Harta, Tahta, Renata

Harta, Tahta, Renata
Kekuatan Baru Cerita Rania


__ADS_3

06.30 WIB – Pasar Modern BSD


Suasana pagi di sebuah pasar modern di bilangan BSD ini masih sepi, hanya terlihat beberapa pegawai yang hilir mudik mengangkut logistik untuk dibawa masuk ke dalam toko. Parkiran kendaraan juga masih lengang, biasanya parkiran mobil ini sangat penuh hingga antriannya mengular hingga ke jalan raya.


Pasar ini bukanlah tempat yang asing bagiku. Selain karena jaraknya yang tak begitu jauh, lokasinya juga dekat dengan sekolah Kila. Dahulu aku sering mengantar Kila ke sekolah dan mampir sebentar ke pasar ini ditemani Rayendra. Kami suka menyempatkan diri untuk sarapan lontong medan kesukaan Ray.


Kulirik jam di pergelangan tanganku, masih setengah jam lagi menunggu toko di pasar ini dibuka. Aku berdiri dari dudukku, sebuah bangku di depan ATM centre tepat di pintu masuk pasar tersebut. Kurapikan tas yang teronggok di lantai, kususun kembali semua isinya dan kutenteng tas tersebut dengan sekuat tenaga menuju pasar tersebut.


Kuputuskan saja untuk berkeliling pasar sambil melihat-lihat suasana pagi di pasar ini. Kesibukan para penjual yang sedang menyiapkan dagangan mereka menyita perhatianku. Seorang ibu penjual sayur yang sedang merapikan tumpukan kentang menyapaku sambil tersenyum ramah. Begitu juga pedagang sayur di sebelahnya, tangannya melambai-lambai memintaku untuk mendekat dan melihat-lihat.


“ Come on sister, what are you looking for? “, ujar lelaki berusia 20 tahunan itu menyapaku sambil melambaikan tangannya. Ya, jangan kaget dengan ucapannya yang menggunakan Bahasa Inggris dengan aksen Sunda kental. Mereka sudah biasa menyapa pembeli hingga menghitung menggunakan Bahasa Inggris seadanya. Kadang-kadang pembeli harus teliti saat mereka menghitung, karena aku saja kadang tak paham apa yang mereka ucapkan.


Aku masih berjalan sambil menenteng sebuah tas besar di tangan kananku, menyusuri setiap kios yang mulai terbuka. Hingga akhirnya kakiku berhenti di kedai lontong medan favoritku bersama Rayendra. Deretan kursi sudah berjejer tersusun rapi dengan meja yang sudah mengilap bersih menunggu untuk disambangi pembeli. Bayangan akan sosok Ray terukir jelas di ingatanku, rasanya aku melihat sosok Ray yang sedang duduk disana sambil melahap sepiring lontong sayur dengan sate kerang kesukannya. Perutku langsung berbunyi, namun kali ini aku datang bukan menjadi seorang pengunjung kedai lagi.


Ah, kupejamkan mataku untuk mengusir semua bayangan itu. Kuseret langkahku untuk kembali menyusuri pasar agar tidak terjebak nostalgia di depan kedai lontong medan tersebut. Batinku menjerit, dulu tangan kokoh Ray sering menggandengku sambil membantu membawakan belanjaan di pasar ini. Tak lupa kami singgah di toko mainan untuk membelikan stiker dan balon untuk Kila dan Kica, mainan yang harganya tak seberapa tapi sangat disukai oleh anak-anak. Harus kuakui kalau aku memang merindukannya, kenangan akan dirinya sudah menjadi bagian dari diriku. Tak terasa toko yang kutuju sudah terbuka, beberapa pegawai sedang melayani pembeli dengan giatnya.


“ Permisi Ncik, saya mau nitip dagangan boleh ga?”, sapaku pada seorang wanita oriental berambut pirang yang sedang duduk di meja kasir.


“ Apa barangnya Bu? “, tanyanya sambil menoleh kepadaku.


“ Saya bawa Brownies Ncik. Brownies nya gluten free jadi bisa untuk dikonsumsi sama orang yang alergi”.


“ Berapa satunya? Coba liat Browniesnya Bu?”.


Aku mengeluarkan Brownies yang kubuat dengan resep yang diberikan Nadine padaku. Kujual dalam sebuah kotak mika berukuran 20 x 10 dengan beraneka topping diatasnya.


“ Satu kotaknya 65 ribu Ncik, buat Ncik saya kasih 60 ribu saja “, jawabku.


“ Waduh ga masuk Bu harganya. Saya juga jual bolu coklat seharga 50 ribuan. Kalau 45 ribu saya ambil deh 10 box “, tawarnya.


“ Maaf Bu belum bisa, ini pakai terigu yang gluten free. Aman buat yang sedang diet atau alergi”, tuturku masih berusaha merayu wanita tersebut.


