Harta, Tahta, Renata

Harta, Tahta, Renata
Kalut Cerita Rayendra


__ADS_3

08.00 WIB – Kantor RENTZ


“ Guys ada yang mau saya sampaikan nih sama kalian semua, semuanya udah pada ngumpul kan?”, ujarku pada seluruh staf RENTZ di ruangan meeting.


“ Sudah Mas, ada apa ya? Kok kayanya mendadak banget”, jawab Fadli dengan wajah cemas.


“ Iya nih semuanya serba mendadak. Jadi gini, Pak Hardian meminta saya untuk segera mencarikan investor baru yang akan membeli saham RENTZ. Saya punya target agar RENTZ bisa lepas dari Hardja Sukses Grup.


“ Saya setuju Mas, kita lebih baik jalan sendiri aja, jangan dibayang-bayangi oleh grup. Saya yakin Mas Ray bisa dapetin investor baru agar produk kita lebih berkembang”, jawab Fadli.


“ Maaf Mas, kenapa Pak Hardian meminta RENTZ untuk dicarikan investor baru?”, tanya Nurul.


“ Karena kita dianggap belum memberikan keuntungan, padahal sudah saya beritahu bahwa RENTZ tidak akan memberikan keuntungan di tahun pertama”, jawabku.


“ Ya gimana mau untung, pengajuan dana untuk promosi aja mereka ga kasih, mana bisa kita jalan ga pake promosi”, serobot Renata dengan wajah kesal.


“ Betul Mbak Rena, saya selaku marketing ga bisa ngapa-ngapain kalau ga ada budget. Kapan besarnya Nama RENTZ kalau gini terus”, sesal Fadli.


“ Jadi nasib kita bagaimana nih?”, tanya Dimas.


“ Kita harus berhemat, ada kemungkinan selama 2 minggu kedepan kita hanya kerja remote dari rumah agar overhead kantor tidak membengkak. Kalian ga harus keluar ongkos juga buat ke kantor”, jawabku.


“ Loh? Kita ga akan digaji maksudnya? Saya harus bayar SPP anak saya minggu depan Mas!”, celetuk Nurul.


Aku mencari kata-kata yang tepat untuk memberitahukan pada anak buahku bahwa bulan ini grup sudah berhenti menyuntikan dana. Petty cash hanya cukup untuk menggaji sebagian gaji mereka, itupun harus mengorbankan gaji milikku.


“ Saya usahakan gaji tetap diturunkan, tapi karena kalian kerja remote maka akan diberi setengah gaji saja”


Wajah kedelapan staf RENTZ tertunduk pasrah, sesekali mereka saling bertatapan karena gelisah. Sebagian lagi terlihat uring-uringan karena gaji hanya dibayarkan setengah. Dengan berat hati aku harus mengabarkan informasi ini hingga aku menemukan investor baru.


“ Meeting saya tutup ya guys. Mohon maaf yang sebesar-besarnya atas musibah ini, semoga saja masih ada solusi agar kita bisa bangkit lagi”, ujarku meminta maaf pada mereka.


“ Aamiiin. Sama-sama Mas Ray”, jawab Fadli.


Satu-persatu mereka bubar meninggalkan ruangan kerjaku, terdengar helaan napas yang berat dan decak kesal dari mereka yang tengah menggerutu. Renata masih duduk di depanku sambil menatap jendela dengan wajah kesalnya, matanya kosong dan bibirnya mengatup tanda tak ingin bicara.


Bip Bip Bip Bip Bip Bip


Bip Bip Bip Bip Bip Bip

__ADS_1


Bip Bip Bip Bip Bip Bip


Suara ponselku berbunyi berkali-kali. Aku sengaja tak menghiraukan panggilannya.


“ Mas angkat dong, berisik”, celetuk Renata.


Kulirik ponselku, hingga kulihat sebuah nama yang menghubungiku


Raditya calling


“ Halo Ray”


“ Halo Dit, ada apa”, jawabku pada adik bungsuku.


“ Sibuk?”


“ Enggak, kenapa?”.


“ Mau kasih tau, Mama mau ikut gue pindah ke Solo”.


Aku terkesiap mendengar ucapannya. Tiba-tiba saja Radit menghubungiku dan memberitahukan bahwa ibuku akan ikut pindah bersamanya.


“ Loh ada apa nih, kok tiba-tiba pindahan begini?”.


“Ya bagus lah, tapi kenapa Mama jadi ikut kesana? Kan di Bogor ada Nana?”.


“ Ray, lo tega liat Mama tiap hari nangis-nangis? Nana sama Dirga udah ga kuat liatnya. Sampe detik ini lo belum juga selesaikan urusan lo sama Kak Rania”.


