Harta, Tahta, Renata

Harta, Tahta, Renata
Kagum Cerita Rania


__ADS_3

07.30 WIB – Rumah Rania


Kuperhatikan Kian yang sedang duduk di teras rumah sembari memanggil kucing liar. Tangannya melambai-lambai pada siapa saja yang lewat, tawa renyahnya selalu membuat siapapun menoleh dan menggodanya. Usianya nyaris 10 bulan sekarang, ia sudah belajar merambat dan mulutnya tak berhenti mengoceh setiap hari.


Bip Bip Bip Bip Bip Bip Bip


Ivan Calling


“ Halo. Pagi Rania”, sapanya dengan hangat.


“ Hey. Pagi Van”, jawabku.


“ Lagi sibuk?”, tanyanya.


“ Enggak kok. Lagi merhatiin Kian di teras depan”.


“ Lagi apa dia? Udah bisa jalan ya?”, tanyanya.


“ Lagi belajar jalan, masih harus dipegang tangannya”, jawabku.


“ Kakaknya pada ngapain?”, tanyanya lagi. Belum sempat kujawab terdengar suara motor yang tiba di teras rumahku.


“ Misiiiii….mau ambil paket Bu”, ujar driver Ojol sambil melongok ke arah rumah.


“ Bentar ya Van, ada ojek mau ambil Brownies”, sahutku sambil meletakkan ponsel di atas meja. Kuraih kotak Brownies pesanan pelanggan lalu kuberikan pada driver tersebut.


“ Halo Ivan, sorry ada ojek barusan. Gimana tadi?”, tanyaku balik pada Ivan yang menunggu di sambungan teleponnya.


“ Gak apa-apa, cuma nanya hari Sabtu pada ngapain ?”, tanyanya.


“ Oh gue mau ketemu Mas Dipta”, jawabku sambil melirik ke arah jam dinding.


“ Siapa Mas Dipta?”, tanyanya.


“ Psikolog. Dia dampingin gue untuk ngobatin traumatis anak-anak”, jawabku.


“ Prakteknya di mana?”, tanyanya lagi.


“ Di Cilandak Van “, jawabku.


“ Deket rumah Tante gue dong. Lo sama siapa kesana? Naek apa?”.


“ Hari ini mau sama anak-anak. Kalau sendiri naek ojek kalau bawa anak-anak naik taksi online”.


“ Pendampingannya ngapain aja? Punya sertifikasi gak? Punya ijin praktek gak?”.


Belum sempat kujawab sederet pertanyaanya, Kica datang menghampiri sambil menarik tanganku.


“ Mamaaaa, jam berapa ke rumah Om Dipta? Katanya aku mau diajarin gambar Little Pony”, rengeknya manja.


“ Iya bentar Nak, Mama lagi terima telepon dulu. Kamu mandi dulu gih”, jawabku sambil menyuruh mereka mandi.


“ Horeeee, kita mau ke rumah Om Dipta. Kakaaaaak kita mau belajar gambar kan hari ini?”, teriak Kica pada kakaknya. Aku hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan anak-anak, lalu kembali lagi menyapa Ivan yang sedari tadi menunggu di sebrang sana.


“ Ivan sorry. Anak-anak udah heboh ngajak pergi. Gimana tadi Van? Nanya apa ya?”, tanyaku sambil mengingat-ingat pertanyaan Ivan.


“ Gak apa-apa kok. Udah kebayang lo pasti sibuk ngurus anak sambil jualan. Gue kagum sama lo Ran”, ujarnya.


“ Loooh, kagum apaan sih. Semua ibu-ibu ya begini, Nadine juga sama sibuknya ngurus Sean”, jawabku sambil salah tingkah.


“ By the way, psikolog yang tadi namanya siapa? Kalau di Cilandak sih pastinya gue sering lewat situ”, ujarnya.


“ Pradipta Erlangga. Dia pemilik Yayasan Rumah Damai, kebetulan dia suka kasih pendampingan cuma-cuma untuk kasus tertentu. Gue juga kaget pas terpilih”, jawabku.


