
10.00 WIB – Kantor Pusat Hardja Sukses Group
“ Nanda, kalau ada Ray nanti suruh langsung temui saya di ruangan ya “, ujarku melalui sambungan intercom pada asistenku.
“ Baik Pak. Bapak ada meeting ya sama Pak Ray?“, tanyanya balik.
“ Bukan meeting sih, pokoknya temuin saya aja lah “.
“ Pak Ray udah dateng sih, lagi ngobrol sama Bu Atik tuh Pak “.
“ Ya panggil *atuh, suruh langsung ke ruangan”.
“ Baik Pak, nanti saya kasih tau Pak Ray”.
“ Bukan nanti Nandaaa, sekarang juga kamu suruh dia masuk !!!”.
Aku menutup intercomku dengan kesal, asisten baru yang satu itu sebenarnya pintar tapi tingkahnya seringkali ajaib. Asisten lamaku baru saja resign gara-gara tak kuat dengan segala konflik di kantor ini, banyaknya rumor yang beredar hingga sengitnya kompetisi membuat ia tak betah lagi untuk bekerja lebih lama denganku.
Tok tok tok
“ Siang Pak Hardian, Bapak manggil saya ya “, sapa Ray dari balik pintu.
“ Iya Ray, ayo masuk. Kamu sendirian kemari?”,
“ Iya pak, saya mau ketemu bagian keuangan “, jawabnya.
“ Ray, kamu tuh ada apa sih? Akhir-akhir ini performa kamu turun drastis?”, tanyaku sambil memandangi pria yang akhir-akhir ini raut wajahnya semakin kusut.
“ Gak ada apa-apa pak, cuma cape aja kejar target “.
“ Ada masalah keluarga gak? Kamu jarang ijin ke Jakarta lagi sekarang Ray?”.
“ Saya sudah putuskan tinggal disini Pak. Saya sudah bercerai sama istri saya “.
Aku terkejut mendengar jawabannya, rasanya tak percaya dengan apa yang kudengar barusan.
“ Cerai? Gara-gara apa Ray? Bukannya kamu baru punya anak lagi?”, tanyaku.
“ Saya gak mau membohongi perasaan saya Pak, saya gak kuat sama Rania “, jawabnya.
“ Ya suami memang harus kuat-kuatan ngadepin istri Ray, mereka juga kurang sabar apa ngadepin kita “.
“ Rania gak bisa kasih apa yang saya butuhkan Pak, kami tidak cocok dalam berbagai hal”.
“ Trus Renata cocok gitu buat kamu?”.
Ray terhenyak mendengar pertanyaanku, wajahnya langsung tertunduk. Ia diam tak mengucapkan sepatah katapun.
“ Ray, saya kan sudah bilang sama kamu dari dulu. Kalau mau iseng sama Renata gak usah pake hati lah, saya juga gitu kok ke dia. Kita kan sama-sama tau Renata seperti apa, kamu malah yang ngomporin saya bawa Rena setiap kick off meeting. Taunya malah kamu sendiri yang main api “.
__ADS_1
“ Ya saya juga ga nyangka kalau ternyata kami banyak kesamaan, dia orang yang bisa kasih saya kenyamanan “.
“ Kenyamanan apa kepuasan ?”, selorohku menggoda Ray yang makin terpojok.
“ Ya dua-duanya lah Pak, semua itu yang gak saya dapat dari mantan istri saya “.
“ Ray, saya harus bilang sama kamu, kalau beban kerja kalian akan semakin berat. Saya tuh kasihan sama kamu, kamu orang yang cerdas dengan berjuta ide brilian. Tapi kamu ga fokus makin kesini. Mending sudahi saja semua ini Ray “, ujarku menasihati.
“ Saya sudah mengakhiri kok, saya putuskan untuk bercerai. Kami sedang dalam proses persidangan Pak “.
“ Sudahi hubungan kamu sama Renata Ray, bukan sama istri kamu. *Ah maneh mah teu ngarti-ngarti !”, jawabku kesal menghadapi lelaki yang satu ini.
“ Tekad saya sudah bulat Pak, saya kasian sama anak saya, suatu saat mereka harus tau kalau rumah tangga saya dan ibunya sudah tidak sehat “.
“ Yang gak sehat tuh kamu Ray, *lieur ah Ray ngadepin kamu mah “, jawabku sambil mengusap wajahku. Percuma saja memberikan wejangan pada anak satu ini, cintanya pada Renata sudah mengalahkan akal sehatnya.
“ Saya optimis kami berdua bisa membangun RENTZ bersama-sama. Dia adalah partner yang cocok di segala hal “.
“ Ya ya ya, sudahlah mungkin kalian memang berjodoh. Tapi saya ingatkan untuk berhati-hati, kamu tetap harus profesional. Jangan sampai ada rumor tentang kalian yang menjatuhkan nama baik grup”.
“ Saya jamin Pak, kami gak akan mengecewakan Bapak “, janjinya penuh keyakinan.
“ Ya sudah, kamu lanjut kerja lagi ke Dago. Saya mau monitor apartemen dulu “, jawabku mengusir Ray agar segera pergi dari hadapanku. Lelaki itu kemudian pamit dan keluar dari ruangan.
“ Nanda, masuk ke ruangan saya sekarang “, perintahku pada Nanda melalui sambungan intercom. Aku mengeluarkan secarik kertas dan menyalin sebuah nomor telepon untuk kuberikan padanya.
