Harta, Tahta, Renata

Harta, Tahta, Renata
Ikhlas Cerita Rania


__ADS_3

07.30 WIB – Pasar Modern BSD


“ Pagi Mbak Rania, pesanan saya 20 box Brownies Tiramisu dibawa kan?”, sapa Cik Lily saat aku baru saja menginjakkan kaki sambil menenteng kantung berisikan Brownies pesanannya.


“ Pagi Cik, bawa dong. Kalau ada yang mau pesan nanti dropship aja, saya kirim pake Ojol ya”, jawabku sambil mengeluarkan kotak Brownies satu-persatu.


“ Aih kemasan baru ya Mbak. Cakep banget sekarang, pasti makin laris Browniesnya. Anak saya seneng banget tuh bisa ikut jual kue sehat kaya gini, belum banyak yang jual loh Mbak”, ujarnya sambil mengamati kemasan Brownies-ku yang baru.


“ Alhamdulillah Cik. Makasih ya udah bantu larisin kue saya, sebentar lagi saya mau daftar jadi mitra resto online & mitra catering yang berbasis web”, jawabku.


“ Nah kan, bisa lebih enak masarinnya. Saya aja puluhan tahun cuma jualan di pasar, rejeki ada aja. Apalagi kalau masih muda dan ngerti teknologi, harusnya jangkauannya bisa lebih luas lagi “.


“ Iya, saya juga lagi belajar, tolong kasih ilmunya ya Cik “.


“ Siap Mbak, belajar terus kuncinya. Jangan pernah cepat puas. Sudah saya terima 20 Box Brownies Tiramisu, totalnya jadi sejuta tiga ratus ribu ya”, ujarnya sembari menghitung uang seratus ribuan.


“ Alhamdulillah, makasih banyak Cik. Nanti kalau kurang saya kirim dari rumah aja ya”, jawabku sambil menerima uang dari tangannya.


“ Mbak nih sekalian, kue Panda buat anak-anak”, ujarnya sambil buru-buru memasukkan kue kesukaan anakku ke dalam plastik .


“ Eh gak usah Cik, saya gak beli hari ini”, tolakku dengan halus.


“ Gak apa-apa, buat anak-anak di rumah. Ayo ambil”, bujuknya.


“ Aduh Cik, nanti rugi kalau terus kasih gratis sebanyak ini buat saya”, jawabku tak enak, antara harus menerima atau menolak.


“ Mbak Rania, rejeki itu ibarat ayam. Kalau kita mau dapet ayam, trus kita kejar sekencang-kencangnya dia pasti akan lari. Kalau kita kasih dia beras, maka ia akan datang sendiri. Paham kan maksud saya?”, ujarnya dengan bijak.


Aku hanya terdiam sambil mencerna maksud perkataanya Cik Lily barusan.


“ Dengan berbagi gak akan bikin kamu rugi. Semakin banyak memberi akan semakin banyak rejeki yang kamu dapat. Kuncinya ikhlas dan serahkan sama Yang Di Atas”.


“ Masyaallah, terima kasih udah ngingetin saya. Semoga sukses terus ya Cik”, sahutku sambil menerima kue pemberiannya.


Aku pamit sambil terus mengucap syukur dalam hati. Begitu murahnya Allah telah memberiku rejeki pagi ini, selain browniesku laris terjual, ada orang baik yang selalu mengingatkan akan kebaikan. Sekantung kue Panda ini mungkin tidak ternilai harganya, tapi bagi anakku ini suatu hal yang luar biasa.


Bip Bip Bip Bip Bip Bip


Rumah Damai Calling


“ Pagi Ibu Rania. Saya Tiwi mau menginformasikan ada jadwal konseling dengan Bapak Dipta jam 14.00 siang ini ya”, ujar asisten tersebut.


“ Pagi Mbak Tiwi. Insyaallah bisa Mbak”, jawabku.


“ Oya Pak Dipta juga minta kedua putrinya ikut serta. Katanya mau ada assessment untuk anaknya”.


“ Waduh, ada assessment juga ya. Anak-anak saya pemalu, saya gak yakin mereka mau cerita kalau ditanya-tanya gitu Mbak”, jawabku cemas.


“ Gak apa-apa kok Bu. Pak Dipta sudah terbiasa menangani anak-anak. Bukan seperti tes atau interview kok, nanti mereka kami ajak bermain di sini”.


“ Baik Mbak Tiwi, saya ajak anak-anak deh nanti siang. Terima kasih ya informasinya”, tutupku sambil mengakhiri panggilan telepon dan bergegas untuk pulang.


13.55 WIB – Rumah Damai


“ Mama, kita ngapain sih ke sini?”, tanya Kila yang masih memakai seragam sekolah dengan kebingungan.


“ Ini rumah siapa Ma? Bagus banget rumahnya”, sambung Kica tak kalah penasaran.


“ Ini rumah Om Psikolog”, jawabku.


“ Psikolog itu apa?”, tanya Kila.