“ Mudah-mudahan bisa buat kalian lebih baik. Kalau lo perlu sesuatu jangan sungkan minta tolong sama gue”.


“ Makasih ya udah jadi support system buat gue dan anak-anak”.


“ Sama-sama Ran. Oya tolong kirim foto Kian dong, lagi apa dia sekarang?”.


“ Lagi main sendiri sambil nyari kucing kayaknya. Nanti gue kirim fotonya ya”, jawabku.


“ Oke take care Ran. Bye”, tutupnya mengakhiri pembicaraan. Sebelum aku bergegas ke kamar mandi, kufoto Kian yang sedang duduk di teras sendirian.


Message sent.

__ADS_1



10.00 WIB – Rumah Damai


Taksi online yang kutumpangi berhenti di parkiran Rumah Damai yang asri, namun tumben hari ini suasana terlihat berbeda. Banyak anak-anak dengan beragam usia sedang main di teras rumah. Kami bertiga masuk ke dalam dan menyapa Tiwi yang sedang duduk di belakang mejanya.


“ Pagi Mbak Tiwi, tumben hari ini ramai banget”, sapaku sambil melihat ke sekeliling ruangan yang penuh dengan anak kecil.


“ Hari ini ada kunjungan dari anak-anak panti asuhan, kebetulan masih satu yayasan ”, jawabnya ramah.


“ Banyak juga ya yang dipegang Mas Dipta”, ujarku.


“ Iya Mbak. Asalnya panti asuhan dipegang almarhumah istri Pak Dipta. Sepeninggal beliau, Pak Dipta-lah yang ngurus semua sendirian”, jawabnya.


“ Istri Mas Dipta sudah meninggal?”, tanyaku kaget mendengar perkataannya.


“ Iya sudah dua tahun yang lalu. Sejak itu beliau suka kasih konseling cuma-cuma. Pak Dipta belajar untuk mengobati luka batinnya dengan membantu sesama”.


Aku terhenyak mendengar perkataan Tiwi barusan. Sungguh tak kusangka pria setenang itu telah ditinggalkan oleh mendiang istrinya. Hangat senyumnya, tenang gaya bicaranya, tak mencerminkan seseorang yang tengah bergelut dengan luka batinnya.


“ Pagi Aquilla, Pagi Keysha. Apa kabar hari ini?”, sapa Pradipta yang baru saja muncul dari kebun belakang.


“ Baik Om”, jawab mereka serempak.


“Kalian main di belakang sama teman baru ya. Tante Tiwi mau ajak kalian main games seru”, ajaknya sambil menggamit tangan anak-anak ke kebun belakang. Di sana sudah terdapat belasan anak seumur mereka yang duduk sambil malu-malu.


Aku mengikuti mereka sambil berdiri mengamati aktifitas Tiwi dan anak-anak. Mereka duduk di sebuah karpet dengan rapi, kemudian Tiwi memberikan kertas dan pensil untuk masing-masing anak. Kila dan Kica terlihat antusias dengan games yang akan mereka mainkan. Sudah lama aku tak melihat tawa mereka seperti ini.


“ Menyenangkan ya melihat tawa mereka”, ujarnya seakan bisa membaca pikiranku.


“ Iya Mas, sudah lama saya tidak melihat mereka seriang ini”.


“ Semua ini kan berkat kamu. Berterima kasihlah pada dirimu sendiri, kamulah yang bertekad untuk mengobati luka mereka”, jawabnya sambil tersenyum ke arahku.


“ Anak-anak ini dari mana ya Mas?”, tanyaku berhati-hati.


“ Mereka dari panti asuhan yang saya bina. Dulu almarhumah istri saya mengelola yayasan sebelum dia berpulang”, jawabnya tenang.


“ Innalillahi, saya turut berduka cita Mas. Maaf kalau pertanyaan saya bikin sedih”, ujarku meminta maaf.


“ Maaf, kalau boleh tau almarhumah sakit atau gimana Mas?”, tanyaku penasaran. Entah kenapa pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutku.


