Harta, Tahta, Renata

Harta, Tahta, Renata
Rabu Kelabu Cerita Rania


__ADS_3

05.00 WIB – Stasiun Sudimara


Langit terlihat masih gelap saat aku berdiri di sebuah stasiun commuter line. Tampak beberapa orang berdiri mematung sambil bermain ponselnya. Aku kembali memandang sebuah papan petunjuk keberangkatan yang terdapat di atasku. Masih 20 menit lagi, gumamku. Jurusan yang akan kutuju adalah stasiun Daru, sebuah stasiun kecil yang letaknya 7 KM dari Pengadilan Agama Tigaraksa. Hari ini adalah Rabu kelabu bagiku, hari dimana aku menjalani proses perceraian dengan Rayendra.


Langit sudah mengeluarkan semburat jingga, pertanda matahari mulai muncul di ufuk timur. Stasiun itu semakin dipenuhi orang-orang yang hendak bekerja mengais rejeki dengan rela berdesak-desakan di dalam commuter line. Bagi mereka hal ini adalah pemandangan biasa, namun ini kali pertama bagiku. Aku bukan seorang wanita karir, waktuku habis di rumah bersama anak-anakku. Berdiri sepagi ini di sebuah stasiun merupakan hal baru bagiku.


“ Perhatian! Akan segera masuk di jalur 2 commuter line ke arah stasiun Maja “


Aku tersentak dari lamunan begitu mengetahui keretaku akan tiba. seorang ibu paruh baya yang sedari tadi berdiri disampingku langsung bersiap-siap berdiri di belakang garis kuning. Aku mengikuti apa yang ia lakukan, sambil kembali memastikan bahwa aku tidak berdiri di peron yang salah. Dari kejauhan sebuah gerbong kereta melaju mendekati kami, desing mesin kereta berdecit memekakkan telinga. Para penumpang berdiri di belakang garis kuning dan bersiap menunggu pintu kereta itu terbuka.


Aku beringsut memasuki sebuah gerbong yang tak begitu ramai sambil mencari bangku kosong. Seorang pria muda menepuk pundakku, ia berdiri dari duduknya untuk memberikan kursinya.


“ Terima kasih Mas “, senyumku.


Aku memperhatikan orang-orang di gerbong kereta yang kunaiki. Para menumpang yang berada di gerbong ini bukanlah pekerja kantoran dengan setelan rapi. Rata-rata mereka adalah pedagang atau pekerja kasar yang naik dari arah Jakarta menuju kediaman mereka di sekitar Parung Panjang – Maja.


Jam tanganku menujukkan waktu pukul 06.00 pagi. Kereta melaju perlahan melintasi area perkebunan dan perkampungan yang sederhana. Mataku tak berhenti memperhatikan pemandangan di luar jendela, hingga kereta yang kunaiki melintas diantara tebing yang di bawahnya terhampar persawahan yang memukau mata.


“ Sebentar lagi kereta Anda akan tiba di Stasiun Daru. Penumpang yang hendak turun, mohon periksa kembali barang bawaan Anda “


Suara pemberitahuan tersebut membuyarkan lamunanku. Aku segera berdiri ke arah pintu terdekat sambil berpegangan pada tiang kereta sembari menunggu pintu terbuka. Beberapa wanita paruh baya turut mengantri di belakangku sambil memikul keranjang belanja yang berisi sayuran segar. Sepertinya ibu ini adalah penjual, batinku.


Ketika kereta berhenti dan pintu terbuka, aku langsung keluar bersama ibu penjual sayur tersebut. Kulangkahkan kaki keluar stasiun tersebut sambil menyisir pandangan mencari ojeg pangkalan, namun sayangnya tidak kutemukan.


“ Neng ojeg Neng, mau kemana? Pengadilan Agama? “


Sebuah motor berhenti di sampingku, tampak seorang pria yang mengenakan helm full face menawarkan diri.


“ Iya Pak, ke Pengadilan berapa ya “, tanyaku ragu-ragu.


“ 50 ribu Neng “, ujarnya.


“ 30 ribu ya pak “, tawarku.


“ Ya udah ayo naik Neng “, ujarnya.


