Harta, Tahta, Renata

Harta, Tahta, Renata
Keributan Cerita Renata


__ADS_3

11.00 WIB – Apartemen Renata


“ APA? GUGATAN DITOLAK???”, jerit Ray saat menerima panggilan dari Pak Saragih siang ini.


“ Kok bisa putusannya ditolak? Saya kan sudah bayar Bapak”, jeritnya sambil mondar-mandir di balkon apartemen.


Aku menguping Ray yang sedang berbicara dengan Pak Saragih, kaget bukan kepalang mendengar berita yang lawyer itu sampaikan. Sia-sia saja Ray menyewa pengacara, gugatan malah ditolak begitu saja. Itu artinya Rania dan Ray masih sah menjadi suami-istri secara negara. Aku berusaha mendinginkan kepalaku agar tidak terpancing emosi. Saat ini aku harus membuat siasat agar tidak terseret dengan masalah yang Ray hadapi.


BRAKKK


Terdengar suara benda dibanting dengan kerasnya, ternyata Ray melempar ponselnya ke atas meja. Wajahnya merah padam karena amarah, garis mulutnya menegang dan tangannya terkepal.


“ Banding aja Mas, suruh Pak Saragih untuk ngurus besok”, jawabku sambil memberikan secangkir teh untuknya.


“ Gak bisa. Aku udah gak bisa bayar pengacara. Banding juga perlu biaya”.


“ Kamu kan masih banyak proyek Mas, masa buat banding aja gak bisa sih?”.


“ Kebutuhanku masih banyak Ren, untuk bayar apartemen kita aja aku udah sulit. Kamu masih nekat aja sewa di sini”.


“ Loh, sewa apartemen aku yang bayar loh. Suka-suka aku dong kalau gitu”, jawabku sengit.


“ Dapat duit dari siapa? Semenjak kita keluar dari RENTZ kita udah gak dapet gaji sama sekali”.


Nafasku memburu saat Ray mulai menuduhku menerima uang dari seseorang, kurasa ia telah mengira aku berselingkuh.


“ Kamu ngira aku selingkuh?”.


“ Jawab dulu pertanyaan aku. Darimana kamu dapat uang untuk biaya kebutuhan kita?”.


“ Aku cari kerjaan. Bukannya berterima kasih malah nuduh macem-macem”.


“ Kamu harusnya minta ijin sama aku Ren, aku ini suami kamu. Mau pergi kemana, kerja di mana, ketemu siapa, semuanya harus seijin aku mulai detik ini!”.


“ Hey, aku ini wanita mandiri Mas. Aku paling gak suka kalau diatur-atur. Kalau kamu gak suka dengan gayaku, silakan kembali sama istri kamu, toh gugatannya ditolak kan”.


BRAKKKKK


Ray menggebrak meja hingga retak. Cangkir teh yang kusajikan pecah berkeping-keping. Tangannya terkepal dan napasnya memburu sambil menatap tajam ke arahku.


“ Mau kamu apa sekarang? Sekarang aku udah susah Ren, uangku di rekening sudah nyaris kosong. Apa kamu masih mau terima aku sebagai suami kamu?”, tanyanya sambil menatap mataku.


Aku terdiam tak bisa berkata-kata. Kejadian ini bukan yang pertama kali kualami, mantan suamiku sebelumnya juga pernah mengatakan hal yang sama sebelum aku tinggalkan mereka. Lalu kini semua terulang lagi, dadaku kini rasanya sesak. Salah apa aku harus kembali berurusan dengan lelaki seperti ini.


“ Tanya sama diri kamu sendiri. Kalau kamu serius sama aku, benahi dulu hidupmu”, jawabku sambil membuka lemari baju. Kuambil koper dan kumasukkan beberapa helai pakaian ke dalamnya.


“ Mau kemana kamu?”.


“ Mau ke rumah Ibu”.


“ Gak bisa. Selesaikan dulu masalah kita sampai tuntas, baru kamu bisa keluar”.


“ Masalah kamu Mas, bukan kita. Masalah sama Rania saja belum selesai, aku sudah cukup sabar selama ini. Makin hari bukannya kebahagiaan yang kita dapat, malah masalah datang bertubi-tubi” jeritku menahan tangis.


“ Tapi kan bukan salahku Ren, kamu tau itu kan. Semua ini gara-gara Rania, Dion, dan semua orang di belakang mereka. Aku juga korban Ren”, elaknya.


