Harta, Tahta, Renata

Harta, Tahta, Renata
Perhatian Cerita Rania


__ADS_3

07.30 WIB – Rumah Rania


“ Selamat Ulang Tahun Mamaaaaaaa”, pekik Kila, Kica dan Kian yang ikut berteriak sambil menyodorkan sepiring kue donat sederhana dengan lilin di atasnya.


Aku terbelalak dengan kejutan yang kudapat begitu selesai mandi. Aku saja lupa kalau hari ini adalah ulang tahunku. Sambil menahan haru aku menerima piring yang berisikan tiga buah donat meses dengan lilin di atasnya.


“ Kue donat itu buatan Kila sama Kica. Mama bilang kalau hari ini kamu ulang tahun, jadi mereka sibuk bikin kue saat kamu lagi ke pasar kemarin. Tadi pagi mereka yang hias donatnya loh”, ujar ibuku.


“ Makasih sayang, Mama seneng banget kalian bikin kue donat sebagus ini “, jawabku sambil memeluk tubuh mereka satu-persatu.


“ Happy Birthday Mama, semoga Mama bahagia terus ya”, ujar Kila.


“ Selamat Ulang Tahun Mama, semoga kue Brownies-nya habis biar kita punya uang banyak”, sahut Kica.


“ Makasih anak Mama, semoga jadi anak sholeha kebanggaan Mama”, jawabku sambil mencium pipi mereka satu-persatu.


“ Selamat Ulang Tahun Rania, tetap kuat banyak rejekinya ya. Kamu harus makin hebat”, peluk ibuku sambil menahan tangisnya.


“ Makasih Mama. Jangan tinggalin Rania ya, cuma Mama yang Rania punya sekarang”, jawabku sambil mencium keningnya.


“ Mamaaaa lilinnya meleleh nih, tiup dulu dong”, jerit Kila.


Aku segera mengajak anakku meniup lilin bersama-sama. Si kecil Kian ikut heboh bertepuk tangan sambil memonyongkan mulutnya seolah hendak meniup. Kila dan Kica tertawa terbahak-bahak melihat tingkah lucunya.


Tok Tok Tok


“ Permisiiiii….paket “, teriak seseorang di luar rumahku.


“ Kakak, tolong ambilkan paket dong Nak, dari siapa itu”, perintahku pada Kila. Dengan cekatan ia berlari keluar untuk mengambil paket dari kurir tersebut.


“ Mama, berat banget paketnya. Tulisannya buat Mama, apa ya isinya”, ujar Kila yang kerepotan membawa sebuah kotak besar di tangannya.


Dengan hati-hati ibuku membuka paket tersebut. tidak tertulis nama di paketnya, namun yang jelas isinya adalah makanan beku.


“ Rania, banyak banget ini kirimannya. Ada Batagor Bandung, cilok, sama cireng Cipaganti. Ini sih oleh-oleh Bandung semua. Dari siapa Rania?”, ujar Ibuku sambil membuka paket satu-persatu.


Ping


Ping


Ping


Geng Oplos


Fika : Raniaaaaa….Happy Birthdaaaay!!!!


Nayla : Pibesdey Neng Raniaaaa, semoga sehat selalu.


Mita : Asiiiiiik, paketnya pasti udah sampe ya.


Rania happy birthday, makin kuat yaaaa.


Dita : Barakallah Rania, semoga suka sama hadiahnya. Batagor, cireng sama cilok kesukaan kamuuuuu.


Tasya : Wilujeng Milad Ran, makin kuat banyak rejeki, jadi ibu tangguh buat 3K.


Rania : MAKASIIIIIIIIHHHHHH…..PELUK SEMUA SATU-SATU!!!!


“ Dari siapa Ran? Banyak banget ini makanannya”, tanya ibu yang keheranan melihatku senyum-senyum sendirian.


“ Dari temen SMP Ma, kerjaan Fika, Nayla, Dita, Mita sama Tasya. Mereka tau aku suka banget sama makanan ini”, jawabku sambil membalas pesan sahabatku satu-persatu.


Fika : Maaf ya Ran makanan Bandung semua. Gak trauma sama Bandung kan?.


Dita : Kalo makanan sih gak trauma ya Ran, kalo kita kasih Rayendra dipakein pita pasti trauma.


Tasya : wkwkwk. Jijay banget Rayendra dipakein pita. Alamat disiram sama si Rania.


Nayla : Udah ah jangan bahas Ray, tar bete yang lagi ulang taun.


Rania : Hahahaha, gila gue kangen kalian semuaaaaa.


Mita : Kadonya dulu lah, tar kita maen ke sana ya Ran. Udah lama geng oplos ga ghibah berjamaah ya kan.


Rania: Bener ya tar kalian main ke sini. Gue bikin brownies satu-satu buat kalian.


Dita : Asiiiik, tar kita atur jadwalnya ya. Met makan Rania, peluk buat 3K ya.

__ADS_1


“ Neneeeek, aku mau batagor dong”, jerit Kica.


