
Tendangan sepasang kaki mungil di perutku ini semakin lama semakin kuat. Aku selalu merindukan gerakannya, rasa ngilu di perutku karena janinku memutar badannya sudah tak terhitung jumlahnya. Nafasku sudah terengah-engah, perutku kian berat, dan rasa lelah ini sudah teramat sangat. Bukan lelah karena bobotku saja, tapi batin ini semakin lama semakin menyiratkan gelisah.
Ray selalu mondar-mandir ke Bandung nyaris tiap minggu, aku sudah jarang bertemu dengannya sudah satu bulan ini. Ray bilang ada beberapa proyek sampingan dia yang gagal dia kerjakan karena sesuatu hal. Ada tagihan yang tersendat dan entah kapan dibayarkan. Gaji Ray di RENTZ belum bisa menutupi kebutuhan bulanan kami. Cicilan rumah, cicilan mobil dan biaya sekolah anak-anak. Ray semakin sibuk mencari sampingan, semua proyek dia hajar.
Bulan ini aku belum membayar SPP anakku, belum kontrol kondisi kandunganku, dan sejumlah tagihan lainnya. Usia kandunganku sudah menginjak 37 minggu. Sudah saatnya aku kontrol 1 minggu sekali. Aku sudah rindu dengan anak di rahimku, aku ingin mendekapnya, menyaksikannya lahir ke dunia. Namun apadaya biaya melahirkan saja kami belum punya.
Ya Allah, kuatkan aku menghadapi segala ujian-Mu, kuatkan suamiku agar dia bisa menyelesaikan segala pekerjaannya. Jadikan lelah dia menjadi lillah-Mu Ya Allah. Aku sudah tak kuasa melihat wajah kusutnya setiap kali tiba di rumah, aku genggam tangannya, kupijit bahunya tapi semuanya seakan sia-sia. Tak bisa lagi mengobati segala kesulitan hidupnya.
Ray kini sudah berubah semenjak dirinya bertambah sibuk dengan pekerjaannya. Tak ada lagi pijitan sebelum tidur saat kakiku kian bengkak ini. Tak ada lagi lelucon receh yang kerap ia lontarkan saat kami bercengkrama. Tak ada lagi pelukan hangat dan ciuman di kening setiap pagi. Yang tersisa hanya tatapan dingin dan kata-kata singkat setiap ia datang dan kembali pergi. Batinku ingin berteriak sekencang-kencangnya, aku tak habis pikir siapa lelaki ini. Ia bukan suamiku seperti yang kukenal. Padahal dulu kami pernah mengalami kesulitan seperti ini, Ray masih tetap sabar dan kami saling menguatkan.
Hari ini hari Rabu, Ray sudah berada di Bandung sejak minggu lalu. Dia mengatakan akan pulang malam ini, seperti biasa aku sabar menunggu. Tadi sore aku sudah masak ayam goreng dan sayur asem kesukaannya, siapa tahu dia pulang lebih awal dan bisa makan malam. Jam menunjukkan pukul 23.00 WIB, kurasa sudah terlalu larut untuk makan malam.
Aku turun ke dapurku, memasukkan kembali beberapa potong ayam ke dalam kontainer. Kusimpan sayur dan potongan ayam ke dalam kulkas agar bisa kuhangatkan besok pagi. Aku berjalan dengan langkah gontai ke ruang tamu. Kujatuhkan badanku di sofa, ku terdiam sambil menatap layar TV yang tidak menyala. Hening, sepi, tanpa suara, hanya terdengar detak jam dinding yang berirama. Kusandarkan punggungku sambil memejamkan mata, air mataku menetes menjalar di pipiku. Sambil terisak aku menyebut nama Tuhanku. Ya Allah aku tak tahu dimana suamiku kini, kumohon jagalah ia dari ujung rambut hingga ujung kaki.
“Mam….mamaaaaa….” teriakan kecil anakku membangunkanku. Ternyata aku tertidur di ruang tamu. Aku segera naik ke kamar tempat kamar aku dan anakku berada. Ternyata anakku telah berdiri di depan pintu sambil berdiri menahan kantuk.
“ Ada apa kica, kok bangun nak?” tanyaku sambil memegang tangganya.
“ Papa belum pulang ya mam?”, tanyanya polos sambil mengucek matanya.
“ Belum sayang, mungkin di jalan macet. Kica bobo aja ya, nanti besok pagi ketemu papa kok”, hiburku sambil mengajak anakku tidur kembali.
__ADS_1
“ Aku mau tidur di kamar mama aja, mau tidur sama mama dan papa”, pintanya dengan nada memohon. Lalu Kila anakku malah ikut terbangun. Dia duduk di kasurnya dan menatap heran mengapa kami berdiri di depan pintu.
“ Mam, Kica mau kemana?”, tanyanya seperti setengah tak sadar.
“ Kica mau tidur di kamar mama, kamu mau tidur di kamar mama juga?’, tanyaku pada anak sulungku yang terkantuk-kantuk.
