Harta, Tahta, Renata

Harta, Tahta, Renata
Dua Kutub Cerita Rayendra


__ADS_3

11.30 WIB – Ruas Tol Ciawi


“ Halo Pak, gimana tadi sidang? Replik isinya sudah sesuai dengan yang saya tulis?”, tanyaku pada sambungan telepon dengan Pak David Saragih.


“ Sidang lancar Pak. Replik yang saya berikan ke majelis hakim berisikan kronologis tentang ketidakharmonisan dan ketidakpuasan Bapak selama berumah tangga . Saya tulis bahwa termohon tidak pernah mau melayani suami, enggan memasak makanan kesukaan dan tidak dekat dengan keluarga Bapak”, jawabnya.


“ Bagus, lalu Bapak sudah membantah bahwa dalam rumah tangga kami tidak ada orang ketiga kan?”.


“ Iya Pak, saya tulis bahwa perempuan yang dituduhkan termohon hanyalah rekan kerja dan tidak pernah ada hubungan spesial dengan Bapak”.


“ Lalu bagaimana dengan besaran nafkah? Saya ga mau keluarkan uang sepeserpun untuk Mut’ah dan Iddah ya Pak. Soalnya Rania sudah dapat uang hasil take over rumah”, jawabku kesal.


“ Sudah Pak. Saya rinci antara pemasukan dan pengeluaran Bapak, saya rasa majelis hakim juga akan menolak permintaan termohon”.


“ Bu Rania ini sepertinya dibantu lawyer ya Pak? Semua yang tertulis di jawabannya sangat detail soalnya”, lanjutnya lagi.


“ Iya, dia tidak sendirian. Bapak harus bisa kalahkan Rania, khususnya untuk besaran nafkah yang ia ajukan”.


“ Untuk minggu depan agendanya Duplik ya Pak, giliran termohon untuk membantah semua gugatan yang Bapak tuduhkan dalam Replik barusan. Bapak siapkan saja dokumen untuk agenda Pembuktian, jangan lupa bawa saksi untuk hadir di persidangan 2 minggu lagi”, ujarnya.


“ Saksi bisa siapa aja kan?”, tanyaku dengan cemas.


“ Diutamakan keluarga Pak, soalnya keluarga adalah orang yang terdekat agar kesaksian dianggap valid”.


“ Saya coba ibu saya deh, kebetulan saya mau ke rumahnya hari ini”.


“ Baik Pak Ray, kalau ada update nanti saya kabari. Terima kasih”, tutupnya mengakhiri pembicaraan kami.


Akhirnya ada sedikit kelegaan mendengar informasi yang disampaikan oleh Pak Saragih barusan, setelah dua hari badanku rasanya remuk gara-gara dihajar Dion di kantornya. Kurang ajar Dion, orang yang selama ini aku percaya malah menikamku dari belakang. sudah bertahun-tahun aku bekerjasama dengannya namun yang kudapat adalah pengkhianatan. Wajar saja jika aku membalas dendam dengan mengirimkan teror pada Nadine, perbuatan busuk suaminya lebih memalukan daripada perbuatanku pada Rania.


Kuinjak pedal gas mobilku lebih dalam sehingga mobilku melaju kencang ke arah gerbang tol Ciawi. Kebetulan aku harus menemui ibuku, sekalian saja aku akan meminta dirinya untuk menjadi saksi di persidangan nanti. Kulirik sebuah bingkisan yang teronggok di sebelahku, sebuah baju dan kue yang dibelikan Renata untuk Ibuku. Aku yakin Renata pasti bisa meraih hatinya, wanita yang jadi istriku kini memang luar biasa. Tidak ada kata menyerah untuk mengambil perhatian keluargaku, kegigihan dan ketulusannya pasti akan berbuah manis suatu saat.


PING


Istriku


“ Mas, udah sampai rumah Mama belum? Kepala kamu masih sakit enggak?”,


Pesan singkat dari istriku muncul di layar ponselku.

__ADS_1


“ Sebentar lagi, aku baru keluar gerbang tol nih. Lagi berhenti di lampu merah”.