“ Terserah lah Mas. Aku gak peduli lagi. Aku sudah muak dengan pertikaian kalian”, jawabku sambil menggeret koper, tak lupa kumasukan ponsel ke dalam tasku.


“ Jangan cari aku, aku mau menenangkan diri”, ujarku sambil berlalu meninggalkan Ray dengan semua amarahnya.


Kubuka ponsel sambil mengetik sebuah pesan pada seseorang. Begitu pesan terkirim segera saja aku memesan taksi online, begitu kakiku tiba di lobby apartemen, taksi tersebut sudah menunggu di parkiran.


“ Siang Bu, ke Hotel Sahid ya”, sapa driver tersebut.


“ Iya Pak”.


Selama perjalanan kepalaku terasa berdenyut, leherku tegang karena berseteru dengan Ray. Sudah beberapa hari ia berubah. Ia hanya sibuk dengan laptopnya, bahkan aku tak boleh melihat proyek yang ia kerjakan. Raut wajahnya selalu acuh dan terus mencecarku dengan hal sepele. Egonya mulai naik seolah-olah ingin mendominasi, ia mulai mengatur kemana dan dengan siapa aku pergi. Padahal dulu ia selalu mengalah dan menuruti semua yang kumau, kali ini ia seperti mencari-cari masalah denganku.


13.30 WIB – Hotel Sahid


“ Baru tiba Ren ?”, sapa lelaki bermata elang yang baru saja tiba di lobby hotel ini.

__ADS_1


“ Baru aja “, jawabku.


“ Aku booked kamar dulu ya “, jawabnya sambil berjalan ke arah resepsionis.


Lelaki itu berbicara dengan resepsionis untuk mengurus kamar. Tak lama ia membawa sebuah cardlock dan memberikannya padaku.


“ President suite no 207 , is that okay ?”, tanyanya.


Mataku berbinar-binar mendengar kamar yang akan aku tempati. Segera saja kuambil kartu tersebut dari tangannya. Seorang Room Boy membawakan koperku sambil mengarahkan untuk mengikutinya. Lelaki bermata elang itu hanya memperhatikanku, ia mengangguk dan membiarkanku masuk ke kamar sendirian.


Sambil menunggu lift yang akan membawaku ke kamar, aku mengetikkan pesan padanya.


“ Thank you”


Message Sent


I.D


“ You’re welcome Ren. Enjoy “.


“ Kamu yakin gak mau temenin aku ngobrol?”.


Message Sent


I.D


“ Not today, not here”.


I.D


“ Nanti malam mungkin? The door is always open for you”.


Message Sent


I.D


“ Hmmm…let me think about that ”.


“ Silakan Bu, kamarnya sudah siap”, sapa Room Boy tersebut dengan ramah.


“ Terima kasih Mas”, jawabku sambil memasuki ruangan kamar president suite yang sangat besar dan mewah. Sebuah ranjang berukuran King Size, ruang kerja dan sofa besar di dalamnya.


“ Ada lagi yang bisa saya bantu Ibu Renata?”, tanyanya.


“ Cukup Mas. Eh Mas, siapa namanya? Tunggu sebentar”, panggilku sambil merogoh dompet di dalam tas.


“ Erik Bu. Ada yang bisa saya bantu?”,


“ Ini tip nya, terima kasih”. Jawabku sambil memberikan uang lima puluh ribuan.


“ Terima kasih banyak Ibu Renata. Selamat beristirahat”, pamitnya sambil beranjak meninggalkanku.


Ahhh….kulempar badanku pada kasur besar yang super nyaman ini. Tercium harum parfum linen dari sprei yang kutiduri, semuanya begitu nyaman. Kulirik di nakas samping kasur sudah terdapat keranjang berisikan buah dan sepiring cocktail cake menerbitkan air liurku. Semua ini terasa sempurna, seharusnya kemewahan ini kunikmati sejak dulu.


02.30 WIB


Ping


Ping


Ping


Ping


Terdengar pesan masuk bertubi-tubi ke ponselku, kucoba meraih untuk mematikan namun badanku tengah dipeluk erat oleh lelaki ini. Perawakanya yang tinggi besar serta wangi parfumnya selalu menggoda sejak pertama kali bertemu. Dengan perlahan kuangkat tangannya, kucoba menggeser badanku agar bisa meraih ponsel di atas meja.


