
Cerita Rania
10.00 WIB – Rumah Rania
“Kila, Kicaaaa…..Hari Minggu kan tugas kalian rapikan kamar. Ayo jangan main hp nya Mama terus,” seru ibuku mengingatkan anak-anak yang sedang asyik menonton video di ponselku.
“Iyaaaa Neeek,” seru Kica namun tak beranjak juga.
“Hayo, Mama marah kalau kamu gak denger perintah Nenek,”
Kedua anakku langsung meloncat dari sofa dan berlari membereskan kamarnya. Tentu saja begitu di dalam kamar mereka masih bermain dengan ponselku.
Aku baru saja menyuapi Kian yang makan dengan lahapnya. Ia berusaha makan sendiri sambil tangannya belepotan nasi. Tingkah gemasnya mewarnai hari-hatiku, anak selucu ini belum pernah ditemui oleh ayahnya sendiri.
“Mamaaaaa, ada telepon,” teriak Kica
“Dari siapa nak? Tangan Mama kotor sama kuah sop nih,” jawabku sambil mengelap jemari Kian.
“Ini dibacanya apa ya? Iman eh Ikan,” jawab Kica sambil berusaha membaca kontak yang muncul di layar.
“Ikan? Baca yang bener dong. Minta kakak yang bacain Namanya siapa,” jawabku sambil menahan tawa akan jawaban Kica yang belum bisa membaca.
“Ooooh Ivan Mam. Eh Ivan tuh temen Mama yang ngajak kita main di mall bukan,” jawab Kila.
Sontak saja aku langsung berdiri mendengar jawaban Kila. Ivan, sudah lama sekali kami tidak berkomunikasi dengannya. Kian langsung menjerit kegirangan saat Kila menyebut Namanya. Namun sayang, panggilan telepon itu sudah mati gara-gara tidak diangkat olehku.
Entah kenapa jantungku langsung berdebar kencang, langsung saja aku mencuci tangan dan mengambil ponsel dari tangan anak-anak. kupencet kembali pangilan terakhir yang tidak kuangkat.
Tuuuuut Tuuuuuut Tuuuuuut Tuuuuuuut
Klik
“Assalamualaikum Rania”
Sebuah jawaban ramah kudengar dari sebrang sana. Suara lembut nan santun dari sesosok pria tampan dan simpatik. Wanita mana yang tidak meleleh mendengar suaranya.
“Waalaikumsalam. Maaf Van, barusan aku lagi nyuapin Kian, jadi gak keangkat,” jawabku kikuk sambil memainkan dasterku.
“Hahaha gak apa-apa. Kian lagi apa? Kila sama Kica libur sekolah dong hari ini?”
“Kian baru selesei makan, tuh lagi teriak-teriak. Kakaknya lagi beresin kamar sekarang,” jawabku sambil berjalan ke teras belakang rumah.
“Aku kangen sama Kian, udah gede ya sekarang,” jawabnya.
Aku tersenyum mendengarnya. Aku yakin uapan tulus itu keluar dari lubuk hatinya. Betapa ia sangat menyayangi Kian sejak Kian kecil. Kian sangat nyaman berada dalam dekapan Ivan, sering aku memergoki Ivan diam-diam mencium lembut kepala Kian saat aku bertemu Dion dan Nadine tempo hari.
“Ran, Halo, Ran” panggilan Ivan kembali membuyarkan lamunanku.
“Eh maaf barusan sinyalnya ilang-ilang. Gimana Van,” ujarku berbohong.
“Hari ini rencana kalian ngapain aja,” tanyanya.
“Gak kemana-mana sih, kaya biasa aja nonton TV dan main sama mereka di rumah,” jawabku.
“Nadine lagi sakit Ran, kita ke rumah mereka yuk. Ajak anak-anak biar main sama Sean,” ajaknya.
“Nadine sakit apa Van?”
“Gak tau tuh. Dion udah uring-uringan gara-gara Nadine gak mau makan. Udah seminggu gak turun dari tempat tidur,” jawab Ivan.
“Oke, aku tengok Nadine hari ini deh. Kok dia gak cerita sih lagi kalo lagi sakit,” ujarku melihat jam dinding.
“Lagi males ngapa-ngapain kayaknya. Oke, ajak anak-anak ya. kita ketemu abis makan siang aja. Mau ketemu di sana atau aku jemput Ran,” tanyanya sopan.
