pulang ke Tangsel dong?”, tanya Om Frans yang masih belum memahami maksudku.


“ Gak Om. Saya sudah berpisah dengan istri saya”.


Om Frans membelalakkan matanya begitu ia tau aku sudah berpisah. Berkali-kali ia kembali mengulang pertanyaan yang aku enggan untuk membahasnya.


“ Gila kamu Ray. Pantesan aja muka kamu kusut kaya gini. Saya jadi paham sekarang masalah kamu dimana”, jawabnya sambil menggelengkan kepalanya.


“ Dulu kamu cerita betapa bangganya kamu pada istri dan anak-anakmu. Istri kamu adalah orang yang ikut menemani jatuh bangun dalam perusahaan yang kamu rintis. Begitu kamu kamu proyek gede sama Hardian kamu tinggalin mereka gitu aja. Ya di situlah letak masalah kamu Ray”, cecarnya.


“ Gak ada hubungannya Om, RENTZ murni pekerjaan. Semua ini masalah teknis saja”.


“ Pasti ada perempuan lain ya Ray?”, tuduhnya tanpa basa-basi. Aku hanya terdiam tak bisa mengelak lagi.


“ Aduh Ray, klasik banget masalah kaya gini. Semua ini berhubungan Ray, mana ada sesuatu di dunia ini yang tidak ada sebab-akibat. Saya gak bisa bantu banyak, saran saya cuma satu. Tengok dulu anak-anakmu biar pikiranmu kembali waras”, ujarnya.


14.00 WIB – Bumi Serpong Damai


Ku berdiri di depan pintu gerbang sekolah swasta yang megah dengan pagar yang menjulang tinggi. Terlihat beberapa security tengah mengatur lalu lalang mobil yang akan menjemput anaknya. Sekolah ini adalah SD dimana Kila belajar, tekadku muncul untuk menemui anakku karena perkataan Om Frans terngingang-ngiang di telingaku.


Batinku terusik melihat deretan mobil yang menjemput anaknya di lobby. Dulu aku sering mengantar Kila sebelum pergi ke kantor, namun kini ia hanya diatar-jemput oleh ojek langganan mereka.


Kakiku melangkah menuju ruangan jemput, terdapat satu orang petugas yang memegang microphone untuk memanggil para siswa jika penjemput telah hadir. Keamanan di sekolah ini sangat ketat, maklum saja sekolah pilihan Rania ini memang tak murah biayanya.


“ Kartu jemputannya mana Pak?”, tanyanya.


“ Ketinggalan Pak, saya ayahnya kok”, jawabku berusaha meyakinkan petugas tersebut.


“ Lapor dulu ke admin Pak, nanti dibantu untuk verifikasi data penjemput”, jawabnya.


“ Saya ayahnya Pak, masa verifikasi segala sih “, jawabku kesal.


“ Yang lain sama kok Pak, ini kan demi keamanan putra-putri Bapak. Prosesnya gak lama kok, silakan ke admin ya “.


Aku mundur menjauhi petugas tersebut. Kuperhatikan para penjemput memang harus membawa kartu jemputan untuk diperlihatkan. Jika tidak, maka siswa belum diperbolehkan pulang sebelum pihak sekolah kroscek pada orang tua yang bersangkutan.


“ Pak Ray? “, sapa suara seorang lelaki yang kukenal.


“ Mas Agus, mau jemput anak saya ya?”, tanyaku girang melihat sosoknya.


“ Mas tolong saya, saya mau jemput Kila Mas. Tolong kasih kartu jemputannya dong Mas”, pintaku memelas.

__ADS_1


“ Maaf Pak Ray, kalau mau ketemu Kila di rumah saja”, tolaknya.


“ Saya mau ketemu sama ngobrol sebentar kok Mas, tungguin deh Mas “, bujukku.


“ Ibu Rania sudah tau belum? Soalnya tadi pagi gak bilang apa-apa sama saya”.


“ Cuma sebentar kok Mas, kebetulan saya lewat sini. Ibunya belum tau sih”.


“ Maaf gak bisa Pak. Temui anak-anak di rumah saja, gak enak ngobrol di sekolah”.


“ Mas tolong dong, sekali aja. Saya cuma mau peluk anak saya, saya kangen banget sama Kila dan Kica. Saya ini Bapaknya loh”, bujukku sambil memaksa.


“ Pak Ray, sampeyan kalau kangen sama anak ya temui mereka dong di rumah, jangan main belakang kaya gini. Tugas saya antar-jemput anak Bapak sesuai waktu, kalau telat Bu Rania pasti nyariin”.


