Harta, Tahta, Renata

Harta, Tahta, Renata
Ketulusan Cerita Ivan


__ADS_3

12.30 WIB – Ruas Jalan Tol Bintaro


“ Nah gini dong sekali-kali gue disupirin, tiap minggu kek lo jemput kita ke Bintaro “, ujar Dion sambil merebahkan kursi navigator di sebelahku.


“ Tumbenan Ivan nawarin jemput, biasanya juga lo dateng telat Van “, ujar Nadine yang duduk bersama Sean di belakang.


“ Lagi good mood berarti, kalo Ivan happy semua orang di service sama dia”, gurau Dion menggodaku.


“ Iya mukanya sumringah banget kayaknya, ga ngegas kaya biasa. Kalau lagi happy traktir Sean dong”, timpal Nadine tak mau kalah.


“ Sean kamu mau apa? Nanti Om traktir ya”, tanyaku pada Sean yang sedari tadi sibuk dengan gadgetnya.


“ Mau Lego dong Om Ivan, Daddy ga mau beliin aku Lego nih sekarang”, jawab Sean.


“ Oke deh tar Om Ivan beliin, yang kecil aja tapi ya. Kalau yang besar minta uangnya sama Daddy”.


Mereka bertiga langsung bersorak kegirangan mendengar jawabanku. Hari ini aku memang sedang bersemangat untuk berkumpul di Bintaro setiap hari Sabtu. Ada yang ingin kusampaikan pada mereka, khususnya pada Rania. Aku tak tahu ini kabar buruk atau baik baginya, tapi yang jelas informasi ini akan berguna untuk persidangan nanti.


“ Van, lo punya cerita apa sih? Kemarin lo bilang punya informasi penting?”, tanya Dion.


“ Kemarin gue sama nyokap ke kantor Hardian, ternyata si Ray udah nikah siri sama Renata”, jawabku.


“ Nah, sama persis sama feeling gue. Waktu si Ray ke kantor, dia udah pake cincin kawin di jarinya. Waktu nikah sama Rania aja dia ga pake cincin sekalipun”, timpalnya.


“ Hah? Gila si Ray, kapan dia nikah siri? Sidang baru mulai udah nikah lagi? Ngebet apa gimana tuh ceritanya?”, serobot Nadine dengan emosi.


“ Gue juga ga paham kenapa harus nikah siri, buat sekelas Renata sih ga perlu legalitas agama cuma buat tidur sama cowo. She doesn’t care at all”, jawabku.


“ Mungkin si Ray aja yang ngebet dari dulu. Niatnya memang pengen nikah resmi tapi terganjal proses sidang. Dia juga gatel pengen pamer sama orang-orang tentang istrinya. Gue udah hapal banget lah si Ray itu selalu butuh sesuatu untuk dibanggain sama orang”, tutur Dion.


“ Yah mungkin memang si Ray cocoknya sama Renata, cuma caranya dia ninggalin istri dan anaknya diluar batas norma. Udah pasti kuping mereka bakal panas denger hujatan dari sanksi sosial di sekeliling dia”.


“ Ah gue pikir enggak bakal panas, si Renata pasti cuek malah nantangin orang-orang ngomong apapun tentang dia. Kalau cewe bener mana mau kawin siri, rugi tau kawin tanpa ada legalitas hukum”, ujar Nadine.


“ Ya itu kan lo cewe normal, buat cewe macem Renata sih mana peduli mau kawin siri atau resmi. Malah menguntungkan kalo belum terdaftar secara hukum, udah bosen tinggalin aja ga perlu acara sidang segala”, jawabku.


“ Ga habis pikir gue sama Renata. Kadang gue kasian sama dia, apa sih yang dicari dari Ray? Ganteng enggak, tajir enggak, sukses enggak, pinter nipu iya”, ujar Dion sambil menggelengkan kepalanya.


“ Nah itu banget Yang. Ga kaya orang di sebelah kamu tuh. Ganteng iya, wangi iya, pinter iya, tajir iya, sukses iya, single iya “, timpal Nadine.


“ Mulaaaaaiiiiii….lo semua ngeledek gue aja terus. Tar pulang naik taksi ya, gue gak mau anter lagi nih”, balasku pada Nadine dan Dion yang terus menggodaku.


“ Eh Nad, Rania mau dijemput ga? Tanyain gih, biar kita samperin”, ujarku tiba-tiba teringat akan Rania. Aku juga sudah rindu pada Kian, dari semalam wajah lucu Kian selalu terbayang-bayang di benakku.


“ Rania udah sampe Mall Van, katanya dia sendirian ga bawa Kian”, jawab Nadine sambil menatap layar ponselnya.


“ Yah baby Kian ga ikut ya Mommy “, ujar Sean kecewa.


“ Iya katanya lagi tidur, kasian kalo dibangunin. Van cepetan yuk, Rania gak bisa lama-lama nih katanya”.


“ Rania udah mulai bisnis Brownies ya Yang?”, tanya Dion pada Nadine.