“ Sedang dalam proses kan Radit. Persidangan itu makan waktu, ya sabar lah”, ujarku membela diri.


“ Bukan persidangan yang kami maksud Ray. Buat Mama sidang hanya formalitas, tapi permintaan maaf lo sama Kak Rania dan Ibu belum juga dipenuhi”.


“ Ya harus gimana lagi Dit, pastinya kita temui Rania kalau prosesnya selesai lah”,


“ Lo pengecut Ray. Semakin lama lo nunda, semakin berat beban moril yang kami tanggung. Cerita tentang lo udah beredar di grup keluarga besar, muka Mama mau taruh dimana Ray?. Mama dianggap ga bisa mendidik elo”.


“ Kalian semua ga ngerti Dit. Beban gue juga sangat banyak sekarang. Yang susah bukan kalian doang. Tolong ngertiin gue “.


“ Ngapain harus ngertiin lo, perbuatan lo sama Kak Rania dan anak-anak tidak dibenarkan sampai kapanpun. Maaf Ray, kami ga akan pernah terima Renata sebagai keluarga. Sekarang lo fokus aja urus keluarga baru lo, sementara Mama mau gue ajak ke Solo”.

__ADS_1


Tut Tut Tut Tut Tut Tut


Panggilan teleponku terputus, Radit sengaja memutuskan panggilan disaat aku ingin protes akan keputusannya membawa Mama bersamanya.


ARRRRGGGGHHHHH


Kulempar tumpukan kertas yang ada di atas mejaku. Dokumen yang berisikan laporan dan progress RENTZ yang selama satu tahun kubangun melayang-layang sebelum akhirnya jatuh bertebaran di lantai. Jatuh, sama seperti mimpiku yang telah jatuh, terinjak dan remuk. Pengkhianatan, tuduhan, perlawanan, desakan, hingga gunjingan seakan membelitku dan membuatku tak bisa berkutik lagi.


“ Kenapa lagi Mas? Siapa yang telepon?”, tanya Renata yang melongo melihat sikapku.


“ Radit. Sudahlah kamu juga ga akan mau tau dia ngomong apa”, jawabku kesal.


Bip Bip Bip Bip Bip Bip Bip


“ Aduuh siapa lagi sih yang telepon”, ujarku berteriak.


“ Ponselku Mas, Mama yang telepon”, jawab Renata sembari mengangkat ponselnya.


“ Halo Ma, kenapa”, jawab Renata.


“ Apaaaaa?”.


“ Kok bisa? Trus Daffa dimana sekarang?”.


“ Aku masih di kantor sih, tapi ga apa-apa aku pulang sekarang”.


Kulirik wajah Renata yang pucat pasi saat menerima panggilan telepon dari ibunya. Wajahnya panik bercampur gelisah.


“ Kenapa Ren?”, tanyaku.


“ Daffa, dia nangis-nangis di rumah. Barusan ia dihubungi wali kelasnya, katanya beasiswanya dicabut pihak sekolah”, ujar Renata dengan wajah panik. Ia buru-buru memasukkan ponsel ke dalam tasnya untuk bersiap-siap pulang.


“ Kamu pulang duluan deh, bawa mobilnya. Aku masih harus stand by kerjain proposal untuk calon investor”, bujukku sambil memberikan kunci mobil padanya.


“ Aduh kenapa sih Daffa, kok bisa beasiswanya dicabut. Perasaan semua persyaratan udah aku submit, anaknya juga udah les segala macem. Pasti dia kecewa berat Mas”, rengek Renata menahan tangis.


“ Udah tenang dulu, kamu pulang trus damping Daffa. Siapa tau kamu bisa ngobrol sama pihak sekolah”, jawabku menenangkan Renata yang tengah panik di depanku.


“Kamu mau nyetir atau pakai taksi, kalau kamu kalut gini mending aku panggilin taksi deh”.

__ADS_1


“ Aku nyetir aja Mas, kamu pulang sendiri aja nanti. Siapa tau aku masih ada waktu buat ke sekolah Daffa buat minta kejelasan soal pencabutan beasiswanya”, jawab Renata sambil menahan kekecewaannya.


Istriku berjalan tergesa-gesa keluar dari ruangan kerjaku, meninggalkan segala kekalutan yang tengah kami alami saat ini. Kini diriku duduk sendiri hanya berteman sepi, amarah dan benci. Ya mereka adalah sahabat karibku saat ini, gejolak emosi yang merongrong yang semakin hari selalu menghantui.


__ADS_2