Harta, Tahta, Renata

Harta, Tahta, Renata
Surat Cinta Dari Tigaraksa Cerita Rania


__ADS_3

Si montok Kian sedang berguling-guling di kasur sambil mengoceh dengan riangnya. Pipinya yang gembil membuatku gemas ingin terus menjawil. Sesekali ia mendekut mengeluarkan suara aaaah-oooooh sambil memonyongkan mulutnya dengan riang. Fase seperti ini adalah masa paling indah bagi ibu yang baru melahirkan, kelucuan anak bayi itu sungguh mengagumkan.


PING


Nayla : Gaes pada masak apa hari ini?


Mita : Ayam goreng kuning, sayur lodeh bumbu instan dong.


Fika : Weis mewah Mit. Biarpun bumbu instan yaaah.


Nayla : Aduh males masak nih, gue beli sop iga aja deh.


Tasya : Tar jangan lupa sop nya oplos aer yah. Cemplung wortel, kentang yang banyak. Kalo perlu baso sama sosis sekalian jadi dapet banyak wkwkwk


Mita : Modal 30 rebu bisa buat makan malem yah Tas.


Nayla : Sayur oplosan apalagi dong biar dapet banyak?


Aku hanya tersenyum menyimak percakapan random mereka pagi ini. kugeleng-gelengkan kepala dengan tips sayur oplosnya. Sesekali mereka pamer makanan yang dibuat dengan bumbu instan, itupun kadang mereka gagal. Sungguh pertemanan yang berfaedah, grup ini memang tempat kami ‘buang sampah’.


“ Ran ada yang nyari tuh si bawah “, panggil ibuku dari balik pintu. Ibuku lalu menghampiri Kian sambil mencium-cium pipi gembilnya.


“ Siapa Ma?, orang bank lagi ya “, tanyaku sambil mengganti baju.


“ Kayaknya sih, soalnya bawa surat gitu “, jawab ibuku.


Aku menuruni tangga menuju ke teras rumah. Kulihat sesosok pria membawa tas berisi surat. Pria itu memakai seragam abu-abu, tidak seperti debt collector yang biasa menagih tagihan rumah.


“ Ibu Rania Chairunnisa?, tanya pria tersebut memastikan namaku.


“ Iya Pak saya sendiri “, jawabku menghampirinya dari balik pagar.


“Suaminya Rayendra Saputra ya?, ini ada panggilan sidang dari Pengadilan Agama Tigaraksa bu” ujarnya seraya memberikan surat dengan amplop warna coklat kepadaku.


Lututku lemas seketika. Surat panggilan itu masih berada di tanganku, dengan ekspresi shock, aku hanya berdiri sambil memandangi amplop coklat tersebut. Nampaknya kurir tersebut tidak sampai hati membiarkanku berdiri mematung.


“ Bu, maaf bisa tanda tangan dulu disini? ’ tanyanya sopan.


“ Kalau saya tidak datang bagaimana Pak? ” tanyaku ketus.


Kurir itu menarik kertas tanda terima dan terdiam sejenak.


“ Maaf Bu, boleh saya bantu lihat suratnya? ” . Tanya kurir itu kembali. Kuberikan surat itu padanya, mataku terasa panas dan tanganku sedikit bergetar.


“ Disini suami Ibu yang mengajukan gugatan cerai, dia menunjuk kuasa hukum untuk menjalani proses sidang ”. Ujarnya sambil membolak-balik surat gugatan cerai.


“ Oh dia pakai lawyer?, hebat ya bisa sewa pengacara segala ” ujarku semakin ketus. Kurir semakin menjadi salah tingkah dihadapanku.


“ Saran saya Ibu harus datang, apalagi kalau ibu menolak semua gugatan pemohon ”, ujar kurir dengan sabar agar diriku menjadi sedikit tenang.


“ Saya tidak mau datang Pak !”.

__ADS_1


“ Harus Bu, saran saya Ibu wajib datang untuk memperjuangkan hak ibu. Keluarkan semua tuntutan ibu di persidangan, semua demi kebaikan Ibu” ujar kurir itu.


Kuambil lagi amplop coklat itu, kepalaku masih terasa berat, nafasku memburu dan tanganku gemetar. Kububuhkan tanda tangan seadanya pada kertas tanda terima. Kurir itu pamit sambil menaiki sepeda motornya, dan aku berbalik masuk ke dalam rumah dengan hati yang remuk redam.


Aku terdiam di kamarku sambil menyembunyikan amplop coklat itu agar anak-anakku tidak menemukannya. Ibuku kemudian masuk dan bertanya padaku.


“ Apa itu Ran?, tagihan lagi?”, tanyanya sambil menggendong Kian yang sudah tertidur.


Aku menyerahkan surat tersebut pada ibuku dengan tangan gemetar. Surat itu kemudian diambil oleh ibu dan ia membacanya perlahan.


“ Ran, sabar ya Nak “, tatapnya sendu sambil berusaha menahan air matanya.


“ Gak apa-apa Ma. Rania udah kuat kok sekarang “, sahutku sambil mengelus-ngelus punggung ibuku yang menahan tangis. Ibu menghela nafas panjang, lalu kembali membaca surat tersebut.


