
19.30 WIB – Rumah Dion
Bruk
Kututup pintu mobil yang sudah terparkir rapi di garasi mobil sambil menenteng bungkusan di tangan kananku. Tadi aku sengaja mampir ke toko kue untuk memberikan kejutan berupa makanan kesukaan untuk istriku, sekotak Bagel Sandwich dengan isian telur, ham dan keju mozzarella. Kejutanku kali ini pasti akan membuat dia bahagia. Dengan perlahan aku berjalan mengendap-ngendap mencari Nadine, tercium aroma kue yang sedang dipanggang, barangkali Nadine sedang di dapur, gumamku.
“ Hun, kok tumben kamu bikin kue malam-malam gini”, sapaku pada Nadine yang terlihat sibuk memasukkan adonan kue ke dalam loyang.
“ Iya, aku lagi bantuin Rania bikinin pesanan Brownies. Kasian dia kewalahan terima orderan”, jawabnya tanpa menengok ke arahku.
“ Loh, kalau kamu yang bikin nanti Rania ga dapet untung dong”, tanyaku sambil mendekat dan menyembunyikan bungkusan Bagel di belakang tubuhku.
“ Aku cuma bantuin bikin kok, Rania cukup ganti bahan baku aja”, jawabnya sambil berjongkok memasukkan adonan Brownies ke dalam oven. Begitu oven ditutup ia membuka celemek sambil menyeka pelipisnya, wajahnya jadi belepotan terigu namun aku suka melihatnya.
“ Good job, that’s why I always proud of you”, ujarku sambil menyeka pelipisnya sambil tersenyum bangga. Nadine menepis tanganku dan langsung berpaling meletakkan tumpukan baskom kosong ke dalam sink.
“ Hunny, please take a break. I bring you something “, ujarku sambil memperlihatkan bungkusan yang sedari tadi kusembunyikan. Kubuka kotaknya perlahan, terlihat Bagel berukuran besar mengintip dari dalam kotak.
Nadine hanya menoleh lalu kembali sibuk dengan cucian kotornya. Ia membersihkan semua peralatan kue tanpa berbicara sepatahkata pun. Firasatku menjadi tak enak, ada apa dengan istriku kali ini. barangkali ia sedang dalam masa PMS, sudah biasa ia uring-uringan tak jelas jika sedang mengalami masa menstruasi.
“ Hey, why don’t you talk to me, do you have a period? “, tanyaku sambil memeluk tubuhnya. Namun tiba-tiba saja ia menolak dan mendorong tubuhku.
“ Please don’t bother me. Go take a shower and help Sean to do his homework”, perintahnya dengan ketus.
“ Hey what’s wrong? I give you surprise and you don’t care at all?”, tanyaku.
Nadine menghentikan pekerjaannya dan langsung menatapku tajam.
“ Do you want to know what’s going on? Ok, let me ask you first. Where’s Naya? What happened between you two?”.
Aku terperanjat saat Nadine mengucapkan nama Naya. Perempuan yang dimaksud Ray saat terjadi baku hantam di kantorku. Entah bagaimana caranya nama perempuan itu bisa terucap dari mulut istriku.
“ Sayang, maksudnya apa? Kenapa jadi bahas Naya sih? Kita udah sepakat untuk ga bahas ini lagi kan?”.
“ Iya dulu kita sudah sepakat untuk tidak membahas kelakuan busuk kamu di masa lalu. Tapi ternyata kelakuan kamu lebih busuk dari yang aku duga. Kamu udah menghamili Naya kan?”, tuduhnya sambil melemparkan tatapan sinis.
“ Tunggu, aku jelasin dulu Nad. Aku kan sudah jujur sama kamu, kamu tau semua mantan selingkuhan aku. Semua itu masa lalu kan, aku udah bertobat Nadine. Aku berani bersumpah ga ada kontak lagi dengan mereka sampai detik ini”.
“ Tapi kamu udah pernah hamilin Naya? Kamu ga cerita!!!!”, teriaknya sambil mulai terisak.
“ Oke, aku memang ga cerita. Dia sendiri yang gugurin kandungannya karena dia ga siap. Semenjak kamu labrak aku di hotel dia langsung menghilang, aku juga ga mau tau keberadaan dia sekarang”.
__ADS_1
Nadine masih terisak di depan cucian piring yang masih berserakan, air keran masih mengalir tak ia pedulikan.
“ Ada DM yang masuk ke Instagramku tadi siang, dia cerita tentang kelakuan busuk kamu”, sahutnya pelan.
“ Sayang aku tau itu ulah siapa, kamu ga usah kepancing sama ceritanya”.
“ Ga penting dari siapa? Tapi aku udah cape maafin kamu. Tolong kamu tinggalin aku, jangan sampai Brownies Rania gosong gara-gara kamu”.
Aku meninggalkan Nadine dengan semua amarahnya. Bagel yang kubeli masih teronggok di meja tanpa ia sentuh sedikitpun. Emosiku memuncak gara-gara pesan yang pastinya dikirimkan Ray pada Nadine. Duniaku serasa runtuh jika Nadine kembali membahas semua ini, perasaanku kini campur aduk tak menentu. Aku membanting pintu kamar dan mondar-mandir karena gelisah, apa jadinya jika kali ini Nadine marah besar dan meninggalkanku untuk yang kedua kalinya.
Kubuka ponselku dan segera kuhubungi Ivan. Sambungan teleponku tak kunjung diangkat, kemana lelaki itu, batinku.
Ivan Calling
“ Halo bro, sori barusan lagi parkir. Ada apa?”, tanyanya.
“ Ivan, tolongin gue sekarang. I’m dead bro”.
