Harta, Tahta, Renata

Harta, Tahta, Renata
Pengkhianatan Cerita Rayendra


__ADS_3

Ping


Ping


Ping


Sial, pesan dari siapa itu masuk sepagi ini. Mataku masih berat karena kelelahan sepulang dari Java trip kemarin malam. Kuindahkan notifikasi ponselku yang berbunyi, kubalik badan sambil memeluk wanita yang ada di sampingku. Renata masih tertidur dengan pulas dibalik selimut yang membalut tubuh kami.


Bip Bip Bip Bip Bip Bip


Bip Bip Bip Bip Bip Bip


“ Mas hp mu bunyi tuh, angkat dong berisik “, ujar Renata dengan suara parau.


Arrrgggh, siapa pula yang menghubungiku sepagi ini. Kucoba bangun dari tidurku dan beranjak mengambil ponselku yang masih terselip di ranselku. Kurogoh dengan susah payah hingga akhirnya kudapati di sela-sela baju kotor.


Dion calling


“Halo Ray, kemana aja sih lo kemaren?”, bentak Dion dengan suara khas nya.


“ Gue abis dines luar kota “ jawabku singkat.


“ Gila lo seminggu ga baca WA, ga bales email, kerjaan lo mana Ray?”, cecar Dion.


“ Sibuk gue gak sempet kerjain “, jawabku dengan malas.


“ Oke kalo gitu berarti kita sepakat ya. Gue lagi OTW ke Bandung dan mau ambil buku tabungan & ATM perusahaan yang lo pegang. Project kemaren gue take over sama temen gue “, jawabnya dengan nada tinggi.


“ Wait, ga bisa gitu lah bro. Gue udah bayar programmer, ga bisa lo ambil seenaknya gitu dong “, timpalku tak kalah sengit.


“ Lo ga becus kerja gimana mau kelar urusan kita?. Invoice kudu segera cair nih Ray. Kalo enggak dibayar anak gue ga bisa makan “, cerca Dion.


“ Sabar, tar ketemu jam 14.00 di Starbucks Dipati Ukur “, ujarku sambil menutup panggilan telepon kami.


Mendengar suaranya membuat emosiku memuncak kali ini. pasti ialah yang memberitahu Rania soal hubunganku dengan Renata. Tak kusangka sahabat sekaligus partner kerjaku mengkhianatiku dari belakang. Misiku kini adalah segera masuk ke dalam project Om Yan dengan uang perusahaan, menyelesaikan project yang masih berjalan agar uang tersebut bisa segera kulunasi. Setelah itu aku akan melepaskan diri dan tidak terlibat pekerjaan lagi dengannya.


“ Siapa Mas?, ko bengong sih “, tanya Renata dari balik selimutnya.


“ Dion, dia mau ketemu nanti siang di kantor “, jawabku sambil kembali menjatuhkan badanku ke kasur.


“ Mau bahas project yang Bogor ya mas?. Aku ikut deh biar bisa sekalian ngobrol-ngobrol “, ujarnya antusias sambil memeluk badanku.


“ Enggak Ren, cuma bahas project yang kemarin. Kamu istirahat aja disini, biar aku yang ketemu Dion. Lagian kamu pasti cape abis nge-trip “, jawabku sambil membelai kepala Renata yang menjatuhkan kepalanya di dadaku.


“ Jadi aku gak boleh ikutan nih? Tanyanya sambil menggelitik perutku.

__ADS_1


“ Enggak, kamu disini aja. Dion itu brengsek orangnya, nanti kalo dia naksir kamu gimana “, godaku sambil balas menggelitik pinggangnya.


Kami saling tertawa dan tenggelam dalam romansa cinta yang semakin menggelora. Akhirnya aku melamarnya saat di Bromo, dan ia bersedia menjadi istriku. Setelah urusanku dengan Rania selesai, aku akan menikahinya sesegera mungkin.


13.45 WIB – Starbucks Dipati Ukur


Aku memperhatikan pasangan muda-mudi yang keluar masuk ke kedai kopi ini sejak tadi sambil menyeruput frappucino chocolate di gelasku. Frappucino ini adalah kesukaanku dan Rania. Kami bukan penikmat kopi karena memiliki riwayat penyakit maag. Setiap aku meeting di Jakarta, aku seringkali menyogok Rania dengan segelas Frappe dan Quiche Starbucks yang jadi kesukaannya. Andai saja aku bisa meminum kopi, minuman ini tentunya tak akan kupilih. Pikiranku kembali menerawang saat-saat masih bersama Rania, rasa sedih bercampur pilu kembali bergumul di dadaku.


