
Tok Tok Tok
Derap langkah kakiku terdengar ke seluruh penjuru koridor apartemen di lantai 11. Hari ini hari Minggu, biasanya orang-orang sedang turun ke kolam renang atau keluar mencari sarapan. Aku berjalan dengan cepat menuju lobby, meninggalkan Ray yang masih tertidur pulas di kamarku.
Ivan
“ Aku sudah di depan lobby “
Pesan dari Ivan yang mengabarkan bahwa ia telah tiba untuk menjemputku. Pagi ini aku bertekad untuk bertemu dengannya dan ingin mengakhiri semua. Begitu aku sudah tiba di luar lobby , mobil sedan merah BMW yang kukenal sudah menungguku disana.
“ Tumbenan mau cari sarapan di luar, Yang. Tadinya aku mau bawain kamu sarapan sambil makan di kamar aja “, tanya Ivan yang datang dengan setelan kaos dan celana pendeknya.
“ Lagi ada ibu di kamar, gak enak Van “, jawabku singkat.
“ Ibu suka makanan apa?, Daffa?, nanti kita beliin sekalian “ lanjutnya.
“ Gak usah, mereka bisa masak sendiri kok”, jawabku lagi.
“ Kenapa sih?, marah?, tiba-tiba ngajak ketemu trus bete gitu mukanya ?’, tanyanya keheranan sambil menoleh ke arahku.
“ Enggak ada apa-apa. Cuma lagi bingung aja “, sahutku kehilangan akal untuk memulai pembicaraan.
“ Lalu?, bingung kenapa? Masalah apa?”, tanyanya keheranan sambil sibuk memutar kemudinya.
Aku terdiam sambil menatap kaca jendela. Otakku sibuk mencari alasan untuk memutuskan hubungan dengan Ivan. Ia adalah pria yang baik, terlalu baik malahan. Sulit bagi diriku untuk mencari-cari kesalahannya.
“ Kamu marah gara-gara pertemuan kemarin sama orangtuaku ?”, tanyanya sambil menerka-nerka.
__ADS_1
“ Bisa jadi “, jawabku singkat. Kebetulan ini adalah alasan yang kuat.
“ Maaf kalo ada ucapan mereka yang gak ngenakin kamu. Tapi mereka ga komentar buruk kok tentang kamu. Pertemuan malam itu cuma buat meyakinkan aku, kalau aku tuh serius sama kamu, Ren “. Ucap Ivan sambil berusaha meyakinkanku.
“ Gak ada yang bilang nyakitin. Aku cuma ngerasa tidak nyaman untuk bisa serius sama kamu saat ini. Status aku seorang wanita dengan 1 orang anak yang sudah dewasa. Di luar sana bahkan pria seumuran kamu pacaran sama perempuan seumuran Daffa “.
“ Loh kok jadi masalahin umur. Awal pacaran kita gak masalahin ini kayanya. Kenapa sekarang tiba-tiba kamu bilang kalau umur jadi ganjalan buat kita?”, tanyanya keheranan dan suaranya mulai sengit.
“ Ya jelas dong Van, kemarin tuh aku dibuat mati kutu sama mama kamu tentang status aku yang notabene seorang single parent. Kamu tuh masih lajang, belum pernah menikah, sementara aku udah pernah nikah 2 kali. Apa kata orang-orang Van?”, ujarku sedikit emosi.
“ Gak usah mikirin omongan orang sih, kan aku yang mau nikah sama kamu. Aku serius Ren, cinta sama kamu apa adanya, tidak ada pengecualian!”.
Suara kami semakin meninggi di dalam mobil yang masih melaju di Jalan Pasupati. Aku tak tahu kemana Ivan akan membawaku. Tujuanku juga bukan ingin mencari makan, aku hanya ingin keluar apartemen sejenak untuk membahas ini dengan Ivan tanpa harus diketahui oleh Ray. Terlebih lagi Ray telah melamarku saat di Bromo, dan aku mengiyakan ajakannya. Meskipun Ivan bisa menjanjikan materi yang berlimpah, namun batinku tak kuasa harus masuk ke dalam keluarga Ivan yang berkemewahan.
