Harta, Tahta, Renata

Harta, Tahta, Renata
Pencemaran Nama Baik Cerita Renata


__ADS_3

07.30 WIB – Apartemen Renata


Kupandangi wajah suamiku yang masih lelap tertidur di balik selimutnya, setelah semalam ia baru saja sampai tengah malam dari Jakarta. Tiba-tiba saja ia pulang dengan raut masam, tanpa basa-basi ia langsung menjatuhkan tubuhnya di kasur dan tak bicara padaku sampai pagi ini.


“ Mas, kamu mau ke kantor jam berapa? Aku ga bisa lama-lama nih, takut Pak Hardian nyariin “, seruku pada Rayendra yang masih tertidur pulas.


“ Nanti siang aja deh, aku masih cape “, jawabnya tanpa membuka mata.


“ Kalo Pak Hardian nyariin kamu gimana? Aku harus jawab apa?”.


“ Bilang aja ada kerjaan di luar, nanti aku yang kabarin Pak Hardian ya “.


“ Ih kamu bukannya bareng aja ke kantor, aku sendirian nih jadinya”, sungutku kesal sambil menarik selimutnya.


“ Maaf sayang aku masih cape, nanti malem kita nonton ya “, rayunya sambil menarik tanganku.


“ Ga mau, aku ga suka nonton film kan “.


“ Ya udah kita mau ngapain, ngopi mau ga?”.


“ Udah ah aku ke kantor sekarang, daripada jadi omongan anak-anak nantinya “, jawabku sambil meninggalkan Ray yang masih meringkuk.


“ Sayang, tolong buatin teh manis bisa ga? “.


“ Aduh mana ada teh di sini. Kamu pesen sarapan pake ojol aja. Aku berangkat duluan bawa mobil ya”, jawabku sambil mengenakan sepatu dan membawa kunci mobil milik Rayendra. aku masih kesal dengannya karena kemarin ia mendadak ke Jakarta dengan alasan meeting, lalu pulang tengah malam dengan wajah kesal tanpa menyapaku.


Sejuta keresahan masih bergelayut di pikiranku, terutama tentang proses sidangnya dengan Rania. Hari ini adalah dimana agenda sidang Ray dilaksanakan, mungkin hal ini yang membuat Ray malas untuk bangun sebelum lawyernya memberikan informasi tentang hasil sidang nanti siang. Andai saja wanita itu tidak menampakkan batang hidungnya di pengadilan, proses sidang bisa selesai minggu depan. Namun sayang, kini Ray harus menjalani proses yang cukup panjang sampai dengan putusan.


12.30 WIB – Kantor RENTZ


PING


Suamiku


“ Sayang nanti kita ketemu di cafe samping kantor ya”.


Pesan dari Ray masuk ke ponselku tepat saat aku hendak makan siang bersama anak-anak kantor. Rupanya Ray baru saja datang, ia mengajakku untuk makan siang di café sebelah. Segera kuberesi handphone, rokok dan alat make up dan kumasukkan dalam tas.


“ Mbak Rena mau titip makan ga, kita mau beli ayam bakar “, tanya Fadli yang sudah siap menenteng kunci motornya.


“ Enggak Fad, aku mau makan sama Mas Ray di sebelah”, jawabku.


“ Deuh penganten baru, makan siang aja barengan terus “, godanya.


“ Iya dong harus ditemenin terus, biar ga kabur diambil orang”, jawabku.

__ADS_1


Dengan langkah seribu kulangkahkan kaki menuju café yang Ray tuju, letaknya tak begitu jauh dari kantor. Tempat ini adalah tempat makan favorit aku dan Daffa, di sini juga tempat dimana Ray dan Daffa saling mengenal satu sama lain. Kulihat sosok suamiku duduk di salah satu meja sambil menelepon seseorang dengan wajah gusar.


“ Apa? Jadi isinya apa aja tuh Pak?”, tanyanya pada seseorang di sebrang sana.


“ Trus hakimnya gimana? Nanya apa aja sama Bapak?”.


“ Trus pembelaan Bapak apa?”.


“ Apa aja isi gugatan Rania? Bapak udah baca semuanya?”.


“ Lalu reaksi hakim bagaimana?”.


