Harta, Tahta, Renata

Harta, Tahta, Renata
Pesona Renata Cerita Renata


__ADS_3

Kuberjalan memasuki lobby apartemen di yang kusewa selama kurang lebih 1 tahun lamanya. Apartemen ini paling baru dan paling nyaman di kota Bandung. Lokasinya strategis, belum terlalu ramai, dan dekat dengan kantorku yang sekarang. Daffa kadang tinggal bersamaku di apartemen, kadang tinggal bersama ibuku. Sekolah Daffa memang lebih dekat dari rumah ibuku, lagipula ibu tidak nyaman hidup di apartemen.


Kulewati meja resepsionis sambil tersenyum pada Pak Yanto yang kebetulan bertugas menjadi resepsionis sore ini.


“ Mbak Rena ada paket nih “, ujar pak Yanto sambil berjongkok di laci penyimpanan barang yang terletak di bawah meja resepsionis. Aku terkejut, rasanya aku tidak belanja online kemarin. Pak Yanto memberikan sebuah box besar yang dibungkus kertas berwarna emas dan dihiasi pita merah. Sambil mengucapkan terima kasih kubawa paket besar ini ke kamarku. Pikiranku masih menerka-nerka siapa pengirim paket ini, sepertinya ini barang yang cukup mahal.


Begitu aku tiba di kamarku, langsung saja kubuka perlahan kertas pembungkus dari kotak tersebut. Perlahan kucopot pita emasnya, kurobek perlahan kertas pembungkusnya. Tampak sebuah box berwarna hitam doff berlogo merek ternama yang sudah pasti dikenal semua kaum hawa.


“ CHANEL !!!!! “ teriakku sambil terkesima dengan kotak yang ada di depanku. Seumur hidupku ini pertama kalinya aku meraba kotak dari brand ternama ini. Gajiku hanya sanggup membeli brand Amerika saja, brand Eropa seperti ini rasanya seperti mimpi. Tapi apa ini asli ya? lalu siapa pengirimnya?


Kubuka penutup kotak tersebut untuk melihat isinya. Aku penasaran jangan-jangan hanya prank saja. Begitu tutup kotak dibuka, suaraku tercekat setengah berteriak melihat sebuah tas yang terbungkus dustbag. Terdapat carecard dan tag di dalam kotak tersebut. Kubuka dustbag tas itu dan benar saja, tas Chanel ukuran small berbahan kulit berwarna hitam khas Chanel. Model klasik tapi luar biasa cantik. Aku masih terkesima meraba seluruh bagian tas yang lembut ini. Aku langsung berdiri menghadap kaca sambil mengapit tas mahal ini. Aku tak peduli siapa pengirimnya, tas ini benar-benar menyihirku untuk terus kugenggam.


Ponselku kemudian berbunyi. Rupanya dari nomor yang tidak kukenal. Aku ragu untuk mengangkatnya, tapi jariku keburu memencet tombol di ponselku.


“ Halo Rena, gimana kamu suka dengan hadiahnya ? “


Suara yang tidak asing kudengar. Suara serak dan berat khas Hardian Hardjawinata. Badanku lemas antara kegirangan dan sedikit menyesal. Kenapa harus Hardian?. Ada rasa gengsi ingin aku kembalikan. Untuk apa aku menerima pemberian darinya, pasti ada maksud terselubung untuk meminta imbalan dariku.

__ADS_1


“Rena? Kamu suka enggak?” tanyanya sekali lagi.


“ Maaf pak, ini dalam rangka apa ya kasih saya barang semahal ini ?” tanyaku dengan nada cemas.


“ Gak ada acara apa-apa Rena, aku kepingin aja kasih kamu tas itu. Chanel kan impian semua perempuan bukan?” sahutnya dengan nada jumawa


“ Maaf pak saya gak bisa terima, saya masih ga ngerti kenapa bapak kasih saya. Ini barang mahal pak. Saya rasa reward dari kantor pun belum tepat untuk dihadiahkan kepada saya” jawabku sambil setengah menyesal menolak pemberiannya.


“ Bukan reward ko Rena, saya ikhlas. Kamu cantik, pintar dan profesional. Meeting kemarin dengan Pak David berlangsung lancar. Pak David mau membeli rumah makan saya yang Dago Atas. Yah, ini itung-itung ucapan terima kasih karena kamu menemani saya kemarin “ Jawab Hardian.


“ Wah makasih pak Hardian, saya speechless mau bilang apa. Padahal harusnya Mas Ray yang present kemarin, ini juga saya di-brief sama dia. Saya masih belum ngerasa pantas pak “ sahutku berusaha merendah.