“ Aduh ga masuk Bu. Lagian juga jarang orang yang nyari kue gluten free. Mereka nyari kue yang biasa aja, yang penting murah dan perut kenyang”.


“ Baik Ncik kalau gitu, makasih ya”. ujarku sambil berusaha tersenyum ramah padanya. Kumasukkan kembali Brownies tersebut dengan hati-hati ke dalam tas. Kuseret lagi kakiku menuju toko di sebelahnya.


Toko sebelahnya juga menolak daganganku dengan alasan harga terlalu mahal. Tak putus asa aku berjalan lagi mencari toko kue yang mau menerima brownies yang kubuat. Hingga akhirnya aku teringat satu toko di mana kami sering membeli kue kesukaan Kila dan Kica, langsung saja aku bergegas mendatangi toko yang letaknya persis di pintu selatan.


“ Pagi Ncik Lily, saya mau titip Brownies boleh ga?”, sapaku pada wanita oriental berusia 60 tahunan yang sedang melayani pembeli.


“ Pagi, Brownies apa Mbak. Boleh liat ga?”, tanyanya dengan ramah.

__ADS_1


“ Brownies sehat Ncik, ini terbuat dari tepung bebas gluten, jadi aman bisa dikonsumsi orang yang diet atau penderita alergi”, uajrku sambil memperlihatkan Brownies yang kubuat.


“ Ooooh ya ya saya tau. Cucu saya alergian soalnya, kalau makan kue makanya pilih-pilih. Berapa ini Mbak?”, tanyanya antusias.


“ 65 ribu Ncik, buat Ncik saya kasih 60 ribu aja “


“ Boleh deh. Tapi di toko ini barang titipan semua, kalau gak laku harus diambil siang ini atau esok paginya. Tiap hari harus ganti yang baru ya Mbak”.


Aku terdiam sambil berpikir keras memikirkan bagaimana caranya harus mondar-mandir untuk mengantar Brownies ini. Kalau laku mungkin tak masalah, tapi kalau tidak tekor jadinya.


“ Boleh deh Ncik saya coba ya, itung-itung saya promosi dulu di sini”, jawabku.


“ Browniesnya 2 kotak dulu aja Mbak, kalau laris besok pelan-pelan nambah”, ujar Ncik Lily sambil menerima Brownies yang kubuat dan ia susun diantara kue basah dagangannya. Mataku tertuju pada kue panda jadul berwarna-warni kesukaan anak-anak. Kue berbentuk Panda yang biasa aku makan saat masih kecil itu kini menjadi kue kesukaan anak-anak.


“ Ncik saya ambil 2 kue Panda nya ya, jadi berapa?”, tanyaku sambil merogoh dompet di tasku.


“ 6 ribu Mbak. Itu aja kuenya?”, jawab Ncik Lily sambil memasukkan kue tersebut ke dalam kantong plastik. Kuberikan uang pas 6 ribuan dan bergegas menuju parkiran tempat aku memesan ojek online.


7.30 WIB – Rumah Rania


“ Mama kamu kok lama banget dari pasarnya, aku kan belum bawa bekal”, jerit Kica di depan pintu saat aku baru turun dari ojek.


“ Ah ga tau, Mama bawa apa?”, pekiknya penasaran.


“ Tadaaaa, Mama bawa kue kesukaan Kakak sama Kica”, jawabku sambil mengeluarkan bolu Panda kesukaannya.


“ Asiiiiik, bolu Pandaaaa. Makasih Mama, aku bawa ke sekolah ya, nanti aku kasih liat temen-temen “, ujarnya kegirangan sambil mengelus kue yang ada di tangannya.


Aku tersenyum melihat tawa yang mengembang di mulut kecilnya. Setelah beberapa minggu setelah kami pindahan ke rumah ini mereka nampak murung.


“ Ayo kita masukin kue nya ke dalam tas, sebentar lagi Om Agus dateng jemput Kica”, ujarku sambil menyiapkan tas milik Kica yang baru saja duduk di TK besar.


Kupasangkan helm little pony berwarna kuning miliknya sambil mengancingkan jaket agar ia tak kedinginan di motor. Tak lama terdengar suara deru motor yang berhenti di depan pagar rumah kontrakanku ini. Mas Agus, ojek jemputan anak-anak sudah siap mengantar Kica untuk ke sekolah. Anak keduaku itu langsung mencium tangan dan bergegas menaiki motor Om Agus dengan riang. Sebuah bolu Panda yang kubeli cukup membuat hatinya riang untuk memulai hari di sekolah.


