Harta, Tahta, Renata

Harta, Tahta, Renata
Tersesat Cerita Rayendra


__ADS_3

19.00 WIB – Bengkel Wastukencana


“ Aduh Bos mobilnya overheat ini, air nya sampai masuk ke ruang oli”, ujar sang mekanik yang sedang menunduk di balik kap mesin mobilku.


Aku ikut menunduk dan ikut memperhatikan mesin mobil yang sedang dioprek sang mekanik. Badanku lemas saat Renata mengabarkan ia terdampar sendirian saat mobilku mogok karena overheating, beruntungnya ada driver ojek online yang membantunya pulang ke apartemen, sementara mobilku diderek oleh bengkel langgananku.


“ Tuh Bos, kepala silindernya sampai bengkok, blok silinder juga. Harus diganti semua nih kayanya”, ujarnya sambil mengamati komponen mesin dengan seksama.


“ Berapa ya kira-kira Mas?”, tanyaku dengan cemas.


“ Wah saya gak tau Bos. Ini mobil Amerika dan jarang komponennya. Mungkin 1 jutaan lebih paling murah, belum ongkos masang”, jawabnya.


“ Gak bisa diakalin aja ya, saya perlu pakai mobilnya nih Mas”.


“ Waduh Bos, kalau overheating cuma karena air radiator atau trouble dari kipas aja sih masih bisa saya betulin. Kalau silindernya sampai bengkok susah Bos”.


“ Ya sudah, ganti aja deh. Yang penting bisa cepet selesai”.


“ Ngobrol sama Koh Leo aja dulu Bos, biar dia yang nyari spare part nya”, tunjuk sang mekanik pada atasannya yang sedang sibuk mendata spare part di meja kerjanya.


Aku berjalan mendekati pemilik bengkel tersebut, Koh Leo adalah pemilik bengkel paling kooperatif diantara semua bengkel yang pernah kudatangi.


“ Koh Leo, apa kabar nih?”, sapaku pada lelaki oriental berusia 50 tahunan itu.


“ Baik Bos, ayo silakan duduk. Mobilnya kenapa ?”, tanyanya dengan ramah, kurasa ia sudah lupa akan sosok diriku.


“ Overheating Koh, kalau bisa sih dibetulin aja dulu. Spare part-nya mahal ya?”.


“ Mobil apa? Masalahnya dimana?”, tanyanya sambil membetulkan kacamatanya.


“ Chevrolet Koh, blok sama kepala silindernya kena”.


“ Waduh mobil Amerika susah, harus PO. Paling cepet 2 minggu lah, masang kurang lebih seminggu. Itu juga kalau dapet ya”.


“ Aduh Koh, ga bisa bantu akalin aja dulu? Saya perlu cepet buat dipakai muter ketemu klien nih”, bujukku sambil setengah memaksa, mengingat aku harus mencari investor dalam waktu seminggu saja.


“ Ga bisa Bos, ga berani saya. Kalau cuma masalah kipas bisa tuh sejam juga selesai”.


“ Ayolah Koh, saya kan langganan disini dari dulu. Jaman mobil saya masih mobil antik tahun 82 loh. Semuanya beres kalau Kokoh yang betulin, ga pernah ada masalah tuh”.


Koh Leo kembali membetulkan kacamatanya, dia menatapku dengan lekat.


“ Oh yayaya, kamu dulu yang mobilnya Charade tahun 82 kan ya?, trus ganti lagi sama yang lebih muda. Kalau kesini suka bawa istri sama anak kamu yang masih kecil kan?”, tanyanya sambil mengingat-ingat.


“ Iya Koh betul. Dulu itu sih “, jawabku sekenanya.


“ Waduh udah tambah sukses nih si Bos, berkat doa istri dan rejeki anak pastinya”, ujarnya dengan mata berbinar menatapku.


Aku hanya tersenyum getir mendengar ucapannya, tak ada keinginan untuk meneruskan percakapan tentang masa laluku lagi.


“ Kok baru kesini lagi Bos, kemana aja?”, tanyanya lagi.