Bip Bip Bip Bip Bip Bip
Jantungku berdebar keras, aku lupa belum mengkatifkan silent mode saat tadi berangkat. Ray pasti bertanya aku pergi kemana. Semalam aku bilang padanya hendak pergi ke rumah ibu sebentar.
Bip Bip Bip Bip Bip Bip
“ Halo, aku lagi di jalan “, serobotku tanpa mendengarkan pertanyaannya.
“ Kamu sampe jam berapa ke rumah Ibu Yang “, tanya Ray dengan suara parau.
“ Gak lama ko, abis cari makan aku pulang “, jawabku cepat.
“ Kamu naik apa sih, kenapa gak tunggu aku bangun aja biar kuanter kesana “, balasnya.
__ADS_1
“ Gak apa-apa kok, nanti aku telpon lagi ya “, jawabku dengan nada datar.
Aku segera mematikan ponselku sebelum percakapanku dengan Ray semakin panjang. Begitu juga percakapanku dengan Ivan, ingin segera kusudahi semua basa-basi ini.
“ Itu bukan dari ibu kamu kan Ren? “, tanya Ivan dengan sengit.
“ Bukan urusan kamu “, jawabku ketus.
“ Siapa dia Ren, apa aku kenal ?”, tanyanya sambil menancap gas, mobil kami melaju lebih cepat.
“ Aku bilang bukan urusan kamu Van, udah deh aku capek. Aku mau pulang aja “, desakku agar ia memutar balik mengantarku ke apartemen.
“ Enggak Ren, sebelum kamu bilang siapa cowo itu “, ancam Ivan.
“ Ga ada cowo lain Van, udahlah aku mau pulang. Males ribut sama kamu“.
“ Lah yang ngajak ribut kan kamu?. Tiba-tiba ngajak putus. Salah aku apa Ren?, semuanya udah aku kasih buat kamu? “, serunya nyaris berteriak.
“ Udahlah aku turun disini aja Van, percuma ngomong sama kamu “, perintahku agar Ivan mau menepi, namun tidak ia gubris.
Laju mobil Ivan semakin kencang memecah jalanan Pasteur. Sepanjang perjalanan kami tidak berbicara lagi, tidak ada alunan musik yang selalu ia putar, yang kurasakan hanyalah kesunyian. Dalam waktu 15 menit mobil sedan merah ini tiba di lobby apartemen . Aku bergegas membuka seatbelt-ku tanpa sepatah katapun. Lalu tiba-tiba tangan Ivan menarik lenganku dengan kuat.
“ Kalau sampe aku tau siapa cowo itu, siap-siap bakal aku hajar “, ancamnya.
“ Whatever Van. We’re done !!!”.
Aku meninggalkan Ivan yang masih berada di dalam mobilnya. Aku sudah tak peduli dengan semua ancamannya, misiku hanya ingin menyudahi semua ini. Pilihanku sudah kujatuhkan pada Rayendra, meskipun saat ini ia sedang terbelit banyak masalah yang diakibatkan oleh istrinya. Dari lubuk hatiku ialah pria yang bisa menerima keluargaku, terlebih lagi anakku butuh sosok seorang ayah.
__ADS_1
Aku segera membuka pintu kamarku dan masuk mencari Ray. Rupanya ia sedang di kamar mandi. Laptopnya masih terbuka di atas kasurku, mungkin ia baru saja bekerja seperti biasa. Entah mengapa rasa penasaranku muncul untuk melihat apa yang ia kerjakan. Ternyata bukan codingan seperti biasa, itu adalah laporan keuangan perusahaan miliknya bersama Dion. Kuteliti setiap angka yang tertera di dalam tabel tersebut, saldo yang mereka miliki cukup banyak. Pantas saja Ray berani untuk menginvestasikan keuntungannya untuk proyek Om Yan. Aku tersenyum puas melihat nominal tersebut, dalam jangka waktu dekat aku bisa maju sebagai BOD di proyek Om Yan. Tak salah memang lelaki pilihanku yang satu ini, selain ia sangat mencintaiku, ia juga bisa mewujudkan mimpi yang selama ini kupendam.