“ Apaan sih, panik banget”.
“ Nadine was upset to me, she’s got terror Van”.
“ Si Ray neror Nadine dengan ceritain tentang Naya. Nadine marah besar sekarang”,
“ Naya itu siapa?”.
“ Naya itu selingkuhan gue yang dilabrak Nadine. Gue udah jujur tentang perempuan itu, tapi Nadine ga tau kalo Naya pernah gugurin kandungannya”.
“ Gila lo! Ya pantes aja Nadine marah, lo hamilin anak orang”.
“ Naya juga bukan cewe baek-baek Van, gue juga ga tau itu anak gue atau bukan. Dia cuma bilang kalau dia hamil, lalu gue cerita deh sama si Ray waktu itu”.
“ Jadi yang neror Nadine pasti si Ray? Confirm nih?”, tanya Ivan.
“ Iya bro, kemarin gue hajar dia gara-gara bahas Naya. Sekarang dia balas dendam dengan cerita sama Nadine”.
“ Kapan lo ketemu? Kok gue ga tau kalau di ke Jakarta?. Tau gitu gue samperin tuh orang”, ujar Ivan dengan geram.
“ Udah lah panjang ceritanya ga usah dibahas. Tolongin gue aja, Nadine marah besar Van”, pintaku dengan memelas.
“ Duh bro, mana berani gue ngomong sama Nadine. Lo minta Rania aja sana, sesama cewek pasti bisa bantu”, jawabnya.
__ADS_1
“ Yaelah bro, mana berani gue cerita sama Rania. Bisa abis diomelin juga sama dia”, jawabku pasrah.
“ Ya lo banyakin doa aja lah, mau gimana lagi lo harus hadapin Nadine sendirian”.
Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal. Memang tidak ada yang bisa kulakukan, percuma saja meminta tolong pada Ivan atau Rania, sesungguhnya masalah ini harus kuhadapi sendirian.
“ Ya udah gue ketemu Sean dulu ya. Thank you Van”.
“ Okay bro, tell me if you need some help”, tutupnya.
Baru saja aku beranjak dari dudukku, tiba-tiba Nadine masuk ke kamarku dengan tatapan dingin. Dia berjalan ke arah lemari baju tanpa melihat diriku sedikitpun.
“ Sayang, tolong dengerin aku, pasti itu semua ulah si Ray. Kemarin dia dateng ke kantor sambil marah-marah karena dia tau kalau kita yang bantuin Rania selama ini. Dia mau balas dendam biar kita terpancing sama permainan dia”, ujarku sambil berusaha meyakinkan Nadine.
“ Kemarin kamu ketemu Ray? Dimana?”, tanya Nadine yang akhirnya membuka suara.
“ Di kantor, dia marah-marah karena kita bantuin Rania selama ini. Karena ga terima dia mancing emosiku dengan bahas lagi tentang Naya. Aku gebukin dia sampai babak belur kemarin. Maaf aku ga cerita sama kamu soal ini”.
“ Jadi Ray tau kalau selama ini kita bantuin Rania, lalu dia mau balas dendam maksudnya?”.
“ Ya bisa jadi gitu sih. Yang jelas apa yang ia ceritakan sama kamu cuma masa lalu Nad, aku udah bersumpah sama kamu, gak mau lagi kembali ke kehidupan lamaku. Kita sepakat bantu Rania sebagai bentuk keseriusan bahwa aku sudah berubah kan?”, ujarku dengan sungguh-sungguh.
“ Ok. I get it. Aku mau telepon lawyerku sekarang”, ujar Nadine sambil berlalu ke luar kamar.
“ No, hunny please don’t! Jangan telepon lawyer kamu lagi dong. Jangan tinggalin aku, aku ga mau cerai lagi sama kamu”, rengekku bak anak kecil sambil menarik lengan Nadine.
“ Lepasin ah, sakit tau. Sana mandi dulu”, perintah Nadine sambil melepaskan genggamanku.
“ Ga mau mandi, please Nadine maafin aku. Jangan gugat cerai lagi, aku trauma banget. Kasian Sean, masa kamu mau cerain aku lagi”, rengekku sambil kembali menarik lengan Nadine.
“ Siapa yang mau cerai sama kamu sih? Aku mau nanyain proses sidang Rania buat besok”.
“ Kamu ga mau ninggalin aku lagi kan Nad? Janji ya?”, ujarku sambil terus berusaha memeluk tubuhnya sambil bergelayut manja.
“ Iyaaaa, enggak. Udah sana mandi dulu terus temenin Sean kerjain PR. Nanti anaknya keburu tidur tuh”, perintah Nadine.
“ Thank you Nad, I will never disappoint you this time. You can keep my words”, ujarku.
“ Aku pasti maafin kamu, karena kamu ga sejahat Ray dan aku ga sekuat Rania. Rumah tangga kita bisa terselamatkan karena kamu mau berubah. Tolong Dion, jadilah lelaki yang takut Tuhan, jadilah suami yang aku kagumi dan Ayah yang bisa menjadi panutan bagi anakmu nanti”, sahutnya sambil menggenggam tanganku.
Kupeluk tubuh istriku dengan erat, perempuan ini tak layak aku sia-siakan. Penyesalan akan selalu ada dalam hidupku karena aku telah menyakitinya begitu dalam, namun seiring waktu Nadine selalu membantu untuk mengikis rasa bersalahku. Ah, seandainya saja Ray tahu bahwa sejatinya kebahagiaan itu datang dari orang yang yang telah menemaninya dalam suka dan duka, mengarungi masa sulit berdua, dan tertawa bersama ketiga malaikat kecil mereka.
__ADS_1