Harta, Tahta, Renata

Harta, Tahta, Renata
Menutup Lembaran Lama Cerita Rayendra


__ADS_3

Kamu adalah bukti


Dari cantiknya paras dan hati


Kau jadi harmoni saat kubernyanyi


Tentang terang dan gelapnya hidup ini


Kaulah bentuk terindah


Dari baiknya Tuhan padaku


Waktu tak mengusaikan cantikmu


Kau wanita terhebat bagiku


Tolong kamu camkan itu


Virgoun – Bukti


Aku melajukan mobilku dengan kecepatan 140 di jalan tol Jagorawi. Langit masih nampak gelap dan sepi, semakin kuinjak pedal gas mobilku sambil merasakan tiap tetesan air mata dari mataku. Masih kuingat setiap ucapanku pada Rania, aku tau semua kata-kataku telah menyakiti hatinya. Aku tak kuasa melihat tangisnya, aku bisa lihat segala penderitaannya. Wanita yang telah memberikanku tiga malaikat kecil ini harus aku tinggalkan. Wanita yang lugu, yang selama ini senantiasa sabar menghadapiku,serta ikhlas atas segala ujian hidupku. Rania, seorang malaikat yang Tuhan beri untuk menjaga anak-anakku.


Aku tak bisa terus menjalin hubungan ini bersamanya. Aku tak bisa membohonginya lebih lama lagi. Hatiku telah tertambat oleh Renata, meskipun aku berusaha melawan bayang-bayang Renata dari pikiranku. Percuma saja aku masih terikat dengan Rania jika Renata telah memiliki separuh hidupku. Rania tak pantas untukku.


Kuambil ponsel yang tergeletak di samping persneling mobilku. Kuraih dan kuhubungi Dion, ia adalah rekan kerja sekaligus teman curhatku.


“ Halo Yon, gue lagi meluncur ke Bogor. Lo berangkat jam berapa? “, tanyaku pada Dion.


“ Halo bro, gue bentar lagi jalan. Tumben lo udah jalan, anak lo ga nyariin apa?”, ujar Dion di sebrang sana dengan suara parau. Ia pasti baru bangun tidur.


“ Gue uda putusin Yon. Gue udah tinggalin semua “, ujarku dengan suara lemah.


“ Apa? Ninggalin sapa?”, teriak Dion yang sepertinya terperanjat mendengar ucapanku.


“ Gue udah ceraikan Rania “ jawabku singkat.

__ADS_1


“ Gila lo Ray, ga salah denger gue? Lo ceraian Rania? Bukannya lo udah mutusin ninggalin Renata?. Elo gila ini sih, Rania baru lahiran bro!!! “, cecarnya sambil memaki khas Dion.


“ Udah lah bro tar ceritanya, gue udah mau sampe nih. Gue tunggu di proyek “, sahutku sambil menutup teleponku.


Matahari mulai menampakkan dirinya di jalan tol Ciawi. 20 menit lagi aku akan tiba di sebuah lahan milik Om Yan, beliau adalah om nya Dion. Ia memiliki lahan kosong dan meminta kami untuk membuat skema bisnis dari aset yang ia miliki. Aku dan Dion menawarkan lahan tersebut menjadi tempat wisata, selain karena tempatnya sangat strategis, aku sudah banyak belajar tentang bisnis properti dari Pak Hardian. Penawaran proposalku ini pasti akan disetujui oleh Om Yan.


Bip bip bip bip bip bip


Rania Calling


“ Halo Papaaaaaa, makasih mainan little pony sama walkie talkie nyaaaa “, jerit Kica dan Kila dari sebrang sana.


“ Sama-sama sayang, kalian suka kan “, jawabku sambil menahan tangis haru mendengar suara mereka.


“ Suka sekali Pap. Kamu ko udah pergi lagi? Nanti pulang hari Sabtu kan “, tanya Kica dengan polosnya.


“ Belum tau nak, Papa banyak kerjaan banget nih. Kila sama Kica kalo kangen papa telpon atau video call aja ya. Papa sayang sama kalian. I love you all “, jawabku sambil menahan isak yang menyesakkan dada. Air mataku yang menggenang di pelupuk mata sudah menetes di pipiku.


“ Oke Pap, hati-hati ya. I love you too, Pap “.


Hatiku sakit menerima kenyataan harus meninggalkan anak-anak kesayanganku. Mereka pengobat lelahku selama ini. aku tau mereka sangat merindukanku selama beberapa bulan kebelakang, akupun sangat merindukan saat-saat kami bersama. Kurindukan celoteh dari bibir mereka, jerit tangis hingga canda-tawa bahagia. Entah ayah macam apa aku ini, tapi aku yakin ini adalah yang terbaik bagi mereka.


Ciawi – Bogor


“ Oke Ray, Om setuju dengan penawaran kamu mendirikan wisata selfie disini. Tapi Om cuma menyediakan lahan, Om harap ada investor yang mau chip in untuk membiayai seluruh proyek ini. Soal saham ga masalah, kalian mau dapet mayoritas juga gak apa-apa “, sahut Om Yan di sebuah restoran sunda di Ciawi.


