
07.00 WIB – Apartemen Renata
“ Mas, bangun!!! Nanda kirim pesan katanya hari ini ada rapat direksi”, ujarku sambil mengguncang-guncangkan badan suamiku yang masih tertidur.
“ Hmmmmmm”, gumam suamiku yang masih saja menutup matanya rapat-rapat.
“ Mas bangun, rapat jam 8 teng di kantor pusat “.
“ Rapat? Rapat apa sih? Aku ga ada agenda rapat hari ini kan?”, tanyanya sambil memicingkan matanya.
“ Ini ada pesan dari Nanda, Pak Hardian ngundang kita rapat jam 8. Ayo buruan bangun Mas, jam segini lagi macet-macetnya “.
Sontak saja Ray terbangun dan segera beranjak dari kasurnya. Terdengar suara shower dan bunyi sabun yang berjatuhan dari kamar mandi. Sepertinya Ray akan mandi secepat kilat, sementara aku harus mengecek semua pekerjaanku sebelum Hardian meminta laporan saat meeting nanti. Sial, masih banyak laporan yang kusiapkan, selama 3 hari aku ditinggal oleh Ray ke Jakarta pekerjaanku jadi keteteran.
“ Kamu buruan mandi dong, dari tadi nyuruh siap-siap sendirinya malah buka laptop”, ujar Rayendra yang baru saja keluar dari kamar mandi.
“ Iya sebentar, aku belum bikin laporan bulan lalu. Kamu bantuin aku ya kalau Pak Hardian tanya”.
“ Gampang lah. Tolong bikinin aku teh manis dong, ada roti atau apa gitu di kulkas?”, tanyanya sambil mengenakan kemejanya.
“ Ga ada teh, roti kayanya abis deh”, jawabku singkat.
“ Kamu ga belanja bulanan atau gimana sih? Masa teh aja ga ada dari bulan lalu?
“ Aku kan ga pernah bikin teh, kamu minum air putih aja lah, ambil sendiri di dispenser tuh”.
“ Lalu aku sarapan apa nih? Dari kemarin malem belum makan, kirain ada roti atau apa gitu?”, jawabnya sambil uring-uringan kepadaku.
“ Biasanya juga kan kamu yang ngajak aku beli sarapan di luar, kok sekarang jadi marah-marah cuma gara-gara teh sih”, ujarku kesal dengan jawabannya barusan.
“ Ya udah kamu mandi deh, udah tau bakal telat. Belum lagi harus nyari baju dulu, dandan dulu, milih sepatu dulu”, sindirnya sambil menyisir rambutnya di depan cermin.
“ Iya aku mandi sekarang. Kamu bantuin bikin laporan dulu nih”, ujarku sambil menyodorkan laptopku padanya. Ray masih bersungut-sungut sambil memeriksa laporan yang aku kerjakan.
“ Ada mi instan atau apa gitu Ren? Aku udah laper banget ini “, tanyanya dengan wajah meringis. Aku baru ingat ia memang pulang malam dan aku sudah tertidur saat ia datang.
“ Ga ada kayaknya, kamu turun ke bawah aja deh cari makanan ya Sayang”, ujarku sekenanya sambil buru-buru menutup pintu kamar mandiku. Tak ada waktu meladeninya saat ini, yang ada di otakku adalah bagaimana caranya menyelamatkan diri dari cecaran Pak Hardian saat rapat direksi.
08.15 WIB – Kantor Pusat Hardja Sukses Grup
Dengan terburu-buru Ray memarkirkan mobil sekenanya di parkiran kantor pusat. Kulirik jam di pergelangan tanganku, angka sudah menunjukkan waktu jam 8 lewat. Rapat pasti sudah dimulai, raut wajah Ray sangat cemas. Selama di jalan ia masih uring-uringan karena kelaparan. Aku jadi kesal dibuatnya, biasanya dialah yang membelikanku sarapan selama ini, tiba-tiba saja hanya perkara teh manis dia jadi marah selama di perjalanan.
“ Buruan Ren, Pak Hardian pasti udah nungguin”, ujarnya sambil berjalan tergesa-gesa menuju lift yang akan membawa kami ke lantai 3. Begitu tiba di depan lift, Ray langsung memencet tombol, namun lampu indikator di lift tidak menyala. Ray berkali-kali memencet tombol tersebut, anehnya semuanya seperti tidak berfungsi.
