Harta, Tahta, Renata

Harta, Tahta, Renata
Siapkah Kau Jatuh Cinta Cerita Author


__ADS_3

3 bulan kemudian…


10.00 WIB – Rumah Damai


“ Pagi Rania, apa kabarmu hari ini?”, sapa Pradipta dengan senyum khasnya.


“ Pagi Mas Dipta, saya merasa jauh lebih baik”, ujar Rania membalas senyumannya. Matanya selalu berbinar melihat sosok pria bermata teduh itu.


“ Alhamdulillah. Bagaimana kondisi anak-anak?”, tanyanya.


“ Sudah beberapa minggu mereka bisa tertawa lagi Mas. Alhamdulillah banyak sahabat yang sayang sama mereka”.


“ Syukurlah. Rania, hari ini adalah hari terakhir pendampingan. Saya baca dari setiap jurnal harian kamu, banyak sekali perubahan. Kamu sudah bersahabat dengan masa lalu, dan tak lagi cemas akan masa depan”.


“ Saya seperti berada di posisi Mas Dipta sekarang. Kini saya belajar untuk mengobati rasa kehilangan. Sama-sama belajar berdamai dengan kesepian”.


Pradipta melepaskan kacamatanya, tatapan mereka berdua saling beradu. Ada suatu kesamaan cerita diantara mereka berdua, sama-sama kehilangan yang meninggalkan bekas luka.


“ Kamu akan baik-baik saja Ran. Oya kamu mau minum apa? Teh atau kopi?”, tawarnya sembari beranjak ke pojok ruangan.


“ Kopi boleh Mas”, ujar Rania.


Pradipta menoleh seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.


“ Kamu yakin Ran, gak kangen sama rasa teh manis lagi?”.


“ Secangkir teh manis hanya cerita masa lalu, tidak ada salahnya untuk mencoba suatu yang baru”, jawab Rania.


Pradipta menghampiri Rania sembari memberikan secangkir kopi panas yang baru saja ia racik. Rania menerimanya lalu mencicipinya perlahan. Ini adalah kali pertama ia meminum kopi, terasa getir di lidah, aromanya menusuk hidung membuat perutnya sedikit mual. Namun lama-lama ia mulai terbiasa dengan rasa kopi yang meninggalkan bekas pahit di lidahnya.


“ Kopi itu seperti hidup Ran, awalnya memang pahit bahkan bikin perut mual. Tapi lama-lama kita akan terbiasa, semakin pahit semakin candu kita dibuatnya”.


“ Hahaha hidup saya udah pahit Mas, gak perlu kopi juga udah bikin mual”, ujar Rania terbahak sambil kembali menghirup kopinya.


“ Tapi pahitnya hidup membuatmu kuat, saya bangga melihat kamu Rania”.


“ Saya masih belum pulih seutuhnya Mas. Masih trauma dengan perselingkuhan yang Ray lakukan pada saya”.


“ Jangan dilawan perasaan takut itu. Beri ruang dan jeda pada perasaanmu, biarkan ia menguap dengan sendirinya. Suatu saat nanti, hati kamu akan menemukan cinta yang baru”,


Senyuman pria itu kembali membuat Rania tersipu. Semua yang dilontarkan dari mulut Pradipta seakan memiliki magis untuk menumbuhkan rasa percaya dirinya.


“ Kamu harus belajar jatuh cinta lagi Ran”.


Rania langsung terbelalak mendengar anjuran Pradipta, kepalanya menggeleng keras.


“ Belajar jatuh cinta pada dirimu sendiri, berterima kasih pada wanita tangguh yang kau lihat di cermin. Jika kamu sudah bisa mencintai diri sendiri, maka kamu bisa mencintai orang lain”.


“ Terima kasih Mas. Semua saran Mas Dipta selalu saya ingat. Boleh saya konsul lagi kapan-kapan?”.


“ Kapan saja Rania. Jangan sungkan hubungi saya, ajak anak-anak main kemari juga boleh”, jawab Pradipta.


“ Baik Mas, saya gak bisa lama-lama. Terima kasih sekali lagi”, ujar Rania sambil meletakkan cangkir dan beranjak dari duduknya”.


“ Rania “.


“ Iya Mas”.


“ Titip peluk saya untuk anak-anak ya”.


Rania tersenyum lalu mengangguk. Dalam hatinya ia bersyukur ada banyak orang yang menyayangi anak-anaknya. Rania keluar dari ruangan Pradipta seraya berpamitan dengan Tiwi, wanita muda itu memeluk Rania sambil memberikan dukungan. Langkah kakinya menyusuri rumah asri yang penuh dengan kenangan, rumah damai yang senantiasa memberikan pemulihan dan kekuatan.


Kakinya berhenti di depan mobil sedan sport berwarna merah yang sedari tadi menunggunya di parkiran. Seorang pria tampak tersenyum sambil menyapa dari balik kemudinya.