“ Hati-hati ya. Nanti kalau Mama soal kepala kamu gimana?”.


“ Gampang lah, aku bilang aja kecelakaan kecil”, jawabku.


“ Ok. Salamin ya buat Mama dari aku. Love you “.


Tin Tiiiiiin


Suara klakson mobil sontak mengagetkanku saat membalas pesan Renata. Kupindahkan tuas persneling ke D dan kuinjak pedal gas sambil melaju ke arah Bogor. Aku sengaja mengunjungi Mama di hari Rabu agar tidak perlu bertemu dengan Radit atau Mas Doni. Sikap mereka yang acuh padaku masih membuatku kesal, lebih baik aku mengunjungi ibuku saat mereka semua tak ada, batinku.


12.30 WIB – Rumah Bogor


“ Assalamualaikum, Maaa….Nana….”, sapaku sambil mencari Ibu dan adikku di dalam rumah. Bingkisan dari Renata sengaja kusimpan di atas meja ruang tamu.


“ Waalaikumsalam, kamu Ray. Tumben dateng hari gini”, jawab ibuku dari saat keluar dari kamarnya.


“ Iya Ma, lagi cuti. Apakabar Ma?”, balasku sambil mencium tangan ibuku.


“ Baik Ray. Kenapa muka kamu?”, tanyanya sambil memperhatikan pelipisku kananku yang lebam.


“ Astagfirullah, hati-hati Ray”, sahutnya sambil menyentuh kepalaku pelan.


“ Ma, Ray minta maaf ya soal kejadian di hotel tempo hari. Maaf kalau buat Mama ga nyaman”, ujarku meminta maaf sambil menarik ibuku ke dalam kamarnya.


“ Mama sedang ga mau bahas itu Ray. Kepala Mama sakit kalau kamu bahas itu lagi”.


“ Ma, aku sama Rania kan sudah selesai. Aku juga berhak bahagia Ma”.


“ Terserah kamu saja Ray. Semuanya sudah terjadi, Mama bisa apalagi”, jawabnya dengan raut sendu.


“ Mama nanti tolong bantu Ray ya, jadi saksi di pengadilan “, pintaku sambil memelas padanya.


“ Saksi? Di pengadilan? Mama ga mau kalau itu Ray. Rumah tangga kamu bukan urusan Mama”, jawabnya sambil melengos.


“ Ma tolong Ray, ini semua demi anak-anak juga. Ray udah kangen sama Kila dan Kica “, jawabku.


“ Kamu kalau kangen ya temui mereka dong, urusin anak kamu sendiri. Anak kamu ada tiga loh sekarang, bukan malah ngurusin anak orang!!!”, bentaknya.

__ADS_1


“ Aku selalu transfer buat anak-anak kok, cuma aku ga bisa ketemu mereka sebelum proses sidang selesai. Kami masih berseteru di meja hijau, masa tiba-tiba ketemu gitu aja”, dalihku.


“ Ga ada urusan sama sidang, anak-anak butuh perhatian kamu Ray. Uang yang kamu transfer tiap bulan ga ada artinya buat mereka, kehadiran kamu jauh lebih berarti daripada materi”.


“ Aku coba hubungi kok,tapi Rania yang ga kooperatif. Rania pasti membatasi komunikasiku sama anak-anak. Dia punya strategi buat ambil alih anak-anak Ma, Rania harus aku tuntut kalau menjauhkan aku dari mereka”.


“ Kamu sendiri kooperatif ga sama Rania? Bagaimana komunikasi kamu dengan mantan istrimu? Kalau kamu saja belum minta maaf sama Rania, kalian cuma jadi dua kutub yang saling tolak-menolak Ray”.


“ Aku harus minta maaf buat apa sih Ma, toh semuanya udah selesai”.


PLAKKKKK


Sebuah tamparan keras mendarat di pipiku. Wajah wanita yang di depanku kini terlihat memerah karena amarah.


