Harta, Tahta, Renata

Harta, Tahta, Renata
Jatuhnya Talak Cerita Rania


__ADS_3

Cerita Rania


Kejadian di rumah mertuaku malam kemarin masih menyisakan perih di hatiku. Namun aku berusaha sabar, tekadku untuk mempertahankan rumah tangga demi anak-anak lebih besar daripada egoku. Sebisa mungkin aku menuruti apa kemauan Ray, siapa tau Ray mau menenangkan dirinya dari segala permasalahan finansialnya.


Setelah kejadian mediasi malam itu, Ray mengajaku pulang keesokan harinya. Di jalan kami tak lagi banyak bicara, tidak ada juga lantunan musik selama perjalanan, kami semua hanya larut dalam kesuyian. Ketika sampai di rumah aku masih berusaha melayani dirinya, kusiapkan makan hingga kutanyakan segala keperluannya. Ray tau aku sangat terluka, sikap diamku sudah menandakan aku sangat kecewa padanya, tapi semua itu tak lantas membuat dia luluh padaku. Dia terus menghindar dan bermain-main dengan anak kami.


“ Ran, piano Kila udah aku posting di internet. Aku udah jual buat bayar biaya sekolah dan makan kalian sampai akhir bulan ini. Kemungkinan siang ini pembelinya mau ngambil kesini “, ujar Ray di kamar selepas dia mandi.


Aku hanya terdiam dan pasrah atas segala keputusannya, toh lambat laun rumah ini harus dijual juga. Aku tak mungkin pindah dengan membawa piano itu. Ray memberitahu Kila bahwa pianonya telah terjual, terlihat gurat kecewa dari muka anakku, namun ia berbesar hati merelakannya.


Tidak hanya itu, Ray juga menjual televisi di kamarku hingga ayunan di taman belakang. Dalam sehari semua barang itu terjual. Ray pergi mengirim untuk transaksi Cash On Delivery dengan pembelinya. Pulang COD, Ray memberikan uang penjualan barang-barang kepadaku. Aku menerima uang cash tersebut dan menyimpannya untuk membayar biaya sekolah dan kebutuhan sehari-hari kami. Seketika hatiku trenyuh melihat dirinya, aku marah tapi masih menyayangi lelaki yang telah bersamaku 8 tahun ini. Kutanyakan apakah dia perlu uang untuk bensin saat dinas ke Bandung nanti, ia pun menolak. Aku sungguh kasihan padanya.


“ Pap, aku minta maaf kalau selama ini aku ga bisa jadi istri yang baik sama kamu. Maaf aku ga bisa memenuhi segala ekspektasi kamu, aku terlalu sibuk sama anak-anak “, sahutku lirih memegang tangannya.


“ Iya sama, maafin aku juga ga bisa jadi suami dan ayah yang baik buat anak-anak “, jawab Ray sambil mengelus rambutku. Aku tahu permintaan maaf ini keluar dari hatinya yang dalam dan tulus. Tidak seperti kemarin di rumah mertuaku, kini Ray lebih lembut kepadaku.


“ Pap kamu kenapa sih, memangnya kita gak bisa mulai lagi dari nol?” selama ini kita selalu diuji lalu kita bisa bangkit lagi “, ujarku sambil terisak.


“ Gak bisa Ran, aku udah pikirin ini matang-matang. Kasian anak-anak harus tumbuh dengan orangtua yang tidak lagi sejalan “ bantahnya lagi.


“ Gak sejalan apanya sih pap?, mana yang gak sejalan? Yang namanya pernikahan gak akan ada yang sama persis satu sama lain. Harus ada yang saling mengalah dan selalu belajar meredam ego masing-masing ”, jawabku sambil terus menggenggam tangan suamiku.


“ Aduh susah lah jelasinnya Ran, mau dijelasin kaya apa kamu ga ngerti-ngerti. Aku minta tolong sekali aja kamu ngertiin kondisi aku sekarang. Aku harus fokus membenahi semua masalahku. Semuanya udah kusut Ran, KUSUT!!! “


“ Justru aku sangat sayang sama anak-anak, aku gak mau mereka kena imbas dari semua permasalahan aku. Kamu bisa paham kan “, ujarnya lagi.


Kudengar Kian menangis di tempat tidurnya. Dengan langkah gontai dan lutut yang masih lemas aku meraihnya. Kugendong tubuhnya dengan sekuat tenaga, tanganku gemetar gara-gara percakapan dengan Ray barusan.


