Harta, Tahta, Renata

Harta, Tahta, Renata
Si Mata Teduh Cerita Rania


__ADS_3

05.40 WIB – Rumah Rania


“ Kakak, Kica, bangun udah mau jam 6 nih. Ayo mandi, nanti Om Agus keburu jemput”, panggilku pada kedua anakku yang masih terlelap dibalik selimutnya.


“ Kak, ayo bangun, biar bisa sarapan dulu”, sahutku sambil mengusap rambutnya, namun anak sulungku masih enggan membuka mata. Sementara Kica hanya menggeliat lalu membalikkan badannya.


“ Aku gak mau sekolah Ma”, ujar Kica.


“ Loh kok gak sekolah, baru naik TK besar harus semangat dong. Nanti Bu Guru sedih kalau Kica gak masuk”, bujukku sambil mengusap punggungnya.


“ Habis Kakak juga gak mau sekolah katanya, aku juga mau di rumah aja main Little Pony”.


“ Siapa bilang gak sekolah, Kakak ayo bangun Nak. Mama udah siapin bekal kalian tuh”.


Akhirnya si sulung terbangun dari tidurnya, dia hanya duduk di kasur dengan wajah murung tak bergairah.


“ Aku pusing Ma”, sahutnya dengan memelas.


Kuhela nafas sambil mengucap Istigfar dalam hati. Sungguh kesabaranku yang sudah menipis ini kian terkikis. Kemarin si sulung selalu murung, kini adiknya juga ikut-ikutan malas sekolah. kadang mereka ribut hanya karena hal sepele, sementara aku harus konsentrasi membuat pesanan brownies di tengah-tengah keributan kakak-beradik.


Tin Tiiiin


Suara klakson motor terdengar di pekarangan rumah, ternyata Mas Agus sudah stand by untuk menjemput si sulung.


“ Mas, anak-anak gak sekolah kayaknya. Si Kakak murung terus, Kica ikut-ikutan gak mau sekolah”, ujarku di balik pintu pagar.


“ Oh gitu? Kakak sakit ya Bu? Soalnya dari kemarin mukanya pucat terus”, jawab Mas Agus.


“ Saya gak tau Mas, semenjak Papanya gak ada dia suka murung”, jawabku.


“ Iya saya tau. Sabar ya Bu, saya ga tega liat anak-anak. Saya udah antar jemput mereka selama 3 tahun, jadi ikut sedih dengernya”.


“ Makasih. Tolong titip anak-anak ya Mas, pokoknya jangan sampai telat jemput kalau di sekolah”.


“ Iya Bu, Inshaallah anak-anak saya jaga. Guru-guru sampai satpam juga udah pada kenal sama saya”. Kalau anak-anak gak sekolah saya mau ngojek lagi Bu. Assalamualaikum”, pamit Mas Agus sambil memutar motornya.


Akhirnya aku beranjak masuk dan kembali ke meja kerja. Sebuah meja makan yang sudah penuh dengan aneka bahan kue, baskom, timbangan dan mikser yang siap tempur menjemput rejeki. Kubiarkan Kila dan Kica bermalas-malasan di dalam kamar, aku masih kesal karena menurutku bolos sekolah itu tidak dibenarkan.


“ Mama, aku laper. Aku mau sarapan boleh enggak”, rengek Kica yang tiba-tiba berdiri di sampingku.


“ Kamu makan bekal yang tadi Mama siapkan aja, kan ga jadi masuk sekolah ”, jawabku ketus.


“ Aku mau telor ceplok Ma, gak mau makan kue bolu”, sungutnya.


“ Makan aja yang ada Nak, Mama sibuk ini”, jawabku dengan kesal. Hampir saja telur yang sedang kupecahkan remuk karena nyaris kubanting.


“ Nenek bikinin telornya ya Sayang. Kica tungguin dede Kian dulu di kamar ya”, sahut ibuku menenangkan Kica yang nyaris menangis karena kubentak barusan.


“ Rania, kasian anak-anak kamu. Cari tau lah kenapa mereka kaya gitu. Mama juga ikutan stres kalau tiap hari semua orang di rumah ini pada marah-marah”, sahut ibuku sambil menggoreng telur untuk anakku.

__ADS_1


“ Rania pusing Ma. Harus bikin kue, mondar-mandir anter pesenan, bikin strategi buat naikin penjualan, sambil ngurusin 3 anak yang sekarang uring-uringan. Kesabaran Rania habis Ma, kalau ga inget Mama sama anak-anak, Rania udah nyerah Ma”, isakku sambil menahan tangis.


“ Mama juga sedih Ran, Mama tau kamu cape. Beban kamu sudah sangat banyak, tapi kamu harus tetep kuat”, ujarnya sambil menggoreng telur sambil sesekali menyeka air matanya.


“ Sudah, jangan marahi anak-anak ya. Kalau mereka gak mau sekolah gak apa-apa, anak-anak memang tidak sehat psikisnya”. Ujar ibuku sambil menyendokkan nasi ke atas piring untuk menyiapkan sarapan pada mereka.