“ Maaf Pak, lift nya lagi rusak”, ujar salah seorang Office Boy yang datang sambil membawa kertas HVS yang akan ia tempelkan.
“ Bukannya dari tadi sih dikasih pengumuman kalau lift rusak. Saya jadi buang-buang waktu nih”, jawab Ray dengan berang.
Office Boy tersebut hanya menatap Ray dengan wajah kebingungan, ekspresinya terlihat kesal karena perkataan Ray barusan.
“ Ren, ayo cepetan kita naik tangga”, ajaknya sambil berjalan tergopoh-gopoh melewati ruangan para staf.
__ADS_1
Kami berjalan melewati kubikel staf Hardja Sukses Grup, beberapa staf tampak menyadari kehadiran kami sambil berbisik-bisik.
“ Eh..eh…itu mereka dateng ”.
“ Ssssttt, orang RENTZ dateng”.
“Mau minta duit sama Big Boss pasti”.
“ Liat itu mereka udah pake cincin”.
Kasak-kusuk yang mereka bisikkan sampai terdengar di telingaku. Kubalas saja mereka dengan melemparkan tatapan sinis , tak akan kubiarkan mereka terus-terusan menghina kami.
Dengan susah payah aku menaiki tangga dengan heels 7 cm yang kukenakan. Rayendra sudah lebih dulu menaiki tangga tanpa memerdulikan aku yang berjalan dengan kerepotan. Selepas ia pulang dari Jakarta dia jadi uring-uringan tanpa sebab, puncaknya tadi pagi ia terus mengomel sepanjang jalan karena kelaparan.
Akhirnya kami sampai juga ke lantai 3, tempat dimana kami akan meeting bersama seluruh jajaran direksi. Aku berusaha mengatur napasku sambil memijat kakiku yang nyaris kram, Rayendra sudah berjalan mendahuluiku masuk ke dalam ruangan.
“ Pak Ray akhirnya datang juga, rapat udah dimulai 45 menit yang lalu loh Pak”, ujar Nanda dari balik mejanya.
“ Saya langsung masuk atau gimana nih”, tanya Ray yang wajahnya terlihat panik.
“ Langsung aja Pak, semuanya udah nunggu Bapak. Bu Renata mau ikut masuk juga?”, tanyanya sinis melihat kearahku.
“ Iya kan, katanya yang dipanggil kami berdua”, jawabku sedikit kesal akan sikapnya.
Nanda hanya meringis sambil mengantar kami ke ruangan meeting. Dengan perasaan yang campur aduk kami mengikuti Nanda dari belakang.
Tok Tok Tok
“ Iya suruh masuk, bukannya daritadi kan rapat dimulai”, jawab Hardian dengan suara lantangnya dari dalam ruangan.
Kami berdua masuk ke ruangan meeting dengan disambut 12 pasang mata yang melirik kami dengan tatapan tidak bersahabat. Wajah-wajah itu adalah Direktur dan komisaris dari Hardja Sukses Grup. Beberapa wajah bahkan tidak kukenal sama sekali, ini adalah kali pertama aku bertemu dengan wajah asing ini.
“ Silakan duduk, banyak yang kami mau bahas nih”, perintah Hardian kepada kami berdua. Jantungku berdebar kencang saat ini, punggungku masih basah gara-gara tadi menaiki tangga sambil setengah berlari. Kulirik Ray yang wajahnya pucat pasi, ia berusaha menarik kursinya sambil berusaha tenang mengikuti perintah Hardian
“ Ray, di sini ada direktur utama dan komisaris yang sedang membahas keuangan dari grup kita. Kamu tau sendiri kan bahwa grup sedang membutuhkan dana besar untuk melakukan maintenance berskala besar. Demi menyelamatkan unit yang lebih besar, kami harus menutup unit yang sekiranya tidak menghasilkan keuntungan”, ujar Hardian.
“ Sekarang saya ingin kalian semua memberikan laporan keuangan, saya ingin tau dari masing-masing bisnis kalian selama ini”.
“ Maaf Pak, sebelumnya kami minta maaf karena datang terlambat. Jujur saya kaget mendengar hari ini ada rapat direksi. Selama 3 hari kemarin saya mondar-mandir Jakarta soalnya”, jawab Ray dengan napas masih terengah-engah.