“ Psikolog itu profesi, seperti Dokter gitu Kak”, jawabku sekenanya.


“ Oh Dokter. Jadi Psikolog itu Dokter?”.


“ Bukaaan, Psikolog bukan Dokter, tapi dia bisa bantu kita kalau perasaan kita sedang tidak nyaman”, jawabku dengan bahasa sederhana agar mudah dimengerti.

__ADS_1


“ Terus kita ngapain di dalam? Disuntik?”, tanya Kica dengan polos.


“ Gak sayang. Nanti cuma diajak main-main kok. Sabar ya, Mama juga gak tau di dalam akan seperti apa”, jawabku sambil menenangkan anak-anakku yang merasa cemas.


Tiba-tiba sebuah mobil sedan parkir persis di depan pekarangan rumah yang cukup luas ini. terlihat sosok pria berkacamata dengan kemeja putih terlihat keluar dari mobil sambil bergegas masuk ke dalam.


“ Halo Rania, maaf saya baru datang”, sapanya saat melihat aku sedang duduk di ruang tunggu.


“ Gak apa-apa Mas, saya bawa anak-anak hari ini. Kakak sama Kica salim dulu sama Om Psikolog”.


Kica dan Kila terlihat malu-malu menyalami Pradipta yang berjongkok sambil menyapa anak-anakku dengan hangat.


“ Halo, saya Om Dipta. Nama kamu siapa?”, tanyanya pada si sulung.


“ Aquilla Salsabila Om”, jawab Kila sambil mencium tangannya.


“ Keisya Almira “, sahut Kica sambil tersipu.


“ Wah namanya cantik sekali. Aquila dan Keisya ikut Om yuk, kita main di belakang”, ajaknya sambil menggiring anakku. Kica terlihat malu-malu dan bersembunyi di belakang badanku.


Pradipta mengajak kami ke sebuah teras kebun yang begitu asri. Terdapat dua buah ayunan, sebuah perosotan dan papan titian di samping kolam ikan. Di pojokan teras terdapat rak berwarna-warni berisikan aneka mainan edukasi tertata rapi. Yang paling menyita perhatianku adalah gambar dari coretan tangan-tangan cilik yang dipajang rapi di dinding.


“ Tiwi, tolong temani Aquilla dan Keisya sebentar, saya mau menjelaskan metode jurnal untuk Ibu Rania”, perintahnya pada Tiwi, sementara aku berjalan mengikuti Pradipta ke ruangan kerjanya.


Ruangan yang tenang dan harum bunga lavender ini sudah menjadi tempat kesukaanku. Rasanya tenang untuk berada di sini sambil mengutarakan keluh kesah yang kualami. Sambil duduk di depan meja kerjanya, aku memperhatikan gerak-gerik lelaki itu. Setiap hal yang ia lakukan selalu tenang dan penuh kehati-hatian, berbeda denganku yang kadang ceroboh.


“ Rania, bagaimana kabar kamu?”, tanyanya sambil tersenyum hangat menatapku.


“ Baik Mas “, jawabku spontan.


“ Yakin baik-baik saja? Saya senang sih kalau memang baik-baik saja”, jawabnya.


“ Belum baik sih sebenarnya, tapi saya gak boleh mengeluh kan”.


“ Rania, It’s okay to be not okay. Kalau memang kamu merasa kurang baik, terima saja. Tidak harus memaksa semua hal itu baik, karena kamu jadi menyiksa dirimu sendiri”.


“ Tidak apa-apa, saya ingin membantu kamu untuk belajar menulis jurnal. Jurnal adalah salah satu terapi untuk membuang pikiran yang tertimbun yang sudah mengakar dalam diri kita, dengan menulis kita bisa mengeluarkan racun yang ada di pikiran”, ujarnya sambil memberikan sebuah buku kosong dan pulpen ke hadapanku.


“ Pertama, buatlah Morning Journal, yakni jurnal yang kamu isi di pagi hari. Isinya bisa tentang harapan, cerita atau list yang akan kamu lakukan. Kedua, buatlah Gratitude Journal, tuliskan rasa terima kasih kamu pada siapa saja. Jurnal ini akan melatih kamu untuk berpikir positif, tidak mudah memang. Pelan-pelan saja nikmati proses belajarmu”, sahutnya.


“ Saya harus mulai kapan untuk menulis jurnal Mas?”, tanyaku.


“ Saya ingin membaca jurnal kamu hari ini. Sudah lama tidak mendengar ceritamu, sambil menunggu kamu menulis, saya mau observasi Aquila dan Keisya. Selamat menulis sambil diiringi lagu kesukaan saya”, ujarnya sambil menyalakan audio di samping laptopnya.


Ruangan itu masih sunyi, aku masih terdiam sembari memegang pulpen dan buku kosong di hadapanku. Mencoba menulis sesuatu namun otakku buntu.


