Harta, Tahta, Renata

Harta, Tahta, Renata
Cerita Secangkir Kopi Cerita Ivan


__ADS_3

14.30 WIB - Starbucks Bintaro Xchange


“ Rania mana sih kok belum dateng juga?”, tanya Nadine sembari melirik jam di pergelangan tangannya.


“ Mommy, nanti baby Kian ikut juga kan ke sini?”, tanya Sean sambil mengaduk frappucino coklat di gelasnya.


“ Harusnya ikut lah, kasian kalau ditinggal”, jawab Nadine.


“ Mommy, Daddynya Kian kemana? Kok ga pernah ikut nganter Kian sih?”.


“ Sean, jangan pernah nanya kaya gitu sama Tante Rania ya!”, ujar Dion menasihati anaknya.


“ Why? Kan Daddy suka anter Mommy dan aku. Every daddy did, right?”.


“ Daddynya Kian udah gak ada Sean “, jawabku sekenanya. Dion dan Nadine hanya tersenyum lalu mengalihkan pembicaraan.


Sudah satu jam kami berkumpul seperti biasa disini untuk menemani Sean les ice skating sambil menyusun draft persidangan untuk Rania. Sudah lama kami menunggu, namun Rania belum datang juga.


“ Rania udah deket nih, katanya sorry telat soalnya Kian agak sumeng dari kemarin. Ga bisa ditinggal gara-gara ASIP nya abis “, tutur Nadine sambil membaca pesan singkat di ponselnya.


“ Tuh kan, tau gitu samperin aja sih di rumahnya tadi “, ujarku.


“ Rania gak mau katanya, lagi berantakan rumah kontrakannya “, jawab Nadine.


Tak lama kemudian, datang juga sosok wanita yang kami bicarakan. Rania datang sambil menggendong Kian yang sedang tertidur lelap.


“ Sorry ya pada nungguin, Kian lagi rewel ga enak badan gara-gara gue tinggalin pindahan kemarin “, ujarnya sambil mengambil tempat duduk di samping Nadine.


“ Lo mindahin barang sendirian Ran?”, Ga dibantuin siapa gitu?”, tanya Dion.


“ Dibantuin supir truk aja mindahin barang-barang gede ke dalem. Gue bersihin rumah, kuras toren sampe taruh barang di tempatnya. Nyokap pegang anak-anak seharian, untung Nadine beliin makanan, kalo enggak anak gue ga makan”, jawabnya.


“ Trus si Ray tau? Bantuin gak?”, tanya Nadine.


“ Tau lah, gue kasih info ke dia kalo gue pindahan. Dia pengen nemuin anak-anak tapi gak bisa “.


“ Alasan ga bisanya apa? Kalopun ga perduli sama lo minimal inget anak lah “, jawabku gusar.


“ Katanya lagi gak enak badan Van “, jawabnya.


Aku semakin berang dengan jawaban Rania, nampak jelas gurat kelelahan terpancar di wajahnya.


“ Sini gue gendong Kian, lo ngobrol aja sama Nadine. Kalo dia bangun gue ajak muter-muter ya”, sahutku pada Rania. Semua mata langsung memandang kearahku, seakan tak percaya dengan ucapanku barusan.


Tanpa menunggu persetujuan Rania aku langsung menghampirinya dan memangku bayi yang masih tertidur lelap itu. Tubuhnya terkulai lemas dan badannya terasa hangat. Kubetulkan sweater berwarna ungu yang membalut tubuh mungilnya agar ia tak kedinginan. Sesekali ia menggeliat mencari posisi nyaman sampai akhirnya Kian menjatuhkan kepalanya di pundakku.


“ Si Ivan kesambet apaan, kenapa jadi mahir gitu gendong bayi”, ledek Dion saat melihat Kian tertidur nyaman di dadaku.

__ADS_1


“ Fix, dia bakal susah cari cewe lagi, di mall gendong anak orang hahaha “, sahut Nadine tak mau kalah.


“ Gue udah bawa draft jawaban nih buat besok. Nad lo periksa ya jawaban atas semua gugatan Ray. Profil tentang orang ketiga sudah gue cantumkan di dalamnya plus gugatan balik meminta hak atas harta gono-gini, mut’ah, iddah dan nafkah anak-anak”, ujar Rania sambil mengeluarkan dokumen dari dalam tasnya.