“ Siap Om, nanti saya coba cari investor lain yang mau join. Saya juga kan kerja sama Pak Hardian yang udah biasa main property, saya pikir dia mau invest untuk menambah lagi unit property disini “ jawabku optimis.


“ Oke lah kalo begitu. Om mau duluan ya, mau latihan golf dulu. Udah lama ga golf badan sakit semua “ ujarnya sambil terkekeh sambil meminum es jeruk di hadapannya.


“ Udah tua ya begitu bawaannya Om, badan sakit semua “, ledek Dion pada om kesayanganya itu.


Om Yan menjitak kepala Dion sambil tersenyum. Setelah ia membayar semua tagihan di meja kami, Om Yan pergi bersama supir pribadinya.


“ Ray, serius lo udah cerain Rania ?”,tanya Dion begitu Om Yan meninggalkan kami. Tampaknya ia tak sabar mendengar ceritaku sedari tadi.

__ADS_1


“ Iya “ jawabku singkat sambil menyuapkan ayam bakar ke mulutku.


“ Kenapa harus cerai? Lo ga kepikiran poligami atau gimana gitu? “, tanya Dion yang nyaris membuatku tersedak.


“ Kepikiran sih, tapi ga sanggup gue nya. Renata juga pasti gak mau, apalagi Rania “, jawabku sambil buru-buru menghirup teh hangat di mejaku.


“ Gue aja badung nih Ray, kalo cerai sih enggak deh. Memangnya sebesar apa sih kelebihan Renata sampe lo harus ninggalin Rania yang pengorbanannya udah jauh lebih besar? Salah bini lo apa sih ”, cecarnya lagi.


“ Gak ada salah apa-apa, cuma emang udah ga bisa lama-lama sembunyiin semua ini dari Rania aja”, jawabku padanya.


“ Iya tau, lo gak mau bikin Rania terluka kan?, klo gak mau bikin bini lo terluka, ya elo harus tobat “, cecar Dion dengan nada galak.


“ Kalo gue udah ga cinta mau diapain lagi?, masa harus terus pura-pura cinta?”, balasku pada Dion yang sedang menggaruk-garuk kepala botaknya yang tak gatal.


“ Whatever bro, tetep aja lo itu ga waras“, maki Dion yang sudah biasa kudengar dari mulutnya.


Kuambil rokok dari saku celanaku, kusulut sebatang dan kuhirupnya. Dion menatapku dengan tajam sambil tersenyum sinis.


“ What?, lo ngerokok sekarang?, dari kapan?”, tanyanya heran sambil setengah meledek.


“ Sejak ketemu Renata, puas lo?”, jawabku sengit padanya.


Sejak aku kenal Renata hidupku berubah. Aku berubah menjadi lebih percaya diri dan tak pernah plin-plan lagi. Tidak ada Ray yang ragu untuk mengambil keputusan, aku juga mulai merokok untuk mengobati segala penatku, dan agar bisa dengan luwes bergaul dengan klien-klienku.


Dion mengambil sebatang rokok milikku, dia ikut menyulutnya dan mengepulkan asapnya ke udara.


“ Elo ngerokok kaya banci gitu Ray “, ejek Dion saat melihat gayaku yang masih kaku saat menghirup rokokku. Aku memang bukan perokok, menghirup asap rokok saja aku batuk-batuk. Aku dibesarkan dalam keluarga yang tidak merokok, bahkan Mas Doni saja sering diomeli ibuku jika merokok di rumah.


“ Udah deh Yon, pokonya sekarang gue harus fokus sama masa depan. Kita lagi pegang proyek besar. Keputusan gue ninggalin masa lalu gue pasti yang terbaik. Gue cuma mau dapet pasangan yang satu frekuensi sama gue, dan bikin performa kerja gue jadi meningkat “, sahutku optimis sambil menghirup sisa rokokku.


“ Whatever bro, gue udah gak mau ikut-ikutan sama masalah pribadi lo. Gue udah kasih saran se-waras mungkin. Kalo performa lo ga jadi lebih baik, gue potong leher lo “, ancam Dion seraya bersiap-siap untuk pergi.


“ Lo duluan deh Yon, gue mau disini dulu istirahat sebentar, trus lanjut ke Bandung”, ujarku pada Dion agar segera pulang. Sudah lelah kupingku dimaki-maki pria botak ini.


“ Iya gue duluan, cape gue ngomel-ngomel mulu sama lo. Berasa lagi ngomong sama orang mabok tau gak “, sahutnya sambil berlalu.

__ADS_1


Aku hanya tersenyum melihat Dion yang berlalu meninggalkanku. Lelaki itu memang tak suka basa-basi, tegas dan gaya bicaranya sarkastis. Sudah 7 tahun aku bekerja dengannya, meskipun menyebalkan tapi aslinya Dion sangat baik dan peduli pada keluargaku. Dion punya pesona yang dapat memikat para ABG hingga tante-tante. Aku dan Dion sering mengunjungi tempat spa erotis hanya untuk iseng-iseng. Namun meskipun begitu, ia adalah ayah yang sangat peduli dengan anak lelaki semata wayangnya. Itulah yang membuat aku cocok dengan Dion.


Kubuka ponselku yang sedari tadi aku silent. Dalam pikiranku aku hanya ingin menghubungi satu nama, RENATA RAHARDJO.


__ADS_2