Harta, Tahta, Renata

Harta, Tahta, Renata
Keputusan Besar Cerita Rayendra


__ADS_3

Aku sedang sibuk merakit kasur bayi yang dipinjamkan sahabat Rania pada kami. Rania tengah melipat baju bayi yang baru kami beli untuk menyambut kelahiran anak ketiga kami. Besok adalah hari yang kami tetapkan untuk menjalani operasi caesar. Hari ini Rania harus berpuasa, sambil menghabiskan waktu ia merapikan pernak-pernik bayi dan mengepak beberapa stel baju untuk persiapan ke rumah sakit.


Meetingku dengan Dion kemarin bisa dibilang sedikit melegakanku. Kliennya bisa menerima penjelasanku mengapa aplikasi kami belum selesai tepat waktu, dan ia bersedia melakukan pembayaran atas sebagian produk yang aku kerjakan. Namun berita buruknya adalah ia akan membayar 2 minggu lagi, sementara besok Rania harus masuk rumah sakit.


PING!!!


Terdapat pesan masuk di ponselku. Fadli memberitakan bahwa aku harus ke Bandung untuk melakukan meeting dengan beberapa pemilik Hotel di Bandung. Aku jelaskan bahwa seharusnya Renata bisa menggantikanku untuk melakukan meeting tersebut. Fadli lalu bercerita bahwa Renata sering keluar pada saat jam kantor tanpa laporan sama sekali.


Aku mulai teringat Renata, kemana saja ia selama ini?. Beberapa hari ini aku sangat disibukkan dengan pekerjaan Dion dan urusan persalinan Rania. Aku belum menghubungi dia lagi, begitu pula sebaliknya. Pertangkaran tempo hari benar-benar membuat dia marah padaku. Aku tak tahu apakah harus memintanya kembali atau memang aku harus menyudahi semuanya.


“ Makan dulu pap, kamu udah cape dari tadi ngurus tempat tidur bayi. Jadi inget waktu lahiran Kica, kita mendadak beli peralatan bayi pas dia mau lahiran “, kenang Rania sambil memeluk pinggangku dengan tersenyum.


“ Iya ya, cuma pas Kila lahir kita beli semua peralatan bayi sejak kamu hamil 7 bulan. Anak kedua sama ketiga mah boro-boro deh “, ujarku sambil mengenang kembali saat kami menyambut kelahiran anak-anak kami.


Masih teringat jelas di benakku saat Rania akan melahirkan anak pertamaku. Semuanya sangat mengesankan, seperti cerita di film drama. Kami belanja berburu baju bayi saat Rania masih hamil 7 bulan hingga bagaimana antusiasnya kami saat periksa ke dokter kandungan. Aku ingat saat Rania mulai merasakan kontraksi saat tengah malam, aku sampai tak bisa tidur karena Rania terus mengeluh sakit. Pagi harinya aku dan mertuaku membawa Rania ke rumah sakit. Selama 12 jam Rania mengalami kontraksi dari ringan hingga berat. Kupegang jemari Rania untuk meredakan sakitnya, aku bilang padanya bahwa ia boleh jambak atau cubit aku kalau itu bisa meredakan sakitnya.


Aku sampai tak tega melihat Rania yang menahan sakit begitu hebat. Tak berhenti aku usap pinggangnya, aku seka keringatnya, kubiarkan ia meremas lenganku dengan begitu kuat. Hingga akhirnya dokter datang karena Rania sudah bukaan lengkap. Aku melihat dengan jelas bagaimana proses kelahiran anak pertamaku. Aku nyaris pingsan menyaksikan anakku lahir di dunia ini. Semuanya tak bisa kuungkapkan, antara sedih, haru dan bangga pada wanita yang berjuang mempertaruhkan nyawanya saat itu.


Kelahiran anak keduaku tidak seperti anak pertamaku. Rania tidak mengalami kontraksi sama sekali padahal usia kandungan sudah tepat 40 minggu. Dokter menyarankan untuk operasi Caesar karena dikhawatirkan bayi kami sudah menelan air ketuban. Prosesnya sangat singkat dan Rania terlihat begitu tenang. Setelah operasi barulah penderitaan Rania dimulai. Jahitan di perutnya membuat Rania sulit untuk bergerak. Jangankan berdiri, untuk miring ke kiri dan kanan saja ia harus mengeluarkan segenap tenaga sambil menahan sakit yang amat sangat.


Kini kelahiran anak ketigaku benar-benar menguras emosi dan pikiranku. Entah apa yang membawa diriku ke titik ini. Kelahiran anak yang seharusnya menjadi kebahagiaan tak ternilai malah jadi kegundahan paling hebat dalam hidupku. Hubunganku dan Rania kian dingin, rasa cintaku sudah pudar padanya.