“ Saya sempet kerja di Jakarta selama 6 tahun, sekarang baru kembali lagi ke Bandung Koh”.

__ADS_1


“ Pantesan ga pernah keliatan, gimana anak-anak sehat?”.


“ Baik Koh. Oya gimana nih spare part-nya? Bisa dapet kapan?”, tanyaku mengalihkan pembicaraan.


“ Saya tanya dulu ya, bentar mau di WA dulu. Nah udah saya tanyain, orangnya belum balas lagi nih”, ujarnya sambil menatap layar ponselnya.


“ Anak udah berapa Bos? Yang dulu pernah kesini sama Mamanya udah gede dong pastinya ya?”.


“ Udah SD kelas 2 Koh. Anak sih udah 3 sekarang”.


“ Wah, hebat dong anaknya 3. Kalau di Cina, angka 3 punya arti kelahiran kembali yang katanya berkaitan dengan keberuntungan, kekayaan dan kemakmuran. Jaga baik-baik anaknya Bos, biar rejeki ga bakal lari kemana”.


Aku terdiam dengan perkataan Koh Leo, kualihakan wajahku melihat deretan mobil-mobil yang sedang diperbaiki. Mataku menyapu ke seluruh penjuru bengkel yang belum berubah sejak 6 tahun yang lalu. Di kursi panjang itu, dulu Rania dan Kila menunggu mobilku untuk diperbaiki karena sering mogok. Saat itu mobil kami masih sangat sederhana, sebuah mobil antik yang mulus body-nya. Masih kuingat saat Rania ikut mengelap kaca mobilku yang berembun apabila hujan deras, atau mengipasi Kila jika terik melanda karena mobil kami tak memiliki pendingin di dalamnya.


“ Bos, spare part-nya nunggu sebulan katanya, mau ga? Kalau mau cepet sih cari sendiri aja, nanti kasih saya biar tinggal masang. Gimana?”, tanya Koh Leo membuyarkan lamunanku.


“ Aduh tambah lama ya Koh. Ya sudah saya cari sendiri deh, mobilnya titip sini dulu ya”, jawabku pasrah.


“ Iya gampang Bos, tar saya suruh si Firman cek komponen lainnya. Gratis kok buat langganan”, ujarnya sambil tersenyum hangat.


“ Saya pulang dulu deh Koh, udah malem. Laper juga nih belum makan”, ujarku pamit.


“ Nah kalau laper jalan kaki aja dulu ke arah kampus. Sebelum belokan ada kantin enak, saya sering makan disana. Menunya kaya masakan rumah “, sahutnya.


“ Wah boleh juga. Makasih ya Koh, nanti kabari saya kalau ada info terbaru”.


“ Siap Bos, salam buat istri ya “, sahutnya sambil mengacungkan jempolnya.


Aku melangkah dengan gundah sambil menyusuri Jalan Wastukencana yang kian gelap. Hawa dingin mulai menusuk badanku, sesekali aku terbatuk kecil. Tenggorokanku terasa sangat gatal, setiap hawa dingin merasuk.


Langkahku terhenti di sebuah kantin tepat di sebelum belokan. Tempatnya bersih dan sepertinya makanannya menggiurkan, kubawa kakiku masuk ke dalam kantin yang tengah dipenuhi pengunjung.


“ Malem Mas, mau pesen apa?”, tanya seorang ibu bertubuh gempal sambil menyiapkan piring di tangannya.


“ Nasi sama apa ya yang masih ada ?”, tanyaku sambil melongok ke etalase makanan,


“ Ada dendeng sapi, pesmol ikan nila, pepes tahu-tempe, tumis pare, kangkung, semur jengkol”.


“ Ayam goreng ada”, tanyaku.


“ Abis Mas, tapi kalau mau ada sih digoreng dulu. Menu lain aja dulu sambil nunggu ayamnya matang”.


“ Saya mau ayam goreng aja. Dada 1 sama minta serundengnya banyakin ya”.


“ Baik Mas. Minumnya mau apa?”, tanyanya lagi.