Kila tidak menjawab tapi kepalanya mengangguk. Mereka berdua berjalan dengan langkah terseok menuju kamarku. Mereka langsung merebahkan tubuhnya di kasurku. Kuselimuti mereka sambil kukecup pelan keningnya. Kasian anak-anakku, mereka juga sangat rindu dengan papanya.
Kutengok ponselku kembali, sudah jam satu dinihari dan tidak ada pesan ataupun telepon. Aku hubungi Ray tapi telponnya mati. Rasa kuatirku semakin menjadi-jadi. Namun apa boleh buat, aku hanya bisa menunggu. Mungkin tidur sebentar rasa gelisahku hilang, sambil menunggu Ray pulang.
02.30 WIB
Bruukkkk…
Aku terkaget Ray tidur begitu saja tanpa membangunkanku. Jam menunjukkan jam 2 dini hari, lalu ia masuk kamar dan tidur tanpa basa basi. Rasa kesal setelah berhari-hari menahan rindu dibalas dengan sikap dinginnya. Emosiku sudah tak tertahan lagi, air mata yang sedari tadi kutahan agar tidak menetes kini sudah terlanjur mengucur deras. Aku bangkit dari kasur lalu berjalan keluar kamar sambil membanting pintu.
BRAAAAAKKKKK!!!
Aku menangis sejadi-jadinya di kamar anak-anakku. Aku sudah tak sanggup lagi. Kesulitan ekonomi sudah biasa aku hadapi dengan ikhlas, tapi perlakuan Ray padaku tak sanggup aku tahan lagi. Pintu kamar anakku terbuka, nampak Ray membuka pintu dengan sorot mata tajam padaku. Tatapan tajam yang bukan seperti suamiku.
“ Ada apa sih? Suami pulang kamu malah banting pintu!!!” tanyanya dengan nada sengit padaku.
__ADS_1
“ Kamu tuh yang kenapa!!! aku tuh istri yang lagi hamil tua, gelisah, nungu suami ga ada kabar, ga ada juntrungannya”, jawabku sambil masih terisak.
“ loh, kamu tau sendiri aku ini cari uang buat kamu juga, buat anak-anak, buat rumah ini. Masa masih ditanya lagi sih “, jawabnya sambil berdiri di depanku.
“ kamu bisa kan kirim WA, telpon atau apalah. Aku tuh nunggu kamu, nunggu kabar kamu. Takut kamu kenapa-napa kalau lagi di jalan “, jawabku sambil setengah menjerit.
“ Batre hp ku abis, aku udah capek. Bisa selamet sampe rumah aja udah bagus nih. Sampe rumah bukannya disambut malah dibales sama muka kaya gini “, serunya tak kalah sengit.
“ Temenku aja suaminya kerja di luar, ketemu sebulan sekali masih bisa video call sama istri. Ini kamu yang seminggu di Bandung aja gak bisa. Cuma telpon atau WA aja gak lebih Ray !!!”
Ray melotot sambil duduk di sampingku. Aku menangis sejadi-jadinya, tanganku memegang perut yang sudah menegang karena emosi. Ray tak mengindahkan tangisanku, dia terus berbicara sambil menunjuk-nunjuk diriku.
“ Kamu tau, demi membahagiakan kamu aku sampe berhutang 200 juta. Sekarang aku ditagih kanan-kiri buat ganti uang investor. Banyak proyek yang ga bisa selesai dan aku dikejar-kejar sama klien”
“ Kamu harusnya tau bagaimana seorang istri bersikap saat suami sedang terpuruk. Kesampingkan dulu ego kamu. Coba kamu beri makan ego suamimu. Laki-laki itu butuh dihargai, butuh diapresiasi segala usahanya”, serunya sambil menujuk dadanya dengan nada emosi.
Aku tak kuasa lagi menangis, perutku sudah menegang karena stress. Janinku menendang-nendang tak nyaman, hatiku juga rasanya sakit tak karuan. Percuma aku berdebat dengan Ray. Jangankan berdebat, mengeluarkan suara saja sudah sulit dengan perut yang sudah sebesar ini. Aku hanya bisa terisak.
Ray melihat aku terus menangis. Akhirnya ia luluh melihatku yang sudah tak berdaya lagi. Ia sadar janin yang di perutku akan ikut merasakan apa yang aku rasakan. Ray hanya menarik tanganku, berusaha mengajakku tidur di kamar.
“ Kalau kamu gak mau tidur sama aku, kamu tidur di kamar sama anak-anak. biar aku yang tidur di sini menenangkan diri”, ujarnya pelan sambil membawaku ke kamar.
__ADS_1
Aku berjalan sambil dipapah oleh Ray. Kepalaku berkunang-kunang karena terlalu lelah menangis sambil menahan emosi. Lutuku lemas, mungkin jika Ray tak memapahku, aku tak sanggup berjalan. Aku pegang tangannya, meski aku tak sudi lagi menyentuhnya.