Harta, Tahta, Renata

Harta, Tahta, Renata
Menyudahi Semua Kisah Cerita Renata


__ADS_3

16.30 WIB – Kantor RENTZ


Batinku masih geram saat Rania men-tag diriku di Instagram. Dia pasti menuduhku perebut suami orang. Maksudnya apa memberi emoticon hati padaku?. Kalau dia berani seharusnya langsung saja datang kemari dan berbicara langsung denganku. Rania jelas-jelas bukan kelasku. Dia hanya seorang wanita rumahan, tak punya penghasilan, tidak bisa mengurus suami dan bisanya menghambur-hamburkan uang.


Rania, kamu pikir kamu siapa!. Wajah saja pas-pasan, sok mau jadi nyonya besar. Suamimu tak puas dengan dirimu, tak puas dengan pelayananmu, jangan harap ada lelaki yang sudi menjadi pendamping hidupmu. Amarahku semakin menjadi-jadi saat melihat foto Rania di Instagramku. Melihat senyumnya saat ia berlibur bersama Ray dan anak-anaknya membuatku muak. Ia kerap menulis caption bijak bak malaikat, seakan hidupnya sempurna tanpa cela.


“ Mbak Renata ada yang nunggu di bawah “, seru Nurul mengagetkanku dari balik mejanya.


Aku langsung tersadar dari lamunan yang sedari tadi mengembara membayangkan sosok Rania. Kurasa aku telah membuang-buang waktu memikirkan perempuan itu. Aku segera turun ke lobby untuk menemui tamu yang dimaksud Nurul tanpa berpikir panjang lagi. Mungkin memang seharusnya aku menemui klien baru agar pikiranku teralihkan.


“ Halo Ran, apa kabar “ sapa sesosok pria tambun dengan brewok menghiasi wajahnya. Rambut yang di cat pirang bersembunyi dibalik topi fedora hitamnya.


“ Benny!!!. Ngapain kesini “, tanyaku setengah berbisik.


“ Gue abis lewat daerah sini terus mampir deh “, jawabnya sambil membetulkan topi fedora yang ia kenakan.


“ Terus mau apa?. Jangan pernah samperin gue di kantor! “, bentakku pada lelaki yang sedang tersenyum simpul kepadaku.


“ Mau nagih jatah gue lah, masa lo ga punya duit terus sih Ren ? ”, sindirnya sambil terkekeh. Sesekali ia melirik ke sekeliling kami dengan tatapan waspada.


“ Jatah lo yang mana lagi sih Ben?. Lo tuh kebiasaan kalo ada butuhnya meras gue. Sekarang gue sibuk kerja, gak ada lagi urusan sama lo “ jawabku tegas.


“ David masih urusan gue loh Ren, sampe detik ini lo masih simpenan dia kan? ”, tukasnya sambil tersenyum sinis.


“ Gak lah, gue gak ada urusan sama dia ataupun David yang lain. Gue sudah menyudahi semuanya, Ben. Please jangan ganggu gue lagi “, pintaku sembari sedikit memelas padanya.


“ Inget loh Ren, Ivan anak anggota dewan yang sama sekali gak bisa lo permainkan. Lambat laun mereka bisa tau siapa lo “, ancam Benny sambil melengos.


“ Oke lo mau apa?. Mau berapa? “. Tanyaku gemas menahan emosi yang sudah tak tertahan lagi.


“ Gak banyak lah, 3 juta ditransfer aja. Ditunggu maksimal jam 18.00 “ jawab Benny sambil berlalu tanpa basi-basi. Kulihat tubuh tambunnya melenggang ke parkiran dan masuk ke dalam mobilnya.


Aku hanya bisa menghela napas menahan amarah, hari ini cukup menguji kesabaranku. Aku kembali ke mejaku sambil mengutuk Benny yang selalu memerasku. Biasanya dia memerasku untuk membeli narkoba, pemadat seperti dia akan berusaha menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang.


Setiba di mejaku aku mendapati banyak missed call yang tak kuangkat. Ivan telah menghubungiku berkali-kali, namun aku malas menghubunginya kembali. Entah kenapa perasaanku berangsur memudar padanya, inginku putuskan tapi tak bisa.


“ Yang, aku udah di parkiran ya “.


Sebaris pesan muncul di notifikasi ponselku. Rupanya ia telah menungguku di parkiran untuk menjemputku. Biasanya dia pulang malam, namun tumben hari ini dia pulang cepat.


“ Oke, aku masih meeting “, jawabku singkat padanya.


Padahal aku sudah tak ada pekerjaan yang harus kuselesaikan lagi. kucoba membuka browser di laptopku untuk menyibukkan diri, tapi pikiranku sedang suntuk. Satu jam lagi aku harus mentransfer 3 juta pada Benny, rasanya tak ikhlas uangku kuberikan begitu saja. Namun jika aku diamkan, Benny akan semakin menjadi-jadi.


“ Yang aku minta tolong bisa ga “.

__ADS_1


Jemariku menari pada tuts keyboard di ponselku dan kupencet tombol sent pada Ivan.


“ Minta tolong apa, beliin kopi ?”, jawabnya.