“ Sibuk apa Pak Ray, kok bisa mondar-mandir Jakarta. Bisnis RENTZ kayanya ga seheboh itu deh sampai harus bolak-balik ke sana”, sindir Pak Daniel menyela pembicaraan. Wajah Ray langsung merah padam, tangannya terkepal mendengar ucapan Pak Daniel barusan. Belum mulai rapat saja dia sudah mencari gara-gara dengan kami.
“ Loh, saya udah kasih info kok lewat Nanda. Nanda kirim email sama kalian ga sih?”, tanyanya dengan nada gusar.
“ Saya sih baru tau tadi pagi lewat pesan singkat Pak. Kalau email jujur saja saya skip karena kemarin saya sibuk Pak”, jawabku membela diri.
“ Ya sudah, sekarang saya mau kalian melaporkan pada kami keuntungan RENTZ selama 1 tahun kebelakang. Dari sekian banyak dana yang kami gelontorkan, apa saja keuntungan bagi perusahaan?”, todong Hardian dengan diikuti beberapa pasang mata yang menatap tajam.Ruangan langsung terasa hening, hanya terdengar dering telepon di meja Nanda, serta helaan napas seakan menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut Rayendra.
“ Jadi begini Bapak dan Ibu Direksi sekalian. RENTZ adalah sebuah perusahaan rintisan yang tidak berorientasi pada keuntungan saja, melainkan dari value (nilai) suatu produk yang kami buat. Saat ini kami masih mengembangkan aplikasi agar banyak pengguna yang mengunggah di ponselnya, semakin banyak RENTZ di-unggah, maka valuasi akan semakin naik. Nantinya penghasilan kami akan didapatkan dari iklan dan investor lain sampai kami tembus pasar modal”.
“ Itu idealnya kan ya Pak, saya juga mengerti startup lah sedikit. Tapi butuh berapa lama Anda akan mendapatkan keuntungan sesuai yang tadi disebutkan. Pendapatan dari iklan itu masih receh Pak. Mau nunggu saham dijual sama Investor lain juga kapan waktunya?”, tanya seorang Direksi yang wajahnya tidak kukenal.
__ADS_1
“ Kami masih terus mengembangkan aplikasinya Pak. Saat ini Bu Renata sudah banyak meraup tenant yang bergabung di RENTZ, saya sangat mengapresiasi pekerjaan beliau. Saya harap kami diberi waktu lagi agar RENTZ bisa berpromosi lebih luas lagi”, tuturnya.
“ Kalau gitu berarti akan lebih banyak lagi dana yang harus keluar untuk menghidupi RENTZ dong. Unit bisnis kami mati-matian cari keuntungan demi perusahaan, tapi malah dihabiskan buat kasih makan perut kalian”, tuduh Daniel sambil menatap Ray dengan tatapan khasnya.
“ Saya rasa Pak Hardian sudah tau resiko di awal tentang bisnis ini. Kami sudah sepakat di awal bahwa perusahaan yang kami bangun hanya untuk mengubah konsep konvesional menjadi digital. Saya rasa hadirnya RENTZ membawa suasana baru dalam grup ini”.
“ Iya saya sepakat sama kamu Ray. Pada awalnya saya ingin mengubah gaya bisnis konvensional menuju digital. Namun dengan harapan, RENTZ akan memberikan keuntungan sesuai skema yang kamu janjikan. Sekarang sudah satu tahun lamanya kok tidak ada hasil apa-apa. Keuangan grup juga terganggu jadinya”, sahut Hardian.
“ Pak Ray bisa kasih solusi pada kami tidak? Bagaimana caranya agar perusahaan Anda tidak terus-terusan menggerogoti unit bisnis yang lain?”, tanya sang Ibu Komisaris.
“ Saya akan jual saham RENTZ. Beri saya waktu untuk menjual saham saya pada beberapa investor kenalan saya. Semoga bisa menjadi solusi”, jawab Ray pasrah.
“ Nah begitu saja untuk sementara. Saya harap Anda bisa menemukan investor yang mau membeli saham kalian. Saya harap bisa menemukan investor dalam waktu cepat, jika tidak RENTZ akan kami tutup tanpa pesangon”, tuturnya.
