Harta, Tahta, Renata

Harta, Tahta, Renata
Belahan Jiwa Cerita Rania


__ADS_3

“ Ibu Rania nanti jangan lupa bayinya di vaksin seminggu lagi ya”, ujar seorang suster di rumah sakit tempatku melahirkan putri ketigaku. Aku baru saja kontrol pasca melahirkan hanya berdua bersama Kian, Ray katanya tidak bisa menemaniku karena meeting.


“ iya sus makasih ya “, balasku sambil membetulkan gendongan Kiana yang melorot. Tangan kananku menggendong Kiana, sementara tangan kiriku membawa tas bayi.


“ Bu Rania sendirian? Suaminya gak ikut ? tanya suster itu lagi. Aku menoleh dan hanya tersenyum menatap suster itu yang tengah memperhatikan kesibukanku.


“ Ya Allah bu, baru seminggu operasi SC udah pergi sendirian kontrol ke RS sama bayi “, sahutnya sambil menggelengkan kepala.


Aku meninggalkan klinik obgyn sambil berjalan tertatih. Untungnya aku tak lupa menganakan korset untuk menopang perutku yang rasanya sakit luar biasa. Operasi SC yang kedua kali memang lebih menyakitkan, lebih enak lahiran normal kalau harus dibandingkan. Kian masih tertidur pulas di gendonganku, bayi yang masih merah ini usianya sudah menginjak 1 minggu.


Kiana Malaika Azziati, sebuah nama yang berarti Malaikat berkah dari Tuhan yang penuh kesabaran. Bukan tanpa sebab aku memberi nama ini, Kiana merupakan berkah yang Allah beri saat Kica merengek minta adik lagi. Tidak lama Allah langsung memberikan karunianya padaku. Selama Kian di perutku, semuanya tidak berjalan mulus. Awal kehamilan semuanya terasa indah, hubunganku dengan Ray masih baik-baik saja. Ray malah mengajakku pergi berlibur saat ia ulang tahun. Namun semua berubah saat Ray mendirikan RENTZ di Bandung, ia dituntut untuk bolak-balik ke Bandung nyaris tiap minggu. Selalu tiba di rumah jam 2 dini hari, lalu esoknya pergi pagi-pagi untuk meeting bersama Dion. Lalu muncul masalah saat ada proyek yang tidak kunjung dibayar. Proyek seharga ratusan juta itu kini tak jelas bagaimana kabarnya. Gara-gara itu kami harus menunggak rumah dan biaya keperluan sehari-hari kami. Ray hanya bercerita bahwa banyak proyek yang batal, sehingga kondisi keuangan kami menjadi sangat sulit. Selain kondisi finansial yang berubah, sikap Ray padaku juga semakin dingin. Saat aku hamil tua dan badanku sudah nyaris tak berdaya, Ray sering mengacuhkanku dan kami sempat bertengkar hebat malam itu. Aku hanya bisa bersabar saat itu, jangankan balas marah, menangispun rasanya aku tak sanggup. Aku kasihan pada Kian yang masih di perutku. Kegelisahanku adalah kegelisahannya juga. Aku hanya minta agar kami berdua diberi kesabaran sebanyak-banyaknya, semoga semua masalah ini bisa kami lalui bersama.


Saat Kian lahir, aku benar-benar pasrah pada Allah. Aku sangat takut saat menunggu panggilan dari kamar operasi. Ray hanya sibuk dengan ponselnya, tidak memberiku semangat sama sekali. Hanya Allah satu-satunya tempatku meminta kekuatan. Ketika suster meanggilku ke ruangan operasi, aku masuk seorang diri dan kurebahkan badanku pada ranjang operasi. ruangannya sangat dingin, apalagi diriku hanya mengenakan baju operasi tanpa pakaian dalam lagi. aku menggigil dan perutku sangat lapar. Beruntungnya sang dokter anastesi mengajakku mengobrol, proses anastesi berjalan lancar dan aku merasa rileks.


Begitu anastesi bekerja, kepalaku mulai pusing dan mual. Perutku serasa dikoyak-koyak hingga aku ingin muntah. Salah satu tim dokter yang menanganiku berusaha menenangkanku. Dokter itu mengusap lenganku dan memijat-mijat bahuku sambil mengajakku berbicara. Miris rasanya bukan Ray yang memberikanku kekuatan saat aku melahirkan, kekuatan saat aku melahirkan Kila dan Kica. Pelukannya, ciumannya, perhatiannya adalah obat yang mujarab saat aku berjuang mempertaruhkan hidupku untuk melahirkan putri kami. Namun kali ini aku merasa berjuang sendiri.

__ADS_1


“ Selamat ya bu, bayinya sehat nih bu. Montok, cantik, rambutnya tebal banget “, seru dokter Oktavianus saat Kiana telah berhasil diangkat dari perutku. Aku melihat sekilas Kiana yang masih berselimut darah, ia menangis dengan kerasnya. Tak lama suster langsung membawanya ke ruang bayi untuk dibersihkan, dan aku terkapar tak berdaya menunggu dokter Oktavianus menjahit perutku.