“ Daffa perlu bayar uang perpisahan nih, sekarang baru tanggal 15. Gajian masih jauh Yang “, pintaku mengiba pada Ivan.


“ Perlu berapa emangnya “, tanyanya lagi.


“ 3,5 juta nih. Si Daffa mau perpisahan ke Bali, makanya biayanya mahal buat akomodasi selama di sana.


“ Oke. Aku transfer kamu ya sekarang “, jawabnya tanpa pikir panjang lagi.


“ Makasih sayang, sebentar lagi aku pulang ya “, jawabku sambil tersenyum kegirangan.


Akhirnya aku tak perlu mengeluarkan uang untuk Benny, mudah-mudahan ia tak akan menggangguku lagi. Segera kukirimkan uang sejumlah 3 juta pada Benny beserta bukti transfernya. Dengan segera kubereskan barang-barangku dan bergegas turun menghampiri Ivan di parkiran.


Aku mendapati Ivan yang sedang parkir namun bukan mengendarai sedan BMW nya. Kali ini ia membawa Jeep Rubicon berwarna hitam, kalau tidak salah milik ayahnya. Dengan sedikit susah payah aku menaiki mobil Jeep itu, kebetulan rok yang kupakai cukup pendek dan ketat membungkus badanku.


“ Tumben kamu bawa mobil Papa, mobil kamu kenapa? “, tanyaku saat berhasil masuk ke dalam mobilnya.


“ Kemarin diserempet motor, aku masukin bengkel “, jawabnya sambil menstarter mobilnya. lengan kokoh Ivan lalu memutar kemudi menyusuri jalanan yang kian padat.


“ Kamu kok tumben jemput jam segini, emang mau kemana lagi ? ”, tanyaku keheranan melihat Ivan yang masih tampak rapi dengan balutan kemeja berwarna navy. Ivan selalu nampak rapi dan wangi. Wajahnya yang tampan dibalut kemeja mahal sukses memukau setiap perempuan. Ditambah lagi posturnya yang tinggi dengan dada yang bidang atletis, cukup membuat jantung wanita berdebar-debar melihatnya.


Itulah yang kurasakan saat melihatnya pertama kali. Pria tampan ini berhasil mencuri hatiku, apalagi dia adalah seorang pria sukses dari keluarga terpandang. Namun kini aku malah meragu, apakah menjalin hubungan dengan pria ini akan menjadikan masa depanku lebih baik?.


“ Kok kamu ga bilang? Kenapa bareng keluarga kamu? “, tanyaku kaget.


“ Kamu kaya gak tau Mama aja, dia orangnya serba dadakan. Papa lagi pulang dari dinas, katanya mau makan iga bakar “ jawabnya santai melihatku yang tengah melotot karena panik.


“ Ya tetep aja tanya aku dulu dong, masa aku diajak ketemu keluarga kamu gitu aja. Tanya dulu kek, atur waktu yang tepat kek “, jawabku sambil menggerutu. Moodku hari ini benar-benar berantakan.


“ Atur waktu buat apa sih, cuma makan di rumah makan iga bakar doang kok. Ga harus pake dandan, kamu kan udah cantik dari lahir. Bener ga ?”, goda Ivan sambil mencubit pipiku.


Mobil kami melaju diantara hiruk keramaian saat jam bubar kantor. Lampu merah di jalan Cipaganti memberhentikan mobil kami, aku sudah tau kemana Ivan akan membawaku malam ini. Sebuah rumah makan Iga Bakar yang terkenal dengan antriannya yang mengular. Bukan rumah makan yang mewah seperti biasa Ivan mengajakku, hanya sebuah tempat makan sederhana yang hanya berawal dari tempat makan kaki lima di Jalan Cipaganti.


Aku segera turun dari mobil sambil berusaha menutupi pahaku. Segerombolan muda-mudi sedang berkumpul tepat di samping mobil yang diparkir Ivan. Mereka menoleh saat kami keluar dari mobil. Nampak beberapa wanita saling menyikut begitu melihat penampilan Ivan yang menggandeng tanganku.


Kami langsung masuk menerobos para pelanggan yang tengah mengantri. Kulihat sosok yang kukenal tersenyum dari kejauhan, menyambut kami dengan hangat. Wanita dengan rambut burgundy itu tersenyum kepadaku. Kali ini mamanya terlihat casual tanpa riasan yang berat, namun masih sangat menawan.


“ Halo Renata, apa kabar?”, sapanya dengan ramah sambil menyodorkan tangannya.


“ Baik Tante “, jawabku singkat sambil tersenyum padanya


“ Malam Om, saya Renata “, sapaku pada lelaki berumur 50 tahun yang sedang asyik memainkan ponselnya.

__ADS_1


“ Halo Renata, ayo silakan duduk “, jawabnya sambil mempersilahkanku duduk di kursi tepat di samping mamanya Ivan.


Aku duduk di kursiku sambil menutupi pahaku dengan tas, sebisa mungkin orangtua Ivan tidak melihat kecanggunganku.


“ Sekarang lagi sibuk apa Rena “, tanya mamanya sambil menoleh kearahku sembari menunggu pesanan kami.