“ Aku juga mau. Mama boleh ga batagornya digoreng sama nenek?”, tanya Kica sambil memelas.


“ Boleh dong Sayang, memang buat kalian juga kok”, jawabku sambil membereskan sekotak hampers yang berisikan batagor dan makanan lainnya.


Tok Tok Tok


“Ojeeeeek”


Kila dan Kica langsung melongok ke luar rumah. Tanpa kusuruh mereka berlari membuka pintu dan menemui driver ojol yang tengah berdiri di teras rumah. Tak lama kemudian terdengar pekik mereka sambil membuka pintu dengan membawa sesuatu di tangan masing-masing.


“ Mamaaaaaa, kamu harus liat iniiiiiii”, jerit Kica


“ Mamaaaaaa, kamu dapat bungaaaa”, pekik Kila.


Belum habis rasa bahagiaku, kini aku terpana melihat sebuah buket bunga mawar putih dan sebuah kotak berukuran besar. Buket mawar itu indah sekali, tercium semerbak harum bunga dari seikat bunga yang ditata rapi. Terlihat sebuah kartu ucapan menyembul di antara kelopak mawar tersebut.


“ Happy Birthday Rania. Wishing You Joy and Happiness”



Love,



Dion & Nadine


Aku terharu melihat buket mawar yang ternyata dikirim oleh Dion dan Nadine. Kila dan Kica sibuk membuka kotak berikutnya, ternyata sebuah cupcake fondant yang sangat cantik.


“ Waaaaah, cupcake-nya bagus banget Mam, ini dari siapa sih?”, ujar Kica sambil terpana melihat deretan cupcake berwarna-warni.


“ Dari Tante Nadine dan Om Dion, katanya cupcake-nya buat kalian juga”, jawabku.


“ Aku mau ya Ma “, jerit Kica sambil mengambil salah satu cupcake dengan hiasan hati di atasnya.


Belum sempat aku mengambil ponselku untuk mengucapkan terima kasih, tiba-tiba terdengar suara motor yang tiba di depan rumahku.


“ Permisiiiii….Ojek”, panggil seorang driver di depan rumahku.


Kila langsung berlari terbirit-birit menemui driver tersebut tanpa kupinta. Kica ikut melongok ke pintu sambil sibuk memakan kue dengan lahapnya, sementara Kian berdiri sambil mencoba meraih kotak kue di atas meja.


“ Waaaah, Mama ini kan boneka. Kamu dapat kado boneka Mam”, jerit Kila.


“ Waaah, boneka kucing yang kita lihat di Youtube Kak, ini kan kalau di pegang kepalanya bisa bunyi sama gerak-gerak kan?”, timpal Kica sambil meraih boneka tersebut.


“ Iyaaaa, ini kan boneka yang suka di-unboxing itu. Mama kamu kok dapat kado mainan sih”, tanya Kila penasaran.


Aku membolak-balik dus mainan tersebut, mencoba mencari tahu siapa pengirimnya. Aku takut kalau paket salah alamat, mengingat anakku yang menerima paket itu tanpa menanyakan terlebih dahulu.


Tiba-tiba sebuah kartu ucapan jatuh ketika aku membalikan dus tersebut.


“ Semoga suka ya sama boneka kucingnya”



Love,


Rivano Mahendra


Alisku mengernyit saat membaca nama pengirim di kartu ucapan tersebut, siapa gerangan Rivano Mahendra? Jangan-jangan memang salah alamat.


Bip Bip Bip Bip Bip Bip


Nadine Calling


“ Halo Ran, kuenya udah sampai belum “, sapa suara di sebrang sana.


“ Nadiiiiiine, makasih banyaaaaak. Gila seumur-umur gue dikasih mawar, terharu gue Nad”, jeritku saat mendengar suaranya.


“ Hahahaha, ide Dion itu. Gue aja bininya gak pernah dikasih bunga loh. Gue bikinin cupcake buat kalian semua ya, semoga suka Ran”.


“ Gak usah ditanya Nad, sebelum gue suruh makan udah dijarah duluan sama anak gue.


Makasih banyak gue terharu banget hari ini”, jawabku tak hentinya mengucapkan terima kasih.


“ Wiiih banyak yang kasih hadiah nih kayaknya”, goda Nadine.

__ADS_1


“ Terakhir sih ada yang kirim sesuatu, tapi kayaknya salah kirim deh Nad. Mana udah dibuka lagi kadonya”, ujarku.


“ Salah kirim gimana? Liat aja siapa pengirimnya”.


“ Masa kadonya boneka kucing, pengirimnya juga gak dikenal”, sahutku.


“ Siapa emang namanya?”, tanya Nadine.


“ Rivano Mahendra, katanya semoga suka sama bonekanya”.


“ Oalaaaaaahhhhh.....itu si Ivan. Kadonya bukan buat lo Ran hahahaha”, jawabnya sambil tertawa terbahak-bahak.


“ Rivano itu Ivan? Dia kasih ini buat siapa emang?”.


