
Kuhempaskan tubuhku ke atas kasur di apartemen yang aku sewa ini. Rasanya hari ini adalah hari yang panjang dan menyebalkan. Perutku sakit, mood-ku berantakan, dan yang menyebalkan agenda kencan malah menjadi bencana karena bertemu dengan orang-orang yang tidak kuharapkan. Ivan baru saja mengantarku hingga lobby, aku tak membiarkan dia masuk ke kamarku, aku sudah lelah dan ia pun terus-terusan dihubungi oleh mamanya. Badanku serasa remuk dan kepalaku migren. Lengkap sudah penderitaanku malam ini, aku hanya ingin tidur dan melupakan kejadian malam tadi.
Bip bip bip bip bip bip
Aduh itu pasti telepon dari Ivan lagi, aku sudah sangat lelah untuk mengambil ponsel yang masih terdapat di dalam tasku. Kubiarkan saja panggilannya, nanti juga dia menelepon lagi begitu ia sampai rumah.
Bip bip bip bip bip bip
Rupanya ia masih tak gentar juga untuk menghubungiku. Kukeluarkan segenap tenagaku untuk berdiri meraih tas yang tergeletak di meja riasku. Kuambil ponselku dan kubaca kontak yang menghubungiku.
Benny, 2 missed calls
Seketika kepalaku bertambah sakit. Inginku matikan saja ponselku namun rupanya Benny menghubungiku lagi untuk yang ketiga kalinya.
“ Halo … “, kuangkat panggilan Benny dengan suara ketus.
“ Halo Ren, udah sampai apartemen ?”, tanyanya padaku.
“ Iya udah, cape banget gue Ben. Gue mau istirahat nih “, jawabku singkat ingin segera mengakhiri panggilannya.
“ Yang tadi pacar apa pacar “, goda Benny yang tengah membicarakan Ivan.
“ Cowo gue lah, menurut lo sapa lagi “, jawabku sinis padanya.
“ Yang ini beda kayanya, tumbenan sama berondong Ren “, cecar Benny. Segala pertanyaan Benny benar-benar membuatku naik darah.
“ Aduh Ben udah deh, mau gadun kek berondong kek suka-suka gue lah “, teriakku sambil menahan kepalaku yang semakin nyeri.
“ Jangan marah dong Ren, gue kan mau tau lo dapet dia dari siapa. Waktu itu aja lo belon kasih komisi sama gue waktu lo jalan sama……..”
“ Ben udah deh, jangan ganggu gue sekarang please. Gue lagi PMS, gue tadi kelaperan, sekarang kepala gue sakit mau pecah. Please ini bukan saat yang tepat kita bahas ini, oke?. Seruku memotong ucapan Benny dengan setengah memelas.
“Okelah kalo gitu Ren, tapi inget urusan kita belum selesei ya Ren, kita harus ketemu atau gue samperin ke apartemen lo “, sahut Benny dengan nada mengancam yang sangat halus.
“ Iya-iya gue tau. Besok kita ketemu di di club biasa ya, jam 11 malem dan jangan bawa siapa-siapa “, ujarku sambil memijat-mijat keningku. Aku harus mengikuti maunya agar pembicaraan ini segera berakhir.
Pagi ini aku tiba di kantor jam 11 siang. Semalam aku baru bisa tidur setelah minum pil pereda nyeri. Terpikir sebelumnya aku tidak masuk kantor pagi ini, tapi Pak Hardian mengajaku meeting nanti jam 1. Seperti biasa, meeting dengan big boss selalu di luar kantor. Lebih tepatnya “menemani” Pak Hardian kemanapun ia pergi, padahal ia punya asisten pribadi. Selama Ray masih cuti, aku yang menemani Pak Hardian untuk memantau proyek-proyek barunya. Ia juga mengenalkanku dengan beberapa koleganya. Kusebar kartu namaku pada kolega Pak Hardian, siapa tau ada peluang yang bisa aku dapatkan setelah bertemu orang-orang berduit ini.