“ Gimana konselingnya? Udah beres?”, tanya Ivan


“ Udah, barusan cuma pamitan kok sama Mas Dipta dan Mbak Tiwi”, jawab Rania sambil menutup pintu mobil tersebut.


“ Merasa lebih baik Ran?”, tanyanya sembari menghidupkan mesin mobilnya dan melaju ke jalan raya.


“Alhamdulillah. Harus dilatih untuk terus bersyukur Van. Oya anak-anak gimana?”, tanya Rania sambil melirik lelaki di sebelahnya.


“ Lagi maen sama Dion dan Nadine. Semoga aman lah ya, lo tau sendiri Dion paling pusing ngurusin anak kecil”, jawabnya sambil tertawa kecil. Mobil Ivan melaju menyusuri Jalan T.B Simatupang.


“ Makasih ya udah jemput. Kan gue bilang gak usah, tinggal naik ojek aja sih Van”, sahutnya.


“ Gak apa-apa kok, udah siang kasian anak-anak kalo kelamaan”, jawabnya.


11.30 WIB – Starbucks Cilandak Town Square


“ Heh Van, lo sengaja kabur ya ninggalin gue sama Nadine megang 4 anak begini”, semprot Dion pada Ivan yang datang sambil cengengesan.


“ Maaf Yon, anak gue bikin rusuh ya”, ujar Rania sambil mengambil Kian yang tertidur dari gendongan Nadine.

__ADS_1


“ Anak lo sih ga rusuh, tapi anak gue tuh biangnya”, tunjuk Nadine pada Sean yang tengah berlarian mengejar Kila dan Kica.


“ Hahaha. Hey anak-anak, pada mau ice cream ga?”, sapa Ivan pada mereka.


“ I want ice cream ”, jerit Sean.


“ Mauuuuu”, jerit Kila dan Kica mengikuti Ivan sambil berjingkrak-jingkrak.


Rania memperhatikan anak-anaknya yang sudah akrab satu sama lain, tidak terlihat lagi gurat kesedihan di wajah mereka. Hari ini sudah 3 bulan kepergian Ray, sudah saatnya mereka bangkit dari kesedihan.


“ Ivan hebat ya, bujang yang gak bisa megang bayi sekarang jago momong anak”, celetuk Nadine yang turut memperhatikan sahabatnya itu.


“ Jiwa kebapakannya udah tumbuh, semenjak kenal Kian”, balas Dion.


“ Ran, Ivan sayang sama anak-anak lo”, ujar Nadine sambil menatap Rania yang kebingungan.


“ Gue harus jujur sama lo Ran. Inget gak waktu lo pindah rumah? Nadine kasih makanan seabreg buat lo?. Semua itu Ivan yang kirim. Asalnya dia nekat mau datang buat bantuin, tapi gue larang soalnya status lo masih istri orang”, ungkap Dion.


“ Lo inget waktu ulang tahun? Gue bikinin cupcake buat lo?. Itu juga Ivan yang bayarin. Eh dasar orang gila, dia malah kasih kado boneka kucing buat Kian”, ujar Nadine sambil tertawa.


“ Waktu gugatan Ray gugur di pengadilan, Ivan udah nyaris sewa pengacara buat gugat balik Rayendra. Baru wacana sih, eh taunya dapet kabar Ray kecelakaan”, tutur Nadine.


“ Yang terakhir waktu Kian masuk RS, dialah yang bayarin semua. Maaf ya, jangan dilihat dari sisi materi, cuma ini bentuk perhatian yang bisa Ivan kasih. Seharusnya gue gak boleh ngomong juga sih”, ujar Dion.


Rania tertegun mendengar ucapan mereka berdua, tak menyangka begitu besar perhatian yang Ivan beri selama ini. Tak bisa dipungkiri Ivan memang lelaki baik, terlebih lagi ia adalah anak dari dosen idamannya.


“ Mommy, I want buy Lego. Can we go around to the kids store”, rengek Sean saat mereka kembali.


“ Minta Daddy lah kalau Lego. Kila sama Kica kita beli Lego juga yuk”, ajak Nadine dan Sean meninggalkan Rania dan Ivan berdua di coffeshop tersebut.


Ivan duduk di kursinya sembari menghirup kopi yang telah dingin, ia tak sadar ada sepasang mata yang memperhatikan dirinya seraya tersenyum.


“ Makasih ya Van”, ucap Rania.


“ Hah? Makasih apa?”, sahut Ivan.


“ Atas semua perhatiannya selama ini”.


“ Oh itu….”, jawab Ivan sambil tersipu. Dalam hatinya ia mengutuk Dion yang pasti sudah membocorkan rahasianya selama ini”.


“Maaf ya Ran, jangan salah sangka. Cuma itu yang bisa aku kasih buat kamu”


Rania hanya membalas ucapannya dengan senyuman, tiba-tiba perutnya mulas seperti ada kupu-kupu yang berterbangan. Pikirannya melayang-layang seakan ikut bersenandung lagu yang diputar di café tersebut.