Ray masih berbicara dengan orang itu di ponselnya. Sudah tak ayal lagi penelepon itu adalah Pak David Saragih yang melaporkan hasil sidang Ray hari ini. Dengan rasa penasaran aku turut menguping apa hasil keputusan sidang tadi pagi.


“ Ya sudah saya tunggu Bapak kirim foto jawaban dari Rania, kalau bisa sekarang saya mau baca “, jawabnya tak sabaran.


“ Oke Pak, terima kasih banyak”, tutupnya sambil mengakhiri pembicaraan. Wajah Ray makin kusut sambil memijat-mijat keningnya.


“ Kenapa Mas? Apa hasil sidang barusan?”, tanyaku sambil mengusap lengannya.


“ Gak tau nih, katanya Rania datang sambil bawa surat jawaban sebanyak 22 halaman sambil mengajukan gugatan balik”.


“ Apa? Gugatan balik apa? Kok bisa sebanyak itu jawaban dari Rania? Isinya apa aja tuh?”.


PING


PING


PING


Suara notifikasi pesan WhatsApp masuk bertubi-tubi, menandakan banyak sekali pesan masuk yang dikirimkan oleh Pak Saragih. Ray membuka pesannya dan dalam seketika wajahnya memerah dan tangannya bergetar. Aku semakin penasaran dengan isi pesan yang Ray dapat, ku langsung berdiri dan melongok melihat layar ponsel Rayendra yang tengah membuka foto berisi surat yang dibuat Rania.


Jantungku langsung terperanjat begitu membaca jawaban Rania yang menuliskan nama lengkap diriku di surat jawaban tersebut. Dia juga dengan detail menuliskan almamater sekolah hingga kuliah, serta statusku yang merupakan ibu dari 1 anak. yang makin membuatku berang adalah fotoku terpampang 1 halaman HVS dengan tulisan bahwa aku adalah orang ketiga yang merusak hubungan rumah tangga antara Ray dan Rania.


“ Gila, apa-apaan si Rania. Masa foto aku dipajang di situ sih Mas? Aku ga terima ya, aku mau tuntut Rania karena pencemaran nama baik!”, gertakku sambil menggebrak meja.


“ Aku gak tau Ren, masa Rania bisa nulis jawaban dengan detail kaya gini. Pasti ada seseorang yang di belakangnya, masa dia bisa tulis semua profil tentang kamu”, jawabnya gusar.


“ Kamu cerita sama siapa aja sih? Kemarin aja Rania tag aku di Instagram , sekarang dia berani-beraninya cantumin profil aku di surat jawaban untuk hakim. Kamu jangan diem dong, aku kan ga ada sangkut pautnya sama urusan kalian “.


“ Gila, Rania nuntut minta nafkah iddah sebanyak seratus juta, mut’ah senilai rumah sebesar 1M berlokasi di BSD dan nafkah anak sebesar 10 juta tiap bulan. Sakit jiwa nih orang”, ujar Ray sambil membaca isi surat tersebut.


“ Emang sakit tuh perempuan, udah halu kayanya. Main asal tuduh sembarangan, nuntut nafkah ga kira-kira. Hajar balik tuh cewe minggu depan!”, sahutku berapi-api.


“ Udah kamu tenang aja, Pak Saragih lawyer handal kok. Dia pasti bisa nyangkal kalo kamu bukan orang ketiga dalam pernikahan aku sama Rania. Nafkah yang diminta Rania itu omong kosong, siapa juga yang sanggup menuhin permintaan ga masuk akal kaya gitu”.

__ADS_1


“ Lah emang bukan kan? Kamu udah jauh-jauh hari memang pengen pisah dari Rania kan? Kamu yang deketin aku duluan, aku ga pernah merasa jadi perebut suami orang. Aku yakin nafkah yang diminta juga pasti ditolak hakim”, jawabku dengan kesal.


“ Iya memang. Aku cerai sama Rania memang karena udah ga cocok, Rania bukan istri yang aku harapkan selama ini. Kalopun ujungnya kita memang bersatu pastinya itu takdir kan, bukan karena kamu yang mengambil aku dari Rania “.


“ Udah ah males bahasnya. Aku gak mau tau kamu harus bisa bales semua jawaban Rania minggu depan sampai dia skakmat. Tulis juga dengan sangat detail semua dosa-dosanya Rania selama menjadi istri kamu. Enak aja aku dituduh jadi orang ketiga, padahal aslinya dia perempuan yang ga becus melayani suami”.