Aku merasa bersalah telah membentak mereka selama ini, sesungguhnya akupun kasihan melihat mereka, namun kewarasanku juga kian hari semakin menipis. Aku merasa membutuhkan bantuan kali ini.


Tiba-tiba saja aku teringat kontak psikolog yang diberikan Yasmin tempo hari. Meskipun aku merasa malu dan sungkan untuk menghubunginya, namun kali ini batinku sudah tak kuasa menanggung segala beban, aku tak sanggup memikul semua ini sendirian.


Kuambil ponselku dan segera kukirimkan pesan melalui WhatsApp padanya.


“ Selamat Pagi. Saya Rania, kebetulan dapat kontak Bapak dari Mbak Yasmin. Saya mau tanya, apakah saya bisa membuat jadwal untuk konseling?. Apa saja syarat & ketentuannya? Terima kasih”.


Kukirimkan pesan tersebut padanya, sebenarnya aku tak yakin dia akan membalas pesanku. Apalagi jika konseling ini sifatnya sukarela, mungkin yang mendaftar tak terkira jumlahnya.


PING


Pradipta Erlangga


“ Selamat Pagi Ibu Rania. Untuk konseling silakan mengisi formulir terlebih dahulu, jadwalnya nanti saya atur sesuai slot yang tersedia. Kalau boleh tau lokasi Ibu di mana? Klinik praktek saya ada di Cilandak Jakarta Selatan, apakah Ibu bersedia untuk hadir di klinik untuk konseling?”.


Aku terkejut akan jawaban dari psikolog tersebut. Kukira ia tak akan membalas pesanku. Segera saja jariku mengetik membalas pesannya.


“ Lokasi saya di Tangerang Selatan. Cilandak gak begitu jauh, kalau memang ada slot saya mau daftar Pak. Maaf sebelumnya apakah konseling ini berbayar? Lalu berapa tarifnya?”.


PING


Pradipta Erlangga


Dengan segera aku mengisi formulir yang diberi. Kuisi data diri hingga permasalahan yang aku alami selama beberapa bulan kebelakang. Begitu semua terisi, kukirimkan melalui email yang tertera di pesan tersebut.


Segera kuselesaikan pembuatan kue Brownies yang sedari tadi belum kusentuh. Mikser kue berdengung mengaduk campuran telur, gula dan mentega hingga mengembang. Sambil menunggu mikser yang tengah berputar secara otomatis, aku menyiapkan oven agar borwniesku siap untuk dipanggang.


PING


“ Selamat Pagi Ibu Rania. Saya Tiwi dari Rumah Damai . Siang ini ada jadwal konseling pertama dengan Bapak Pradipta pada pukul 13.00 WIB. Silakan menjawab YA jika bersedia dan TIDAK apabila berhalangan. Saya tunggu konfirmasinya. Terima kasih”.


Aku terkesiap dengan undangan tersebut, ternyata secepat ini aku mendapat jadwal konseling, dan sifatnya cuma-cuma alias gratis. Tanpa berpikir panjang aku langsung mengetik YA di ponselku.


12.55 WIB – Rumah Damai


Mataku menyusuri setiap sudut di rumah bergaya tempo dulu namun bersih terawat. Dindingnya didominasi warna putih dengan kusen yang terbuat dari kayu jati. Di setiap dinding terpampang lukisan abstrak yang menyita perhatian, menatap karya seni yang dipajang disana cukup menghalau rasa kebosananku. Sungguh tempat ini diluar yang kubayangkan. Kukira klinik ini akan seperti tempat praktek dokter yang kaku, namun ternyata tempat ini sesuai dengan namanya, rumah yang damai membawa ketenangan bagi siapapun yang mengunjunginya.


“ Ibu Rania Chairunnisa, silakan masuk ke ruangan Bapak Pradipta. Mari saya antar Bu“, ujar seorang admin dengan pin bertuliskan Tiwi di dadanya. Ternyata dia adalah Mbak Tiwi sang admin yang menghubungiku tadi pagi.


Aku berjalan di belakang Mbak Tiwi sambil memperhatikan setiap sudut ruangan yang sangat homey. Hingga akhirnya kami berhenti di depan sebuah ruangan yang sedang terbuka, Mbak Tiwi mengetuk perlahan sambil berbicara pada lelaki yang berada di dalamnya.


“ Permisi Pak Dipta, Bu Rania sudah hadir ya”.

__ADS_1


“ Persilakan masuk Tiwi, terima kasih ya”, jawab suara di dalam ruangan bernuansa putih tersebut.


Aku memasuki ruangan itu, tampak seorang lelaki berkacamata dengan kemeja berwarna biru laut dan celana khaki yang lembut. Lelaki itu berdiri menyambutku sambil mendekati ke arah pintu.


“ Selamat Siang Ibu Rania, ayo silakan duduk”, sambutnya sambil tersenyum hangat. Ia mempersilakanku duduk pada sofa two seater berwarna tosca di sudut ruangan.


