
07.00 WIB - Tigaraksa
Sofa kulit di sebuah ruang tunggu Pengadilan Agama Tigaraksa ini adalah spot favoritku untuk menunggu panggilan sidang. Di tanganku sudah kugenggam nomor antrian sidang, kebetulan aku mendapat nomor pertama. Pagi ini masih sangat sepi, hanya terlihat cleaning service yang lalu lalang mengepel lantai dan seorang sekuriti yang menjaga mesin cetak antrian.
Tak lama datang seorang wanita berhijab panjang yang menggenggam nomor antrian, wajahnya nampak kebingungan, matanya sibuk menyisir seluruh penjuru ruangan.
“ Permisi Mbak, dapet antrian berapa?”, tanyanya sambil melirik kearahku.
“ Antrian pertama Mbak, Mbak ke berapa ?’, tanyaku balik.
“ Saya dapet ke delapan Mbak. Ini pertama kalinya saya dateng ke pengadilan. Setelah dapet nomor saya mesti kemana ya?”.
“ Sidang keberapa Mbak?”.
“ Ini panggilan pertama saya, tapi suami saya gak mau dateng katanya “.
“ Yang gugat siapa Mbak? Kalau panggilan pertama sih agendanya mediasi sama kaya saya”, jawabku.
“ Saya yang gugat mbak. Suami saya gak mau gugat ke pengadilan, katanya gak punya uang buat bayar nafkah iddah & mut’ah “, ujarnya lesu.
“ Maaf Mbak, boleh tau kenapa masalahnya“, tanyaku penasaran.
“ Suami ga pernah nafkahin saya mbak, kerjanya di luar kota gak pernah pulang berbulan-bulan. Selama itu saya cuma dikirim uang 50 ribu untuk kebutuhan sebulan”, jawabnya.
“ Loh, emang cukup mbak? Anaknya berapa?, tanyaku keheranan.
“ Nombok lah mbak, saya guru playgroup gajinya gak seberapa. Anak saya 1 orang masih kecil “, jawabnya.
“ Sabar ya mbak, mudah-mudahan cepet selesei prosesnya”.
“ Aamiin. Mbak siapa yang gugat?”, tanyanya balik.
“ Suami saya, dia sih gak dateng diwakilin lawyernya “, jawabku.
“ Kalau boleh tau kenapa Mbak?”, tanyanya sambil menggeser posisi duduk.
“ Ya mungkin rumput tetangga lebih hijau Mbak, rumput di ladang sendiri udah mati dibiarin mengering “, jawabku sambil melempar senyum penuh arti.
“ Sabar ya Mbak, tunggu aja rumput yang mati sebentar lagi menghijau tuh. Lebih hijau dari yang sebelah hahaha “, jawabnya sambil terbahak.
__ADS_1
“ Kita kok jadi bahas rumput ya, oh iya kenalin saya Rania “, sahutku sambil mengulurkan tangan.
“ Yasmin. Salam kenal Mbak Rania “, sambutnya ramah.
Ping
Tiba-tiba saja ponselku berbunyi, sepertinya ada pesan masuk. Kulirik ponselku lalu muncul pesan dari nomor tak dikenal.
“ Bu Rania saya lawyer Pak Ray. Bisa ketemu di ruang mediasi jam 7.30 ?. Kita mediasi dulu sebelum masuk ruangan sidang ya Bu “
Sudah kuduga Ray tidak akan datang hari ini. Percuma saja masuk ruangan mediasi kalau tidak ada pertemuan dengan pihak yang bersengketa. Suatu proses hukum yang mencoba mendamaikan dan mempertahankan mahligai rumah tangga hanyalah formalitas belaka.
Kulirik jam tanganku, waktu sudah menunjukkan jam 07.25 WIB. Berarti 5 menit lagi aku harus masuk ke ruangan mediasi.
“ Ibu Rania, mari kita masuk ke ruangan mediasi “, ujar seorang pria tinggi besar yang baru saja keluar dari ruangan POSBAKUM (Pos Bantuan Hukum).
Aku tak menjawab ajakannya, kulempar senyum sambil berpamitan pada Yasmin yang duduk di sampingku. Kami berjalan menuju ruangan mediasi yang minggu lalu kami datangi.
“ Pagi Pak Syarief, bisa mulai mediasi tidak ?”, tanya lawyer itu sambil menyapa mediator yang sedang duduk di belakang mejanya.
“ Pagi Pak David, silakan masuk “, jawabnya.
Aku langsung saja menjatuhkan diriku di kursi yang disediakan mediator tanpa berbicara sepatah katapun. Kubiarkan lawyer itu yang berbicara terlebih dulu, aku menunggu apa yang akan dia sampaikan tentangku.
“ Masih di luar kota Pak Ray nya? Lama yah dinasnya? “, ujar mediator tersebut sambil membaca rincian berkas yang diberikan Pak David.
“ Iya Pak, beliau memang menyerahkan semua sampai tuntas. Hak untuk Ibu Rania sudah tertulis di sana. Kami harap proses sidang bisa berlangsung cepat”, jawabnya.
“ Buru-buru amat Pak Ray mau cerai? Memangnya ada apa gitu ?”, tanyanya sambil menyunggingkan senyum pada pengacara tersebut.
“ Biar urusan Pak Ray sama Bu Rania cepet terselesaikan lah Pak, kasihan Bu Rania jauh-jauh datang ke Tigaraksa ninggalin anak kan “, jawabnya.
“ Gugatan untuk Bu Rania apa katanya? Masalah rumah tangga nya apa?”.
