Harta, Tahta, Renata

Harta, Tahta, Renata
Bukti Keseriusan Cerita Renata


__ADS_3

7.45 WIB


Kantor RENTZ – Dago


Sepiring nasi kuning lengkap dengan telur balado tersaji di depan komputerku pagi ini. “Siapa yang menaruh nasi kuning favoritku disini?”, batinku. Kulirik ke kanan dan kiri mencari Ari sang office boy kami. Nampak sesosok pria 20 tahunan muncul dari pantry sambil membawa gelas-gelas kosong ke meja disamping dispenser.


“ Ari, siapa yang pesen nasi kuning? Ko ditaruh disini?”, tanyaku padanya sambil menunjuk piring tersebut.


“ Oh itu, Pak Ray minta saya beliin, buat Ibu katanya “, sahutnya sambil melongok ke mejaku dan kembali menata gelas.


“ Ray udah dateng? Tanyaku sambil melahap kerupuk di piringku.


“ Udah bu, kayanya lagi keluar sebentar sama Mas Fadli “ serunya sambil kembali menuju pantry di pojok ruangan.


Aku duduk di kursi kerjaku sambil melahap nasi kuning yang masih hangat. Aromanya semerbak tercium wangi kunyit dan sambal balado yang menerbitkan air liurku. Padahal semalam aku baru saja melahap makanan mewah dengan harga fantastis, tapi rasanya lebih mewah nasi kuning seharga 15 ribu ini.


Pikiranku langsung tertuju pada Ray. Aku bertanya-tanya dimana ia tinggal sekarang. Sejak ia mendatangi apartemenku malam itu, aku tak mengindahkan pesannya. Aku hanya menjawab pesannya apabila berhubungan dengan pekerjaan. Ivan masih membuatku bimbang, lelaki yang katanya ingin serius itu tak berhasil memenuhi ekspektasiku selama ini. aku sangat kecewa sekarang, padahal aku sudah berharap banyak padanya.


Namun berbeda dengan Ray, meskipun sudah kutolak sedemikian rupa, ia masih gigih untuk meyakinkanku bahwa ia serius denganku. Kuakui perhatian Rayendra padaku selalu membuatku terkesan, perlakuannya membuatku nyaman meskipun ia masih berstatus suami orang. Rayendra meyakinkanku bahwa ia sudah lama mencari sosok wanita sepertiku, wanita yang hebat, kuat, dan cerdas. Ia membuatku seakan-akan aku adalah wanita ideal. Sudah lama aku tak merasakan suatu penghargaan dari seorang pria, kebanyakan dari mereka hanya ingin tubuhku saja. Namun berbeda dengan Ray, ia melihatku sebagai wanita kuat dan cerdas. Tidak ada stigma dalam dirinya saat ia tahu aku seorang ibu tunggal.


“ Pagi Mbak Rena, enak banget pagi-pagi udah sarapan nasi kuning aja “, sapa Nurul dan Dimas yang masuk ke ruangan. Nurul terlihat menenteng sekantung gorengan dan meletakannya di piring. Anak-anak IT langsung mengerubungi gorengan yang dibeli Nurul, mereka sibuk berceloteh satu sama lain.


“ Kalian liat Mas Ray ga sih?”, Tanyaku pada Nurul yang sibuk mengunyah gorengan di kursinya.

__ADS_1


“ Mas Ray pergi sama Fadli mbak, mau beli perangkat apa lah pokoknya “, jawabnya sambil terus mengunyah.


Entah kenapa hari ini aku mencari-cari Rayendra. Aku merasa bersalah telah mendiamkannya selama nyaris satu bulan. Perlakuan Rayendra pada Daffa kemarin seakan meluluhkan hatiku. Daffa terdengar sangat akrab dengan Ray, bahkan mereka ternyata telah chatting dari kemarin siang untuk membahas perihal kuliahnya di University of Tokyo. Mulai dari membahas biaya sekolah hingga mata kuliah yang Daffa ambil. Daffa mengambil Fakultas Seni Liberal dan Sains di kampus tersebut. Setelah ia berkonsultasi dengan Ray kemarin, Daffa menjadi lebih semangat seakan mendapat pencerahan.


“ Mbak Rena jangan lupa hari ini ada meeting sama Big bos ya “, panggil Nurul yang kini tengah menatap agenda di laptopnya. Aku menepuk jidatku, nyaris saja aku lupa ada meeting bersama Ray dan Pak Hardian di kantor pusat. Aku buru-buru menyimpan piringku, lalu aku menghubungi Ray dengan telepon kantor di mejaku.


“ Mas Ray, hari ini jadi ke pusat kan? Meeting jam 9 sama Pak Hardian?”, tanyaku pada Ray yang sepertinya sedang berada di dalam mobilnya.


“ Iya Ren, aku udah deket kantor nih, kamu turun ke lobby sekarang ya “, jawab Ray dengan suara lembutnya. Entah kenapa hari ini aku jadi senyum-senyum sendiri. Kekecewaanku semalan pada Ivan terobati dengan perhatian Ray dengan sepiring nasi kuning saja. Entah kenapa aku merindukan lagi semua tentang Ray, kelembutan lelaki itu seakan muncul lagi di benakku. Sentuhan tangannya, belaiannya, dan sejuta perhatiannya kembali menggoyahkan hatiku yang terlanjur tertambat pada Ivan. Arrrgh, pusing aku jadinya.