“ Pap ayo makan, udah malem nih. Besok pagi jam 5 subuh kita harus berangkat ke RS ”, tegur Rania saat aku melamun sambil memainkan ponselku. Aku tengah memantau percakapan WA grup RENTZ yang tengah ramai, kulihat chat dari Renata yang sedang memberikan brief pada anak buahku. Inginku menyapanya, menghubunginya, meminta maaf atas perlakuanku tempo hari padanya. Namun aku tak bisa, entah kenapa begitu aku berada di sini hatiku seperti terkunci. Kelahiran anakku besok serasa mengikatku untuk terus berada disini, menemani Rania dan mencurahkan perhatian dan waktu untuk anak-anakku.


“Iya aku makan dulu deh, kamu langsung tidur aja biar ga lemes ”, jawabku pada Rania sambil membelai kepalanya. Aku masih ingin memastikan rasa sayangku masih ada untuknya. Namun sayang bayangan Renata terlalu kuat, raganya ada di Bandung tapi bayangannya selalu menghantuiku setiap detiknya. Aku berjalan menuju dapur, di meja sudah tersaji nasi putih, sayur sop dan ayam goreng ungkep kesukaanku. Entah kenapa semuanya begitu hambar bagiku.


\*\*\*\*\*\*\*


“ Bu Rania ayo langsung masuk ruangan observasi ya, suaminya ikut aja ga apa-apa”, seru seorang suster di RS tempat Rania akan melahirkan. Kami memasuki ruangan observasi dan seorang suster datang memberikan baju ganti khusus untuk Rania. Perut Rania dipakaikan alat Cardiotocography (CTG) untuk memantau denyut jantung calon anak kami.

__ADS_1


“ Ibu udah paham ya cara kerjanya, ini kan kelahiran anak ketiga “, ujar suster yang tengah mengencangkan sabuk alat CTG di perut Rania.


Rania mengangguk sambil menggenggam suatu alat dengan tombol yang harus ia tekan apabila terjadi kontraksi di perutnya. Kudengar denyut jantung calon bayi kami, gerakan badannya juga lincah seakan tak sabar ingin cepat hadir di dunia. Suster akhirnya meninggalkan kami berdua di ruangan observasi, kulihat Rania membuka ponselnya sambil membaca dzikir.


PING!!!


“Mas Ray kapan bisa ke Bandung” tanya Fadli dari sebuah pesan Whatsapp padaku.


“Belum tau Fad, istriku melahirkan hari ini. Mungkin 3-4 hari lagi aku bisa ke Bandung. Gimana, kantor aman?”, tanyaku kepada Fadli orang kepercayaanku itu.


“ Aman sih mas, ada Mbak Renata yang menggantikan mas ketemu klien. Pak Hardian juga sudah tau kalo mas cuti sampe minggu depan” jawab Fadli padaku.


“ Mas udah tau kalo Mbak Renata udah punya pacar baru? “, tanya Fadli yang sontak membuatku terkejut.


“ Apa? Renata punya pacar? Siapa?“, tanyaku sambil berdiri dari tempat dudukku dan berjalan ke luar ruangan observasi. Ingin kuhubungi Fadli untuk bertanya lebih jelas tapi disini aku tak boleh menerima panggilan sama sekali.


“ Iya mas, udah seminggu Mbak Renata dijemput sama cowo. Trus kalo jam 10 pagi pasti keluar kantor, tiba di kantor lagi jam 3 sore. Gitu terus mas tiap hari”, ujar fadli di sebrang sana.


“ Enggak mas. Aku khawatir aja soalnya anak-anak jadi sering gosip di kantor. Ngomongin hubungan Mas Ray dan Mbak Renata setiap harinya. Kalo sampe terdengar ke telinga Pak Hardian ga enak mas “, ujar Fadli lagi.


“ Kalo masalah cowonya Renata itu bukan wewenang saya, tapi kalo keluar kantor tanpa ijin saya bisa tindaklanjuti “, seruku dengan rasa cemburu yang bergejolak di dadaku.


Seorang suster mendekatiku untuk memberitahu bahwa dokternya sudah datang dan Rania harus masuk ke ruangan operasi. Aku menuntun Rania ke kamar pemulihan untuk menunggu panggilan dokter. Aku berganti baju dengan seragam khusus agar kami tetap steril. Rania masih berkomat-kamit membaca dzikir. Dia menggenggam tanganku, tangannya yang dingin mencoba meraih jemariku.


“ Aku takut pap “, serunya pelan. Wajahnya memang pucat karena dari semalam berpuasa.


“ Ga apa-apa kamu pasti kuat, kamu kan udah terbiasa “, jawabku singkat.


Ponselku bergetar saat Fadli kembali mengirim pesan Whatsapp. Kulepaskan genggaman tangan Rania dan kujawab semua pesan-pesan Fadli saat itu juga. Semua tentang Renata membuatku gelisah, pikiranku kini hanya tertuju padanya. Siapa lelaki yang kini tengah bersamanya.