“ Kenapa Ren, kok bangun?”.


“ Udah tidur lagi aja. Aku lupa matiin ponsel”, jawabku sambil mengelus pipinya.


“ Jam berapa ini “, tanyanya sambil terbangun dari tidurnya.

__ADS_1


“ Jam 2 kayaknya”, jawabku sambil melihat layar ponselku.


“ I need to go Ren”, jawabnya terkejut sambil berdiri mengenakan pakaiannya.


“ Nanti aja sih, masa kamu pergi jam segini?”, sergahku sambil melingkarkan selimut pada tubuhku yang tak mengenakan baju sehelaipun.


“ I can’t do this Ren. Aku harus pulang”, jawabnya sambil mengancingkan kemeja hitamnya.


“ Aku butuh temen ngobrol, please jangan pulang dulu dong”, rengekku.


“ Ren, kamu yakin? Aku rasa ini akan jadi masalah baru”.


“ Sudah cukup banyak masalahku, aku pusing sekarang”, jawabku lirih.


“ Renata, kamu harus hadapi semua ini. Just follow your heart says”, ujarnya sambil mengecup keningku. Tangannya yang kekar mengelus pipiku dengan lembut.


“ Take some rest Renata, I’ll see you later”, ujarnya sambil melangkahkan kakinya ke pintu kamar.


Bip


Bip


Bip


Bip


Rayendra Calling


“ Halo Ren, kamu dimana sih?”, tanyanya dengan berang begitu ponselku kuangkat.


“ Apa sih, aku bilang lagi pengen sendiri. Please jangan ganggu aku dulu Mas”.


“ Pulang sekarang, besok pagi kita harus ke rumah Bogor”, perintahnya.


“ Gak mau lah, ini udah malem. Udah deh Mas, tolong urusi masalahmu sendiri. Jangan bawa-bawa aku lagi”.


“ Kamu harus ikut ke Bogor. Penting Ren!!!”.


“ Kok jadi main kasar sih, aku bilang aku mau sendiri. Jangan paksa aku lah”, jawabku sengit.


“ Kita mau ke rumah Mama. Kamu mau nurut sama aku apa enggak?”.


“ Please Mas, aku capek sama semua ini. Kepalaku nyaris pecah. Kamu tau aku ini udah mati-matian bangun RENTZ, dengan sabar aku tunggu urusan kamu dengan Rania selesai, tapi apa yang aku dapet Mas?”.


“ Ibu udah nanya dari kemarin soal status pernikahan kita. Dia gak sudi kalau aku hanya jadi istri siri kamu, sekarang proses cerai kamu ditolak hakim. Aku harus nunggu berapa lama lagi?”.


“ Sabar dong Ren, semua ini bukan mauku. Kalau kamu memang cinta sama aku, kita harus bersabar Ren”, ujarnya dengan nada lebih melunak.


“ Maaf Mas, aku gak bisa ke rumah Bogor. Aku belum siap ketemu adik-adik kamu. Please aku ingin sendiri dulu”.


“ Oke kalau itu memang mau kamu. Aku pergi sendiri Ren, jaga diri kamu ”.


Air mataku menetes, terbersit rasa kasihan padanya. Aku memang mencintai Rayendra, tapi semua masalah yang ia punya membuatku sengsara. Aku hanya ingat Daffa, betapa ia butuh sosok ayah yang menyanginya. Semua itu ada pada Ray, ia sosok pria yang mencintai anak-anaknya.


Kubenamkan kepalaku ke bawah selimut, bayangan akan Ray sejak pertama aku bertemu dengannya melayang-layang di pikiranku. Segala perhatiannya, kelembutannya, tingkah kocaknya selalu membuatku nyaman di sisinya. Itulah yang membuatku ingin selalu bersamanya. Entah apa yang membuatku yakin begitu aku menerima lamarannya, meskipun ada sekian pria yang berusaha mengambil hatiku dengan sejuta pesonanya. Hanya Ray yang kupilih, tapi aku mulai ragu saat ini, apakah ia memang untukku?.


.


.


.


4 episodes terakhir ❤️


.


.


.


Iya Thor tau kalian kesel sama Renata kan? Simak terus ceritanya, ditunggu likes, vote & comment-nya ☺️🙏🏻

__ADS_1


__ADS_2