Aku menaiki motor tersebut sambil berkomat-kamit membaca dzikir. Ini pertama kali aku pergi ke tempat se-asing ini. Rasa waspadaku meningkat, pegangan tanganku pada jok motor kian erat.


“ Mau kerja di pengadilan Neng “, tanya ojeg tersebut.


“ Saya mau sidang Pak “, jawabku singkat.


“ Oh Neng mau sidang. Sidang yang keberapa Neng ?”, tanyanya lagi.


Aku diam tak ingin menjawab pertanyaannya, kurasa hal ini sangat pribadi bagiku.


“ Saya sering anter yang mau sidang cerai Neng, kasian saya mah liatnya “, ujarnya kembali.


“ Iya Pak “, jawabku bingung tak tahu harus menjawab apa.


“ Semoga di lancarkan ya Neng sidangnya. Hubungan sama mantan tetep dijaga aja biarpun kesel, apalagi kalo punya anak “, sahutnya lagi.


“ Iya pak Inshaallah “, jawabku dengan canggung.


Kami menyusuri jalan perkampungan selama kurang lebih 30 menit. Akhirnya kami tiba juga di sebuah gedung yang terletak di komplek PEMDA. Aku segera turun dan memberikan uang pas 30 ribuan pada ojeg tersebut. Kulangkahkan kaki menuju gedung tersebut, suasana masih tampak sepi, hanya terdapat beberapa petugas yang tengah hilir mudik. Tampak sebuah meja resepsionis dan sebuah mesin cetak nomor antrian besar di sebelahnya. Aku mendatangi meja tersebut sambil bertanya pada petugas yang sedang duduk mencatat.


“ Permisi pak, saya mau ambil antrian sidang “, ujarku memanggil petugas bertubuh tambun tersebut.


“ Bawa surat panggilannya Bu? Boleh saya liat?”, ujarnya.


“ Bawa Pak, ini suratnya “, jawabku sambil memberikan amplop coklat berisikan gugatan Ray padaku.

__ADS_1


“ Ibu Rania Chairunnisa selaku Termohon melawan Rayendra Saputra selaku Pemohon. Iya betul agenda nya hari ini, silakan pencet ruang sidang 1 di mesin itu Bu “, perintah pertugas tersebut.


Aku memencet layar mesin cetak tersebut, keluarlah kertas dengan antrian no 4. Lumayan lah angka kecil, batinku. Aku mengucapkan terima kasih sambil duduk di sofa ruangan tunggu. Mataku berkeliling melihat keadaan sekitar. Di hadapanku terdapat 3 ruangan bertuliskan Ruangan Sidang. Ruangan sidang 1 terlihat paling besar diantara ruangan sidang lainnya. Mataku terus menyisir pandangan pada papan pengumuman di hadapanku, tertera tabel grafik jumlah angka perceraian setiap bulannya. Kubaca satu persatu setiap kasus perceraian, ternyata kasus cerai talak alias cerai karena suami menggugat berbanding tipis dengan cerai gugat. Mataku tertuju lagi pada kasus sidang poligami, ternyata permintaan sidang poligami pada bulan ini saja tercatat 320 orang yang mengajukan. Aku menggelengkan kepala melihat kenyataan yang terjadi di pengadilan ini, kasus yang pastinya menyayat hati. Pernikahan yang sejatinya dijaga sampai mati harus menemui ajalnya di meja hijau.


PING


Dita : Ran, jadi ke pengadilan hari ini kan?.


Fika : Oh iya, Rania sidang ya hari ini?.


Rania : Iya, ini udah sampe lagi nunggu sidang dimulai jam 8.


Dita : Bismillah ya Ran, banyakin doa mudah-mudahan dilancarin semuanya.


Fika : Aamiin.


Tasya : Raniaaaa…semangat!!!


Nayla : Ya ampun baru inget si Rania sidang. Kok gue yang deg-degan ya.


Rania : Iya makasih ya doanya.


Jemariku sibuk mengetik di ponsel, lalu seorang pria dengan kemeja batik mondar-mandir mencuri perhatianku. Mataku tertuju padanya, seorang pria sekitar 50 tahunan bertubuh tinggi besar terlihat menenteng tas nya. Dia sedang berbicara dengan petugas resepsionis sambil berkacak pinggang.