“ Perkenalkan saya Pradipta Erlangga. Cukup panggil saya Dipta saja”, ujarnya sambil tersenyum.


“ Saya panggil Mas Dipta saja, sungkan kalau panggil nama “, jawabku grogi.


“ Boleh saya panggil Rania saja? Kayaknya kita seumuran nih?”, guraunya.


“ Boleh silakan Mas, cukup Rania saja”.


“ Oya, kamu mau minum? Saya gak akan tawarin macem-macem, karena adanya cuma teh “, guraunya lagi. Ia berjalan pada sebuah dispenser sambil menyiapkan teh di sebuah meja konsol dengan rak kayu diatasnya. Terdapat aneka toples kecil yang berisikan aneka teh tertata rapi. Sekali lagi aku begitu kagum pada tempat ini, rasanya seperti berada di rumah, batinku.


“ Silakan diminum, semoga kamu suka rasanya”, sahut Mas Dipta sambil membawa nampan dan menyodorkan secangkir teh hangat padaku. Kuambil cangkir tersebut dengan perlahan, uap panas nampak mengepul menebar aroma teh yang menggelitik hidung.


Kuhirup teh tersebut perlahan, airnya tidak terlalu panas, rasa manisnya sangat pas di lidahku.


“ Gimana rasanya? Kemanisan enggak? Saya paling deg-degan kalau klien perempuan, takut diprotes gara-gara gak bisa buat teh”, tanyanya sambil ikut menghirup teh di cangkirnya.


“ Gak kok Mas. Semuanya tepat, saya suka teh dengan semburat manis seperti ini. Kalau mertua saya bilang rasa manis jambu, tidak terlalu manis namun tidak tawar”, jawabku.


“ Kamu punya cerita tentang rasa teh ini rupanya, kalau berkenan saya mau loh mendengarkan”, ujarnya sambil meletakkan cangkir teh nya. Mata teduhnya berbinar menatapku dalam-dalam.


“ Suami saya sangat suka teh manis seperti buatan ibunya. Sudah menjadi tradisi di keluarganya untuk menyiapkan teh manis untuk sarapan atau berbuka puasa. Ibunya mengajarkan saya untuk membuat teh seperti ini, katanya biar gak terbiasa dengan yang manis-manis, takutnya kena diabetes katanya”.


“ Tapi sekarang teh ini saya hanya nikmati sendirian, setelah suami saya meninggalkan saya untuk mengejar cinta dan karirnya di saat saya baru melahirkan. Semenjak itu hidup saya dan anak-anak berputar 180 derajat . Hati saya hancur, begitupun psikis anak-anak yang uring-uringan setiap hari”.


“ Kamu punya suatu lingkaran pertemanan yang menguatkan kamu? Teman? Saudara?”, tanyanya.


“ Ada. Alhamdulillah sahabat saya selalu menguatkan. Meskipun kami tinggal berbeda kota mereka selalu memberi dukungan dan perhatian. Saya juga banyak dibantu sahabat saya untuk urusan sidang hingga dukungan agar bisa mandiri secara finansial”.


“ Syukurlah, kamu tidak sendirian. Kamu pasti bersyukur dengan adanya kehadiran mereka, karena orang-orang baik itu adalah dirimu yang sekarang”, ujarnya sambil menatapku dengan senyuman yang tak pernah lepas dari bibirnya.


Pradipta mengambil sebuah file yang bertuliskan namaku di sampulnya. Ia menyilangkan kaki sembari membaca dokumen di tangannya.


“ Saya telah membaca sekilas tentang assesmen yang sudah kamu isi tadi pagi, masih ada beberapa assesmen yang ingin saya observasi lebih dalam. Tapi kita ngobrol saja lah, tidak usah serius seperti mengerjakan psikotes”.


“ Baik Mas, silakan tanya apa saja “, jawabku.


“ Namun sebelumnya kita harus menyamakan frekuensi dulu ya. Begitu kamu mengajukan untuk konseling, berarti kita berdua harus kooperatif agar konseling ini berjalan sesuai rencana. Saya akan membantu mengobati luka batin kamu, begitu juga kamu harus membantu saya agar proses pendampingan ini berjalan lancar dalam waktu 3 bulan. Sampai disini ada yang mau ditanyakan?”.


“ Tidak ada Mas, sudah cukup jelas. Saya bersedia”.


“ Baik Rania, kamu boleh mengutarakan dari awal apa saja yang menjadi keresahan kamu selama ini. Saya siap mendengarkan “, ujarnya.


Akhirnya semua cerita ini mengalir dari bibirku, segala kegundahan dan sakit hati yang selama ini kupendam keluar sudah. Pradipta hanya diam sambil menatapku dengan mata teduhnya, sambil sesekali ia mencatat pada file yang sedang dipegangnya. Sorot matanya menandakan ia sedang menyimak, mengamati dan memberikan empati. Suatu perhatian yang sudah lama tidak kudapatkan lagi selama ini.

__ADS_1


__ADS_2