“ Teh manis hangat 1 ya”. Jawabku sambil mencari tempat duduk.


Aku menjatuhkan tubuhku pada sebuah kursi plastik di pinggir jendela sambil menatap jalanan Wastukencana pada malam hari. Kepalaku terasa berputar-putar, badanku lemas dan pikiranku buntu akan semua hal yang bertubi-tubi menimpaku. Kini aku merasa tersesat sampai di tempat ini, tanpa arah dan tujuan.


“ Kakak, ayo dong makannya dihabiskan. Kamu mau kuah sop ga?”, tanya seorang ibu pada anak perempuan yang duduk di sebelahku. Anak yang besar sedang duduk sendiri sambil menyantap sepiring nasi dan ikan goreng di piringnya, sementara seorang balita sedang duduk di pangkuan ibunya.


“ Enggak mau. Aku mau ikan aja, tapi disuapin Mama”, jawab anak perempuan tersebut.

__ADS_1


“ Mama lagi mau suapin adek, kamu makan sendiri dong kan udah besar Nak”.


“ Aku takut makan duri nya Ma, Mama aja lah yang suapin aku”, rengek anak kecil tersebut.


Kuperhatikan wanita yang tengah kerepotan menyuapi kedua putrinya. Sesekali ia harus membujuk anak balita yang terus merengek ingin digendong. Kuhela nafasku sambil membayangkan kerepotan Rania saat menyuapi Kila dan Kica dulu, kenangan akan masa lalu kini mulai hinggap di benakku.


Kubuka galeri ponselku, ku scroll foto-foto yang tersimpan di dalamnya. Foto Kila dan Kica saat mereka masih kecil masih tersimpan rapi. Wajah manis Kila dan paras imut Kica memenuhi galeri ponselku. Sejujurnya aku sangat rindu pada mereka, tangan ini sudah lama tidak memeluk dan mendekap tubuhnya. Papa rindu kalian Nak, kalian sedang apa sekarang?


“Permisi Mas, ini nasi ayamnya, ini teh manisnya”,ujar seorang pelayan membawakan pesananku.


Aku segara melahap nasi ayam goreng yang kupesan. Terlihat asap masih mengepul karena baru saja diangkat dari penggorengan. Ayam goreng ini persis seperti buatan Rania. Bumbunya, harumnya, semuanya mirip, namun buatan Rania lebih empuk. Dia suka mengungkep ayam lebih lama, katanya agar anak-anak lahap makannya. Kuhirup teh manis yang kupesan, rasa hangat menjalar ke tenggorokan, namun rasanya terlalu manis hingga aku terbatuk-batuk dibuatnya.


“ Permisi Bapak dan Ibu sekalian, sambil menemani santap malam Anda, ijinkan saya melantunkan sebuah lagu. Semoga terhibur”, sahut seorang pengamen dengan tampilan eksentrik tiba-tiba masuk ke dalam kantin sambi membawa gitar akustik. Jari tangannya menari sambil memetik gitar sambil bernyanyi dengan suara merdunya.


Travelling places I ain't seen you in ages


But I hope you come back to me


My mind's running wild with you faraway


I still think of you a hundred times a day


**


I still think of you too if only you knew


When I'm feeling a bit down and I wanna pull through


I look over your photograph


And I think how much I miss you, I miss you


I wish I knew where I was 'cause I don't have a clue


I just need to work out some way of getting me to you


'Cause I will never find a love like ours out here


In a million years, a million years


**


My location unknown tryna find a way back home to you again


I gotta get back to you gotta gotta get back to you


My location unknown tryna find a way back home to you again


I gotta get back to you gotta gotta get back to you


**


Location Unknown – Honne

__ADS_1


**


Lantunan lagu dari suara merdunya mengusik jiwaku. Kerinduan yang selama ini kupendam seakan membuncah tak terbendung lagi. Aku merasa asing di tempat ini, sendirian, tanpa cinta dan harapan. Setiap bait lagu yang dinyanyikan seakan menyiratkan diriku untuk kembali pulang.


__ADS_2