
Cerita nanda
23.00 WIB – Kostan Nanda
Geng Lambe Murah
Nanda : Gaeeees…akhirnya besok aku masuk kerja!!!
Fitra : Uhuuy, selamat ya Nan
Kiki : Bos kamu kaya gimana orangnya?
Susan : Selamat sayaaaang
Nanda : Bosque ganteng siiiih, masih muda gak kaya Pak Hardian
Fitra : Waaaah, bikin semangat ke kantor dunks
Kiki : Ah iriiiiii
Nanda : Maap yaaa, bukan tipe aku. Aku Cuma setia sama Mas Ivan ajahhhh
Kiki : Kamu sekantor sama Mas Ivan gak Nan?
Nanda : Huhuhu sayangnya enggak. Mas Ivan itu temennya Pak Dion. Tapi Mas Ivan sering
mampir ke kantor. Aduuuh, belum ketemu Mas Ivan aja aku udah deg-degan nih.
Susan : Mas Ivan baik ya Nan, ngajakin kamu kerja di kantor temennya.
Kiki : Mungkin aja Mas Ivan naksir Nanda, sampe dia pindah Jakarta aja Nanda dibawa-bawa.
Fitra : Iyaaaa, jarang loh cowo perhatian kaya gitu Nan.
Nanda : Aduuuuh apa iya Mas Ivan perhatian sama aku. Udah ah ngantuk besok aku update
lagi ya.
Susan : Tidur gih Nan, biar besok gak telat masuk kerja.
Nanda : Bye bye zheyeeeenk, besok aku update gosip terbaru yess!!
Kuletakkan ponsel ke samping kasur di kostan yang baru dua malam kutempati. Tak kusangka aku bekerja di ibukota, setelah sekian lama aku bekerja pada Pak Hardian. Banyak kenangan saat aku masih bekerja di Kantor Hardja Group. Betapa banyak konflik di dalamnya, mulai dari skandal Pak Bos dengan asistennya, hingga perselingkuhan Pak Ray dengan Mbak Renata.
Masih teringat dengan jelas sosok Pak Ray yang baru saja bergabung di Kantor Hardja Group dan
ia mampu mencuri atensi Pak Hardian. Begitu mudahnya Pak Hardian percaya padanya, bahkan ia sangat optimis pada bisnis yang diajukan Pa Rayendra. Namun sayang banyak direksi yang tidak berpihak pada Pak Ray dan tim-nya. Keberadaan RENTZ
hanya membakar uang perusahaan, ditambah lagi kinerja mereka yang tidak membuahkan hasil. Apalagi perselingkuhan Pak Ray dengan Mbak Renata sudah mencuat ke seluruh divisi. Bisa-bisanya Pak Ray berselingkuh, padahal ia sudah punya anak dan istri.
Sudah terlalu banyak cerita di sana, untungnya ada Mas Ivan yang membawaku kemari. Si pria jangkung, berhidung mancung, dengan tatanan rambut cepaknya yang selalu tertata
__ADS_1
rapi. Harum parfum khas kayu-kayuan yang hangatselalu menggelitik hidungku saat ia bertamu ke kantor Pak Hardian. Tutur katanya yang santun dengan senyum ramah selalu tersungging dari bibir tipisnya. Ia adalah pria yang rendah hati, padahal ia anak dari pejabat terpandang di Bandung.
“Ya Allah, aku mau berjodoh sama Mas Ivan, boleh ya Ya Allah,”
Kupeluk guling kesayangan yang sengaja aku bawa dari rumah. ini pertama kalinya aku jauh dari Mamah dan Abah, semoga di Jakarta aku punya jodoh, batinku.
08.20 WIB – Kantor Dion
“Pagi Pak Dion, maaf saya telat ya,” ujarku tergopoh sambil mengatur nafas begitu aku tiba di ruangan kantor baruku.
“Pagi. Lo nyasar apa gimana Nan? Kan udah dibilang jam 8,” jawab Pak Bos sambil menyeruput kopinya.
“Maaf tadi macet Pak. Nanda kaget ternyata jam setengah 8 macet banget di sini,” jawabku sambil
membetulkan rambutku yang kusut. Padahal sudah satu jam aku mem-blow rambut, sia-sia deh jadinya.
“Ini Jakarta Nan, sampe malem ya macet terus. Kalau berangkat jangan mepet makanya. Udahduduk sana, tolong rapikan proposal penawaran sesuai urutan tanggal ya. ,” perintah Pak
Dion sambil mengulum senyum melihat tingkahku yang sibuk membetulkan rambut.
Aku langsung beringsut duduk di kursiku. Tepat bersebrangan dengan meja Pak Dion. Mejanya
sangat berantakan, banyak map dan kertas berceceran. Di atas meja terpajang foto Pak Dion dan keluarganya. Tak begitu jelas sih, tapi sepertinya istri Pak Dion sangat cantik seperti artis Korea. Dari kejauhan saja wanita berkulit putih itu menarik perhatian. Anak Pak Dion sepertinya lelaki, berkulit putih
sama seperti mamanya, bermata sipit seperti Pak Dion. Sepertinya Bosku ini seorang family man, tak seperti Pak Hardian yang sering menggoda asistennya.