Di depan mejaku terlihat dua anak perempuan berumur 15 – 17 tahunan. Mereka nampak mirip, mungkin kakak beradik. Anak yang lebih tinggi sedang menyeruput Frappe dan bermain dengan ponselnya, sedangkan anak yang lebih muda sedang sibuk menatap layar laptop dihadapannya. Mereka berdua tampak akrab, sesekali mereka saling menengok kearah gadgetnya sambil cekikikan. Mereka mengingatkanku akan Kila dan Kica, jika mereka besar mungkin akan seperti gadis-gadis dihadapanku. Aku sangat rindu dengan kedua putriku, namun aku tak mungkin menghubungi mereka lewat nomor Rania. Aku sudah mem-blok nomor ponsel Rania dan seluruh akun sosial medianya untuk menjaga perasaan Renata. Terkadang aku stalking Instagram Rania melalui second account yang kubuat, rinduku bukannya terobati malah menyisakan sesak saat melihat postingan Rania bersama anak-anak.


Kualihkan pandangan ke layar laptopku yang berisikan codingan yang harus kupecahkan rumusnya. Aku sudah bertahun-tahun menjadi seorang programmer, namun baru kali ini hampir menyerah dengan codingan aplikasi yang sedang kubuat.


BRUK


Sebuah kunci mobil dilemparkan begitu saja ke mejaku oleh sesosok pria pelontos bertubuh jangkung itu. Anak ABG di depanku sibuk berbisik-bisik sambil memperhatikan wajah tampan Dion yang datang sambil menenteng laptop dan kopinya.


“ Tumben lo ke Bandung bro “,tanyaku padanya.


“ Abis ketemuan sama temen gue “, jawabnya pendek.


Aku hanya mengangguk-angguk tak merespon ucapannya. Dion menyulut rokok dan membuka laptopnya. Kurasa dalam hitungan menit ia akan mengeluarkan kata-kata saktinya untuk mencecarku. Anak ABG perempuan itu seharusnya pergi tak mendengar umpatan kasar khas Dion.


“ Gue udah putusin untuk take over project ini sama temen gue, lo gak usah kerjain lagi bro “, tutur Dion sambil mengepulkan asap rokok ke udara.


“ Ok, gue kerjain yang belum selesai aja “, jawabku pasrah.


“ Sekarang kita berhitung aja bro, laporan keuangan yang kemarin mana?”, tanyanya kemudian. Wajahku langsung panas, telapak tanganku seketika menjadi dingin dan berkeringat.


“ Ada nih, lagi gue itung-itung ulang”, jawabku cepat.


“ Oh ya bro, si Rania udah tau soal gue dan Renata “, lanjutku sambil mengalihkan pembicaraan. Dion memicingkan matanya sambil menghirup kopinya dengan santai.


“ Lo ngaku gitu sama dia?”, jawabnya kaget sambil mengetik di layar laptopnya.


“ Bukan gue, kayanya ada pengkhianat yang lapor sama dia “, jawabku singkat sambil menatap matanya.


Dion menghentikan ketikannya sambil membalas tatapanku. Seketika saja dia tertawa terbahak-bahak.


“ Hahahahha, makanya lo jangan kebanyakan curhat sama banyak orang, apalagi soal selingkuhan. Lo cerita sama siapa aja sih bro “, jawabnya sambil terkekeh.


“ Ga kok, yang gue inget cuma curhat sama lo doang “, jawabku sinis.


“ Jadi ceritanya lo nuduh gue yang laporin kalian ke Rania?”, tanya Dion sambil menatapku balik.


“ Bro, menurut lo gue bisa ngobrol sama Rania dengan cara apa?. Punya no hp dia darimana? Alamat rumah apalagi. Sekarang gimana caranya gue hubungin dia?”, tanyanya balik.

__ADS_1


“ Ya ga ngerti lah gimana caranya, yang jelas Rania tau pasti dari seseorang kan, dan sejauh ini yang tau kan cuma lo “, cecarku padanya.