“ Kanker rahim. Dia baru mengetahui sakitnya 3 tahun setelah kami menikah. Saat itu ia didiagnosa sudah masuk stadium 4. Hati kami hancur, emosi istri saya labil sejak saat itu. Ia sering nangis setiap malam. Ia menganggap bahwa ia gagal membahagiakan saya, apalagi kami belum dikaruniai momongan”, tuturnya dengan wajah sendu. Ia membuka kaca matanya, matanya teduhnya seakan menahan deraian air mata.


“ Lalu Mas Dipta merawat istri sendirian?”.


“ Iya, dibantu suster di rumah. Ia sampai meminta saya untuk poligami, karena menurutnya dia tak bisa lagi memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri”.


Aku diam terpaku mendengar penuturan ceritanya. Kucoba sekuat tenaga agar tak menitikkan air mata.


“ Lalu Mas Dipta sendiri bagaimana?”.


“ Hati saya juga hancur Ran. Saya juga bingung. Setiap malam istri saya selalu bercerita kalau ia dipanggil Allah, saya harus cepat-cepat mencari pengganti. Saya berusaha menahan tangis di depannya. Dalam hati saya, bagaimana kalau seandainya malah saya yang dipanggil duluan?. Saya juga tak berniat poligami. Bagaimana bisa mendirikan surga diatas penderitaannya”, jawabnya sambil menyeka matanya.


“ 6 bulan setelah kejadian itu, akhirnya Allah mengangkat semua sakitnya. Hari ini tepat 2 tahun istri saya meninggal. Saya sengaja membawa anak panti kemari, saya ingin memberikan kebahagiaan bagi mereka, sesuai amanat mendiang istri saya”, ujarnya sambil kembali mengenakan kacamatanya.


“ Almarhumah pasti bangga sama Mas Dipta. Sudah banyak orang yang Mas Dipta tolong selama ini”, sahutku.


“ Insyaallah. Saya akan membantu sebisa saya. Karena melihat orang lain bahagia adalah kebahagiaan terbesar saya. Kamu sendiri apa kabar? Kok malah saya yang cerita dari tadi”, ujarnya sambil kembali melempar senyum hangat.


“ Baik Mas. Baik dalam artian sesungguhnya”, jawabku sambil tersenyum lebar ke arahnya.


“ Saya bisa lihat itu. Kalian bertiga lebih tenang dan tanpa beban hari ini”.


“ Semenjak rajin mengisi jurnal, hati saya lebih baik Mas. Ternyata menulis adalah media paling menyenangkan untuk mengeluarkan segala racun dalam pikiran saya”.


“ Itu yang saya lakukan Ran. Jangan berhenti menulis, saya selalu ingin membaca tulisan kamu. Saya kagum dengan perkembangan kalian, anak-anak juga tampak lebih bahagia sekarang”.


“ Papa Diptaaaa, tolong ajarin gambar pantai dong”, ujar seorang anak seumuran Kica yang memanggil Dipta dengan panggilan Papa.


“ Oh kalian mau gambar ya sekarang?. Papa ikutan gambar boleh?”,tanyanya sambil mengambil kertas di tangan anak tersebut. Pradipta memberikan kode agar aku turut bergabung di kebun.


Kami menghampiri kerumanan anak-anak, kulihat Kila dan Kica tengah ikut menggambar dengan asyiknya.


“ Teman-teman, kita kedatangan teman baru nih. Ini namanya Kakak Aquilla dan Kakak Keysha. Kakak Aquilla pintar gambar loh, mau liat gambar buatan mereka?”, sapa Pradipta pada anak-anak asuhnya.

__ADS_1


“ Mau lihat Paaaa”, jawab anak-anak panti serempak.


“ Kakak, boleh berdiri sambil memperlihatkan gambarnya?”, pinta Pradipta. Kila berdiri sambil memperlihatkan gambar padang rumput dan seekor kuda putih yang berdiri tegak.


“ Waaah, bagus sekali Kak. Ceritanya lagi dimana tuh?”, tanya Paradipta sambil menatap kagum melihat gambarnya.


“ Aku gak tau. Pokoknya di suatu tempat yang paling indah”, jawabnya.