“ Saya gak bisa temuin di rumah Mas, tolong ngertiin saya”.


“ Siapa bilang gak bisa. Cuma di depan pagar juga gak apa-apa Pak, yang penting sudah seijin ibunya. Kalau main belakang kaya gini saya ga setuju Pak. Maaf saya mau jemput dulu sebelum Bu Rania telepon saya”, ujar Mas Agus sambil memberikan kartu jemputan pada petugas yang memegang mic. Sesekali mereka berbisik-bisik sambil memperhatikan ke arahku.


Sial!. Usahaku untuk bertemu Kila gagal total. Aku hanya mondar-mandir di lobby memikirkan apa yang harus kulakukan. Apakah aku harus menunggu Kila pulang atau pergi sebelum Mas Agus menghubungi Rania untuk memberitahukan keberadaanku? Jika Rania tahu, pastinya ia akan menyusul kemari.


“ Permisi Pak, sudah jemput anaknya belum?”, tanya seorang sekuriti yang daritadi memperhatikanku mondar-mandir.


“ Sudah Pak, yang jemput Bapak yang pakai jaket hitam itu”, tunjukku pada Mas Agus.


“ Silakan tunggu di tempat lain Pak, soalnya sebentar lagi kelas yang lain mau bubaran juga” usir petugas itu dengan halus.


Akhirnya aku menyerah, ku langkahkan kaki ke luar area sekolah. Kutengok lagi ke belakang, berharap sosok si sulung bisa kulihat dari kejauhan. Namun rupanya Kila masih dalam antrian.


Tak putus asa segera kupanggil ojek pangkalan, kuminta dia untuk mengantarku ke alamat yang pernah Rania sebutkan di email tempo hari. rumah kontrakan yang baru saja mereka diami beberapa bulan kebelakang. Motor kami melaju kencang agar sampai di tujuan sebelum Mas Agus tiba. Entah apa yang di pikiranku saat ini, tiba-tiba saja aku ingin melihat anak-anakku di rumah kontrakan karena rencana untuk menemui di sekolah gagal total.


Akhirnya aku tiba di komplek dimana Rania mengontrak rumah, akhirnya kutemukan juga rumah yang mereka diami. Sebuah rumah dengan pagar hitam dengan sepeda milik anak-anak terparkir di teras depan. Aku meminta ojek tersebut untuk berhenti di pos yang letaknya tidak begitu jauh dari rumah Rania. Dengan begitu, aku masih bisa melihat kedatangan anakku dari kejauhan.


Tak lama terdengar deru motor yang berhenti di pekarangan rumahnya. Rupanya motor Mas Agus sudah tiba membawa Kila dari sekolah. Batinku menjerit saat melihat Kila turun dari motor sambil menggendong tas pink miliknya.


“ Kakaaaaak, kamu pulaaaang”, jerit suara cempreng yang kukenal. Suara itu adalah milik Kica yang berteriak menyambut kakaknya pulang. kulihat sosok anak 6 tahun berlari kecil menyambut Kila di teras depan.


Batinku teriris melihat kedua putriku, suaraku tertahan di tenggorokan, air mataku sudah tak kuasa kubendung hingga menetes di pipi. Inginku berteriak memanggil mereka, berlari dan memeluk tubuh mereka dengan erat. Namun apa daya, yang saat ini kulakukan hanya bisa melihat dari kejauhan saja.


Tak lama kulihat sosok wanita setengah baya ikut keluar menyambut Kila. Ya, itu adalah mantan mertuaku yang sedang membantu cucunya untuk membawakan tas Kila yang berat. spontan saja aku menggeser badanku untuk berlindung dibalik tubuh driver ojek yang tengah menungguku.


“ Pak, mau samperin ke rumah apa gimana nih”, tanyanya kebingungan karena sedari tadi kami berhenti di pos satpam.


“ Tunggu aja Mas, sebentar lagi ya “, bujukku.

__ADS_1


“ Gak mau turun dulu? Gak apa-apa saya tungguin kalau mau”, ujarnya menawarkan diri. Kurasa ia kasihan melihatku karena sedari tadi air mataku menetes di pipi.


Kuperhatikan lagi rumah itu hingga kedua anakku masuk ke dalam. Hatiku bimbang apakah aku harus turun dan meminta ijin pada Rania, ataukah cukup melihat putriku dari kejauhan saja? Emosiku berkecamuk saat ini, ada perasaan rindu terhadap rumah yang kini sudah tidak bisa aku kunjungi.


__ADS_2