“ Pap, aku gak tau harus bilang apalagi sama kamu. Aku masih bingung dan gak paham apa yang sebenernya terjadi. Aku minta tolong jangan sakitin aku lagi, kasian Kiana dia harus minum banyak ASI “, pintaku memelas agar Ray menyudahi semua percakapan ini. aku harap ia akan luluh dan memikirkan semuanya baik-baik. Kehadiran Kiana seharusnya bisa meluluhkan hatinya agar bisa merajut rumah tangga seperti sedia kala.

__ADS_1


“ Justru itu. Aku sangat sayang sama Kiana, Kica dan Kila. Aku sangat sayang sama mereka dan kamu tau itu. Aku harus lepasin mereka dari segala beban hidup aku “ jawabnya sambil berdiri dari tempat tidur dan mengelus Kiana yang kugendong di pelukanku.


“ Maafkan aku Rania, mulai hari ini aku talak kamu “ serunya dengan mantap sambil mencium kepalaku.


Tangisku pecah seketika. Kiana nyaris melorot dari gendonganku, namun aku tahan dengan sekuat tenaga. Ray mencium Kiana dan berusaha meraihnya, ia gendong dan dekap Kiana sambil berjalan ke penjuru kamarku.


Aku masih menangis di kamarku, semua emosi meluap dan seakan keluar melalui tetesan air mataku. Selama berbulan-bulan kucoba menahan perih, kini Ray seakan menabur garam pada hati yang sedang terluka. Hari ini tepat 3 minggu Kiana dilahirkan, jahitan operasi di perutku saja belum kering. Dengan mantapnya ia menjatuhkan talak saat aku masih dalam masa nifas.


“ Maaf ya Ran, kamu wanita hebat. Aku yakin kamu akan kuat “, ujarnya sambil mengelus rambutku. Ia lalu turun ke ruang keluarga bersama Kian, meninggalkanku bergumul dengan segala rasa sakit yang hanya aku rasakan sendirian.


Sore harinya


“ Mam, kata papa aku mau dibeliin mainan baru nanti malam “ jerit Kica yang mendobrak masuk pintu kamarku yang tertutup.


“ Oya, mainan apa nak? Tanyaku pada anakku yang tengah antusias sambil meloncat ke kasurku.


“ Iya mama lagi sakit mata sama lagi pilek juga. Kica jauh-jauh ya biar ga ketularan mama “, sahutku berbohong agar anakku tak mengetahui mamanya tengah menangis selama berjam-jam. Aku hanya tidur bersama Kian di kamar, badanku lemas dan tak berselera makan.


“ Yah mama sakit ya, yaudah aku sama papa aja kalo gitu. Katanya papa mau ke Bandung lagi ya ma? “, tanya Kica kembali padaku. kali ini pertanyaannya sungguh menyakitkan hati. Aku harus bilang apa sama mereka kalau papanya tidak akan pernah kembali di sisi kami.


“ Iya nak papa mau pergi lagi, Kica, Kaka dan Kian sama mama aja ya di rumah “, ujarku sambil kembali menahan tangis.


“ Yah papa pergi lagi deh. Papa pergi terus nih, kalo uangnya udah banyak nanti papa ga pergi ke Bandung lagi kan ma?”, tanyanya dengan polos.


“ Berdoa aja sama Allah nak, biar papa punya banyak rejeki dan bisa kumpul sama kita lagi “, jawabku sambil membelai kepala anakku.


Anakku hanya cengengesan mendengar jawabku, kemudia ia meloncat dari kasur dan berlari keluar kamar tidurku. Anak-anak itu begitu polos, mereka tidak seharusnya menjadi korban sebuah perpisahan. Apalagi Kila dan Kica sangat dekat dengan papanya, sedari kecil Ray aktif berperan serta dalam pengasuhan anak-anak. Ray sering meluangkan waktunya untuk mereka, bahkan pergi keluar hanya dengan Kila dan Kica agar diriku bisa beres-beres rumah. sejak anak-anak kecil, Ray bisa memasang popok dan mengganti baju, Ia tak ragu menyuapi mereka di mall, menunggu di luar toilet jika mereka ingin pipis, membelikan mainan yang sudah diincar dan beberapa hal yang tak dilakukan sebagian suami pada anak-anaknya. Harus kuakui ia ayah yang baik, seorang ayah yang menyenangkan dan selalu mengiyakan apa yang anak-anak minta. Tak kusangka Ray akan menjatuhkan talaknya dan tega untuk meninggalkan anak-anaknya.