“ Bagus Kak. Terima kasih ya. Kalau Kakak Keysha mana gambarnya?”, tanyanya pada Kica


“ Gambarku belum selesai, aku gak bisa bikin kuda yang bagus Om”, jawabnya pelan.


“ Sini Om bantu bikin ya”, jawabnya sambil menorehkan goresan pensil ke kertas milik Kica, dengan luwesnya ia menggambar seekor kuda dengan surai yang indah, Kica sampai terkagum-kagum melihatnya.


“ Terima kasih Om. Bagus banget kudanya. Boleh aku bawa pulang gak?”, pintanya kegirangan.


“ Boleh kok. Nanti diwarnai di rumah bersama Kakak ya”, jawabnya sambil mengelus rambut anakku.


Sontak saja pemandangan itu menggetarkan hatiku, perhatian Pradipta yang lembut pada anak-anak membuatku terhanyut. Kila dan Kica tampak bahagia duduk bersama Pradipta, tawa yang sama saat Rayendra masih ada di samping mereka.


“ Yaaaa, sekarang sudah jam 12 siang. Sudah saatnya teman-teman cuci tangan, lalu ambil kotak makan yang ada di dalam ya. Kita semua akan siap-siap makan siang”, ajak Tiwi sambil menggiring anak-anak ke wastafel.


“ Mas, sudah jam 12 siang nih. Saya gak bisa lama-lama, kasian Kian saya tinggal di rumah”, ujarku sambil pamit pada Pradipta.


“ Yah, makan dulu Ran. Kasian anak-anak belum makan”, sahutnya mencegahku pulang.


“ Terima kasih Mas, lain kali saja. Takut Kian nangis nyariin saya “, pamitku.


“ Baiklah kalau gitu. Sampai jumpa lagi Kakak dan Keysha, nanti teruskan belajar gambarnya ya”.


“ Iya Om “, jawab mereka berdua.


“ Rania, pesan saya hanya satu. Tolong peluk ketiga anakmu setiap hari. Yang mereka butuhkan saat ini hanya itu”.


“ Baik Mas. Insyaallah saya akan peluk mereka setiap hari dan setiap waktu”.


Aku melemparkan senyum pada sosok pria yang menatapku dengan tatapan hangatnya. Tak lupa kupesan taksi online di ponselku, hanya hitungan detik kami mendapatkan mobil dengan segera.


“ Selamat Siang, dengan Ibu Rania ya”, sapa driver tersebut.


“ Siang Pak. Sesuai aplikasi ya alamatnya”, ujarku sambil menggeser badanku. Pelan-pelan mobil yang kami tumpangi melaju memasuki gerbang tol.


“ Mama, tadi seru banget mainnya”, ujar Kica.


“ Iya, aku seneng deh kalau main di rumah Om Dipta. Nanti kita main di sana lagi kan Mam?”, tanya Kica.


“ Tunggu Om Dipta undang ya, kan kita datang kalau dipanggil saja”, jawabku sambil mengelus kepala mereka.


“ Om Dipta baik ya Ma, gambarnya juga bagus banget”, ujar Kica sambil mengamati gambar kuda yang dibuat Pradipta. Mata Kica sudah mulai sayu, kepalanya juga sudah terkulai lemas karena mengantuk.


“ Anaknya ngantuk ya Bu, mau saya matikan radionya?”, tanya sang driver yang mengamati anakku di spion tengahnya.


“ Gak usah Pak. Gak apa-apa kok “, jawabku.


Kutatap anak-anakku yang kini sudah memejamkan matanya, mereka pasti mengantuk karena kelelahan. Gambar yang dibuat Pradipta masih digenggam dengan erat, hatiku hangat melihat senyuman kedua putriku hari ini. Sayup-sayup kudengar lagu yang diputar di radio mobil. Aku mulai memejamkan mata sambil menikmati lagu yang dilantukan dengan indahnya.


Ku terpikat pada tuturmu


Aku tersihir jiwamu


Terkagum pada pandangmu


Caramu melihat dunia


Kuharap kau tahu bahwa ku terinspirasi hatimu


Ku tak harus memilikimu


Tapi bolehkah ku selalu didekatmu



Jatuh Hati - Raisa


__ADS_1



__ADS_2