Mataku terbelalak mendengar jawaban dari Ibu Komisaris barusan, aku melirik pada Ray yang wajahnya pucat tak karuan. Suaranya nyaris tersangkut di tenggorokan, sampai ia harus bersusah payah untuk menyampaikan pembelaan.
“ Saya mohon agar diberi waktu sebulan lagi Bu. Ada delapan anak buah saya yang harus saya gaji, mereka sudah bekerja keras demi aplikasi ini. RENTZ ini sudah seperti keluarga bagi kami, tidak mudah bagi kami untuk bubar begitu saja”, pinta Ray dengan memelas.
“ Duh Pak Ray, kamu baru menghidupi delapan anak buah saja sudah bangga. Saya menghidupi ratusan staf Pak, lebih pusing siapa coba?”, ujar salah seorang direksi sambil menggelangkan kepalanya. Senyuman yang tersungging dari bibirnya seakan mencemooh Rayendra.
“ Hebat ya RENTZ, sudah seperti keluarga katanya. Sampai-sampai berumah tangga betulan biar lebih menghayati ya ceritanya”, sindir Pak Daniel sambil melempar senyum pada orang di sampingnya. Beberapa direksi saling menahan senyum, sebagian lagi hanya terkekeh dengan tatapan sinis seakan sedang menghina kami berdua.
“ Sudah, sudah. Kita lagi rapat soal keuntungan nih, jangan jadi ngelantur kemana-mana. Soal duit aja udah pusing saya, ini lagi malah bahas rumah tangga”, serobot Hardian dengan aksen Sunda kentalnya.
“ Rapat saya tutup untuk hari ini. Ray, saya beri kamu 1 minggu untuk segera mencari investor baru. Dana akan kami stop mulai hari ini, kamu harus putar otak bagaimana caranya kalian bisa menghidupi kebutuhan dari kas yang kalian miliki”, lanjutnya.
“ Baik Pak, Saya akan putar otak. Beri kami waktu ya Pak”, jawab Ray dengan pasrah.
Satu-persatu Direksi beranjak dari duduknya dan keluar dari luar ruangan. Ray segera menarik lenganku agar cepat-cepat meninggalkan ruangan meeting ini. Lututku masih lemas akan pembicaraan antar Direksi barusan, kepalaku langsung berkunang-kunang mendengar RENTZ diambang kehancuran.
Kami berjalan menerobos Direksi yang berkerumun di luar ruangan meeting. Mereka sibuk mengambil minuman dan snack yang terdapat di samping ruangan meeting. Perutku sudah keroncongan dan mataku berkunang-kunang, tapi Ray sudah menarik lenganku untuk pergi sesegera mungkin.
“ Sial, mereka semua pasti bersekongkol buat jatuhin kita Ren”, umpat Ray saat kami menuruni tangga.
“ Biang keroknya pasti Daniel tuh, dia pengen banget liat kita jatuh”, jawabku dengan napas memburu.
“ Aku harus sesegera mungkin cari Investor Ren, kalau enggak kita ga bisa makan”, ujarnya dengan gelisah.
“ Kamu cari lah, koneksi kamu kan banyak Mas. Kita butuh uang buat biaya Daffa nih”, jawabku cemas.
“ Gak tau lah Ren, kepala aku pusing banget ini. Kamu yang nyetir deh sampai kantor”, ujarnya sambil berlalu mendahuluiku.
Kugelengkan kepalaku saat Ray dengan seenak jidat menyuruhku menyetir, lalu kini ia berjalan meninggalkanku sendirian melewati kubikel neraka ini. Selasar lantai satu tempat dimana dinding bisa bicara dan mulut yang setajam silet ini seakan-akan siap memakanku.
“ Ssssstttt….tuh pada pulang”.
“ Kayaknya pada marahan tuh mereka, pasti abis diomelin Pak Hardian hahahhaa”.
“ Sukurin, pada kualat sih. Jahat sama mantan istri langsung auto miskin tuh si Pak CEO”,
“ Amit-amit ya, kaya yang kecakepan aja tuh mereka”.
__ADS_1
Kasak-kusuk itu semakin jelas saja kudengar. Kali ini aku sengaja tak menggubris hujatan mereka, cukup kumaki mereka dalam hati. Aku bersumpah semoga mereka akan mengalami kesulitan seperti apa yang kualami saat ini.