“ Percekcokan terus menerus sudah sekian lama, kurangnya komunikasi dan sudah lama tidak berhubungan suami istri Pak “, jawabnya.
“ Oh gitu ya. Bapak tau gak mereka sudah punya anak berapa? “, tanyanya kembali.
“ Anaknya 3 orang Pak. Yang besar 7 tahun, tengah 6 tahun, kecil 3 bulan Pak “, jawabnya lawyer itu kembali.
__ADS_1
“ Oh banyak yah. Umurnya juga deketan. Kok bisa yah cekcok, gak ada hubungan suami istri tapi anaknya 3 orang”.
Aku tersenyum mendengar perkataan mediator tersebut. kulemparkan pandanganku pada lawyer yang sedang berpikir keras menjawab pertanyaan barusan.
“ Ibu Rania, kira-kira masalah yang terjadi di dalam rumah tangga Ibu dan Pak Ray apa?”, tanya mediator itu padaku.
“ Standar lah Pak. Sebagaimana layaknya pasutri pasti mengalami ketidakcocokan, ketidaksukaan, namun tahun demi tahun kami terus lewati sama-sama”, jawabku diplomatis.
“ Contoh ga cocoknya bagaimana Bu? Misal nih kalau saya sama istri ga cocok sama tontonan TV. Istri saya maunya nonton drakor, saya maunya nonton bola. Kadang istri saya ngomel tuh kalau channelnya diganti, sampe saya ga disiapin makan malahan”.
“ Ya kurang lebih seperti itu Pak. Perbedaan yang lazim dialami pasutri, tapi bukan berarti tidak ada solusi “, jawabku.
“ Sudah berapa lama Pak Ray pergi dari rumah Bu?”, tanyanya kembali.
“ Bulan Maret dia talak saya. Persis setelah anak ketiga dilahirkan, dia pergi ke Bandung sampai saat ini “.
“ Menurut Ibu masih ada solusi tidak untuk pernikahan kalian?”.
“ Masih Pak, mengingat anak saya tiga orang perempuan, masih perlu sosok ayahnya. Saya masih berjuang untuk mempertahankan kalau memang diberi kesempatan “.
“ Miris ya. Di luar sana mati-matian ingin diberi keturunan, sampa pernikahannya berakhir di meja hijau gara-gara istrinya tidak dikaruniai anak. Ini yang udah punya tiga anak berakhir juga di pengadilan. Saya gak habis pikir kalau baca kasus cerai “, ujar mediator tersebut sambil menggelengkan kepalanya.
“ Pak Ray mengajukan talak satu Pak, siapa tau kalau masih berjodoh mereka masih bisa bersatu “, serobot Pak David.
“ Ya gak usah gugat cerai lah kalau gitu, kalau masih cinta mah rujuk lagi aja. Kecuali ada hal lain ya Bu “, senyumnya sambil menatapku penuh arti.
“ Saya yakin ini keputusan terbaik dari klien saya untuk rumah tangganya Pak. Semoga kedepannya akan selalu akur demi ketiga putri-putrinya “, ujar Pak David.
“ Ibu Rania, Pak Ray bersikeras berpisah katanya. sekarang tinggal keputusan dari Ibu, mau menerima cerai atau tidak. Jika ibu menolak cerai, ibu bisa ajukan keberatan dan berikan alasan yang kuat agar hakim menolak gugatan pemohon. Namun jika hakim mengabulkan gugutannya, Ibu tidak akan dapat apa-apa”.
“ Kalau begitu saya kehilangan hak saya dan anak saya dong Pak?”, tanyaku.
“ Betul Bu. Oleh karena itu jika ibu menuntut hak iddah, mut’ah dan hak anak maka Ibu harus menerima gugatan cerai dari Pak Rayendra.
Aku menghela nafasku, sungguh dilematis untuk menolak atau menerima gugatan Ray. Wajah ketiga putriku langsung terbayang-bayang. Kenangan manis saat kami mengasuh putri kami teringat jelas, bagaimana Ray sangat sayang pada Kila dan Kica. Ray adalah cinta pertama, pelindung, dan penghibur mereka. Genggaman dan pelukan Ray adalah hal yang anak-anak selalu rindukan saat ini, apa jadinya jika semua itu pupus karena aku menyerah untuk mempertahankan pernikahanku.
“ Ibu Rania, bagaimana? Jawaban Ibu apa ?”, tanya mediator itu membuyarkan lamunanku.
“ Saya menerima gugatan cerai Rayendra. Jujur, saya masih ingin mempertahankan rumah tangga, namun saya lebih cinta pada anak-anak saya. Saya tidak akan membiarkan Ray menzolimi anak-anak, saya akan menuntut hak mereka “, jawabku dengan suara bergetar.
__ADS_1
“ Bagus Bu, itu yang memang seharusnya dilakukan. Suatu saat anak-anak akan melihat siapa dari orang tuanya yang berjuang “.
Mediator itu mengetik jawaban yang baru saja kulontarkan, kemudian ia menyuruh kami untuk menunggu panggilan dari ruangan sidang. Rasanya masih tak percaya dengan keputusan yang kubuat, namun aku tak boleh menyerah. Ada hak ketiga anakku yang harus kupertahankan. Setelah ini aku akan melawan gugatan Rayendra di depan majelis hakim. Aku tak tahu serangan seperti apa yang Ray luncurkan padaku, tapi aku sudah siap menghadapi segala tuduhannya. Wajah ketiga anakku semakin kuat di ingatan, mereka tidak tahu bahwa mulai hari ini orangtuanya tengah berseteru untuk saling menjatuhkan.