“ Kalau kaya gini lo harus siapin print out gaji si Ray ”, ujarku sambil mengintip dokumen yang dipegang Nadine.


“ Iya, makanya gue udah minta Dion untuk kasih gue print out gaji Ray “. Ujarnya.


“ Gaji Ray di kantor gue sih aman Ran, kalo bisa lo harus dapet print out gaji di RENTZ juga”, usul Dion.


“ Wah kalo itu ga bisa Yon. Ga apa-apa deh yang penting gaji dari kantor lo mungkin udah membantu”, tuturnya.


Aku turut membaca jawaban yang diketik oleh Rania. Ia menjabarkan bahwa selama berumah tangga tidak ada masalah yang signifikan hingga akhirnya muncul orang ketiga bernama Renata Rahardjo dalam pernikahan mereka. Kulihat profil Renata hingga fotonya terpampang jelas dalam draft jawaban tersebut. Senyumku mengembang melihat nama Renata tercantum dalam gugatan yang akan dibaca oleh hakim, semoga saja Rania bisa mendapatkan keadilan sepenuhnya.


“ Ran, gue kasih liat lawyer gue dulu ya. Kalau ada penambahan nanti gue kirim email”, ujar Nadine sambil mengetik ponsel menghubungi koleganya.


“ Gue bisa bantu apa Ran?”, tanyaku.


“ Untuk sekarang cukup dulu Van, kita lihat perkembangan berikutnya “, jawabnya.


“ Gue sama Dion anter Sean dulu ke rink ya, kalian tunggu sini aja. Kasian Kian kalo ikut ke atas nanti kedinginan “, ujar Nadine sambil melihat jam ke pergelangan tangannya.


Aku masih duduk sambil memeluk Kian yang masih tertidur lelap. Sebetulnya tanganku sudah kesemutan, namun rasanya tak tega jika harus merubah posisi tanganku.


“ Van, sini Kian gue gendong lagi “, ujarnya.


“ Gak apa-apa Ran, lagi enak tidur kayaknya “.


“ Enggak beneran. Ini pertama kalinya ada bayi seneng kalo gue gendong, rasanya gimana gitu “, jawabku sambil melempar senyum.


“ Udah waktunya gendong bayi berarti, ya udah lah tinggal cari istri “, ujarnya.


“ Nyokap gue tuh paling bawel nyuruh gue cepet nikah, gara-gara itu gue ga mikir panjang buat lamar Renata. Biarpun temen-temen gue saat itu banyak yang menyayangkan karena statusnya, meskipun buat gue status dia sebagai seorang ibu tunggal bukan masalah “.


“ Terus apa yang buat lo sadar kalo Renata itu bukan jodoh lo?”, tanyanya.


“ Sikap dia berubah Ran. Setiap ketemu sama nyokap dia sering marah-marah sendiri, padahal nyokap bukan tipikal orang yang menilai seseorang dari luar. Gue rasa banyak omongan nyokap yang mengintimidasi Renata”, tuturku.


“ Nyokap lo protes tentang status Renata?”, tanyanya lagi.


“ Enggak sama sekali. Nyokap orang yang sangat fair soal pasangan, dia gak pernah ikut campur meskipun hati kecilnya ga setuju. Semua keputusan ada di tangan gue “, jawabku.


“ Bagus dong Van. Berarti sekarang tinggal lo yang harus move on. Kegagalan lo sama Renata masih ga ada apa-apanya dibanding kegagalan pernikahan gue dan Ray “, ujarnya sendu.


“ Ran, kalau seandainya Ray mau balikan sama lo gimana? Apa lo mau nerima dia?”, tanyaku sambil menatap matanya.


“ Gue ga tau Van. Kita semua sedang sibuk berdoa. Ray sedang berdoa agar terus bersama Renata hingga akhir hayatnya. Gue berdoa ingin bahagia bersama ketiga malaikat kecil ini, sementara anak-anak berdoa agar papanya cepat pulang dan berkumpul bersama lagi. Menurut lo, Allah akan mengabulkan doa siapa?”.