Aku mengalihkan pandanganku kembali pada ponsel yang kugenggam. Bercengkrama dengan sahabatku bisa meredakan ketegangan yang sedari tadi kualami. Pria berbaju batik itu menghempaskan badannya di sebelahku sambil sibuk mengetik di layar ponselnya. Aku menggeser dudukku hingga ke pojok sofa, berusaha menghindari dirinya.


Mita : Si Ray dateng ga Ran?.


Rania : Enggak, kan dia pake lawyer kan.


Dita : Jadi dia gak tau lo dateng ya Ran?.


Rania : Iya sih harusnya.


Fika : Lawyernya udah dateng Ran?.


Rania : Mana gue tau, ketemu aja belom.


Tasya : Kalo udah selesei sidang kabarin ya Ran.


Rania : Ok. Tinggal setengah jam lagi sih harusnya. Hari ini katanya mediasi, jadi harusnya bentar aja.


Mita : Mediasi tuh ngapain aja Ran?


Rania : Harusnya diakurin yah, biar ga jadi cerai kan


Tasya : Nah kan harusnya juga gitu. Kalo si laki ga dateng masa mediasi sama lawyernya.


Rania : Ya itulah, tapi gak tau deh. Ini gue tegang banget tau.


Mita : Sabar ya Ran. Ada untungnya si Ray ga dateng. Kalo ada kebayang lo pasti pengen nabok tuh manusia.


Rania : Iya bener, ada bagusnya deh ga ketemu.


“ Panggilan kepada No Perkara 3873 TGRS dengan Pemohon Andi Chairul melawan Termohon Yanti Rahmawati segera masuk ke ruang sidang 1 “


Suara pengumuman menggema di seisi ruang tunggu. Aku kembali melihat no urut yang kupegang, tinggal 3 orang lagi maka aku akan masuk ke ruang sidang tersebut. Kulihat orang-orang keluar masuk ruangan tersebut dan kurasa setelah ini adalah giliranku.


“ Panggilan kepada No Perkara 2026 TGRS dengan Pemohon Rayendra Saputra melawan Termohon Rania Chairunnisa segera masuk ke ruangan sidang 1.


Aku segera beranjak dari sofa tersebut dan berjalan memasuki ruangan sidang yang dimaksud. Mataku menyapu ke seluruh isi sudut ruangan, nampak ruangan yang sangat besar dengan deretan bangku kosong di tengahnya. Nampak sepasang kursi kayu dengan senderan tinggi penuh ukiran, terletak di paling depan dengan posisi berdampingan.

__ADS_1


“ Ibu Rania Chairunnisa selaku termohon ya?”, tanya seorang panitera.


“ Iya, Saya Rania istri dari Rayendra Saputra “, jawabku.


“ Silakan duduk Bu “, ujar panitera tersebut.


Aku langsung duduk di kursi kayu tersebut sambil memperhatikan para majelis hakim di depanku. Di samping panitera tersebut duduk seorang hakim anggota yang merupakan wanita setengah baya, lalu seorang pria yang merupakan hakim ketua dan paling kanan adalah seorang hakim anggota pria yang usianya tak begitu jauh dengan mereka bertiga. Mereka semua sibuk mencatat dan memeriksa berkas-berkas di meja sidang. Lalu terdengar pintu ruang sidang dibuka, pasti ia adalah pengacara Rayendra. Kulirik orang tersebut dan alangkah kagetnya ternyata pria berbaju batik bertubuh tinggi besar yang duduk di sebelahku tadi adalah pengacaranya.


“ Anda Rayendra Saputra “, tanya hakim anggota tersebut.


“ Saya David Saragih Pak, kuasa hukum dari Rayendra Saputra. Kebetulan Pak Ray sedang berhalangan jadi dikuasakan sepenuhnya oleh saya “, jawabnya dengan lantang.


“ Kemana Pak Ray? Harusnya hari ini mediasi kan? “, tanya hakim ketua.


“ Katanya dinas Pak, saya sudah mendapat surat kuasa istimewa untuk mewakilkan Pak Ray hingga selesai “, ujarnya lagi.


Aku menatap pengacara yang duduk di sebelahku, kuperhatikan dirinya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Aku tau ia berbohong, Rayendra tidak sedang dinas, aku tahu itu.