Kubawa masuk tas berisikan 3 kotak brownies milikku, kumasukkan semuanya ke dalam kulkas agar masih bisa kujual secara online. Setelah proses pindahan rumahku selesai, aku harus berpikir keras untuk memulai usaha agar aku bisa memiliki penghasilan tambahan. Sebelumnya aku memiliki usaha online menjual produk skin care namun kini belum cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup kami pasca ditinggalkan Ray. Ia masih mentransfer untuk biaya anak-anak meskipun jumlahnya masih jauh dari cukup untuk kebutuhan mereka. Aku sudah malas untuk berdebat kusir dengan nafkah yang ia berikan, aku bertekad untuk menjemput rejeki melalui usahaku sendiri.


“ Gimana Ran, Browniesnya bisa dijual di pasar ga?”, tanyai ibuku yang sedang menggendong Kian yang sudah tertidur sehabis dimandikan.


“ Alhamdulillah ada toko yang terima Ma, tapi Rania cuma titip 2 kotak aja. Nanti sisanya mau ditawarin sama ibu-ibu sekolah “, jawabku sambil menata brownies tersebut.


“ Nadine baik banget ya Ran, udah bantuin proses sidang, ngajarin bikin brownies, sering kasih makanan sama anak-anak”.

__ADS_1


“ Iya Ma. Nadine sama Dion itu orang baik, padahal kita ga kenal baik sebelumnya. Taunya jadi orang yang paling berjasa nolongin kita semua”.


“ Sampaikan salam Mama buat mereka ya, pasti Allah balas kebaikan mereka berlipat ganda”.


“ Aamin Ma. Doain Rania juga bisa nafkahin anak-anak dari hasil jerih payah sendiri. Buat Rania, Ray itu udah mati “. Ujarku sambil setengah kesal.


“ Ran, ga boleh doa yang buruk-buruk buat Ray. Meski bagaimanapun juga dia Bapak dari anak-anak kamu. Hati-hati dalam berdoa, saat ini doa kamu mungkin sedang didengar sama Allah”, ujarnya mengingatkan.


Aku menghela nafasku sambil mengucap istigfar dalam hati, mulut ini rasanya ingin mengutuk Rayendra tapi aku teringat ucapan ibuku. Bagaimana bisa aku mendoakan yang baik-baik padanya sementara luka yang ia torehkan saja masih membekas. Saat pindahan rumah saja ia tak datang, tidak ada kontribusi apapun untuk meringankan beban kami. Bagaimana susah payahnya aku mengangkut dan membereskan rumah hanya berdua dengan supir truk sewaan, hingga aku lupa menyiapkan makan untuk anak-anak yang menungguku di rumah lama sambil kelaparan. Beruntungnya Dion dan Nadine mengirimkan kami banyak makanan saat itu, Rayendra tidak sedikitpun memberikan perhatian pada kami semua.


Bip Bip Bip Bip Bip Bip


Nadine calling


“ Halo Ran, gimana tadi jual Browniesnya? Jadi nitip ke pasar?”, sapa Nadine di sebrang sana.


“ Jadi Nad, cuma titip 2 box aja “, jawabku.


“ Gak apa-apa lah, itung-itung promosi aja Ran. Fokus lo jualan online aja, lo udah mulai bisa Open PO tiap minggu “.


“ Iya Nad rencana gue juga gitu. Kayaknya ibu-ibu sekolah juga ada yang minat sih, sementara market gue temen-temen deket aja dulu “.


“ Sabar ya Ran, gue juga dulu gitu kok. Jangan berenti belajar biar skill lo terus terasah “.


“ Thank you Nad, untung ada lo yang ngajarin. Jangan bosen bawelin gue ya”.


“ Hahaha kalo bawel mah udah bawaan lahir. Oh Iya nanti sabtu kita ketemu lagi ya, si Ivan barusan chat Dion katanya punya berita baru buat lo, pokonya lo harus denger ”.


“ Berita apaan lagi sih, kenapa mereka jadi doyan ghibah gini ”.


“ Hahahaha, tau tuh si Ivan. Paling semangat kalo ngomongin si Ray sama Renata. Dia lagi di Bandung sekarang, besok udah balik lagi Jakarta ngurusin kerjaannya “.


“ Oke nanti ketemu hari Sabtu ya. Sebenernya gue pengen banget ajak Kila sama Kica tapi gak mungkin kan bahas Ray di depan mereka”.


“ Iya Ran, nanti aja kita playdate ya. Mudah-mudahan urusan lo sama Ray cepet selesai, gerah juga gue kalo inget-inget pengadilan”.


“ Aamiin Nad, nanti berkabar aja. Gue mau mandi trus nidurin Kian dulu ya”.


“ Oke Ran, bye “.


Kututup panggilan teleponku dengan Nadine, batinku bertanya-tanya akan informasi dari Ivan untukku. Semua informasi seputar Ray selalu mengalir tanpa harus kucari sendiri. Mungkin ini adalah campur tangan Allah untuk memudahkan segala urusanku, meringankan segala bebanku, dan memberi kekuatan bagi diriku yang tengah rapuh.

__ADS_1


__ADS_2