__ADS_1


“ Pap, aku pusing banget, kenapa ya “, terdengar suara Rania mengajakku berbicara.


“ Pap, kamu sibuk ya “, serunya yang nyaris membuyarkan konsentrasiku saat mengetik pesan dengan Fadli.


“ Pap, aku takut “, seru Rania kembali. Aku menghentikan ketikan di ponselku. Akhirnya kutatap Rania, aku coba menenangkannya sebisaku.


“ Berdoa aja ya. Kamu kuat ko, kan udah pengalaman ini. Aku cium dulu deh sini “, ujarku sambil mendaratkan ciumanku pada dahi Rania dengan cepat.


“ Aku tunggu di luar ya, biar mama yang gantian jaga kamu “, seruku sambil bergegas berdiri dari kursiku dan beranjak keluar ruangan operasi. Kupanggil ibu dan mertuaku untuk menemani Rania selama menunggu panggilan dari kamar operasi. Pikiranku kini tak menentu, aku ingin menghubungi Renata saat ini, kucari kontaknya dan kuhubungi Renata saat itu juga.


“ Halo “, suara Renata di sebrang sana mengangkat teleponku.


“ Halo Ren, gimana kantor “, sahutku basa-basi padanya. Masih ada rasa segan untuk berbicara terus terang padanya.


“ Baik, semua agenda kerjasama sama hotel-hotel lancar, ada beberapa klien juga yang sudah waiting list mau jadi tenant”, jawabnya singkat.


“ Ren aku mau minta maaf sama kamu, aku gak ada maksud nyakitin kamu. Aku nyesel Ren “, pintaku dengan memelas pada wanita itu.


“ Udah deh mas, kamu fokus aja sama istri kamu. Selamat ya atas kelahiran putri ketiga kamu “, jawab Renata dengan ketus.


“ Aku serius Ren, please jangan marah lagi. Jangan tinggalin aku Ren, aku butuh kamu. Yang kemarin itu salah paham, aku pilih kamu Ren “, jawabku spontan pada Renata. Aku sendiri tak sadar apa yang tengah aku ucapkan. Apa benar hatiku memilih Renata daripada Rania?


Tak kusadari ibuku memelukku dari belakang. Dia berkata bahwa Rania sudah masuk ruangan operasi. Ibuku tengah mengobrol dengan ibu mertuaku, mereka sedang melempar canda agar situasi tak menjadi tegang.


“ Hey kusut amat muka kamu Ray, udah siapin nama belum buat bayi kamu ini?”, panggil ibuku sambil menepuk lenganku. Aku menggelengkan kepalaku, aku saja tak tahu namanya siapa. Rania belum memberitahukan nama yang dia siapkan untuk anak ketiga kami. Biasanya memang Rania yang menyiapkan nama, kali ini aku benar-benar lupa dan tidak terpikirkan untuk menyiapkannya.


“ Ih gimana sih bapanya gak tau nama anaknya, kebangetan kamu Ray”, goda ibuku di depan mama Rania. Mertuaku hanya tersenyum sambil menatapku. Tatapan itu seperti bukan tatapan biasa, begitu dingin dan tak bersahabat.


Sudah 20 menit berlalu kami menunggu di ruang tunggu. Masih sepi, sunyi dan kulihat petugas cleaning service tengah bolak-balik membersihkan lantai. Para suster tampak berganti shift untuk melayani para pasien.

__ADS_1


“ Bapak Rayendra, selamat bayinya sudah lahir. Silakan masuk ke dalam untuk mengadzani bayi nya ya pak “, seru seorang suster memanggilku ke dalam ruangan bayi. Aku bergegas masuk ke dalam dan kulihat sesosok bayi montok yang masih dipenuhi darah sedang dibersihkan oleh suster lainnya. Bayi itu menangis dengan kencangnya, wajahnya sangat mirip dengan Kica. Kubersihkan tanganku, kukenakan baju steril dan kuraih bayi yang sedang dibersihkan oleh suster itu.


Kuraih bayiku yang sedang menangis dengan kencangnya. Kutatap wajahnya yang sangat mirip denganku. Rambutnya tebal, matanya sipit, bibirnya mungil persis sekali denganku saat bayi. Aku terharu melihat anakku, kucium lembut kepalanya dan kudekap erat agar tangisannya mereda. Aku kumandangankan adzan di telinga kanannya, lantunan adzan terasa berdesir menghangatkan jiwa. Kuucapkan doa tulus dari dalam hati untuk bayi cantik ini. semoga kamu menjadi anak sholeha, pintar, sehat dan kuat. Jadilah pribadi yang tangguh dan mandiri, semoga Allah selalu menjagamu disaat papa sudah tidak bersamamu lagi.


__ADS_2