When you try your best but you don't succeed


When you get what you want but not what you need


When you feel so tired but you can't sleep


Stuck in reverse


Terdengar lantunan lagu yang familiar di telingaku. Dahulu aku sering bersenandung lagu ini, namun entah mengapa kali ini liriknya terasa begitu dalam menusuk hati. Perlahan jemariku mulai menuliskan sebuah goresan di kertas tersebut.


Dear Rayendra.


Apa kabarmu? Sedang apa dirimu? Tahukah kamu bahwa anak-anak merindukanmu?


When the tears come streaming down your face


'Cause you lose something you can't replace


When you love someone but it goes to waste


What could it be worse?

__ADS_1


Aku terluka Ray, begitu juga Kila dan Kica. Kamu tau sudah berapa kali aku harus berpura-pura menahan tangis di depan mereka? Disaat kamu sudah pergi dan tak pernah peduli lagi pada kami.


Lights will guide you home


And ignite your bones


And I will try to fix you


Tapi aku akan tegar bukan karena aku kuat. Aku tegar karena aku bahagia untukmu. Maafkan atas segala ketidaksempurnaaku. Maafkan aku yang tak bisa jadi seseorang yang kau mau. Maafkan aku yang seringkali menorehkan kekecewaan di hatimu.


But high up above or down below


When you are too in love to let it show


Oh but if you never try you'll never know


Just what you're worth


Maafkan kami yang terlalu mencintaimu. Terlalu berharap banyak pada dirimu, padahal kamu juga manusia. Ketika bebanmu sudah begitu berat kamu tak kuasa lagi untuk menahan. Disaat kau sudah lelah, kau harus melepaskan kami semua. Aku belajar ikhlas Ray. Aku mulai tersadar, yang kubutuhkan hanya Allah saat ini.


Lights will guide you home


And ignite your bones


And I will try to fix you


Terima kasih Ray, kamu sudah mengajarkan arti mencintai. Ketika diriku terlena mencintaimu, Allah menegurku agar aku mengingat-Nya. Ketika aku terlalu terlalu mengandalkanmu, aku kini sadar bahwa aku bisa mandiri, tak perlu orang lain agar aku berdiri sendiri.


Tears streaming down your face


I promise you I will learn from all my mistakes


oh and the tears streaming down your face


And I


Lights will guide you home


And ignite your bones


And I will try to fix you


Fix You - Coldplay


Aku berjanji pada diriku mulai saat ini, untuk belajar dari semua kesalahanku. Untuk menjadi wanita kuat bagi ketiga malaikat kita. Untuk belajar apa artinya merelakan, untuk belajar bagaimana mengikhlaskan.


Salam,


Rania & 3K


Tak kusadari air mataku sudah mengalir dan menetesi jurnal yang kutulis. Tangisku pecah ketika semua isi hatiku tercurah. Namun hati ini lega jadinya, rasanya seperti terlepas dari belenggu amarah dan dendam yang selama ini mengikatku.


“ Silakan ambil tisunya Rania”, sahut Pradipta yang tiba-tiba berdiri di belakangku sambil membawa sekotak tisu dan secangkir teh untukku. Refleks kuambil tisu dan mengelap mataku karena malu.


“ Sudah lebih baik sekarang? Ada kesulitan menulis jurnal?”, tanyanya sambil tersenyum dan meletakkan cangkir teh di hadapanku.


“ Tidak ada Mas, rasanya lebih lega sekarang “, jawabku sambil sibuk mengusap mata.


“ Syukurlah. Saya baru berbicara dengan anak-anak, mereka sangat menyenangkan. Ada beberapa poin yang menjadi perhatian saya. Pada intinya mereka kebingungan karena ayahnya tidak pernah pulang”, tuturnya.


“ Saya harus bagaimana Mas? Rasanya tak tega menceritakan yang sebenarnya pada anak seusia itu. Saya takut Mas”.


“ Katakan sejujurnya Rania, mereka pasti kecewa begitu tau yang sebenarnya. Tapi ini adalah fase yang yang harus mereka hadapi, jangan sampai mereka merasa telah dibohongi oleh ibunya sendiri”.


“ Baik Mas, saya coba beranikan diri untuk berkata yang sejujurnya pada mereka. Semoga bisa memutus luka batin yang selama ini mereka rasakan”.


“ Betul Rania, ingat luka batin itu diwariskan. Putus segera mata rantainya dengan belajar mengiklaskan. Lepaskan sesuatu yang selama ini kau genggam erat, mungkin Allah akan mengganti dengan yang lebih baik bagimu”.

__ADS_1


Hatiku hangat mendengar setiap tutur katanya, sorot mata teduhnya yang selalu menenangkan jiwa. Muncul suatu keberanian untuk mengobati kegundahan Kila dan Kica, serta kekuatan baru untuk menopang hidup kami semua. Ya, aku sudah mengiklaskan Rayendra dari hidup kami, karena sesungguhnya kami sedang diselamatkan. Rasa cinta dan perhatian dari orang di sekelilingku mampu mengobati sakit yang ia torehkan kepada kami selama ini.


__ADS_2