Kini kau tak lagi dengannya


Dalam benakku timbul tanya


“ Ran, kamu gak marah kan?”, tanya Ivan perlahan.


Masihkah ada dia di hatimu bertahta?


Atau ini saat bagiku untuk singgah di hatimu?


Namun siapkah kau 'tuk jatuh cinta lagi?


“ Enggak kok, aku hargai semua perhatian kamu”, jawab Rania sambil memainkan jemarinya.


Meski bibir ini tak berkata


Bukan berarti 'ku tak merasa


Ada yang berbeda di antara kita


“ Aku sayang sama anak-anak Ran. Maaf kalau aku lancang ”, ujar Ivan sembari memutar-mutar cangkir kopinya.


**


Dan tak mungkin 'ku melewatkanmu hanya karena


Diriku tak mampu untuk bicara


Bahwa aku inginkan kau ada di hidupku


**


“ Gak apa-apa, aku seneng kalau mereka banyak yang sayang”, jawab Rania.


Kini 'ku tak lagi dengannya


Sudah tak ada lagi rasa


Antara aku dengan dia

__ADS_1


Siapkah kau bertahta di hatiku adinda?


Karena ini saat yang tepat untuk singgah di hatiku


Namun siapkah kau 'tuk jatuh cinta lagi?


“ Rania, siapkah kamu tuk jatuh cinta ?”, tanya Ivan memberanikan diri.


Pertanyaan Ivan membuat Rania bungkam. Mulutnya terkatup tanpa suara. Wajahnya tertunduk seolah mencari jawaban yang tepat, hatinya ingin berucap tapi suaranya tak bisa keluar sedikitpun saat ini.


Pikirlah saja dulu


Hingga tiada ragu


Agar mulus jalanku


Melangkah menuju ke hatimu


**


Pikirlah saja dulu


Hingga tiada ragu


Agar mulus jalanku


Melangkah menuju ke hatimu


**


“ Akan ada saat dimana hati ini akan terbuka, kalau memang waktunya tiba, hati ini siap menerima kehadirannya”, jawab Rania sambil menatap Ivan dengan lekat.


Bila kau jatuh cinta katakanlah jangan buat sia-sia


Bila kau jatuh cinta katakanlah jangan buat sia-sia


Bila kau jatuh cinta katakanlah jangan buat sia-sia


Siapkah kau 'tuk jatuh cinta lagi?


**


Siapkah Kau tuk Jatuh Cinta Lagi - HIVI


“ Semoga waktu itu akan tiba. Asal kamu tahu sudah ada yang menunggu pintu itu terbuka “, ujar Ivan dengan bersungguh-sungguh.


Dua insan manusia itu saling tertawa, mereka saling terhanyut dengan romansa yang datang sebelum waktunya. Rania masih belajar untuk membuka diri, ia harus belajar mencintai dirinya sendiri. Ivan juga masih belajar, bagaimana caranya menghadapi mahligai rumah tangga yang penuh duri. Meskipun dirinya sudah lama memendam rasa, baru kali ini ia berani untuk mengungkapkan pada pujaan hatinya.


******


14.00 WIB - Rumah Damai


“ Mas, mau dipajang di mana gambar Kila?’, tanya Tiwi yang datang sembari membawa gambar Kila yang dibingkai rapi.


“ Pajang di ruangan ini Wi. Biar saya bisa lihat tiap hari”, jawabnya sambil mengambil gambar tersebut.


“ Mas, Mbak Rania itu mirip sama almarhumah Mbak Tyas. Gaya bicara sampai gerak-geriknya”, sahut Tiwi.


Pradipta hanya tersenyum sambil mengamati gambar kuda yang berlari di padang rumput tersebut.


“ Aku suka loh sama Mbak Rania, udah saatnya Mas Dipta mencari pengganti Mbak Tyas”, sahutnya.


“ Rania belum siap jatuh cinta, nanti saja kalau tiba waktunya”, jawab Pradipta pelan.


“ Mas, kamu tuh kakakku satu-satunya. Tiwi kepengen liat Mas bahagia. Kalo memang suka ungkapkan saja, nanti keduluan orang lain loh”.


Pradipta hanya terdiam memikirkan ucapan adiknya. Sudah dua tahun ia menutup hati pada wanita, tak pernah terbersit sedikitpun untuk mencari pendamping lagi. Namun sejak bertemu Rania semua terasa berbeda, gairah hidupnya kembali menyala. Apakah ini yang namanya cinta?.


The End


Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.


Terima kasih banyak kepada kalian yang selama ini setia mengikuti Harta Tanta Renata. Terharu banget dengan apresiasinya 🙏🏻.


Apakah ada season berikutnya? Thor belum tau sih 😁.


Kalau kalian penasaran kelanjutannya, silakan colek di grup atau comment. Thor juga pengen tau sebesar apa antusias kalian dengan ceritanya.


Mohon maaf apabila ada salah kata yang tersirat/tersurat, sampai jumpa lagi pada karya selanjutnya ❤️


XOXO


Author

__ADS_1


__ADS_2