Malam harinya

__ADS_1


“ Ran titip ya, ini mainan buat Kila dan Kica “, ucapnya di kamarku saat aku menyusui Kiana. Nampaknya ia habis dari luar dan mampir untuk membeli mainan untuk anak-anakku. Ada dua buah kotak mainan yang Ray belikan untuk anak-anak. Kotak yang berukuran besar merupakan boneka Pony beserta rumah-rumahannya, yang kecil adalah sepasang walkie talkie untuk dimainkan berdua. Mainan ini ia beli di toko dekat rumah, karena uangnya terbatas ia beli sesuai dengan budget yang ia miliki.


“ Makasih ya pap, anak-anak pasti seneng kamu beliin mainan “, jawabku lirih.


“ Aku simpan di deket tempat tidur ya, biar besok pagi mereka bisa langsung liat mainannya. Udah aku pasangin batre nya juga kok “, ujarnya sambil menyimpan mainan itu di samping tempat tidur anak-anak.


“ Kamu mau pergi ke mana besok pap “, tanyaku pelan.


“ Aku mau ke Bogor. Harusnya sih hari ini aku pergi tapi udah kemaleman. Apa nanti tengah malem aja ya aku pergi “, jawbanya sambil membuka pintu lemari dan mengambil baju dan memasukkan ke dalam tas nya.


“ Udah malem pap, besok aja ya kamu berangkatnya. Please, kamu temenin anak-anak dulu disini “, paksaku agar Ray tak langsung pergi dari rumah malam ini.


“ Iya, aku pergi besok subuh ya. Aku juga cape baru keluar beresin urusan sama timku tadi “, jawabnya sambil tersenyum kearahku.


“ Kamu belum makan ya pap, aku beliin mie aceh ya “, ujarku sambil bangun dan mengancingkan bajuku.


Kuambil ponselku di meja rias dan memesan via aplikasi dua porsi mi aceh goreng dan martabak telur kesukaan Ray. Mi aceh adalah menu tengah malam kami sambil menonton film di Netflix. Aku dan Ray sangat suka nonton film, baik itu nonton di Netflix ataupun bioskop tanpa anak-anak. Begitu pula anak-anak yang sangat senang nonton streaming film di laptop milik Ray. Tanpa harus ke bioskop mereka cukup puas bisa nonton sambil menikmati popcorn yang kubuat. Ya, bahagia itu seharusnya sederhana, namun kini semua terasa rumit jadinya.


Ray baru saja selesai mengepak bajunya. Setelah solat Isya ia lalu turun ke bawah dan mengambil pesanan mi aceh yang telah tiba. Dalam sekejap ia membawa piring dan sendok ke kamar agar kami bisa makan bersama. Kami duduk di lantai sambil menikmati lezatnya hidangan favorit kami ini, asap dari mi masih mengepul dan aromanya menyeruak ke hidungku. Ray menyiapkan seporsi mi dan memberikannya padaku.


“ Makan yang banyak Ran, kamu capek banget keliatannya “, ujarnya sambil memberikan piring kepadaku. Aku mengenali tatapan itu, tatapan sayang seorang Rayendra Saputra itu masih tersisa.


“ Makasih ya udah traktir aku ya Ran”, ujarnya kembali dengan senyum tulus.


Aku tak menjawab semua ucapannya. Aku hanya terdiam sambil menyuapkan mie ke mulutku. Mie nya sangat enak, perutku lapar, tapi selera makanku telah hilang. Aku makan hanya semata-mata demi Kiana, demi produksi ASI yang harus kujaga untuknya.


“ Kalo udah selesai makan kamu tidur aja Ran, biar aku yang bereskan. Besok jam 4 aku harus pergi ke Bogor lalu ke Bandung. Kalau anak-anak cari aku, suruh mereka telpon aku ya “, ujarnya sambil membereskan piringnya yang telah kosong tak bersisa.


Kusimpan piring kosongku ke lantai, kubiarkan Ray membereskan semuanya. Ray dengan sigap mengelap remahan mie yang tercecer lalu menyimpan semua piring ke dapur. Aku langsung naik ke kasur kecilku bersama Kiana. Ray pasti tidur bersama anak-anak di kasur besar. Kucoba untuk menutup mata sebelum Ray datang, aku ingin langsung memejamkan mata dan berharap semua ini hanya mimpi buruk belaka.

__ADS_1


__ADS_2