PING
__ADS_1
“ Renata, aku tunggu di mobil sekarang ya “, pesan singkat Pak Hardian langsung muncul di layar ponselku. Aku menghela nafasku, badan masih lemas begini harus menemaninya tanpa arah dan tujuan. Belum ada agenda yang bisa aku laporkan padanya hari ini, tapi Pak Hardian masih saja mengajakku keluar nyaris setiap hari.
Aku berjalan ke arah parkiran direksi tempat mobil Mercy Pak Hardian diparkir. Supir pribadi Pak Hardian sedang berdiri di samping mobil, ia bersiap-siap membukakan pintu mobilnya untukku. Entah apa rencana bosku yang satu ini, ia terang-terangan menjemputku nyaris setiap hari di kantor RENTZ. Jika hal ini ia lakukan di kantor pusat tempat dimana ia berada, sudah habis aku menjadi bahan pembicaraan seluruh staf Sukses Hardja Grup.
Aku masuk ke dalam mobil sedan Pak Hardian, ia sudah duduk di sebelahku sambil menyunggingkan senyum dan menggeserkan badannya ke arahku.
“ Kita jalan ke Villa yang di Ciumbuleuit ya Ren, ada yang ingin aku kasih liat sama kamu “, seru lelaki berbaju batik dan rambut klimis itu. Gaya khas Hardian, selalu mengenakan batik nuansa biru tua atau hitam dengan motif merah keemasan. Rambutnya rutin ia cat sehingga tidak ada satupun uban yang terlihat di kepalanya. Kutatap wajahnya yang sudah penuh kerutan, menandakan usianya memang sudah tidak muda lagi. Meskipun begitu semangat kerja dan hasratnya pada wanita muda masih berapi-api.
Sheila, asisten pribadinya sering curhat padaku saat aku masih berkantor di kantor pusat. Ia sering dirayu Pak Hardian dan diajak jalan sepulang kantor. Yang lebih mengejutkan lagi Sheila akan dihadiahi 1 unit apartemen jika mau bermalam bersamanya. Aku tak tahu bagaimana kelanjutan hubungan mereka kini, Istri Pak Hardian sering inspeksi ke kantor suaminya sejak rumor kedekatan mereka beredar luas. Ibu Liem, istri Pak Hardian yang terkenal sangat galak dan angkuh. Setiap ia datang ke kantor, tatapannya sinis tak pernah berbasa-basi pada anak buah suaminya. Berbeda dengan dua putri Pak Hardian yang kini memegang hotel milik ayahnya. Veronica dan Valerie adalah putri kembar pak Hardian. Mereka cerdas dalam mengelola hotel dan rumah makan milik Pak Hardian dengan sentuhan milenial. Aku tak begitu akrab dengan mereka berdua, hanya Ray yang biasa berkomunikasi dengan anak Pak Hardian.
“ Kamu ko lemes Ren, lagi sakit atau gimana?”, tanya Pak Hardian padaku.
“ Iya Pak, lagi kurang enak badan dari kemarin “, jawabku singkat sedang tidak ingin berbasa-basi.
“ Nanti di Villa kamu boleh istirahat Ren, toh kerjaan kamu bisa kamu remote dari mana saja”, jawabnya santai sambil menepuk pahaku. “ Mau mampir ke apotek dulu ga Ren? Atau RS sekalian?”, tanyanya sambil meraba dahiku.
“ Gak usah Pak, saya cuma kurang tidur aja. Mungkin lagi datang bulan jadi badan rasanya serba ga enak”, jawabku pasrah saat Pak Hardian meraba kepalaku.
“Yud, kita mampir dulu ke restoran sunda yang di depan ya. Aku mau makan dulu sebelum ke Ciumbuleuit”, panggil Pak Hardian pada supir pribadinya. Pak Yudi menganggukkan kepala dan segera memasang lampu sen saat berbelok ke sebuah rumah makan sunda terkenal di jalan ini.