“ Kamu tau, gara-gara kamu Mama harus menanggung aib. Bisa-bisanya kamu kawin lagi dimana proses sidang belum selesai. Mama saja belum menyerahkan Rania pada orangtuanya, dan sekarang kamu ga mau minta maaf sama Rania. Mau ditaruh dimana muka Mama Ray? Haruskah Mama yang meminta maaf sendirian sama Rania dan ibunya?”.


“ Kamu dan istri barumu boleh membenci Rania, tapi ingat satu hal Ray. Rania adalah ibu dari anak-anakmu. Kalau kamu menyakitinya berarti kamu menyakiti anak-anakmu. Kalau kamu berencana membuat hidupnya susah, berarti kamu membuat ketiga putrimu sengsara”.


Aku terdiam dengan perkataan ibuku. Pipi kananku masih terasa panas akan tamparannya barusan. Lengkap sudah penderitaanku setelah kemarin aku babak belur.


“ Rania juga ga kooperatif Ma, dia juga punya strategi buat jatuhin Ray”, elakku.


“ Yang gugat ke pengadilan kan kamu Ray, ya wajar kalau Rania punya strategi melawan kamu, memang begitu seharusnya kan?”.


“ Tapi Rania pasti ga bakal maafin aku Ma. Aku tau sifat Rania seperti apa”.


“ Terserah dia mau memaafkan kamu atau tidak. Tapi kamu harus jantan mengakui bahwa kamu sudah selingkuh dengan Renata. Dulu kamu dengan gagahnya minta Mama minta untuk melamar Rania, sekarang Mama minta kamu dengan gagah mengembalikan Rania kembali pada ibunya”.


Kepalaku langsung berdenyut mendengar ancaman ibuku, bukannya dukungan yang kuperoleh, melainkan beban yan harus kutanggung untuk mengembalikan Rania pada ibunya.


“ Oke, nanti kita kembalikan Rania saat proses sidang selesai. Ray janji Ma, Ray akan minta maaf nanti”.


“ Minta maaf tuh jangan dinanti-nanti Ray, kamu mau sampe kapan sih nyakitin perasaan Rania dan anak-anak. Tolong Ray, umur ga ada yang tau, kalau sampai Mama dipanggil Allah duluan, Mama harus mempertanggungjawabkan semua perbuatan kamu. Mama sudah gagal mendidik kamu”, jawabnya dengan mata berlinang.


Aku tertunduk sambil mencium punggung tangan ibuku, batinku ikut sakit akan segala permasalahan yang kubuat. Lagi-lagi aku melihat ibuku menangis, tapi aku tak punya daya upaya untuk membuat keadaan menjadi lebih baik.


“ Ma, Ray janji akan bereskan semuanya. Semua akan baik-baik saja demi Mama. Ray ga mau bikin Mama nangis lagi, Ray sayang Mama. Maafin Ray Ma”, isakku sambil memeluk tubuh ibuku yang mulai menangis tersedu-sedu. Berulang kali ia menyeka matanya dengan daster miliknya, rasanya tak tega melihat orang yang kusayangi terluka.


“ Kalau kamu sayang sama Mama, tolong jangan sakiti lagi cucu Mama. Kila, Kica dan Kian adalah darah daging Mama juga, orang yang paling tepat mengurus mereka hanyalah ibu kandungnya, Ray. Mau sebenci apa kamu pada Rania, ia tetap ibu dari anak-anakmu”.

__ADS_1


Aku tertunduk enggan menjawab perkataan ibuku, karena sesungguhnya aku memang tak mau untuk meminta maaf pada Rania. Pastinya tidak akan ada kata damai yang terucap dari mulutnya, Renata juga tidak akan mengingkan kami berdamai meskipun demi anak-anak. Sudahlah, biarkan waktu yang akan menjawab kelangsungan hubunganku dengan Rania. Mungkin memang sebaiknya kami menjadi dua kutub yang saling tolak-menolak, karena sesungguhnya sejak dulu kami selalu bersebrangan hingga akhirnya rumah tangga kami berujung perpisahan.


__ADS_2