Aku terdiam mendengar jawaban Ivan, sesungguhnya tawaran Ivan tak bisa kutolak.
“Ketemu di rumah Nadine aja ya Van,” jawabku.
“Oke Ran, ketemu di sana ya. Salam buat Mama. Assalamualaikum,”
__ADS_1
“Waalaikumsalam” jawabku pelan sambil menutup ponselku.
Ada perasaan aneh yang menggelora di dadaku. Ada rasa rindu, bahagia dan juga canggung saat mengobrol dengannya. Masih kuingat percakapan kami di Citos tempo hari, saat ia berharap aku untuk membuka hati. Tanganku langsung berkeringat dingin, perutku rasanya campur aduk dibuatnya. Pesona pria itu tak bisa kutolak, tapi…….
“Mamaaa, tadi telepon sama siapa,” tanya Kica menghampiriku.
“Om Ivan Nak,” jawabku sambil mengelus kepalanya.
“Om temen Mama itu ya?,” tanyanya lugu.
“Iya Nak, yang kalian ketemu tempo hari di Rumah Sakit sama ajak main di Mall,”
“Om Ivan yang kasih boneka kan,” sela Kila tiba-tiba.
“Iya Nak. Eh sini deh Mama tanya, menurut kalian Om Ivan baik enggak?,” tanyaku iseng pada mereka.
“Hmmmmh, baik sih. Temen Mama baik semua kan. Daddy dan Mommy Sean juga baik,” jawab Kila.
“Kita ke rumah Sean yuk. Mommy-nya Sean lagi sakit,” ajakku.
“Sekarang? Horeeeee. Jam berapa Mam? Aku mandi yah,” teriak Kica kegirangan.
Tok Tok Tok
Suara pintu diketuk membuyarkan percakapan kami. Ibuku membuka langsung membuka pintu dan tersenyum menyapa seseorang di luar sana.
“Masuk Yun, darimana nih,” sapanya.
“Abis dari pasar. Mau minta tolong Rania nih kak,” jawab suara yang tak asing lagi di telingaku.
“Tante Yuni, abis belanja apa. Abis borong nih kayaknya,” tanyaku basa-basi melihat Tante Yuni yang melongok ke dapur mencariku.
“Ran, Tante ada arisan sekaligus reuni nanti jam 12 siang. Tante mau bikin kue-kue kecil gitu. Bisa bantu Tante buatin kue bolu Ran. Bahannya sih udah ada, kamu tinggal mikser terus panggang deh,” pintanya sambil setengah memaksa.
“Bisa sih Tante, tapi Rania ada janji jam 1 siang,” jawabku ragu-ragu.
“Masih keburu Ran. Ayo makanya sekarang ikut Tante ke rumah, makin cepat makin baik,” desak Tante Yuni sambil melambaikan tangannya memaksa untuk pergi.
“Mama jangan lama-lama ya, kan kita mau main sama Sean,” jawab Kica merengut.
“Ayo Ran, cepat pakai kerudungnya. Si Om udah nungguin tuh,” desak Tante Yuni padaku.
Dengan tergopoh-gopoh aku berganti baju dan mengenakan jilbabku. Kuikuti Tante Yuni ke dalam mobil dan kami langsung melaju ke rumahnya yang berjarak 3 Km dari rumahku. Dengan gelisan aku mengintip jam di layer ponselku. 2 jam lagi aku harus ke rumah Nadine, ya mungkin akan terlambat sedikit. Nanti aku kabari Nadine dan Ivan setiba di rumah Tante Yuni, pikirku.
11.00 WIB – Rumah Tante Yuni
Aku langsung bergerak cepat di dapur sambil menuangkan terigu ke dalam baskom. Tante Yuni sedang membereskan minuman yang akan ia sajikan pada tamunya, sementara Mbak Tarmi sedang mengatur sofa dan menggelar karpet di ruang tengah.
“Tamunya banyak ya Tante?,” tanyaku sambil sibuk memutar mikser di tanganku.
“Sekitar 20 orang Ran, mereka ini temen Tante waktu si Om masih bertugas di Kalimantan,” jawabnya.
“Tamu jauh semua ya Tante? Masih di Kalimantan mereka?,” tanyaku lagi.
“Enggak, sebagian sih udah di Jakarta. Cuma memang kita jarang ketemu. Ini arisan perdana di rumah Tante,” jawabnya sambil melongok pada adonan kueku.