Selama kami makan siang, Pak Hardian bercerita tentang lahan yang baru ia beli di Ciumbuleuit. Ia bingung mau ia apakan lagi lahan kosong yang baru ia beli itu. sudah banyak hotel dan restoran yang berdiri di sekitarnya. Aku mengusulkan untuk dijadikan tempat wisata saja, apalagi jaman sekarang sedang berjamuran tempat wisata selfie. Wajah Pak Hardian berubah sumringah pertanda menyetujui ideku.
“ Gimana bagus kan Renata? Kamu suka ya sama villanya? “. Tanya Pak Hardian mengejutkanku saat aku memejamkan mata. Aku langsung membetulkan posisi dudukku dan mengangguk tersipu. Kulihat ia membawa dua gelas wine di tangannya, kemudian ia menyodorkan segelas dan duduk tepat di sebelahku. Satu tangannya ia lingkarkan ke kepalaku sementara tangan satunya lagi sibuk menggenggam gelas wine.
Kugoyangkan tangkai gelas wine dan kuhirup aroma red wine yang khas, begitu lembut dan harum semerbak. Kusesap sedikit wine dan kutahan mulutku, kurasakan paduan manis, asam, pahit menjalar di lidah hingga tenggorokanku. Kurasakan tangan Pak Hardian membelai rambutku, wajahku lalu turun ke dadaku. Jantungku berdegup kencang, gelas di tanganku nyaris saja terlepas. Kugeser posisi dudukku sedikit menjauh darinya, tapi dia ikut menggeser badannya mengikutiku.
“ Kalo kamu suka disini, kamu bisa tinggal lebih lama Ren. Bahkan villa ini bisa jadi milik kamu “, bisiknya ke telingaku. Aku terdiam mendengar ucapannya.
“ Maksudnya apa pak, kenapa villa nya jadi milik saya?”, tanyaku pada lelaki yang jelas-jelas tidak sedang mabuk hanya gara-gara minum wine segelas.
“ Villa ini bisa buat kamu, asalkan kamu mau jadi simpanan saya “, bisiknya ke telingaku lalu mendaratkan ciumannya ke leherku.
Spontan saja kudorong dadanya dan aku langsung berdiri sambil membetulkan kemejaku.
“ Pak jangan kurang ajar deh, maksud bapak apa? Mau menyetubuhi saya disini?”, tanyaku dengan geram padanya.
“ Gak usah marah Ren, kamu kan udah biasa bukan? Hadiahku lebih besar dari David kan? Sahutnya sambil terkekeh.
Wajahku langsung memerah ketika ia menyebut nama David.
__ADS_1
“ David sialan, tua bangka itu pasti cerita sama Hardian soal hubunganku”, gerutuku dalam hati.
“ David langsung suka sama kamu saat pertama kali bertemu di Hotel Sahid. Aku tau dia menghubungimu beberapa minggu setelah proyek kami deal. Ngomong-ngomong dia kasih apa sama kamu? Tanyanya dengan nada menyudutkanku.
“ Dia hubungin saya cuma urusan kerjaan. Dia memang beberapa kali deketin saya, tapi ga berarti ada apa-apa ya. Bapak gak bisa macem-macem saya atau saya lapor sama Mas Ray “, balasku seraya mengancam Pak Hardian yang masih duduk santai di sofa. Inginku berlari keluar namun aku sadar aku sedang berada di sebuah komplek villa di atas bukit.
“ Santei aja Ren, kalau kamu gak mau gak apa-apa. Aku cuma seneng aja jual-beli property, salah satunya villa yang baru aku beli ini. Bagiku harganya ga seberapa, bisa aku bagikan cuma-cuma tapi dengan syarat pastinya “, ujarnya sambil menghirup wine terakhir di gelasnya.