“ Emang bener lo curhat sama gue. Tapi yang tau kalo kalian selingkuh itu sekantor masbro. Lo sadar ga anak buah lo itu saksi hubungan gelap kalian. Yang namanya kantor itu dinding bisa ngomong, ga heran kalo skandal lo bisa beredar kemana aja”, jawabnya sambil kembali menghirup kopinya.


“ Gak mungkin ah kalo anak kantor “, sangkalku dengan nada meragu.


“ Lo tuh udah gue ingetin dari kapan tau Ray, jangan main-main sama rekan kerja apalagi sekantor. Karir dan harga diri lo taruhannya. Apalagi Hardian taunya lo masih berstatus suami Rania secara hukum “, ujar Dion.


Aku coba mencerna perkataanya, memang ada benarnya apa yang ia sampaikan. Darimana Dion punya nomor Rania, begitu juga sebaliknya. Anak buahku memang mengetahui hubunganku dengan Renata, tapi lebih tak masuk akal jika mereka yang membocorkan pada Rania.


“ Bro, gue mau tanya sama lo. Kriteria apa yang membuat lo suka sama cewe selain fisik?”, tanya Dion tiba-tiba.


“ Ya harus pinter lah “, jawabku cepat.


“ Ya itulah, Rania pinter kalo gitu. Gak usah heran kalo dia bisa tau semua yang lo lakuin dibelakangnya “ ledek Dion sambil tersenyum puas melihatku kebingungan.


“ Iya memang Rania pinter lah kadang-kadang. Tapi ini beda, intinya ada yang laporin ke dia “, sangkalku tak terima karena Dion terus memutar-mutar pembicaraan.


“ Bisa jadi si Rania yang cari tahu soal kalian bro. Memang dia ga punya nomor anak buah lo, tapi dia tau nomor kantor lo. Kalo mau tau siapa yang kasih tau no kantor RENTZ, gue bisikin nih. Namanya GOOGLE “.


“ Ah masa sih si Rania senekat itu bro? ”, tanyaku bimbang.


“ Ya bisa lah. Gila lo udah ninggalin perempuan baru lahiran buat tidur sama selingkuhan. Insting Rania juga jalan bro. Cewe kalo disakitin bisa nekat lebih dari cowo “, ujarnya.


“ Trus si Rania emang bilang apa sama lo?, dia neror kalian berdua gitu?”, lanjut Dion penasaran.


“ Gak ngomong apa-apa sih, cuma tag ini ke Renata “, ujarku sambil memberikan ponselku.


Dia mengambil ponselku langsung tertawa terbahak-bahak.


“ Gila ini sih, salut gue sama Rania. Analisis dia luar biasa hahaha “, ujarnya sambil tertawa-tawa.


“ Puas banget kayanya lo “, sinisku pada lelaki yang sedang dilirik oleh beberapa pengunjung karena kehebohannya barusan.


“ Iya lah, orang kepala batu kaya lo akhirnya bisa di skakmat sama bini sendiri. Gue aja yang dari kapan tau ceramahin lo mulai dari bahasa halus sampe kasar sekalipun ga mempan”, jawabnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


“ Selamat deh bro, sekarang jadi impas kan. Selamat bertarung di medan perang “, celanya sambil menatapku dengan tatapan puas.


Aku hanya bisa menghela napas, tak ada celah lagi bagiku untuk menuduh Dion. Semua kemungkinan memang bisa terjadi, Rania pasti sudah menggila untuk mencari informasi dari sana-sini.


“ Udah lah santei aja bro. Lo udah dapetin semua yang lo mau kan sekarang. Lo mau cewe yang bisa bikin performa kerja lo meningkat kan?. Sekarang gue mau tagih pembuktiannya aja”, sindir Dion sambil menyulut rokok keduanya.


“ Iya lah pasti, tenang aja. Hidup gue akan jauh lebih baik setelah ini, gue jamin “, jawabku optimis.


“ Very well, I’ve got your words “, jawabnya sambil menatapku lekat.

__ADS_1


Tatapan itu membuatku resah, jika Dion sudah memegang perkataanku, ia akan tagih sampai kapanpun. Aku harus berpikir untuk segera melepaskan diri darinya, ingin sesegera mungkin membuat perencanaan baru dengan Renata. Hanya ia satu-satunya orang yang aku percaya sekarang.


__ADS_2