“ Kalau begitu silakan kalian ke ruangan mediasi dulu ya, nanti setelah mediasi baru kita mulai sidang “, ujar hakim ketua tersebut.


“ Saya keberatan Pak Hakim, saya mau bertemu langsung dengan Rayendra Saputra, saya mau mediasi dengan beliau “ ,ujarku menyela pembicaraan.


“ Kalau begitu coba didiskusikan dengan pengacaranya, sidang tidak bisa dimulai tanpa mediasi terlebih dahulu “, jawab hakim ketua.


“ Sebetulnya sudah ada hasil mediasi nya sih Pak, Pak Ray sudah sepakat untuk berpisah ini ada ……”


“ Maaf Pak, kapan saya sepakat pisah dengan Ray? Saya datang ke sini untuk menghormati pengadilan dan saya mau mediasi langsung dengan dia, bukan dengan Anda. Memangnya Anda suami saya?”.


Majelis hakim terdiam melihatku mengomel di ruang sidang. Pengacara tersebut terlihat kebingungan sambil terus memegang dokumen yang ada di tangannya.


“ Kalau begitu Ibu dan Pak David berbicara di ruang mediasi saja ya sekarang, biar tidak ada kesalahpahaman. Sidang ditunda minggu depan, maka sidang hari ini resmi saya tutup. Tok Tok Tok


Aku berjalan ke luar ruangan sidang. Pengacara itu setengah berlari mengejarku, dia membujukku untuk masuk ke ruangan mediasi.


“ Bu Rania, kita bicara sebentar di ruangan mediasi ya “, ujarnya mendesak.


Aku hanya membalas ucapannya dengan tatapan sinis, namun akhirnya kuikuti dia ke ruangan mediasi yang dimaksud. Sebuah ruangan di pojok gedung yang pintunya tengah terbuka. Pak David mengetuk pintu dan meminta masuk kepada mediator yang duduk di mejanya.


“ Permisi Pak, kami mau mediasi ya “,


ujar Pak David.


“ Oh silakan duduk “, jawabnya ramah.


“ Saya kuasa hukum termohon Rayendra Saputra. Berikut surat kuasanya yang ditulis Pak Ray, hasil nya sudah ia tandatangani Pak “, ujarnya.


“ Pak, saya maunya mediasi dengan Ray, dan saya belum membuat kesepakatan apa-apa dengan suami saya “ , ujarku sengit.


“ Oalah…kalau begitu suaminya suruh datang Pak “, jawab mediator tersebut.


“ Beliau berhalangan Pak, saya sudah memegang surat kuasa istimewa “, jawabnya tak mau kalah.


“ Kalau begitu mediasi ditunda minggu depan saja ya, ibu nya juga tidak mau kalau dikuasakan. Minggu depan saja nanti kemari lagi, suruh pemohon untuk hadir “, jawabnya sambil mengembalikan dokumen Rayendra.


Aku tersenyum puas dengan jawaban mediator barusan. Langsung saja aku pamit dan beranjak ke luar ruangan. Hari ini memang tidak ada agenda apa-apa, tapi aku puas telah hadir dan menjegal strategi Rayendra. Kuambil ponselku dan mengorder ojeg online untuk kembali ke stasiun Daru. Tiba-tiba sebuah notifikasi email muncul di layar yang isinya berbunyi;


From : Rayendrasaputra@gmail.com


Kamu ngapain datang ke pengadilan? Bukannya kita udah sepakat?


Pengacaraku sampai kaget kamu dateng? Harusnya persidangan selesai hanya dalam waktu dua bulan, gara-gara kamu sidang ini bisa berlangsung panjang. Siap-siap saja kamu mendengar gugatan yang dibacakan pengacaraku minggu depan!!!

__ADS_1


Aku membaca pesan yang dikirim oleh lelaki yang menikahiku selama 8 tahun ini, bahkan minggu depan seharusnya merupakan hari jadi kami. Sebuah ancaman ia lontarkan tidak akan membuatku goyah. Hati ini sudah terlanjur hancur karena perbuatannya. Tidak ada lagi Rania yang bisa ia perdaya lagi, segala cara akan aku lakukan untuk melawan seorang Rayendra Saputra.


__ADS_2