Aku terhenyak mendengar ucapan Pak Hardian. Ini bukan kalinya ia menghadiahiku sesuatu. Barang yang pertama ia beri adalah tas Chanel yang hingga kini masih kupakai. Selanjutnya ia tak sungkan-sungkan memberikanku sepatu, baju, rangkaian skin care, hingga perhiasan. Alasannya tanda terima kasih setelah aku menemaninya meeting atau hanya pergi makan malam dengannya. Hal itulah yang membuatku berat untuk menolak segala ajakannya. Setiap dia menghadiahiku memang tidak terjadi apa-apa, namun kali ini dia sudah bertindak jauh.
“Pak kita ke kantor aja sekarang, saya harus ketemu buat nagih update kerjaan” ujarku sambil membuang muka. “ Kalo bapak mau istirahat disini saya tunggu saja di luar sama Pak Yudi “. Aku melangkahkan kaki ke teras dan kurogoh rokok dari dalam tas ku. Kunyalakan korek dan kusulut rokokku. Hatiku masih geram dengan pernyataan Pak Hardian, ia kira bisa membayarku menjadi simpanannya dengan iming-iming sebuah villa. Namun yang paling membuatku geram adalah ketika ia menyinggung David. Mereka berdua pasti bersekongkol untuk menjadikanku selir para lelaki tua itu.
bip bip bip bip bip bip bip
Benny
Itulah nama yang muncul di layar ponselku. Belum hilang rasa kesalku, Benny sudah muncul lagi menghubungiku.
“ Halo Ren, malam ini jadi kan? “, tanyanya tanpa basa-basi saat aku mengangkat panggilannya.
“ Iya jadi. Jangan kuatir gue pasti dateng “, jawabku singkat.
“ Ren ada tamu nih, bule Jerman baru pertamakali ke Bandung. Cuma ngajak clubbing aja sih bilangnya, soalnya dia besok pagi udah mesti jalan ke Jakarta. Short term mau ga “, tanya Benny menawarkanku “bisnis” yang selama ini kujalani dengannya.
“ Clubbing doang kan? Ga pake tidur yah? Males gue sama bule “, sahutku pelan sambil berjalan ke sudut teras villa.
“ 1 juta ya Ren”, sahut Benny
“ Enak aja, 5 juta “, tawarku padanya.
“ Buset Ren clubbing doang, gede amat lo mintanya sekarang. 3 juta take it or leave it “, sahut Benny kembali.
“Fine…cuma clubbing doang ya. Kalo dia rese lo yang tanggung jawab” bisikku sambil memutus telepon dari Benny. Segera kusimpan ponselku sambil melongok ke jendela memastikan Pak Hardian tidak mendengar percakapanku.
Kuhisap dalam-dalam rokok filterku, serpihan abu rokok berjatuhan ke lantai parquette berwarna coklat tua. Segera ku seka serpihannya dengan sepatuku. Kemana saja lelaki tua ini, kenapa aku harus terdampar di tempat ini hanya berdua dengannya.
“Ren, tolong kamu foto-foto semua bagian villa ini. Habis foto kamu upload di aplikasi untuk segera di sewakan. Daripada vilanya kosong ga ada penghuninya kan”, seru Pak Hardian yang tiba-tiba melongok dari dalam rumah dengan raut muka kesal. Nada bicaranya sedikit menyindir karena telah kutolak tawarannya.
Segera aku keluarkan ponselku dan mengambil foto seluruh bagian rumah tanpa basa-basi. Pak Hardian terlihat berjalan ke arah mobilnya dan mengobrol dengan Pak Yudi di luar mobil. Setelah selesai aku langsung menghampiri mereka, mencoba memohon untuk segera pulang ke kantor segera. Selama perjalanan pulang kami tak banyak bicara, aku pura-pura sibuk dengan ponselku. Seketika aku ingin menghubungi Ray, biasanya dia yang menyelamatkanku dari cengkraman Pak Hardian.
__ADS_1