
08.00 WIB – Apartemen Renata
Pagi ini terasa sunyi, tidak ada lagi deringan ponsel atau notifikasi email masuk dari tim RENTZ. Semua harus bekerja dari rumah demi penghematan anggaran. Sudah dua hari kudiamkan laptopku tidak menyala, karena tidak ada lagi laporan yang harus kubuat. Namun berbeda dengan Rayendra, pagi ini ia masih berkutat di depan laptopnya untuk menyusun proposal untuk investor baru.
“ Kamu mau tawarin siapa lagi Mas? Masih ada kenalan investor?”, tanyaku dari luar balkon sambil mengepulkan asap rokokku.
“ Ada lah”, jawabnya pendek.
“ Dimana orangnya? Bandung apa Jakarta?”.
“ Dimana aja lah”, jawabnya tanpa berpaling dari laptopnya.
“ Oooh. Ya sudah, nanti siang aku ke rumah ibu lagi ya. Mau nenangin Daffa yang masih shock. Kamu tau perbuatan mantan istri kamu itu udah kelewatan, Mas”, gerutuku sambil membuang puntung rokokku ke asbak di meja.
“ Memangnya yang bikin isu ke sekolah Daffa itu pasti Rania? Kamu sudah kroscek pihak sekolah?”, tanyanya gusar.
“ Ya siapa lagi kalau bukan dia. Rania itu gak mau kamu cerai, pasti dia bikin ulah untuk neror kita”.
“ Nanti kamu ke sekolah aja, kalau bisa tuntut mereka karena pencemaran nama baik. Bisa-bisanya aku diseret dalam cerita murahan yang dikarang orang itu”.
“ Iya Mas, Rania bisa kita laporkan ke polisi. Aku harus bikin BAP sekarang juga”.
“ Kamu punya bukti gak itu perbuatan Rania? Jangan asal tuduh dulu kalau gak punya buktinya”.
Aku terdiam dengan sejuta kekesalan di dada, karena sejatinya tidak ada bukti yang mengarah pada Rania. Meskipun dalang dibalik semua keonaran ini adalah dirinya.
“ Ya sudahlah, sambil mikir aku ke rumah ibu saja. Mobil selesai hari ini kan?”.
“ Belum selesai. Masih nyari spare part-nya. Bisa sebulan kita gak pakai mobil”, jawabnya.
“ Apa? Lama amat sih? Kenapa sih tuh mobil?”.
“ Overheating, mungkin karena sebelumnya nonstop aku pakai mondar-mandir Bandung – Jakarta – Bogor – Bandung”.
__ADS_1
“ Udahlah mobilnya jual aja. Kalau udah bikin susah sih biasanya bakal terus-terusan bawa sial”, gerutuku.
“ Mobil masih rusak begitu gimana jualnya Ren?”.
“ Betulin aja alakadarnya, yang penting body mulus, foto, pasang iklan di intenet. Selesai kan? kita beli mobil baru yang agak kecilan aja”, usulku.
“ Nanti dulu deh Ren, aku harus ngurus RENTZ kamu malah bahas mobil baru. Udah lah sabar aja gak usah ganti mobil dulu”, sahutnya.
“ Iya deh, itu kan mobil kenangan ya Mas. Masih belum bisa move on dari masa lalu kayaknya nih”, sindirku sambil beranjak masuk dan membuka pintu kulkasku. Kuambil susu fullcream dan menuangkannya di mangkok beserta granola kesukaanku.
“ Udah lah Ren, maksudku bukan masalah kenangan di mobil itu. Sekarang masih banyak yang aku urus di RENTZ. Target aku cari investor nih sebelum kita semua dipecat akhir bulan tanpa pesangon.
Kuacuhkan saja apa yang dikatakan suamiku, tanganku sibuk mengiris buah dan mencampurkan pada cereal yang kubuat. Batinku terusik dengan ujarannya untuk menolah mengganti mobil, pastinya dia masih sayang pada mobil yang menjadi kenangan dengan keluarganya dulu. Kemarin aku menemukan DVD film Barbie dan Little Pony di laci dashboard, pastinya itu adalah milik anak-anaknya yang masih tersimpan. Ada juga jarum pentul, pin hijab, dan cermin kecil yang pastinya bukan milikku. Semuanya telah aku buang ke tempat sampah saat menunggu mobil derek saat insiden mogok tempo hari.
“ Ren, ada sarapan apa? Kamu bisa masak nasi ga?”.
“ Ada nih cereal mau ga? Aku bagi dua buat kamu Mas”, tawarku.
“ Ga suka gituan, nasi aja deh sama telor juga gak apa-apa. Sama teh manis jangan lupa”, perintahnya sambil berkutat dengan proposalnya.
“ Gimana? Enak ga buatan istri kamu nih? “, godaku saat ia meminumnya.
“ Lumayan “, jawabnya singkat. Ia terlihat menghabiskan setengah mug dan kembali berkutat dengan pekerjaannya. Aku bergegas mengambil dompet dan ponsel sambil berjalan ke luar kamar untuk membeli nasi uduk di kantin apartemen. Sambil menyusuri selasar, aku mengetik pesan WhatsaApp pada seseorang.
“ Cie cieee, Non cantik lagi cemburu nih kayaknya “, ujar suara yang lagi-lagi menggodaku. Sesosok wanita yang beparas mirip denganku itu mengikutiku dari belakang.
“ Ngapain sih lo dateng lagi, bikin rusuh aja”, gumamku sambil melirik keadaan sekitar.