“ Iya Sayang, pasti aku tulis di agenda sidang minggu depan ya. Kamu gak usah peduliin Rania, aku harus cari tau siapa biang kerok dari di belakangnya”, ujarnya sambil mengelus-ngelus punggungku.


“ Sama satu hal, kamu gak boleh penuhin semua tuntutan nafkah yang diajukan Rania. Biar dia tau rasa gimana kasih makan anak-anaknya “, lanjutku dengan berang.


“ Loh kamu kok gitu, nafkah anak-anak aku kasih se-adil mungkin lah. Pastinya aku duluin kebutuhan kamu dan Daffa, karena kamu istri aku kan sekarang. Hukumnya dosa kalo aku ga menafkahi kamu lahir dan batin”.


“ Urusan hutang kamu gimana? Udah beres belum?”, tanyaku.


Ray langsung menarik tangannya dan refleks membuka buku menu yang sedari tadi belum kami sentuh. Matanya menyusuri deretan menu dan ia melambaikan tangannya memanggil waiter di meja kasir. Seorang waiter dengan kemeja hitam mendekati kami sambil tersenyum ramah.


“ Mas, saya pesan Chicken steik 1 dan es lemon tea 1 ya. Sayang kamu mau pesan apa?”, tanyanya sambil menoleh ke arahku.


“ Roasted Rib Eye steik 1, kematangan medium ya. Minumnya samain aja “, jawabku tanpa harus melihat daftar menu.


Waiter tersebut menulis pesanan kami dengan cekatan, lalu pamit untuk segera mempersiapkan pesanan kami ke dapur.


“ Mas, kemarin kamu meeting sama siapa sih? Gimana nasib proyek Om Yan? Udah lebih dari satu bulan kok ga ada kabar sih”.


“ Kemaren meeting sama temen lama, ngomongin proyek dia gitu deh”, jawabnya sambil melihat ke ponselnya.


“ Kamu punya proyek baru? Proyek sama Dion udah pada selesei apa belum? Jangan suka ambil banyak kerjaan kalau ga bisa kerjain semuanya?”.


“ Aku ga ambil proyek lagi kok. Urusan sama Dion masih, aku harus kerjain beberapa aplikasi punya dia nih selama beberapa bulan ke depan. Kayanya waktu, pikiran tenaga, dan uang bakal tersita banyak untuk proyek Dion”, jawabnya lesu.


“ Lalu yang sama Om Yan gimana? Aku udah punya beberapa masukan loh, aku bikin ini udah lama. Tadinya mau aku kasih buat Pak Hardian, eh dia gak gubris ideku. Mudah-mudahan bisa terealisasi sama Om Yan deh “, jawabku bersemangat.


“ Gak tau nih Sayang, Om Yan masih gak ada kabar. Kalau misal dia belum mastiin kapan proyek ini jalan, kita tarik aja ya duitnya. Invest kapan-kapan aja sama orang lain deh”, jawabnya.


“ Loh kok gitu? Om Yan asik banget orangnya, aku cocok ngobrol sama dia. Jarang-jarang loh kita nemu investor ga perhitungan kaya dia. Lanjut aja deh Mas, please “, pintaku mengiba.


“ Kita liat nanti ya Sayang. Om Yan memang baik, tapi kalau ga pasti kapan bisnisnya jalan ya percuma juga. Daripada uang kita ilang kan “.


Jawaban Ray kali ini tidak seperti biasanya. Ray selalu bersemangat untuk membahas proyek yang ia kerjakan dengan kliennya, namun tumben kali ini ia bersikap pesimis. Biasanya juga ia selalu berkomunikasi dengan Dion, namun sudah beberapa minggu aku tak pernah mendengar mereka berbicara di telepon. Ada apa dengan semua usaha Ray? Apakah ia menutupi sesuatu dariku? Proyek dengan Om Yan juga terasa janggal, terakhir kali aku bertemu dengan beliau semuanya baik-baik saja, namun kini semua terasa berbeda.


*Mohon maaf bolos update selama beberapa hari, terima kasih untuk setia menunggu ceritanya. Oya Minal aidin wal faidzin ya, mohon maaf lahir batin bagi semua pembaca setia.


XOXO


Author

__ADS_1


__ADS_2