“ Totalnya lima ratus tujuh puluh ribu rupiah bu “, sahut petugas kasir saat aku hendak membayar biaya kontrol di loket pembayaran. Kurogoh dompet dari dalam tas Kiana, entah dimana dompetnya berada. Gendonganku terasa longgar jadi aku sibuk membetulkan Kiana. Petugas kasir dengan sabar menungguku mengeluarkan rupiah sembari memperhatikan gerak-gerikku. “ Repot sekali ibu ini”, pikirnya.


Setelah selesai membayar aku menunggu di sofa ruang tunggu dan kupesan taksi online lewat ponselku. Beruntungnya aku tak perlu menunggu lama, taksi online tersebut tiba hanya hitungan 3 menit saja. Aku masuk ke dalam mobil dan mendekap erat Kian yang tertidur dengan nyenyaknya. Bayi ini sungguh luar biasa, ialah pelipur laraku. Melihatnya bisa lahir ke dunia sudah menjadi keajaiban luar biasa bagiku.


Ketika aku masih dirawat di rumah sakit, Ray menemaniku seorang diri karena ibu dan mertuaku harus mengurus Kila dan Kica yang harus sekolah. Ray sibuk dengan laptopnya, malah ia meminta ijin untuk berangkat dinas saat aku dirawat hari ke-3. Tentu saja tidak aku ijinkan, bagaimana bisa aku ditinggal sendirian sementara suami yang notabene penanggungjawab pasien tidak berada bersamaku. Belum lagi aku harus latihan berdiri dan berjalan ke kamar mandi usai kateterku dicabut. Hendak buang air kecil saja sakitnya luar biasa, apalagi jika tidak ada Ray disampingku saat itu.


Pada hari ketiga aku di rumah sakit, banyak tamu menengok kami. Mulai dari sahabat, saudara, hingga anak buah Ray di RENTZ. Aku kaget begitu mereka masuk ruangan kamarku, karena aku benar-benar tidak mengenal mereka. Ray mengenalkanku satu persatu, kudengar nama mereka Nurul, Cintya, Dimas, Angga dan Fadli. Oh jadi ini ini anak buah Ray batiku dalam hati. Nurul mengatakan selamat atas kelahiran putri ketiga kami, salam dari rekan-rekan yang lain yang tidak bisa hadir.


Hingga pada suatu hari, ketika Ray pulang dari Bandung ia mengajakku berbicara saat dini hari. Saat itu aku tengah terjaga karena Kiana ingin menyusu, dan Ray baru saja tiba dari Bandung. Wajahnya lesu dan kusut, suaranya berat dan tidak bergairah. Ia menyuruhku duduk di hadapannya.


“ Ran, kamu tau aku udah ga bisa membayar rumah ini lagi ?“, tanyanya singkat namun tajam menohok hati.


Ada dua hal yang membuatku tertohok, yang pertama mengenai rumah dan yang kedua ialah panggilan Ray padaku. Selama kami menikah tidak pernah ia memanggil nama depanku. Mama dan papa adalah panggilan kami sehari-hari, bahkan sebelumnya kami memanggil “yang” satu sama lain.

__ADS_1


Mataku masih terbelalak mendengar ucapannya. Ia meneruskan kembali pembicaraanya.


“ Maaf aku ga sanggup bayar cicilan rumah, kamu harus pulang ke Bandung. Rumah ini akan aku jual saja “, katanya dengan tatapan dingin kearahku.


Badanku sekejap langsung lemas, Kian masih dalam dekapanku sedang menyusu. Sungguh ini seperti mimpi buruk, tapi aku hanya bisa pasrah karena tidak punya pilihan lain.


“ Iya pap, bagaimana baiknya aja. Terserah kamu aja, kalau kita harus pindah ke Bandung lagi ya gak apa-apa “, jawabku lirih menahan tangis.


Rumah ini baru saja kami beli saat Ray bekerja di kedutaan. Baru 2 tahun lebih kami menempatinya, mengisinya dengan sejuta cerita, dan menyimpan kenangan di tiap sudut rumahnya.


“ Besok kamu foto rumahnya, nanti aku pajang di internet. Sukur-sukur cepet laku kita bisa langsung siap-siap “, ujarnya singkat.


“ Tapi pap, anak-anak gimana sekolahnya?. Ini baru bulan Februari, kasian kalo anak-anak pindah tengah-tengah semester begini “, tanyaku sambil berusaha menahan emosi.


Ray hanya terdiam tidak menjawab pertanyaanku. Kepalanya hanya mengangguk-angguk. Tanpa ada sepatah kata, Ray langsung menjatuhkan dirinya di kasur kecil di depanku. Tidak ada pelukan atau genggaman erat untuk menguatkan batinku yang tengah terpukul. Mendengar perkataan Ray barusan hatiku hancur seketika, padahal Kian baru saja lahir di dunia. Baru hitungan hari ia berada di tempat ini, kami harus pindah untuk yang kesekian kali. Air mataku menetes, mengalir di pipiku. Kutahan sekuat mungkin agar Ray tidak mendengar isakanku. Aku kira setelah Kian lahir, kehidupan kami akan seperti di film dengan cerita happy ending.

__ADS_1


Namun kenyataan berkata sebaliknya, ceritaku baru saja dimulai !!!


__ADS_2