Bip Bip Bip Bip Bip Bip Bip
Terdengar suara ponsel berbunyi, tapi jelas-jelas itu bukan milikku. Kuperhatikan Pak Dion merogoh
“Hallo”
“Are you okay?”
“Don’t worry bout Sean, I’ll pick him up at 5”
“Take care Nad, bye”
Diam-diam aku menguping saat Pak Dion berbicara dengan seseorang di sebrang sana. Dari nadasuaranya sih seperti sedang berbicara denganistrinya. Sambil mengurutkan dokumen
yang super berantakan ini, aku melirik ke meja tim IT di pojok ruangan. Ada 3 orang yang sedang sibuk dibalik layar komputer sambil menyetel musik. Sungguh santai bekerja di sini, ada enaknya juga bekerja di perusahaan start-up seperti ini.
“Nan, lo ikut gue meeting sekarang ”, ujar Pak Dion membuyarkan lamunanku. Ia sibuk membereskan dokumen serta laptopnya.
“Meeting dimana Pak?,” tanyaku.
“Ada lah, di mall deket sini sih,” jawabnya.
“Ada Mas Ivan gak Pak,” tanyaku penuh harap.
“Ya enggak lah, ngapain juga ketemu Ivan gue ajak-ajak lo,” jawab si bos sekenanya.
__ADS_1
“Idiiih Pak Dion, kali aja ada Mas Ivan. Jodoh mah bisa ketemu dimana aja kan Pak,” balasku sambil menggoda Pak Bos yang super serius itu. Untungnya aku sudah terbiasa dengan kecerewetan Pak Hardian, Pak Dion sih masih bisa kutangani, ujarku dalam hati.
“Tolong bawa map yang ada di meja gue, lo pelajari dulu ya. Gue mau ke toilet dulu,” perintahnya sambil bergegas ke kamar mandi.
“Mau Nanda panggilin drivernya Pak? no hp nya berapa?” tanyaku polos sambil meraih gagang
telepon di mejaku.
Sontak saja Pak Dion tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaanku. Anak-anak IT juga ikut
tertawa. Lah salahku apa???
“Mana ada supir pribadi Nan, emangnya gue Hardian kemana-mana pake supir. Lo beruntung tuh
duduk disetirin gue,” jawabnya sambil terkekeh.
Aku hanya bengong dengan celetukan Pak Dion. Iya juga ya, kan aku bukan kerja di kantor besar. Ah lumayan bisa jalan-jalan di Mall ibukota di hari pertama bekerja. Sambil nyelam minum air ini sih judulnya.
10.15 WIB – Manhattan café
“Pak, kita ketemu siapa sih?” tanyaku sambil berjalan di belakang Pak Dion yang sedang
memilih meja di sebuah café.
“Mau ketemu agency. Eh kita duduk di smoking area ya,” jawabnya.
Aku hanya mengangguk sambil mengikuti langkahnya. Tubuh jangkungnya selalu berjalan cepat
sampai aku ngos-ngosan dibuatnya.
“Dion!!!”
Terdengar suara wanita menyapa Pak Dion yang hendak duduk di mejanya. Kami menoleh ke arah suara tersebut.
“Hi Dion, how are you,”
Seorang wanita berambut ikal mayang diikat ekor kuda. Leher jenjangnya nampak jelas terlihat. Tubuhnya ramping dibalut baju terusan casual berwarna khaki. Ia mendekati kami sambil
tersenyum sumringah sementara Pak Dion hanya terdiam pucat pasi.
“Naya, what are you doing here?” ujar Pak Dion sambil membuka kacamata hitamnya. Ia seakan
kaget dengan kedatangan wanita cantik itu.
“Aku baru aja meeting sama klien. It’s been ages, so glad to see you here” jawabnya dengan gaya bahasa ke-bule-bule-an seperti Pak Dion.
Pak Dion mendekati wanita yang dipanggil Naya itu, ia menarik lengannya dan berbicara menjauhiku. Aku pura-pura tak mendengar percakapan mereka, seorang pelayan menghampiriku memberikan daftar menu. Aku pura-pura melihat daftar, sementara mataku mengintip Pak Dion dengan wanita tersebut.
Wanita itu sepertinya pernah akrab dengan Pak Dion, tangannya seolah hendak menggapai
lengan si pria jangkung itu. Pak Dion sepertinya kikuk dengan wanita di hadapannya, berkali-kali ia mengusap kepalanya sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. Hmmmm, siapa wanita itu, kalau klien kenapa harus berbicara jauh-jauh dariku.
__ADS_1
Tak lama perempuan itu akhirnya pergi setelah sekitar 10 menit mereka berbicara serius di pojokan café. Pak Dion kembali ke meja kami dengan wajah pucat pasi. Dahinya berkeringat dan ia terlihat salah tingkah. Aku langsung berpura-pura membaca daftar menu yang sedari tadi kupegang. Hatiku bertanya-tanya ada apa gerangan? Baru saja aku
bekerja sudah ada drama kantor yang bisa aku bagikan pada geng ghibah kesayangan.