Aku langsung bergegas membawa laptopku dan turun ke lobby. Jam sudah menunjukkan jam 8.20 pagi, aku harus cepat-cepat menuju ke kantor pusat. Ku langkahkan kaki menuju pintu luar, nampak mobil Chevrolet abu sudah terparkir di parkiran direksi. Fadli nampak sibuk mengeluarkan perangkat computer di bagasi mobil.


Hari ini Ray terlihat rapi dan segar. Kemeja biru muda yang ia kenakan membuatnya tampak lebih muda, rambutnya licin mengkilap dan wajahnya sumringah. Tercium parfum Acqua Di Gio Man bau khas Rayendra menggelitik hidungku. Sesekali Ray menatap padaku sambil membantu Fadli mengeluarkan dus berisikan perangkat elektronik yang ia beli.


“ Pergi agak lamaan dikit juga gak apa-apa Mas Ray. Kantor aman kok “, ujarnya dengan penuh kode pada Ray. Ray hanya tersenyum dan membuka pintu mobilnya. Aku masuk ke dalam mobilnya, terasa aneh kembali duduk bersamanya. Terakhir aku duduk di kursi ini sambil menangis penuh emosi, tak kusangka kini aku bersamanya kembali.


“ Kemarin aku ketemu Daffa, dia anak yang pinter Ren “, ujarnya di sela-sela keheningan perjalanan menuju kantor pusat.


“ Iya, Daffa cerita sama aku. Makasih ya masukannya, dia perlu banyak info soal kampus di Jepang. Aku ga begitu paham, ngurus dokumen aja hampir lupa “, ucapku tulus padanya.


“ Justru aku yang seneng ngobrol sama Daffa, dia anak yang supel, cerdas, berkemauan tinggi kaya kamu. Cantiknya juga sama kaya mamanya “, Goda Ray yang berhasil membuat wajahku tersipu.


Seketika Ray meraih tanganku, jemarinya menggenggam tanganku dengan erat. Ia tarik dan cium punggung tanganku. Aku menahan napas dan jantungku berdegup kencang. Wajah kami bertatapan, sesekali Ray kembali menatap jalan di depannya. Entah kenapa hatiku rasanya menjadi tak karuan. Antara panik dan bahagia seakan melebur menjadi satu, kerinduan akan sosok pria ini seakan terobati. Meskipun aku marah padanya, kecewa akan sikapnya yang meninggalkanku saat itu dengan memilih pulang ke Jakarta. Namun ia kini telah hadir di sini bersamaku, mengajakku untuk kembali merajut cinta yang terputus.

__ADS_1


“ Ren, waktu itu aku ke Bogor sama Dion. Aku punya proyek baru, kayanya aku bareng Om Yan mau bikin tempat wisata. Kita tinggal cari investor yang mau chip in “, sahutnya sambil fokus menyetir.


“ Memangnya butuh berapa banyak?, kamu ga bisa invest sendiri mas? “, tanyaku padanya.


“ Mungkin butuh sekitar 5M Ren. Akupun pengennya gitu, apalagi Om Yan besedia dapat saham minoritas. Kalo aja ada dana talangan biar aku bisa chip in buat tempat wisata selfie di Bogor”, jawabnya.


Otak bisnisku berputar mendengar cerita Ray tentang bisnis usaha wisata selfie yang kini tengah digandrungi. Hal senada yang aku sarankan pada Pak Hardian yang tidak ia gubris.


“ Ren kamu mau ga jadi partner buat proyek wisata di Bogor ini, kamu pasti aku masukkan jadi Board of Director di sini “ tanyanya dengan mantap kepadaku.


Aku terkejut mendengar tawarannya, peluang ini sudah tak mungkin aku tolak.


“ Boleh mas, I’m in “, jawabku spontan mengiyakan ajakannya.


Peluang ini tidak akan aku lewatkan, sudah lama aku merancang ide untuk mengembangkan bisnis objek wisata sudah ada di depan mata. Tinggal aku putar otak bagaimana caranya bisa menyuntikan dana.


Ray tersenyum mendengar jawabanku. Kami saling tersenyum dengan tatapan optimis, sebuah kesempatan besar ada di depan mata kami.


“ Kamu gak usah kuatir darimana uangnya Ren, biar aku yang handle semuanya. Yang terpenting kamu masuk dalam jajaran direksi. Aku punya dana 1M dari proyek pribadiku, mudah-mudahan bisa cover pembangunan tahap 1 “ , lanjutnya sambil memelankan mobilnya karena kami sudah tiba di kantor pusat.


“ Karirku ada di tanganmu Ren, semuanya aku serahin sama kamu “, serunya sambil menatapku penuh keyakinan. Otakku masih mencerna semua perkataannya, semua ini adalah keseriusan yang Ray berikan untukku.


Ray memarkirkan mobilnya di parkiran direksi, seorang sekuriti langsung membukakan pintu mobilku dan mempersilakanku keluar sambil membungkuk hormat. Ray menyapa sekuriti itu dan memberikan uang tip seperti biasa, kehangatan Ray pada seluruh jajaran staf Sukses Hardja Group memang sudah dikenal semua orang. Tiba-tiba saja penilaianku pada Ray semakin bertambah. Hatiku terasa hangat melihat keramahannya, aura percaya diri Ray semakin meningkat belakangan ini. Respon Daffa juga sangat positif terhadap Ray, apalagi ia sangat butuh figure seorang ayah. Ya Tuhan, aku bingung dalam kondisi ini. Ketika semesta seakan berpihak kepada Ray untuk menjadi takdirku, lalu bagaimana dengan Ivan?. Lelaki mana yang harus aku pilih untuk menjadi pendampingku kelak?

__ADS_1


__ADS_2