“ Tolong telepon orang ini, suruh ketemu sama saya di Apartemen Roseville “.
“ Maaf Pak ini nomor siapa ya?”, tanyanya sambil memegang kertas yang hanya tertulis sebuah nomor tanpa nama.
“ Udah telepon aja sekarang, bilang sama dia temui saya di Apartemen jam 16.00. suruh dia datang sendirian”.
“ Saya telepon sekarang nih Pak?”.
“ Nanti lebaran haji, ya sekarang atuh Nandaaaaa”.
“ Baik Pak saya telepon orangnya Pak “, jawabnya sambil tergopoh keluar dari pintu ruangan.
16.05 WIB – Apartemen Roseville
Sesosok wanita muda duduk di depanku dengan canggung, wajahnya tertunduk tak berani menatap mataku. Sesekali ia melirik ke arah balkon café, memperhatikan pegawai yang hilir mudik mengantarkan pesanan pada tamu.
“ Jadi kamu sudah tau kalau Ray dan Renata ada affair?”, tanyaku pada wanita tersebut.
“ Tau Pak, mereka sudah lama dekat. Mungkin awalnya cuma partner kerja yang sering keluar meeting, tapi makin lama makin akrab”.
“ Di kantor sendiri gimana? Kerja mereka beres?”.
“ Saya gak tau Pak, tidak memperhatikan pekerjaan mereka berdua soalnya “.
__ADS_1
“ Kamu tau kalo Ray masih beristri?”, tanyaku lagi.
“ Tau Pak, saya rasa perusahaan juga pada tahu status Pak Ray. Mungkin sekarang udah beredar isu kalau Pak Ray sudah gugat cerai istrinya “.
“ Bagaimana kondisi anak buah Ray? Masih aman gajinya?”.
“ Terakhir ada dua orang gak diperpanjang kontraknya, lalu ada 1 orang yang memang berencana mau resign. Tapi belum diketahui oleh Pak Ray”.
“ Ada laporan gak sama kamu tentang perkembangan RENTZ?”.
“ Banyak masalah Pak. Aplikasi sering error, banyak tenant yang belum terbiasa untuk memakai aplikasi digital, mereka sering telepon kantor untuk meminta bantuan. Kami jadi kewalahan karena sosialisasinya tidak berjalan secara maksimal”.
“ Menurut kamu aplikasi ini berguna gak untuk user?”.
“ Kalau dari kacamata saya sebagai karyawan, seharusnya membantu karena pada dasarnya ide ini bagus. Tapi dari kacamata user sih kurang praktis, karena masih lebih cepat mencari penyewaan lewat marketplace atau agen langsung”.
“ Oke terima kasih infonya. Kamu boleh pulang sekarang “.
“ Maaf Pak saya mau tanya, sebetulnya nasib RENTZ akan bagaimana kedepannya?”, tanyanya penuh cemas.
“ Kamu jangan kuatir, selama performa kamu baik saya bisa pindahkan kamu ke divisi lain “, jawabku sambil menenangkan wanita itu yang tampak risau dengan statusnya.
“ Terima kasih, saya kerja demi menafkahi keluarga. Nasib saya bergantung dari sini Pak”.
“ Iya saya paham, kamu gak usah kuatir ya. Teruskan saja lapor sama saya”.
Wanita itu segera pamit dan bergegas meninggalkanku bersama Nanda di café ini. Nanda hanya diam membisu sambil menyimak semua pembicaraan kami. Sesekali jarinya bergerak lincah di atas keyboard ponsel, wajahnya nampak serius hingga tak sadar aku sedang memperhatikan dirinya.
“ Hey Nanda, chatting aja dari tadi. Awas aja kalo kamu gosip sama orang kantor “.
“ Eh Bapak, enggak ini saya lagi balas email kok Pak “, jawabnya sambil meringis.
“ Balas email kok segitu seriusnya. Buruan telepon Yudi suruh jemput di lobby. Saya mau pulang “.
“ Baik Pak. Saya langsung pulang atau ke kantor dulu ya?”, tanyanya balik.
“ Kita pulang ke kantor dulu Nanda, tas saya kan masih di kantor. Motor kamu juga masih parkir disana. Bisa gitu motor kamu pulang sendiri? “, ujarku sambil tak kuat menahan tawa kali ini.
“ Hehehe iya Pak. Saya lupa kalo bawa motor “, jawabnya sambil tersipu menahan tawa.
Aku berdiri dari kursiku dan berjalan ke arah balkon café. Pemandangan Kota Bandung Utara terlihat jelas dari sini. Aku merasakan sebuah pelajaran hidup yang sangat berharga hari ini, betapa kesetiaan sangat mahal untuk didapat. Aku pernah menjadi seorang Rayendra, hatiku tak bisa terpaut hanya pada satu wanita. Aku sendiri pernah mencoba mendekati Renata hanya untuk bersenang-senang. Tapi akhirnya aku tersadar bahwa bagaimana jika karirku tamat hanya karena seorang wanita penggoda, segala jerih payah yang kubangun selama puluhan tahun mendadak sirna.
Ah, seandainya Rayendra sadar akan hal itu. Biarkan Tuhan yang memberitahu suatu saat nanti.
*atuh\= dong.
*Ah maneh mah teu ngarti-ngarti \= ah kamu gak paham juga.
*lieur ah Ray ngadepin kamu mah \= pusing kalau menghadapi kamu.
__ADS_1