“ Rayendra datang Ran?”, tanyanya memastikan.


“ Enggak Ma, dia sewa pengacara. Itu ada surat dari kuasa hukumnya “, jawabku sambil mengambil surat panggilan tersebut.


Kubaca lagi dengan teliti surat gugatan cerai dari Rayendra. Dalam surat tersebut ia menuliskan bahwa kami sudah tidak akur dan berpisah rumah sejak tahun 2016. Selama 3 tahun kami sudah tidak serumah dan tidak ada hubungan suami istri. Alisku mengernyit sambil membacanya berulangkali. Mana mungkin ia menulis bahwa kami sudah tidak akur sejak tahun 2016, nyatanya anakku saja baru berusia 3 bulan sekarang.


Aku bolak-balik membaca surat gugatan itu, semuanya berisi kebohongan yang dikarang Ray. Aku segera mengirimkan email kepada Ray.


To : rayendra@gmail.com


Assalamualaikum,


Ray surat dari pengadilan sudah sampai, aku dipanggil minggu depan ke Tigaraksa. Kamu serius ini Ray?


Segera kufoto surat panggilan tersebut dan kukirimkan pada sahabtku.


Rania : Dapet surat cinta nih!


Fika : Ciecie Raniaaaa, Ray ngajak balikan?


Tasya : Paling tagihan rumah wkwkwkkw.


Nayla : Asuransi pasti.


Dita : Sapa tau dari Ray, ngajak balikan doi


Fika : Yaelah hari gini ngajak balikan masa pake surat Dit. Kaya jaman perang lawan Belanda.


Rania : Ya Allah pada baca gak sih....


Dita : Astagfirullah, itu dari Tigaraksa? Eh daerah mana sih Tigaraksa?


Fika : Pengadilan Agama?


Tasya : SIDANG CERAI????


Nayla : Tigaraksa itu Tangerang ujung gitu kan Ran?

__ADS_1


Rania : Iya Tangerang jauh banget pokoknya.


Fika : Tega si Ray, pengen gue colok asliiiiik


Mita : Trus si Ray dateng ga?


Rania : Enggak, pake lawyer dia.


Tasya : Wih tajir dong bisa bayar lawyer. Anak-anak udah ditransfer belum?


Rania : Belum Tas. Gue abis email dia barusan. Trus yang bikin ngeselin, masa dibilang kami pisah rumah dari 2016.


Dita : Pinter banget yah Bapak Rayendra. Trus Kian anak sapaaa?


Fika : Hah mana liat gugatannya?


Mita : Alesannya apa gugat cerai katanya Ran?


Rania : Katanya sih ribut yang berkepanjangan.


Dita : Bacot lo Ray. Hajar Ran. Lo harus dateng, kita semua ongkosin deh naik taksi.


Fika : Iya Ran, dateng yah. Si Ray kudu dikasih pelajaran!!!


PING


From : rayendra@gmail.com


Waalaikumsalam,


Udah sampai ya emailnya?. Syukur deh. Aku gak dateng karena sudah diwakili lawyer. Kamu gak usah dateng juga gak apa-apa kok. Tempatnya jauh banget, lagian Kian kan masih kecil. Nanti sekitar 2 mingguan selesei ko sidangnya.


Salam ya buat anak-anak.


Hatiku gundah membaca isi email dari Ray. Aku tak pernah datang ke pengadilan sebelumnya. Apa bedanya datang atau tidak?. Kian masih kecil, aku belum punya stok ASIP. Apa Kian harus kubawa ke pengadilan juga?. Sahabatku menyarankan agar datang ke persidangan, begitu juga kurir barusan. Tapi aku tak tahu apa yang akan terjadi disana. Kepalaku benar-benar pusing dibuatnya.


PING


Nayla : Ran, lo perlu apa aja buat ke pengadilan?


Rania : Belum tau Nay, belum kepikiran. Nanti deh gue pikir-pikir lagi, masih ada 7 hari lagi.


Nayla : ini ada link, kayanya komunitas single mom deh Ran. Follow yah, siapa tau ada inputan dari situ mengenai persidangan.


Rania : Makasih Nay, tar gue follow yah.


Nayla : Sip Ran, kalo perlu sesuatu kabarin kita aja. Kalo sungkan kabarin gue juga gpp.


Rania : Iya Nay makasih ya.


Aku membuka link dari Nayla, isinya berupa suatu komunitas Ibu Tunggal Indonesia. Aku coba mendaftar sambil membaca postingan di sosial medianya. Kegiatan mereka sangat positif, terutama pemulihan dan sharing tentang problematika kaum ibu tunggal. Dari perspektif kejiwaan hingga hukum sering mereka bahas. Inilah yang aku butuhkan saat ini, suatu support system yang membantuku untuk bangkit dan menghadapi perceraian di pengadilan.

__ADS_1


Bismillah…aku tak tahu siapa yang akan membantuku menghadapi semua ujian ini. Ya Allah aku mohon dekatkan aku dengan orang baik pilihan-Mu, jauhkan aku dari orang dzolim dan segala keburukan di muka bumi.


__ADS_2