“ Suami kamu lagi kalut bukannya disemangati malah dibikin pusing “, godanya sambil ikut masuk ke dalam lift yang terbuka.
“ Gue kesel tau ga. Pertama beasiswa anak gue dicabut, lalu tiba-tiba mobil mogok, sekarang omongan gue buat ganti mobil gak digubris sama dia. Pasti semua ini gara-gara Rania”.
“ Lo insecure amat sih Non, belum tentu itu ulah dia juga. Inget loh, lo gak bisa laporin ke polisi kalau ga ada bukti yang valid, nanti lo sendiri yang kena batunya. Cewek secerdas lo sih tau betul harusnya”.
__ADS_1
“ Arrrgh, pokonya gue harus bikin susah hidupnya. Ray harus bisa selamatkan perekonomian dengan segera, kalau enggak…..”.
“ Kalau enggak ? Lo mau apa? Ninggalin dia?”, tanyanya sambil kembali mengikuti sambil aku melangkahkan kaki saat pintu lift terbuka di lantai dasar. Aku hanya mendelik kearahnya tanpa berbicara sepatah kata. Keadaan disini cukup ramai, banyak orang hilir mudik untuk ke kantin mencari sarapan.
“ Udah lah, kalo si Ray jatuh miskin tinggalin aja dia. Mumpung lo masih nikah siri, gak perlu repot urus-urus sidang segala kan”, bujuknya. Aku hanya melemparkan tatapan sinis sambil bergegas masuk setiba di kantin yang kutuju, segera saja kupesan dua porsi nasi uduk untuk sarapan kami.
“ Istri tuh mbok ya bikin sarapan sendiri, telor ceplok doang aja masa lo gak bisa sih?”, sindirnya sambil duduk di kursi”. Kubalas perkataannya dengan pelototan agar ia menyingkir dari hadapanku.
“ Neng, ini nasi uduknya. Total jadi 25 ribu ya”, ujar sang ibu kantin sambil menyerahkan kantung plastik yang berisikan nasi bungkus.
“ Ini uangnya ya Bu, makasih”, jawabku sambil memberikan uang pas sambil bergegas ke kamarku.
“ Lo tuh ya, lagi begini bukannya berhemat, ketimbang beli di luar mending masak sendiri deh Non”, ujar suara tersebut.
“ Berisik lo. Asal tau aja ya, gue masih punya tabungan yang sangat cukup. Kondisi RENTZ tidak akan berpengaruh sedikitpun pada kondisi finansial, dan gue tidak akan pernah jatuh miskin. Camkan itu ya”. jawabku kesal akan ocehan yang terus memojokkan diriku.
“ Yah bagus deh Non, semoga lo bisa lebih tenang, ga perlu se-insecure sekarang hahahaha”.
“ Diem gak lo, pergi aja bisa gak !”, bentakku pada suara tersebut.
Seorang cleaning service yang sedang mengelap pintu lift menengok dengan tatapan kaget ke arahku. Rupanya ia mendengarkan dan berpikir bahwa aku sedang memarahinya.
“ Maaf Bu, saya cuma bersihin pintu”, jawabnya dengan ketus. Ia menarik tangannya yang sedang mengelap sambil bersungut-sungut karena bentakanku barusan.
Ejek tawa dan sindiran itu terus terngiang-ngiang di kepalaku. Kupenjamkan mata sambil mencoba mengusirnya, berharap bayangan itu segera sirna dan berhenti menghantui. Kubuka pintu kamarku dan Ray begitu kaget melihatku, refleks ia menutup laptopnya.
“ Jadi beli nasi uduk? Maaf ya ngerepotin kamu”, sahutnya tiba-tiba.
“ Mau gimana lagi, gak ada nasi. Mending beli aja deh daripada mubazir”, jawabku sambil melirik ke arah laptop yang baru saja ia tutup tiba-tiba.
“ Aku mandi dulu deh, kamu siapin aja nasi nya. Abis ini aku harus ketemu seseorang soalnya”, jawabnya sambil bergegas mengambil handuk di balkon.
Aku memperhatikan Ray masuk menuju kamar mandi, kupastikan ia menutup pintu dan menguncinya. Begitu kudengar suara pancuran air dibuka, aku langsung membuka laptop dan memasukkan password miliknya. Langsung terbuka layar monitor dengan sebuah halaman email. Kubaca dengan seksama email tersebut, ternyata dari Dion yang memberikan brief proyek yang harus Ray kerjakan. Alisku mengernyit saat membaca brief tersebut, tenggat waktu yang diberikan juga sangat singkat. Proyek apa yang Dion berikan di saat genting seperti ini? Bukannya Ray sudah sepakat untuk tidak berhubungan dengannya lagi?.
__ADS_1
Segera kututup laptop itu perlahan, sambil bergegas menuangkan nasi uduk ke atas piring dengan sejuta pertanyaan. Mataku juga menoleh pada ponselku, berharap ada balasan dari orang yang kukirim pesan barusan. Namun ternyata pesanku hanya centrang satu, yang artinya pesanku belum diterima. Ray keluar dari kamar mandi berbalut handuk biru tua sambil memilih baju di depan lemari, sementara aku memilih diam tanpa mau bertanya atas apa yang kulihat di laptopnya. Suasana kamarku begitu hening, hanya terdengar suara sendok dan garpu yang beradu di piring nasi. Otakku masih menerka-nerka siapa yang akan Ray temui pagi ini. Entah apa saja yang ia akan kerjakan, namun yang pasti diriku tak akan tinggal diam kali ini.