__ADS_1


Aku terdiam mendengar jawaban Rania. Mungkin jika aku berada dalam posisinya akan sulit untuk membuat keputusan. Ada sebuah luka batin yang begitu dalam, sulit untuk memaafkan seseorang yang telah mengkhianati sekian lama. Namun rasa sayang Rania pada anaknya juga sangat besar, pastinya ia menginginkan ketiga anaknya bahagia.


“ Pastinya akan ada hari esok yang lebih indah buat lo dan anak-anak Ran “.


Rania tersenyum menatapku. Tatapan yang tadinya sendu kini mulai berbinar-binar memancarkan harapan. Entah kenapa dadaku terasa berdegup kencang saat ia menatapku lebih dalam.


“ Oya Van, lo tinggal dimana? Angkatan berapa?”, tanyanya mengurai kecanggungan.


“ Di Cigadung, gue angkatan 2001. Kalo lo angkatan berapa? “, tanyaku balik.


“ Gue angkatan 2003. Tua banget lo belum kawin juga “, ledeknya.


“ Hahaha tuh kan paling males gue kalo ditanya umur. Lo kuliah jurusan apa?”.


“ Jurusan Fikom di kampus Jatinangor “, jawabnya.


“ Loh , lo anak Fikom? Jatinangor? Nyokap gue ngajar disana taun segitu kayanya “, sahutku sambil mengingat-ingat.


“ Oya? Nyokap lo dosen memangnya? Namanya siapa?”.


“ Nama nyokap gue Maya. Dia ngajar apaan ya, lupa deh “.


“ Ibu Maya Ariestya? Yang cantik itu? Rambutnya coklat gitu kan?”, tanyanya setengah kaget begitu mendengar nama ibuku.


“ Nah iya, tapi sekarang warna rambutnya burgundy gitu lah. Emang suka ganti-ganti warna rambut “.


“ Ya ampun Ivan, lo anaknya Ibu Maya? Dia tuh dosen paling baik, paling cantik, paling disukain mahasiswa dulu. Dia ngajar public speaking kalo ga salah. Apa kabar Bu Maya sekarang ?”, tanyanya dengan seberondong pertanyaan yang entah mana duluan yang harus kujawab.


“ Alhamdulillah baik, udah jadi ketua Perhumas sekarang. Sibuk wara-wiri keluar kota aja sama koleganya “, jawabku.


Rania masih antusias begitu tahu tentang ibuku, rasanya nyaman bisa berbincang dengan seseorang yang kenal dengan beliau. Ia bercerita panjang lebar tentang masa-masa kuliahnya dulu. Aku hanya mendengarkan setiap celotehnya, rasanya bahagia melihat Rania bisa tertawa lagi.


Tiba-tiba Kian terbangun saat aku ikut tertawa bersama Rania, tubuhnya menggeliat dan mulut kecilnya menguap. Matanya mengerjap-ngerjap sambil menatapku kebingungan, mungkin ia bertanya-tanya siapa yang kini menggendongnya. Kian masih mengucek-ngucek matanya pertanda masih mengantuk, lalu ia menyenderkan kembali kepalanya di dadaku.


“ Lah malah nyender lagi, kok ga nangis nyariin emaknya sih “, tanya Rania melihat Kian sedang membenamkan kepalanya di pelukanku. Tangan mungilnya menepuk-nepuk dadaku dengan lembut. Perasaan damai ini tak bisa kulukiskan dengan kata-kata, rasanya aku ingin membawa Kian pulang dan menunjukkan pada ibuku. Kata-katanya kini terngiang-ngiang, betapa inginnya ia menimang seorang cucu.


“ Ivan sini kasih gue, Kian harus minum ASI kayaknya”, ujar Rania membuyarkan lamunanku.


Dengan berat hati kuberikan Kian pada Rania sambil melirik Kian yang menatapku dengan polosnya. Rania pamit untuk menyusui di nursery room samping café yang kami duduki. Sementara aku tinggal sendiri berteman dengan sebuah cangkir kopi yang menjadi saksi perbincangan hangatku bersama Rania siang ini.


.


.


.


Maaf atas keterlambatan update nya, boleh dong tulis di kolom komentar, episode berikutnya cerita siapa ❤️

__ADS_1


XOXO


Author


__ADS_2