Dengan cekatan tanganku langsung menuangkan adonan bolu kukus pada loyang. Kini sudah tersaji 5 loyang bolu yang tinggal dipanggang. Anak Tante Yuni & Om Hari tinggal di luar kota, itulah kenapa ia sering mengandalkanku untuk meminta pertolongan.
“Ran, kalau sudah selesai panggang bolu, kamu tuangkan sirup ini ya. Tante mau mandi dulu,” perintah Tante Yuni.
“Iya Tante, jawabku sambil melirik ke ponselku. Sudah jam 12 kurang, batinku. Mudah-mudahan sebentar lagi tugasku selesai membantu Tante membereskan sajiannya.
Tanganku sibuk menuangkan sirup dan menatanya di meja makan Bersama Mbak Tarmi. Aku tau betul karakter Tante Yuni yang perfeksionis. Semuanya pekerjaan harus rapi dan sempurna.
“Assalamualaikum”
Terdengar salam dari teras depan, rupanya tamu Tante Yuni sudah ada yang tiba. Mbak Tarmi langsung membuka pintu dan mempersilakan tamu tersebut untuk duduk.
“Mbak Rania, itu tamunya sudah datang, kasih minum apa gimana ya,” tanya Mbak Tarmi padaku.
__ADS_1
“Aduuuh, mana Tante sama Om masih di kamar. Ya sudah aku temenin deh Mbak,” jawabku.
“Iya Mbak, tolong temenin ya, takut salah nanti Ibu marah-marah,” bisik Mbak Tarmi yang sudah hapal dengan tabiat Tante Yuni.
Aku langsung menyajikan minum di nampan pada tamu tersebut. kulangkahkan kaki pelan-pelan menuju ruang tengah, tempat dimana tamu itu sedang duduk bersantai.
“Assalamualaikum. Maaf, Om sama Tante sepertinya masih bersiap di kamar atas,” sapaku pada tamu Tante Yuni. Rupanya tamu tersebut seorang pria berumur 50 tahunan yang sedang duduk di kursi sambil membaca majalah.
“Waalaikumsalam. Iya gak apa-apa, saya memang datang lebih awal takut macet di jalan. Eh Taunya jalanan lancar,” jawabnya sambil melipat majalah yang dibacanya.
“Silakan, ini minumnya Pak,” ujarku sopan sambil memberikan segelas sirup dingin ke meja tamu.
“Terima kasih. Kamu keponakan Hari ya,” tanyanya sambil menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki.
“Iya Pak. Kebetulan saya tinggal dekat sini, jadi suka dimintai tolong sama Tante Yuni,” jawabku.
“Kasian Hari sama Yuni tinggal berdua, anak-anaknya kan tinggal jauh semua,” sahut tamu itu sambil mengambil gelas yang kusajikan.
Aku menoleh pada jam dinding dengan gelisah. Sudah nyaris jam 1 tapi Om dan Tante belum juga keluar. Aku harus menemani tamunya sampai mereka keluar.
“Sudah menikah Mbak? Eh siapa namanya?,” tanya tamu tersebut menatapku tajam.
Aku terkesiap dengan pertanyannya. Untung saja oven Tante Yuni berbunyi, pertanda kue bolu sudah matang.
“Maaf Pak, saya lagi manggang kue, saya angkat kuenya dulu takut gosong. Permisi ,” jawabku sambil berlalu ke dapur untuk mengangkat kue buatanku.
Dengan tergesa-gesa aku mengeluarkan kue dari oven, aroma kue yang harum menggelitik hidungku. Syukurlah kueku cantik matang sempurna, Tante Yuni tidak akan kecewa dengan hasilnya. Aku merogoh ponsel di sakuku, ah rupanya batre ponselku mati. Ya Allah, Kila dan Kica pasti sudah menungguku di rumah. Ivan juga pasti sudah di perjalanan ke rumah Dion dan Nadine.
“Ehhhhh, Mas Patra udah sampe toh. Maaf baruan solat Dzuhur dulu. Udah minum kan?,” sapa Tante Yuni yang baru saja keluar sambil menuruni tangga.