Pak bos itu masih bersikukuh agar aku menerima pemberiannya. Sejujurnya aku tak mau melepaskan tas ini, tapi aku harus tunjukkan kalau aku punya harga diri. Setidaknya aku harus


“pura-pura” menolak dulu.


“ Renata, nanti malam pake tas nya ya, supirku jemput kamu jam 8. Kita dinner nanti malam di Hotel Palma. Aku mau lihat kamu pakai tas itu nanti. See you Renata “ sahutnya lagi tanpa memberiku waktu untuk menjawab. Ponsel dimatikan.

__ADS_1


Nafasku serasa berhenti dan suaraku seakan tercekat. Hardian tak suka ditolak. Aku berusaha positif thinking bahwa ini hanya ajakan makan malam biasa. Kuhela nafasku dan aku kuatkan diriku untuk pergi dengan Hardian 2 jam lagi. Kalau aku menolak sudah pasti hancur karirku. Sudahlah, aku pergi saja dengan Hardian. Karirku sedang menanjak, kesempatan ini harus aku pergunakan sebaik mungkin.


\\\*\\\*\\\*\\\*\\\*\\\*


bip bip bip bip bip bip


Suara alarm dari ponsel milikku berbunyi nyaring untuk membangunkanku. Mataku masih berat dan ngantuk. Ku berusaha mengambil ponsel yang terletak di meja samping kasurku. Sinar matahari sudah menerobos jendela kamarku. Tangan kekar ini masih memeluk erat badanku di balik selimut. Rupanya ia masih tertidur pulas. Setelah kumatikan alarm ponselku, aku kembali bersembunyi di balik selimut bersama lelaki ini. Tangannya masih memeluk pinggangku, kulitnya bersentuhan langsung dengan kulitku. Terasa hangat dan nyaman selama semalaman ia mendekapku.


“ Mas Ray, bangun. Udah jam 6 nih. Kamu ada meeting jam 7 mas “ Bisikku pelan ke telinga lelaki ini. Ray terbangun sambil mengucek matanya, lalu menarik badanku lagi dan mencumbu diriku. Ray terasa berbeda dengan lelaki lainnya. Dia lembut, romantis, dan sangat berpengalaman dalam memuaskan wanita.


Kali ini ponsel Ray berbunyi. Ray melepaskan pelukanya dan melihat ponselnya. Kulihat kontak tanpa nomor di ponselnya. Dia langsung beranjak dari kasurku dan mengangkat ponselnya di kamar mandi. Aku tersenyum, kutahu siapa yang menghubunginya.


“ Iya Kica papa pulang besok ya sayang. Kica mau hadiah apa? Little Pony lagi? Oke deh nanti papa carikan begitu papa pulang dari Bandung ya “ sahutnya samar-samar di kamar mandi.


Aku bergegas memakai pakaianku sambil beranjak ke kamar mandi. Setelah acara dinner dengan Hardian semalam, aku menelepon Ray untuk bertemu di club. Kami mengobrol dan bersenang-senang sampai jam 2 pagi. Kebetulan Ray masih di Bandung karena sedang bekordinasi dengan tim. Ray datang ke kantor Bandung selama 2 minggu sekali. Selama ia di Bandung, aku sering memergokinya mendapat telepon dari istri dan anak-anaknya. Anaknya sering minta mainan dan istrinya yang sedang hamil tua sering minta Batagor Bandung.


Aku tahu kalau Ray selingkuh denganku. Aku tidak pernah memaksa siapapun untuk berhubungan denganku. Ray lah yang mendekatiku terlebih dahulu, sebagaimana Hardian juga mendekatiku sejak pertama aku bekerja. Jika aku harus memilih, aku akan memilih Ray. Hardian lebih tajir, setiap selir yang ia sukai pasti mendapat “hadiah” darinya. Isu yang beredar ada salah satu asisten terdahulu memiliki 1 unit apartemen miliknya. Tapi tentunya semua itu tidak diberikan secara cuma-cuma. Bagiku tas senilai 30 juta sudah cukup lah. Lebih baik aku mencari pria potensial daripada pria bangkotan. Bukan salahku jika pesonaku bisa membuai pria-pria ini. Wanita hebat pasti akan selalu diikuti lelaki hebat. Jika mereka tak sehabat aku, kutinggalkan saja mana yang menjadi tak menguntungkan diriku.

__ADS_1


__ADS_2