“ Udah lama si Ivan nanya ke gue, katanya Kian suka apa. Dia mau kasih sesuatu tapi bingung. Gue bilang aja kalo Kian suka sama kucing”, tutur Nadine.


“ Ya ampun Nad, ini buat Kian rupanya. Baek banget sih Ivan kasih kejutan segala. Mana gue tau kalau itu dari dia”, jawabku sambil mengamati boneka yang tengah dimainkan anak-anakku. Kian ikut berteriak-teriak girang saat boneka itu mengeong saat disentuh kepalanya.


“ Nad, gue minta nomor Ivan dong, mau ngucapin terima kasih”.


“ Wait. Tar gue kirim ya. sekarang sih lagi meeting sama Dion, tar maleman aja lo WA dia ya”, jawab Nadine.


“ Thanks Nad, makasih ya kejutannya “.


“ Sama-sama Rania, take care”


19.30 WIB


Aku membolak-balik ponselku sambil mengamati nomor Ivan yang baru saja kusimpan. Inginku mengucap terima kasih tapi tak tau harus bagaimana. Rasanya terharu melihat Kian yang antusias mendapat kado pertamanya. Kian memang suka sekali dengan kucing, setiap hari dia merangkak dan mencoba berdiri di teras memanggil kucing liar. Kini ia bahagia bisa memeluk boneka tersebut, Kila dan Kica juga tak kalah senang mendapat kado mainan, setelah sekian lama aku tak bisa membeli mainan baru untuk mereka.


Tut Tut Tut Tut Tut Tut


Kuberanikan diri untuk menghubungi Ivan, semoga saja dia sudah selesai meeting malam ini. Namun panggilanku tidak diangkat. Ah barangkali dia masih bekerja, gumamku. Kusimpan ponselku di kasur, sambil kembali memperhatikan anakku yang sedang bercanda dengan boneka barunya.


Bip Bip Bip Bip Bip Bip


Ivan calling


“ Halo Rania”, sapa suara berat khas Ivan menyapaku.


“ Hai Van, sori gue ganggu ya?”, tanyaku merasa tak enak karena telah menghubunginya duluan.


“ Gak kok. Gue yang minta maaf, barusan lagi nyetir gak denger. Sekarang baru sampe di rumah tante gue”, jawabnya.


“ Kadonya udah Kian terima Van, makasih banyak loh”, ujarku.


“ Oh udah sampe ya, gue lupa mau nanya itu tadi siang. Seharian gue meeting sama Dion soalnya”.


“ Gak apa-apa kok. Kian Happy banget akhirnya bisa meluk kucing meskipun bentuknya boneka”, ujarku sambil memperhatikan Kian yang tengah memeluk boneka barunya.


“ Alhamdulillah kalau suka. Maaf ya Om Ivan baru kasih kado sekarang, abisan bingung takut salah”, jawabnya.


“ Gak apa-apa kok, anak-anak suka banget Van. Makasih banyak”.


“ Oya, Happy Birthday ya Ran”.


“ Thank you Ivan ”, jawabku sambil tersipu.


“ Sorry kadonya buat Kian aja, kado buat lo doa tulus dari gue. Semoga lo lebih kuat dan bahagia bersama anak-anak”.


“ Thank you Van, doa lo berarti banget buat gue. Hal yang sama buat lo juga ya”.


“ Amiiin. Gue masukin mobil ke garasi dulu ya Ran, kalau boleh gue minta foto anak-anak sama bonekanya. Gue kangen banget sama Kian”, pintanya.


“ Oke. Kian juga pasti kangen sama Om Ivan”, jawabku sambil terus tersenyum karena bahagia.


“ Oke Ran. Thank you. Bye “, tutupnya.


Ulang tahunku yang ke-35 ini terasa berbeda. Biasanya ada seseorang yang membangunkanku tengah malam dengan memberikan kejutan berupa tart coklat kesukaanku. Sayangnya orang itu sudah pergi dari hidup kami, bahkan mengingat hari ulang tahunku saja ia tak akan sudi. Namun Allah mengganti dengan sahabat yang luar biasa baiknya. Kupandangi buket mawar yang kupajang di samping tempat tidur, ini adalah hadiah termanis seumur hidupku. Perutku sudah penuh menyantap oleh-oleh Bandung yang selalu kuinginkan sejak dulu, serta cupcake lezat buatan Nadine berhasil membuatku tak bisa berdiri karena kekenyangan. Yang paling membuatku bahagia adalah melihat tawa anak-anak atas kejutan hari ini, terutama boneka kucing yang Ivan beri. Segera saja aku membidik mereka diam-diam, kamera ponselku menangkap kegembiraan saat mereka bermain dengan boneka kucingnya. Kukirimkan sekitar 5 buah foto pada Ivan dengan segera.


Message Sent.



❤️❤️❤️


Ciecieeee...

__ADS_1


Ada yang senyum-senyum kaya Rania. Thor sengaja up jam segini biar kalian bisa tidur nyenyak 👌


Jangan lupa vote-nya ya 🙏🏻😘


__ADS_2