“Iyaaa, itu Rania ponakanku. Rumahnya deket sini, kebetulan ia jago bikin kue, jadinya aku minta tolong buatin kue buat arisan hahaha,”
Samar-samar kudengar Tante Yuni mengobrol dengan tamunya, sementara aku berkonsentrasi untuk memotong kue agar hasilnya rapi. pelan-pelan kususun pada piring kue dan dibantu oleh Mbak Tarmi.
“Raniaaaa, sini bawa kuenya,” panggil Tante Yuni di ruang tengah.
Aku langsung membawa piring kue dengan hati-hati ke meja tamu. Om dan Tante Yuni sudah berkumpul sembari mengobrol dengan akrab.
“Kenalkan ini Mas Patra, temen kerja Om waktu di proyek Kalimantan dulu,” ujar Om Hari.
“Rania Pak,” balasku sambil mengganguk dan mengatupkan kedua tanganku.
“Duduk sini Ran, Mas Patra ini tukang makan. Dia paling suka wisata kuliner. Nah kamu promosi tuh kue-kue buatanmu sama Mas Patra,” bujuk Tante Yuni sambil menarik lenganku.
“Ah malu Tante, kue saya belum ada apa-apanya dibanding kue di bakery ternama,” balasku merendah.
“Loh ini kuenya kayak enak loh. Dari wanginya aja udah memancing bikin laper Ran,” jawab pria yang disapa Mas Patra itu.
“Ayo coba dong Mas, Rania yang bikin ini semua,” desak Tante Yuni.
“Pastinya, aku coba dong,” jawabnya sambil mengambil potongan kue buatanku. Ia tampak menikmati setiap gigitan sambil mengangguk-angguk.
“Ini sih enak banget Ran, jadi inget almarhum Ibu saya kalau makan kue bolu seperti ini,” pujinya sambil terus mengunyah.
“Iya kan enak, Rania sih jago bikin segala kue. Iya kan Ran?,” ujar Tante Yuni jumawa, padahal aku hanya bisa buat beberapa macam kue saja.
“Hebat kamu Ran, udah cantik jago bikin kue lagi. Sudah berumahtangga Ran?,”
Lagi-lagi pertanyaan serupa ia lontarkan, untungnya terdengar seruan salam dari depan rumah.
“Waalaikumsalaaaaam, waaah udah pada dateng nih. Ayo masuk sini, udah ada Pak Bos Patra loh dari tadi,” jawab Om Hari sambil beranjak menerima tamu. Aku langsung kabur ke dapur menemani Mbak Tarmi yang sedang menyiapkan minum dan kue kecil.
Tante Yuni semakin sibuk dibuatnya, ia meminta padaku untuk membereskan sajian di meja. Belum lagi setiap tamu datang membawa oleh-oleh yang harus aku sajikan. Tak lama datang Ojek Online yang datang membawa makanan berat untuk makan siang. Rupanya Tante Yuni memesan paket nasi untuk tamu-tamunya.
Tanpa disuruh aku kembali menyajikan semua hidangan untuk mereka. Mendadak saja rumah Tante Yuni yang selalu sepi jadi ramai dibuatnya. Aku sudah seperti anak Om Hari dan Tante Yuni, ia selalu mengenalkanku pada setiap tamu-tamunya, dengan bangga ia menyanjung kue-kue buatanku. Kubiarkan saja ia promosi pada teman-temannya, siapa tau rejekiku akan datang berkat Tante Yuni.
Semua tamu sangat puas dengan hidangan yang kami sajikan. Semua memuji hidangan yang tersedia. Aku duduk di samping Tante Yuni dengan gelisah, sementara Tante belum memperbolehkanku untuk pulang.
“Ran, tunggu bentar ya. Itu ada banyak makanan di dapur buat anak-anak. Gak enak kalau kamu pulang duluan,” bisik Tante Yuni di telingaku.
__ADS_1
Aku semakin gelisah, apa yang harus aku katakan pada anak-anak yang sudah menunggku. Terlebih lagi pada Ivan yang mengajakku. Aku juga cemas dengan Nadine, sudah lama aku ingin bertemu mereka. Ponselku benar-benar mati total, aku tak bisa menghubungi Ivan, ingin menangis aku rasanya. Dalam kegelisahan yang teramat sangat, rasanya ada sepasang mata yang menatapku sedari tadi. Sepasang mata tajam bak Singa yang sedang mengincar buruannya. Mengamati diam-diam dan hendak menerkam saat hewan buruannya lengah.