“Masih sibuk dengan aplikasi aja tante, sembari mencari tenant baru “, jawabku percaya diri. Kali ini lidahku tidak kelu seperti saat pertama kali bertemu.


“ Siapa aja klien kamu Ren?, semua grup property sudah berhasil join? “, tanya papanya Ivan yang menatapku dari balik kacamatanya.


“ Belum Om, kami juga baru mulai kok “, jawabku merendah.


“ Katanya kalian dinner ya tempo hari, kok mama ga diajak sih Van “, sindir mamanya sambil melirik kearah Ivan.


“ Mama kan pulang malem waktu itu, makanya gak aku ajak “ sahut Ivan sekenanya. Ia tahu arah pembicaraan mamanya bukan membahas tentang perkara makan malamnya, tapi dengan siapa anaknya pergi tempo hari.


“ Salam ya Ren buat Ibu dan anakmu. Ngomong-ngomong anakmu umur berapa?”, tanyanya penuh selidik.


“ 17 tahun tante, baru mau lulus sekolah tahun ini. Alhamdulilah mau melanjutkan sekolahnya di Jepang nanti “, jawabku dengan percaya diri. Aku tau resiko yang kuhadapi saat mengencani seorang pria single seperti Ivan, stigma yang melekat pada diriku harus aku lawan. Aku harus percaya diri untuk berkata bahwa aku adalah seorang single parent.


“ Hebat loh dapet beasiswa, pasti berkat kamu yang berhasil mendidik anakmu Ren “, jawab mamanya dengan ekspresi yang tak pernah bisa kutebak. Apakah ia benar-benar memujiku atau hanya basa-basi saja.


Pesanan kami akhirnya tiba, 4 porsi iga bakar yang masih mengepul menerbitkan air liurku. Aroma bakaran daging yang harum tercium menggelitik hidungku. Aku tak sabar untuk menyantap, namun tasku selalu nyaris terjatuh dari pahaku.


“ Tasnya simpan di belakang kursi Ren, tutupi paha kamu pakai cardigan tante nih “, sahut mama Ivan tiba-tiba. Rupanya sedari tadi ia sadar bahwa pakaiannku terlalu pendek membuatku tak leluasa bergerak.


“ Kalau kerja pilih terusan di bawah lutut Ren. Apalagi kamu berhubungan dengan banyak orang. Tunjukkan sikap profesional karena kamu adalah cerminan dari nama baik perusahaan “ tuturnya sembari memberikan cardigan miliknya.


“ Iya maaf tante, biasanya saya enggak pakai baju sependek ini. Gak usah pake cardigan tante gak apa-apa ko “, tolakku dengan halus saat mamanya berusaha menutup pahaku.


“ Gak enak dilihat Ren, pakai saja ya “, jawabnya dengan tegas padaku.


Ivan melirik kearah kami sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Sesekali ia dan papanya hanya beradu pandang sambi menghela nafas. Aroma kecanggungan mulai tercium lagi, seperti biasa mamanya Ivan selalu sukses membuatku mati kutu setiap kali kami bertemu.


“ Ivan ini anak kami satu-satunya. Udah tua tapi gak kawin-kawin Ren. Om sama Tante udah cape nyuruh Ivan buat serius cari calon, sampai pada akhirnya pilihan Ivan tertuju sama kamu “, ujar papanya Ivan membuka pembicaraan. Aku tak menyangka obrolan kami akan sejauh ini, padahal aku saja belum yakin dengan Ivan.


“ Ivan, apa kamu serius dengan Rena?, ingat kamu ini belum punya pengalaman, sedangkan Rena sudah berpengalaman dalam menjalani pernikahan. No offense ya Ren, Om hanya ingin meyakinkan Ivan agar ia bersungguh-sungguh kali ini “, tutur papanya panjang lebar.


“ Iya pa, Ivan yakin sama Rena “, jawabnya mantap.


Seketika saja aku lemas dalam dudukku. Bukan ini jawaban yang aku mau Ya Tuhan. Aku menoleh kearah Ivan dan kutendang kakinya di bawah meja.


“ Kamu bukan hanya berhadapan dengan sosok Renata saja, ada anaknya yang harus kamu ambil hatinya. Apa kamu bisa ?”, tanya mamanya sambil menatap kami berdua.


“ Ivan berusaha ma, Daffa akan Ivan anggap seperti anak sendiri “, jawabnya semakin mantap.

__ADS_1


Aku menghela napasku, mencoba untuk tetap tenang di hadapan orangtuanya. Sesekali mereka menatapku lekat-lekat. Seperti hendak menelanjangiku untuk mengetahui sosok wanita yang dicintai anak semata-wayangnya.


Lagi-lagi pertemuan keluarga ini membuatku tak berdaya, terlebih lagi keyakinan Ivan untuk melamarku makin kuat. Meskipun wanita yang berada di tempat makan ini melirik iri, namun tidak bagiku. Tekanan atas orangtuanya yang terpandang membuatku tidak nyaman, aku ingin segera melepaskan belenggu ini. Aku ingin putus dari Ivan sesegera mungkin !!!


__ADS_2