“ Iya, kemarin udah bikin beberapa loyang trus dia jualin di pasar. Sebagian lagi dia jual online katanya. Gue sih kasih support aja terus, biar dia mandiri ga ngandelin transferan si Ray lagi “.


Aku langsung teringat akan perkataan Hardian kemarin, bahwa RENTZ akan ditutup bulan depan. Itu artinya Ray bisa dipastikan dalam kondisi finansial yang sulit, secara tidak langsung akan berpengaruh pada Rania dan anak-anaknya.

__ADS_1


“ Rania memang harus mandiri, si Ray udah gak bisa diandelin lagi. Dia juga udah tanda tangan buat bayar duit ratusan juta yang dibawa kabur. Gue ga mau tau gimana caranya dia harus bayar tiap bulan sama gue”, ujar Dion.


Seketika saja aku langsung berpikir dua kali untuk mengabarkan bahwa Ray akan dipecat dari RENTZ bulan depan. Ternyata masalah finansial Ray membelit banyak orang sampai menyeret Dion segala. Jika aku memberi tahu Rania dan Dion tentang ini, mungkin masalah mereka akan bertambah.


“ Trus berita apalagi yang mau lo ceritain sama Rania Van? Siapa tau bisa bantu Rania biar hakim kabulin nafkah yang dipinta di surat jawaban kemarin”, tanya Nadine.


“ Gak ada sih, itu aja Nad. Yang gue tau si Ray udah nikah. That’s it”.


Akhirnya kuputuskan untuk mengurungkan niatku untuk mengabarkan berita hancurnya perusahaan Ray, kalaupun memang benar RENTZ akan hancur, biarlah mereka tahu sendiri. Satu sisi aku sangat puas dengan rencana Hardian, namun kini aku tersadar bahwa Rania dan Dion juga akan terkena imbasnya.


13.30 – Bintaro Xchange


“ Hai Sean, kok pada lama sih datengnya. Temen-temen kamu udah pada mulai masuk rink tuh “, sapa Rania pada Sean yang tergopoh-gopoh berlari ke arena ice skating. Ia nampak manis dengan balutan hijab berwarna pastel senada dengan baju yang ia kenakan.


“ Iya Tante, soalnya tadi dijemput Om Ivan. Aku masuk dulu ya “, jawab Sean sambil menarik koper khusus perlengkapan ice skating miliknya.


“ Hai Ran, masih semangat bikin kue ga?”, sapa Nadine sambil menarik kursi di samping Rania.


“ Semangat dong. Meskipun harus drama sama anak-anak yang berantem lah, Kian minta gendong lah, ojek jemputan ga bisa anter lah, terpaksa gue tinggalin adonan buat jemput mereka berdua jadinya”, tutur Rania.


“ Sabar Ran, usaha lo gak bakal sia-sia kok. Kalo perlu apa-apa bilang Nadine aja”, hibur Dion.


“ Iya dong sama siapa lagi gue nanya sekarang. Eh Ivan lo punya cerita apa sih”, tanyanya sambil melirik diriku.


Dion dan Nadine saling melempar pandang ke arahku, seakan menunggu jawaban tentang berita yang tadi aku ceritakan pada mereka.


“ Sayang kita cari makan dulu yuk, Ivan lo di sini dulu ya “, ujar Nadine sambil menarik tangan Dion. Mereka berdua beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan kami berdua. Sudah kutebak mereka akan menghindar percakapan tentang pernikahan Ray dan Renata.


“ Mmmmh, gimana ya ngomongnya. Gue ga tau ini bad news atau good news buat lo Ran “.


“ Si Ray udah nikah sama Renata, Ran”.


Tiba-tiba saja wanita di depanku itu tertawa terbahak-bahak, reaksinya sungguh diluar ekspektasiku. Aku jadi malu sendiri dengan apa yang kuceritakan, mengapa Rania tidak kaget sama sekali tentang kabar pernikahan mereka.


“ Gue tau kok mereka udah nikah siri, tepatnya 2 minggu yang lalu kan?. Ya gak apa-apa lah, gue malah bersyukur akhirnya mereka menghalalkan hubungan mereka. Kasian anak-anak gue kalo Bapaknya terus berzina”.


“ Terus lo biasa aja Ran? Ga marah atau gimana gitu?”.


“ Ya kenapa harus marah, ga ada bedanya nikah siri atau enggak. Kecewa sih kenapa harus nikah pas proses sidang belum selesai. Gue udah hapal betul sifat Ray yang impulsif, kalo punya kemauan tuh suka ga dipikir matang-matang”.


“ Jujur Ran, lo ga sakit hati? Lo ga ada pikiran bisa balik sama Ray suatu saat?”.


“ Gak lah, kalo memang mereka berjodoh kenapa harus sakit hati. Doa gue cuma pengen bahagia sama Kila, Kica dan Kian tanpa harus ada Ray di samping kami lagi. Kami udah sangat nyaman dengan kehidupan saat ini”.


Senyumku mengembang melihat sorot mata Rania yang berbinar-binar. Tak sedikitpun kekecewaan muncul di wajahnya, meskipun aku tak habis pikir bagaimana bisa mengiklaskan seseorang yang telah menjadi pendamping hidup selama bertahun-tahun lalu menikah dengan perempuan lain.


“ Tante Rania, mana Mommy? Tanganku tergores stick hockey nih “, ujar Sean tiba-tiba mendatangani Rania sambil memegang tangannya yang terluka.


“ Aduh kenapa Sean? Luka ya? ada plester ga sih?”, tanya Rania sambil melihat luka di pergelangan tangan Sean.


“ Nih, aku tadi minta sama coach nya, aku minta tolong pasangin dong Tante “.


Rania dengan telaten membersihkan luka Sean dengan air mineral lalu pelan-pelan menempelkan plester di tangannya. Sean meringis kesakitan sambil terus bertanya mencari ibunya.


“ Mbak Rania? Apa kabar?”, tanya seorang pria berusia 40 tahunan menyapa Rania sambil menenteng belanjaan di tangannya.

__ADS_1


“ Eh Mas Firman, baik Mas. Sama siapa? Mbak Anis ga ikut?”, jawabnya sambil menjabat tangan pria tersebut.


“ Enggak, saya sendirian. Anis sama Tyo lagi di rumah. Sama Mas Ray ga Mbak? Udah lama saya ga ketemu.”.


“ Tante, aku masuk ke rink lagi ya, coach udah manggil aku tuh”, sahut Sean menyela pembicaraan.


“ Ok Sean, hati-hati ya mainnya. Tar lukanya malah kebuka lagi kalau kamu ga hati-hati”.


“ Siapa Mbak? Cakep banget anaknya? Anak-anak lagi sama Mas Ray ya?”, tanyanya sambil memperhatikan Sean yang berlari masuk ke arena ice skating.


“ Itu Sean, anaknya teman saya Mas. Anak-anak lagi di rumah sama neneknya. Kalo Ray sih di Bandung. Silakan duduk Mas”, sahut Rania mempersilakan lelaki itu untuk duduk.


“ Makasih saya ga lama kok, salam aja buat Mas Ray. Saya udah ditungguin sama Anis nih. Permisi ya Mbak “, pamitnya pada Rania sambil berlalu ke arah lift.


“ Siapa Ran?”, tanyaku yang sedari tadi menguping sambil mengetik di ponselku.


“ Mantan tetangga di rumah kontrakan yang dulu, udah lama sih ga ketemu “, jawabnya.


“ Lo mau makan apa Ran? Gue pesenin sekalian”, tanyaku menawarkan diri, kebetulan perutku sudah keroncongan.


“ Makasih Van, gue ga bisa lama-lama ninggalin anak-anak di rumah. Kayanya gue harus balik sekarang deh”, jawabnya sambil melirik jam di pergelangan tangannya.


“ Loh, kalian belum ngobrol buat agenda sidang besok?”, tanyaku kaget melihat Rania bersiap untuk pulang.


“ Gue ga harus nyiapin apa-apa buat sidang besok. Agendanya Replik, jadi Ray bakal menjawab atas surat jawaban gue minggu lalu”.


“ Makan dulu deh, nanti kita anterin pulang Ran. Dion sama Nadine masih pesen makan tuh”.


“ Pengennya gitu sih, tapi kasian Kian Van. Nanti gue samperin Nadine sama Dion sekalian pulang. Oya yang mau lo ceritain dari kemarin tuh soal itu?”.


“ Iya sih itu aja Ran, tadinya gue berpikir bakal berguna buat barang bukti lo suatu saat”, jawabku.


“ Berguna banget, nanti gue tulisin di agenda pembuktian. Makasih banyak, gue duluan ya “, pamitnya padaku.


“ Rania….tunggu!”, sergahku saat ia berlalu.


“ Apaan? Ada yang ketinggalan ya?”, tanyanya sambil memegang tas nya.


“ Enggak. Dapet salam dari Bu Maya”, jawabku.


“ Hah? Serius??? “, pekiknya kegirangan.


“ Iya. Katanya selamat berjuang”.


“ Serius Bu Maya bilang gitu?”, tanyanya tak percaya.


“ Boong deng hehe”, godaku melihat dia kegirangan.


“ Ivan, usil banget sih lo “, sahutnya sambil merengut.


“ Salamnya bener dari Bu Maya, Selamat berjuang dari anaknya “.


Sontak saja ucapanku itu membuat Rania tersipu malu, pipinya merona dan senyumnya terus mengembang.


“ Udah ah gue balik, tolong bilang salam balik buat Bu Maya”.

__ADS_1


Aku memperhatikan sosok perempuan mungil itu sambil tersenyum, berjuta kekaguman terpendam tak mampu kuungkapkan. Meskipun sudah beberapa minggu ini bayangan Rania dan Kian selalu singgah di benakku, namun kuyakin rasa ini bukanlah hasrat untuk memilki. Aku doakan yang terbaik untuk Rania dan anak-anaknya, mereka layak bahagia dengan atau tanpa Ray di sisinya.


__ADS_2